Anjal

Pemberdayaan Anak Jalanan
Juang Tualang

Latar

Di masa lalu anak muda Indonesia pernah memilih anak jalanan sebagai idola, namanya Ali Topan. Ali Topan adalah simbol dari banyak fenomena, mulai dari perubahan nilai dalam keluarga, sampai perlawanan pada kemapanan dan pengejawantahan kebebasan. Jalanan adalah tempat yang paling cocok untuk mewujudkan semuanya, seperti yang diungkap SWAMI dalam lagu BONGKAR.
Jika saja semua anak jalanan seperti Ali Topan, mungkin kita tidak perlu membicarakan masalah anak jalanan dan ikut serta memikirkan solusinya.
Persoalannya, anak jalanan yang kini dibicarakan adalah anak –anak yang terpaksa dan dipaksa ke jalanan oleh orang tuanya atau oleh keadaan, utamanya karena masalah – masalah yang berkaitan dengan kemiskinan. Karena itu masalah yang kemudian muncul berbeda sama sekali dengan anak jalanan model Ali Topan. Oleh karena itu yang dibutuhkan adalah titik tolak bagi program konkret untuk meningkatkan kualitas hidup anak jalanan.

Anak Jalanan : Siapakah Mereka ?
Penjelasan siapa anak jalanan itu, tidak didasarkan pada pendapat para pakar, berbagai organisasi dan departemen yang sampai saat ini belum memiliki kesamaan pendapat dan definisi tentang anak jalanan itu. Penjelasan akan diuraikan berdasarkan pengalaman lapangan mengurusi anak jalanan di lokasi –lokasi yang pernah ditangani, seperti Grogol dan Tanjung Priok, serta yang masih dikelola di (1) Pasar Induk Kramat Jati, (2) Pasar Kebayoran Lama, (3) Pasar Burung Rawa Bunga, (4) Pasar Ikan Muara Angke, (5) Pasar Ikan Kota, (6) Pemukiman Kumuh Pasar Mangg Dua dan (7) Perkampungan Nelayan Kenjeran Surabaya, serta daerah – daerah yang akan digarap yaitu (1) Pasar Minggu Jakarta, (2) Pasar Turi, (3) Pasar Wonokromo dan (4) Kompleks Dolly di Surabaya.
Secara umum beberapa ciri anak jalanan itu adalah :
1. berada di tempat umum (jalanan, pasar, pertokoan, tempat – tempat hiburan) selama 3 – 24
jam sehari.
2. berpendidikan rendah (kebanyakan putus sekolah, sedikit sekali yang tamat SD)
3. berasal dari keluarga –keluarga tidak mampu (kebanyakan kaum urban, beberapa diantaranya
tidak jelas keluarganya)
4. melakukan aktivitas ekonomi (melakukan pekerjaan pada sektor informal1)

Adanya ciri umum yang dikedepankan di atas tidak berarti bahwa fenomena anak jalanan merupakan fenomena yang tunggal. Penelusuran yang lebih empatik dan intensif ke dalam kehidupan mereka menunjukkan adanya keberagaman. Keberagaman itu antara lain disebabkan oleh latar belakang keluarga, lamanya berada di jalanan, lingkungan tempat tinggal, pilihan pekerjaan, pergaulan dan pola pengasuhan. Tidak mengherankan terdapat keberagaman dalam pola tingkah laku, kebiasaan dan tampilan anak – anak jalanan itu.
Anak – anak jalanan yang tinggal bersama orang tua, masih sekolah dan berada di jalanan sekedar mencari tambahan nafkah keluarga, biasanya memiliki banyak persamaan dengan anak – anak lain. Hanya saja ada diantara mereka yang berperilaku agak bebas, liar, dan berani. Ada pula anak jalanan yang tinggal bersama orang tua, tidak lagi bersekolah atau tidak bersekolah sama sekali, lebih lama berada di jalanan dan memiliki beban yang lebih berat untuk menafkahi diri dan keluarganya. Anak – anak seperti ini biasanya memiliki teman sebaya untuk berkumpul dan berbagi. Pada umumnya kelompok teman sebaya dapat menjadi pesaing orang tua dalam hal pengaruh. Anak – anak jenis ini sikapnya sudah banyak berbeda dengan anak – anak lain yang bukan anak jalanan. Terdapat pula anak jalanan yang tinggal bersama orang tua dan menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. Mereka biasanya bekerja lebih keras karena keluarganya secara ekonomis sangat tergantung pada penghasilan mereka. Anak –anak seperti ini pada umumnya sering konflik dengan orang tuanya.
Ada juga anak – anak jalanan yang tinggal bersama – sama teman sebaya dan orang yang lebih tua, sementara orang tuanya di kampung. Kelompok – kelompok itu ada yang memiliki ‘bos’ yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti loper koran atau pengasong rokok, ada pula yang memiliki ‘bos’ berdasarkan kebersamaan tempat tinggal dan masing – masing bekerja pada bidang yang berbeda. Juga ada yang terpaksa memiliki ‘bos’ dan menyetor sejumlah upeti untuk kelangsungan pekerjaan atau jaminan keamanan. Di antara anak – anak itu masih ada yang rajin pulang ke kampung menjenguk orang tua dan menyerahkan sebagian jerih payahnya, ada yang sesekali saja pulang kampung, setahun sekali di waktu Lebaran, bahkan ada yang sama sekali telah hampir putus hubungannya dengan keluarga di kampung.
Anak – anak dari jenis ini biasanya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh kelompok. Hidup dan perilaku mereka relatif sangat bebas, praktek seks bebas, sodomi, dan kebiasaan menenggak minuman keras tumbuh berkembang dengan sangat cepat dalam kelompok ini. Biasanya mereka juga suka berpindah – pindah tempat tinggal. Ada yang ikatan kelompoknya sangat kuat, baik karena kesamaan daerah asal, jenis pekerjaan maupun karena telah hidup bersama dalam jangka waktu lama.
Terdapat juga anak jalanan yang masih memiliki orang tua, tetapi memberontak dan sepenuhnya melepaskan diri dari orang tua. Kebanyakkan mereka yang tinggal sekota dengan orang tuanya memilih tempat tinggal yang jauh dari orang tuanya. Pemberontakan itu ada yang dilakukan sendirian, juga ada yang melakukannya bersama – sama dengan saudaranya yang lain. Ada yang tetap menjaga hubungan baik dengan adik atau kakaknya, tetapi ada juga yang sama sekali tidak menjalin hubungan dengan seluruh anggota keluarganya. Anak – anak yang memberontak ini pada umumnya anak – anak yang sangat berani mengambil resiko dan tidak terlalu bergantung pada orang lain.
Keadaan yan paling ekstrem adalah anak jalanan yang tidak jelas siapa orang tuanya dan di mana keluarganya. Anak – anak ini sejak bayi sudah dipersewakan atau diperjualbelikan untuk pelengkap meminta sedekah. Pada umur tertentu oleh orang tua yang ‘kesekian’ mereka dilepas begitu saja dan sepenuhnya menjadi anak jalanan. Dibanding yang lain, anak – anak jenis ini memang tampak lain sama sekali, tingkat kebebasan, keliaran, dan pelanggaran norma paling tinggi ada pada kalangan ini.
Apapun latar belakang keluarga, anak – anak menjadi anak jalanan karena terpaksa. Oleh karena pada umumnya pendidikan dan ketrampilan mereka rendah, maka pilihan pekerjaan yang paling mudah adalah pekerjaan dalam sektor informal. Sedangkan dalam sektor ini dibutuhkan waktu kerja yang panjang untuk mendapatkan penghasilan yang memadai. Itu yang menyebabkan keberadaan mereka dalam jangka waktu yang sangat panjang di jalanan menjadi tak terelakkan. Sebagai akibatnya dalam jangka panjang akan muncul masalah – masalah sosial yang akut. Akibat – akibat tersebut adalah pertama, banyak anak yang terpaksa meninggalkan sekolah atau tidak sekolah sama sekali. Keadaan ini diperparah oleh sikap orang tua yang lebih cenderung mendorong anaknya bekerja dan menghasilkan uang, daripada bersekolah yang dirasa hanya menghabiskan uang dan tidak menjanjikan apa –apa. Ini yang mengakibatkan terbentuknya pola hubungan yang eksploitatif antara orang tua dan anak. Dalam perjalanan waktu, pola ini akan membawa akibat – akibat yang destruktif bagi anak – anak. Munculnya pola eksploitatif di rumah dengan keharusan –keharusan menghasilkan jumlah uang tertentu yang dibawa pulang, memaksa anak – anak itu harus bekerja keras dan menghabiskan waktu di jalanan. Melewati waktu yang panjang, anak- anak itu cenderung lebih lama dan lebih betah di jalanan daripada di tempat tinggalnya. Kondisi tempat tinggl yang tidak layak makin memperkuat pilihan ini.
Kedua, perlahan secara bertahap anak – anak ini mengalami perubahan perilaku ke arah pelecehan dan pelanggaran norma dan hukum. Merka mulai liar, cuek, seenaknya, tidak mau peduli pada orang lain, melakukan pelanggran hukum dan norma, sehingga pada akhirnya membangun norma dan hukum ala mereka. Perubahan perilaku ini tampak melalui ucapan –ucapan dan tindakan, kata – kata kotor, makian yang berkaitan dengan binatang, perkelaminan, perilaku senggama menjadi bahasa sehari –hari mereka, bahkan kata – kata ancaman menjadi kosakata utama. Sementara itu mulai ada yang melakukan pencurian kecil – kecilan, ikut mengedarkan dan menggunakan minuman keras dan obat terlarang. Ada yang melakukan hubungan kelamin secara bebas dan perilaku asusila lainnya.
Ketiga, terbentuknya komunitas – komunitas anak jalanan yang merupakan peer group – berfungsi sebagai keluarga kedua – yang dimanfaatkan oleh anak –anak itu sendiri atau oleh orang lain untuk tujuan – tujuan kriminal dan asusila. Jika pada mulanya perubahan perilaku terjadi begitu saja dalam jalinan interaksi antara individu dengan individu, dan individu dengan kelompok, maka lama kelamaan terbentuk pola – pola tertentu yang secara sistematis dikelola dalam komunitas – komunitas anak jalanan. Ada komunitas yang mengadakan semacam ‘arisan teler’, pada mulanya para penghuni baru diberi minuman gratis sampai pada waktu tertentu, ketika mulai ketagihan ia harus ikut serta memberi sumbangan dalam arisan itu. Biasanya arisan itu diteruskan dengan bersama – sama mencuri spion mobil, dan kegiatan kriminal lainnya yang mendatangkan uang.
Di beberapa tempat ada pola – pola transaksi seks. Awal pemunculannya sangat beragam, ada yang dimulai oleh penyerahan gadis belia – belum pernah menstruasi – oleh orang tua si anak kepada preman sebagai ganti membayar upeti yang harus dibayar tiap hari. Si preman akan ‘memakai’ gadis itu sampai ia merasa harus mencari yang baru, kemudian si wanita mulai menjajakan cinta kepada orang lain. Ada pula yang sengaja memilih profesi itu. Pada mulanya transaksi terbatas dalam komunitas sendiri, tetapi biasanya terus berkembang melintasi batas – batas komunitas. Di lokasi – lokasi tertentu para wanita itu bahkan menemukan ramuan sendiri untuk mengasamkan rahim agar tidak hamil.
Keempat, perluasan wilayah konflik. Keberadaan anak – anak di jalanan, di tempat – tempat yang ramai dan menjadi pekerja sektor informal bukan saja belum dilindungi hukum, tetapi bahkan dianggap melanggar hukum, sehingga anak – anak tersebut mengalami konflik dengan banyak pihak. Baik pihak – pihak resmi seperti polisi, kamtib dan satpam maupun pihak – pihak tidak resmi seperti para jegger. Konflik – konflik ini menambah runyam nasib anak – anak itu.

Konflik dan Eksploitasi yang Berlapis
Terjadinya konflik dengan banyak pihak di berbagai tempat menjadikan anak – anak itu mengalami konflik dan eksploitasi yang berlapis dan tak terelakkan. Anak jalanan yang masih memiliki dan tinggal bersama keluarga mengalami konflik dan eksploitasi di dalam keluarga sendiri. Tingkatan konflik dan eksploitasi itu sangat beragam, mulai dari secara halus mendorong anak bekerja untuk sekedar membantu nafkah keluarga, melakukan penyiksaan fisik sampai melakukan perkosaan pada anak permpuan sendiri. Di salah satu tempat pembinaan ada tiga orang anak binaan yang lahir dari tiga kakak yang diperkosa oleh ayah mereka. Itu berarti bapak anak – anak tersebut sekaligus kakeknya. Terdapat pula anak yang menyebut orang tuanya sebagai setan, karena sudah dipaksa kerja, dipukuli, uang tabungan anak masih diambil untuk berjudi.
Konflik dan eksploitasi di dalam keluarga ini paling sulit untuk diatasi. Campur-tangan pihak luar dengan mudah akan dituding mencampuri urusan rumah tangga orang. Anak – anak yang mengalaminya pun berada alam situasi yang dilematis, sementara jika konflik dan eksploitasi itu dibiarkan akan menjadi tindakan penganiyaan dan penindasan yang terus berlanjut dan sering tidak berujung. Namun apabia dilawan, berarti harus berseteru dengan orang tua sendiri. Lari dari rumah tampaknya merupakan jalan keluar yang paling banyak dipilih anak – anak itu.
Di luar rumah tidak berarti mereka terbebas dari konflik, eksploitasi dan penindasan. Konflik pertama yang umumnya mereka alami adalah dengan teman sebaya atau dengan orang yang lebih tua untuk memperebutkan rejeki, tidak jarang konflik seperti ini meruncing menjadi konflik fisik dan biasanya melibatkan lebih banyak orang. Ujung – ujungnya mereka harus berhadapan dengan jegger yang kemudian dengan cara beragam mengeksploitasi mereka.
Konflik, eksploitasi dan penindasan yang dialami oleh anak – anak lebih terbuka sifatnya. Seperti yang lebih banyak menarik perhatian orang untuk dipersoalkan adalah konflik dengan para petugas keamanan, kamtib dan penegak hukum. Ini terjadi karena keberadaan anak – anak itu di jalanan ditambah lagi dengan kegiatan – kegiatan mereka pada sektor informal bukan saja tidak dilindungi hukum, bahkan dinyatakan melanggar hukum.
Tidak sedikit pula anank – anak itu yang masih harus mengalami konflik dan eksploitasi dengan bos – bos mereka yang mengelola dan memodali usaha pada sektor informal. Bentuknya dapat berupa penetapan upah atau keuntungan sepihak, serta perlakuan yang tidak adil lainnya. Kesemuanya ini terjadi karena pekerjaan sektor informal yang dilakoni anak jalanan ini lebih banyak diatur dengan apa yang disebut ‘hukum jalanan’.
Jika dibuat hirarki posisi, anak – anak jalanan itu berada paling bawah dalam jaringan konflik, eksploitasi dan penindasan tersebut. Mereka adalah korbannya korban.

Pemberdayaan: Preventif – Edukatif Sebuah Upaya
Dalam jaringan konflik dan eksploitasi itu posisi anak – anak jalanan itu seperti ‘telur di ujung pistol’, karena itu sangat sulit untuk meretaskan jaring – jaring tersebut dan membebaskan mereka. Salah bertindak kondisi mereka akan makin sulit dan tersudut.
Sadar akan peliknya masalah, dicoba mengupayakan pemberdayaan anak – anak jalanan dengan pendekatan preventif – edukatif, dengan mamberikan tekanan dan perhatian pada usaha mencegah munculnya masalah baru atau masalah yang lebih akut melalui jalur pendidikan. Tentu saja disadari bahwa pemberdayaan kaum lemah melalui jalur pendidikan dalam suatu struktur sosial yang didominasi oleh praktek – praktek eksploitasi, tanpa lebih dahulu mengubah kenyataan – kenyataan struktur sosial merupakan upaya penuh tantangan yang lebih membuka peluang untuk kegagalan daripada keberhasilan. Namun paling tidak pada tahap yang paling awal, pendidikan yang menekankan proses penyadaran dapat menjadi modal perbaikan – perbaikan menuju masa depan.
Dengan pendekatan preventif-edukatif, sasaran utama langsung ditujukan kepada si anak. Ini dilakukan dengan pertimbangan jika si anak telah memiliki kesadaran akan keberadaan dirinya, arti penting keberadaan dirinya bagi diri sendiri dan orang lain, serta faham akan bentuk hubungan yang seharusnya dengan orang tua dan orang – orang yang berada dalam lingkungan terdekatnya, maka diharapkan si anak memiliki motivasi untuk ikut serta mengubah keadaannya yang sekarang.
Oleh karena itu dalam proses pendidikan yang medapat perhatian utama adalah dengan apa yang disebut humanisasi, sebuah proses panjang untuk memanusiakan si anak. Menyusul kemudian pembekalan pengetahuan dan ketrampilan. ( Gambaran agak lengkap lihat di bagian tulisan : Pendidikan Tidak Berarti Persekolahan – Analisis Kegiatan).
Tindakan selanjutnya adalah memperbaiki hubungan anak dengan orang tua, utamanya bagi anak – anak yang memiliki persoalan serius dengan orang tuanya. Upaya ini biasanya dilanjutkan dengan pemberian bantuan ekonomi produktif kepada orang tua. Mereka juga sering diajak berbincang mengenai anaknya dan diikutsertakan pada beberapa kegiatan tanpa menganggu pekerjannya. Jika orang tua sulit diajak kerjasama atau jika si anak tidak memiliki orang tua, biasanya orang yang paling dekat dengan si anak yang dilibatkan. Proses penyadaran orang tua ini biasanya lebih sulit, utamanya dikalangan orang tua yang beranggapan bahwa apapun boleh dilakukan pada anaknya. Pemberdayaan akan makin sulit dilakukan apabila orang tua memiliki kebiasaan berjudi dan meminum minuman keras. Untuk mengatasi ini diusahakan melibatkan anggota keluarga lain yang bisa diajak bekerja sama.
Pemberdayaan sangat menekankan perlunya mengatasi konflik dan eksploitasi yang terjadi di dalam keluarga. Karena keluarga merupakan sumber berbagai persoalan yang dihadapi anak jalanan dan sangat sulit untuk memberlakukan hukum positif untuk mengatasinya. Selain itu konflik dan eksploitasi di dalam keluarga bukan saja sulit dihindari oleh si anak, tetapi juga dapat lebih mengerikan dan berjangka panjang, hingga sampai – sampai dapat mengubah perilaku anak menjadi menyimpang dan sangat tidak terkendali.
Bersama dengan upaya untuk mengatasi konflik dan eksploitasi di dalam keluarga, dilakukan pula usaha mengatasi konflik dan eksploitasi di lingkungan terdekat di luar keluarga. Upaya ini biasanya dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan para jegger yang menguasai tempat – tempat anak – anak itu bekerja. Pada umumnya setelah melakukan dialog – dialog yang panjang dan sulit, para jegger itu baru bisa diajak kerjasama. Kalau mereka tidak aktif membantu, minimal mereka rela membiarkan anak –anak itu ikut serta dalam proses pendidikan. Di beberapa tempat ada jegger yang bersedia mengawasi anak – anak itu, sehingga anak – anak tidak terlibat lagi dengan kebiasaan – kebiasaan buruk yang sudah terlanjur pernah mereka – jegger – lakukan. Para jegger juga bisa diminta bantuannya untuk membangun dialog dengan para orang tua yang dikategorikan bermasalah. Karena itu dalam upaya pemberdayaan tidak pernah ada sikap konfrontatif terhadap para jegger, sebab konfrontasi dengan mereka justu merugikan anak – anak.
Untuk melindungi anak – anak di lingkungan terdekatnya maka diusahakan agar teman sebaya mereka diikutsertakan sebanyak mungkin dalam pembinaan. Jika hal ini tidak dapat dilakukan maka diupayakan agar semua anak yang ikut pembinaan dijadikan kelompok teman sebaya tandingan untuk mengimbangi pengaruh buruk teman sebaya lainnya.
Upaya berikutnya yang dilakukan adalah melindungi si anak dari para penegak hukum, petugas kamtib dan penjaga keamanan. Upaya ini tidak kalah sulitnya, karena sampai sekarang kita terus menerus dihadapkan pada penerapan hukum yang kaku tanpa melihat persoalannya secara menyeluruh dan proporsional. Upaya perlindungan pada tahap ini makin sulit, karena sampai sekarang dinyatakan apa yang dilakukan anak – anak untuk bertahan hidup sebagai pekerja sektor informal adalah melanggar hukum.
Untuk mengatasi itu maka upaya yang dilakukan biasanya melakukan dialog – dialog dengan petugas keamanan dan penegak hukum, utamanya di tempat anak – anak itu bekerja. Dengan cara ini diharapkan ada pengertian, yakni antara anak jalanan dan petugas keamanan. Di Kramat Jati misalnya, kami melibatkan lurah sebagai seorang guru. Perjumpaan lurah dengan anak – anak itu dalam proses pendidikan membuat ia lebih memahami persoalan dan ikut serta membantu memecahkan masalah – masalah yang berkaitan dengan pelanggaran hukum dan ketertiban.
Disadari sepenuhnya bahwa persoalan ini tidak dapat diselesaikan dengan sekedar mendekati orang per orang, harus ada perlindungan hukum positif yang menjamin keberadaan anak – anak itu. Walaupun juga disadari undang – undang dan hukum positif lainnya di Indonesia ini lebih merupakan aturan tertulis yang tidak ‘bertaji’. Upaya pendekatan personal dan perbaikan sistem memanfaatkan media massa dilakukan secara sekaligus, utamanya lagi melalui pendekatan dengan anggota perwakilan rakyat, aparat keamanan dan orang – orang dari pemerintahan.
Sedangkan kepada anak – anak sendiri sebagai upaya pemberdayaan dilakukan melalui penyuluhan hokum, agar anak – anak paham hak – hak dan kewajibannya.
Menghadapi berbagai macam problema dan ancaman kegagalan, kadang – kadang terasa bahwa kita berjalan dari satu absurditas ke absurditas yang lain. Upaya secara bersama untuk memecahkan masalah diharapkan dapat terus memperkuat tekad dan keyakinan kita, karena banyak masalah yang memang harus kita hadapi.

Pendidikan Tidak Berarti
Persekolahan
Analisis Kegiatan Pemberdayaan

Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) yang bekerjasama untuk pemberdayaan ini didirikan pada tanggal 17 September 1990. Didirikan sebagai perwujudan rasa kepedulian kepada munculnya masalah – masalah sosial yang muncul di Jakarta dan tidak dipisahkan dengan persoalan yang lebih besar dalam skala nasional, seperti masih terdapatnya jutaan penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di Jakarta saja menurut data terakhir Dinas Sosial DKI Jakarta, terdapat 30.000 anak yang belum mampu wajib belajar dan diantaranya tercatat 2.500.000 penganggur dari 8.500.000 penduduk Jakarta.
Untuk mewujudkan kepedulian sosial itu maka YNDN menetapkan tiga tujuan yang melandasi program – programnya. Ketiga tujuan itu adalah pertama, mencegah secara dini permasalahan sosial dengan pendekatan preventif-edukatif. Kedua, mendukung pemerintah dalam rangka pembinaan masyarakat secara lintas regional di pedesaan. Ketiga, mencerdaskan bangsa dengan meningkatkan minat baca melalui taman bacaan anak pedesaan dan desa kota.
Program – program yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah : “taman bacaan anak pedesaan dan desa kota”, “taman pembina penyemir sepatu”, serta “ taman Pembina anak dan keluarga tak mampu di lingkungan pasar tradisional”. Program “ taman bacaan” dalam pelaksanaannya berbentuk taman bacaan anak pedesaan dan kota yang bersifat sosial edukatif, sekaligus sebagai embrio pengembangan perpustakaan. Taman bacaan diharapkan mampu meningkatkan minat baca dan merupakan ajang kreativitas anak dan remaja untuk kreatif membuat karya – karya yang sesuai dengan lingkungan masing – masing. Selain itu juga dilakukan berbagai kegiatan yang menunjang keberlangsungan taman bacaan.
YNDN dalam pengembangan taman bacaan ini telah melakukan pendirian taman bacaan anak desa- kota (daerah kumuh) DKI Jakarta sebanyak 10 lokasi, antara lain dengan membuka taman bacaan di 15 lokasi pemulung wilayah DKI Jakarta yang melibatkan 1500 anak. Di samping itu mengirimkan pula buku – buku untuk seluruh Taman Bacaan Anak Pedesaan di 27 propinsi dan memberi beasiswa 50 anak anggota taman bacaan anak pedesaan.
Apa perbedaan yang istimewa dari taman bacaanini dengan perpustakaan yang ada dan bagaimana kaitannya dengan peningkatan mutu hidup masyarakat kumuh, utamanya yang masih kanak – kanak dan remaja. Kegiatannya tidak hanya membaca buku, tetapi ditambah juga dengan kegiatan lain yang mendorong anak – anak memahami isi buku yang dibacanya dan mengembangkan kreativitasnya. Kegiatan itu dilakukan dengan menceritakan kembali isi bacaan kepada teman – teman, kemudian mereka membuat tulisan berdasarkan bacaan. Di taman bacaan itu kemudian secara teratur diadakan berbagai lomba, utamanya pada peringatan hari – hari nasional untuk berbagai ketrampilan yang telah diajarkan sebelumnya. Lebih lanjut hasil lomba itu secara tetap dipamerkan di museum anak Taman Mini Indonesia Indah dan dalam berbagai pameran lain.
Dalam pelaksanaannya di taman bacaan para pengelolanya tidak hanya bersibuk dengan mengelola buku dan pemahaman anak – anak, tetapi sebagian besar waktu dipergunakan untuk berdialog dengan anak – anak tentang apa saja yang mereka rasakan dan inginkan, mendengar keluhan – keluhan mereka dan memberikan perhatian pada mereka. Ini dilakukan karena anak – anak yang dating ke tempat itu adalah abak – anak kurang mendapat perhatian dari orang tuanya. Sebab dimaklumi sebagian besar orang tua mereka menghabiskan waktu untuk ”mengais rejeki sebagai pekerja – pekerja kasar, kuli – kuli angkut dan pedagang – pedagang kecil. Beberapa di nataranya malah tidak memiliki orang tua. Jadi dapatlah dikatakan bahwa perhatian utama dari program ini adalah pada manusianya, yakni dengan memenuhi kebutuhannya untuk diperhatikan dan juga mengaktualisasikan dirinya. Hal ini tentu saja sesuatu yang tidak mereka dapatkan di manapun dan bahkan dalam keluarganya. Bersamaan dengan dua kebutuhan fundamental itu maka anak – anak diberi pengetahuan dan ketrampilan dasar agar dapat dikembangkan untuk mandiri di kemudian hari. Pengetahuan dasar itu adalah baca, tulis dan hitung, sedang ketrampilannya adalah berbagai kerajinan tangan, seperti membuat kerajinan tangan dari bambu, membuat kaligrafi dari ubin, menyablon dan lainnya.
Adapun kegiatan utama yang dilakukan di “Taman Pembina Penyemir Sepatu” adalah meningkatkan ketrampilan, etika dan etos kerja. Selain itu dengan membantu dan menyalurkan anak – anak ke perkantoran, melengkapi perlengkapan kerjanya, program beasiswa, serta membiasakan anak – anak untuk menabung. Pada saat bersamaan juga diadakan penyuluhan hukum.
Pengadaan “Taman Pembina Penyemir Sepatu” tidaklah dimaksudkan untuk melestarikan profesi sebagai penyemir sepatu, tetapi maksudnya untuk menanamkan etos dan etika kerja, membiasakan anank – anak menabung dan mengolah uangnya secara baik. Juga dimaksudkan untuk memberikan ketrampilan – ketrampilan tambahan agar seiring dengan bertambah besarnya anak, maka ia dapat melakukan pekerjaan – pekerjaan lain yang lebih layak. Bagi anak – anak yang masih sekolah dibiarkan tetap sekolah, tetapi mereka dapat berkumpul untuk membicarakan masalah – masalahnya dan mendapatkan perhatian dari para relawan yang mengelola taman itu. Bagi yang putus sekolah danmemang tidak berkeinginan melanjutkan sekolah, taman ini dapat berfungsi sebagai tempat mereka menambah ketrampilan dan pengetahuan agar di masa depan dapat dimanfaatkan.
Kendati demikian yang paling penting di taman ini, fungsi utamanya adalah menjaga agar anak – anak itu tidak terpengaruh oleh teman – teman sebayanya yang memiliki berbagai perilaku dapat merusak mereka, seperti meminum-minuman keras, berjudi, berkelahi dan mencuri. Pembinaan yang dilakukan tidak hanya sekedar penyuluhan – penyuluhan hukum, tetapi yang lebih penting adalah memberikan perhatian yang penuh empati. Dengan demikian mereka merasa dirinya dan juga dengan pekerjaannya memiliki makna untuk dirinya sendiri dan orang lain.
Kegiatan YNDN yang juga dapat dianggap sebagai sebuah model bagi yang tidak bersekolah dan putus sekolah adalah “Taman Pembinaan Anak dan Keluarga Tak Mampu di Lingkungan Pasar Tradisional”. Taman ini telah berjalan di tempat – tempat seperti Pasar Induk, Pasar Kramat Jati, Pasar Kebayoran Lama, Pasar Bahari, Pasar Muara Angke dan Pasar Burung Jatinegara.
Penggarapan anak dan keluarga tak mampu di pasar tradisional didasarkan pada suatu kenyataan bahwa di pasar tradisional berkegiatan 24 jam secara terus-menerus, sehingga akhirnya telah tumbuh sekelompok orang yang perlu mendapat perhatian. Perhatian perlu diberikan kepada mereka karena mereka bukan hanya pekerja kasar yag penghasilannya tidak tetap, hidup sebagai orang liar dan tidak memiliki kediaman tetap, namun mereka uga berperilaku ‘tidak biasa’.
Celakanya mereka ini umumnya masih kanak – kanak atau remaja yang tidak pernah sekolah, jika pun sekolah kebanyakan di antara mereka putus sekolah sebelum kelas tiga sekolah dasar. Kebanyakan diantara mereka juga tidak jelas siapa orang tuanya, Karena pada waktu balita umumnya mereka dimanfaatkan oleh orang – orang tertentu untuk meminta sedekah dengan cara sebagai bayi yang digendong atau anak kecil yang berkeliaran di jalan – jalan. Hingga akhirnya ketika mereka mulai besar dan tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk meminta sedekah, biasanya mereka dilepas begitu saja dan besar dalam lingkungan yang terbuka dan liar di pasar tradisional.
Hal itulah yang menyebabkan mereka telah bekerja sejak kecil, akibatnya ketika mereka mulai beranjak remaja memasuki dunia kerja pada pekerjaan-pekerjaan kasar, seperti menjadi kuli angkut atau mengutipi buah – buahan atau sayur – sayuran yang berjatuhan di jalanan ketika diangkut dari truk. Bahkan tidak sedikit pula diantara mereka yang sudah punya kebiasaan merokok dan berkenalan dengan wanita jalanan dan para jegger atau ‘preman’, sehingga tidak heran mereka kemudian memiliki tempramen keras, suka berkelahi dan tidak peduli pada orang lain di lingkungannya.
Kendati demikian, dengan lingkungan yang keras dan liar itu tidak saja membentuk anak – anak menjadi orang yang tidak menghiraukan aturan atau norma yang berlaku di masyarakat, tetapi juga membentuk mereka menjadi orang yang berani menempuh resiko, memiliki etos kerja yang baik dan tak kenal menyerah. Hal itu karena hanya dengan sifat seperti itu mereka dapat bertahan hidup
Sementara itu keluarga – keluarga yang tidak mampu dan tinggal di lingkungan pasar tradisional itu, keadaannya tidak berbeda jauh dengan anak – anak tersebut di atas. Mereka itu adalah para pengupas bawang, pengumpul sayur – sayur yang berjatuhan dari truk atau sayur – sayuran yang telah layu, para kuli angkut dan pengumpul sampah yang bertempat tinggal di pasar tradisional, mencari nafkah dan membesarkan anak di situ.
Kebanyakan dari anak – anak dan keluarga – keluarga yang telah dijelaskan di atas menganggap bahwa mereka tidak membutuhkan skolah. Kebutuhan mereka adalah bekerja dan menghasilkan uang untuk bertahan hidup, sehingga tidaklah bijaksana jika memaksa mereka bersekolah seperti layaknya anak – anak biasa. Bukan saja terasa aneh bagi mereka, tetapi hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan menolaknya karena waktu produktifnya untuk mendapatkan uang akan hilang. Apalagi sekolah biasanya mengharuskan dijalaninya disiplin waktu yang sifatnya tetap, teratur dan mengikat. Sedangkan anak – anak itu memiliki jam kerja yang tidak teratur sepanjang 24 jam, terkadang mereka bekerja mulai pukul 23.00 sampai pukul empat dini hari ketika truk – truk buah dan sayur banyak berdatangan dan kemudian diikuti aktivitas menurunkan bawaannya ke pasar. Bahkan pada lain waktu mereka bekerja di pagi hari atau sore sampai malam.
Jadi, jika ingin mengupayakan agar mereka menjalani pendidikan yang juga merupakan hak mereka dan kini menjadi kewajiban, maka sekolah reguler sama sekali tidak cocok buat mereka. Itulah yang mendorong YNDN mendirikan “Taman Pembina Anak dan Keluarga Tak Mampu Lingkungan Pasar Tradisional”, apalagi di dalamnya juga diupayakan pengentasan buta huruf bagi anak dan remaja, pemberian ketrampilan dan menanamkan sikap hemat dan penyuluhan hidup sehat dan mengenal etika dan hukum.
Program ini dimulai dengan pengenalan para pendidik pada anak dan seluruh situasinya. Pengenalan dilakukan oleh pendidik dengan melakukan home visit terlebih dulu, yakni untuk mengindentifikasi riwayat hidup dan keluarganya secara keseluruhan. Menjalin hubungan tidak saja hanya dengan anak dan keluarganya, juga membuka jalinan hubungan dengan para jegger. Hubungan baik dengan para jegger ini perlu dilakukan sejak mula, untuk mengantisipasi kegagalan seluruh program karena ulah usil dan provokasi para jegger. Antisipasi ini dijaga karena para anak – anak merupakan bagian dari pekerjaan yang mereka jalani, sehingga jegger berkepentingan agar anak – anak itu tetap liar. Liarnya anak – anak jalanan biasanya dimanfaatkan para jegger untuk mengedarkan narkotik, menjadi kurir pencari wanita jalanan, memperluas jaringan pencurian dan sebagainya. Dapatlah dibayangkan jumlah kerugian para jegger bila anak – anak menjadi orang yang terdidik.
Bila para jegger itu telah di’jinak’kan, kegiatan selanjutnya adalah membangun dialog dengan anak – anak untuk membangun kepercayaan para pendidik. Ini penting namun sulit untuk dikerjakan, karena anak – anak biasanya tidak mudah percaya pada orang yang tidak berasal dari kelompoknya. Jika rasa saling percaya telah dibangun, maka secara hati – hati dan setahap demi setahapanak – anak mulai diyakinkan tentang pentingnya pendidikan untuk masa depan mereka. Untuk itu, maka sejak semula gambaran tentang pendidikan yang diberikan tidaklah bersifat persekolahan layaknya seperti sekolah biasa, karena bila digambarkan demikian maka dapat dipastikan mereka akan menolaknya. Kendati demikian bila ada diantara mereka yang pernah sekolah, anak tersebut dapat dimanfaatkan sebagai orang yang ikut membantu teman – temanya. Demikian pula dengan para orang tua atau pemelihara mereka juga harus diberi pengertian tentang arti penting pendidikan bagi anak – anak mereka.
Langkah – langkah selanjutnya yang dilakukan jika telah dapat mengumpulkan sekelompok anak, lebih dahulu secara perlahan-lahan memasukkan mereka ke dalam dunia yang normal. Jadi anak – anak tidak langsung diberikan pelajaran –pelajaran yang terkait yang nantinya akan menjadi pelajaran inti, seperti membaca, menulis dan menghitung. Sebelum memberikan pelajaran demikian, terlebih dahulu secara perlahan-lahan memasukkan mereka ke dalam dunia yang ‘normal’. Tahap awal pelajaran yang diberikan untuk memasukkan mereka ke dalam dunia yang ‘normal’. Pengertian ‘normal’ di sini maksudnya bukan berarti gambaran persis sama dengan anak –anak lain yang menjalani hidup dalam keluarga – keluarga biasa yang pada umumnya dikenal, tetapi memiliki arti bahwa mereka diberi kesadaran tentang apa yang sebaiknya, bukan seharusnya yang dilakukan pada usia mereka itu. Kesadaran yang dibangun dengan cara memberi penilaian untuk memilah –milah jenis pekerjaan yang sebaiknya tetap terus dipertahankan untuk kepentingan kelangsungan hidupnya. Jadi kesadaran yang dibangun bukan dengan memberi penilaian bahawa pekerjaan yang mereka lakukan sebenarnya tidak benar. Dengan demikian mereka dapat memahami jenis pekerjaan yang terpuji atau tidak, sementara pada saat yang bersamaan jugaditanamkan perasaan bahwa mereka berguna bagi dirinya dan orang lain.
Tentu saja membangun kesadaran demikian membutuhkan waktu yang panjang, karena selama dalam proses itu diberikan kepada mereka perhatian yang dibangun dengan empati yang hampir tidak mereka dapatkan dari siapapun. Dengan cara ini pula akhirnya beberapa sikap positf yang sebenarnya telah menjadi ‘cap’ dari lingkungannya terus ditumbuhkembangkan. Bila semuanya telah berjalan – dengan catatan kegagalan dapat saja terjadi tiap langkah – maka kemudian materi – materi yang bersifat pengetahuan dan ketrampilan mulai diberikan. Tekanan kegiatan yang diberikan selanjutnya adalah peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, caranya yaitu dengan mengelompokkan mereka berdasarkan pada perbedaan kemampuannya dan bukan pada perbedaan usinya. Mereka ini dikelompokkan pada yang putus sekolah dan belum sekolah, sedang bagi yang putus sekolah bila belum dapat membaca, menulis dan berhitung akan dimasukkan ke dalam kelompok yang belum sekolah. Utamanya bagi yang dewasa, mereka dipisahkan dari kedua kelompok belajar anak – anak karena alas an psikologis.
Program di atas biasanya dilaksanakan berjenjang yakni menjadi Dasar, Lanjutan I, Lanjutan II dan secara keseluruhan dilaklsanakan dalam waktu satu tahun. Dalam kurun waktu setahun itu pembinaan berisi tentang Pengenalan huruf dan angka, Membaca, Berhitung, Menulis, Pengetahuan Umum, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Agama, Etika dan ketrampilan. Program ini dilakukan setiap hari dari Senin sampai Sabtu, kecuali bagi yang menyelenggarakan pendidikan di Mesjid pada hari Jum’at diliburkan. Kegiatan tersebut setiap hari hanya berlangsung dua jam, yakni antara jam 09.00 -11.00 setiap harinya dan diharapkan mereka dapat berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Pertimbangannya waktu dua jam itu adalah karena dianggap tidak merugikan mereka dalam hal mencari duit, di samping itu juga atas pertimbangan pilihan waktu pada jam tersebut yang biasanya kurang produktif untuk bekerja di pasar.
Meski hanya dua jam sehari, belum tentu juga semua anak yang ikut dalam program ini dapat sepenuhnya mengikuti. Kendalanya adalah karena tingkat mobilitas keluar masuk2 yang cukup tinggi, selain itu ada pula peserta yang justru baru masuk dan sebelumnya belum pernah hadir sama sekali. Bahkan kegiatan dapat bubar begitu saja ketika ada acara menarik di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) yang justru bukan program sekolah.
Kendala ini untungnya dapat di atasi dengan keuletan pengajar dan hubungan yang dekat dengan anak –anak, keluarganya dan pemeliharanya. Hal ini dilakukan karena mengingat mereka ini merupakan modal yang sangat besar dan berarti untuk mengembalikan anak – anak itu masuk kembali ke dalam program.
Setelah program berjalan satu tahun, kemudian anak –anak yang dinilai berprestasi diikutsertakan dalam ujian persamaan SD, sedang bagi yang memiliki kemampuan lebih disalurkan ke SMP terbuka. Sedang bagi yang kurang ‘mampu’ diberikan ketrampilan tambahan berupa kursus otomotif, kursus menjahit, memasak, perkayuan, sablon dan kerajinan tangan membuat bunga kering dan cendera mata lainnya.
Dalalm program ini YNDN telah berhasil membantu 23 orang anak untuk menyelesaikan sekolah dasarnya dengan mengikutkan mereka dalam ujian SD. Namun bagi mereka yang bekerja sebagai pedagang kecil, selain menerima ijazah persamaan SD juga diberikan bantuan berupa gerobak dorong untuk mengembangkan usahanya. Selain itu kegiatan yang tidak terpisahkan dari program ini adalah pemberian modal usaha ekonomi yang produktif kepada 40 kepala rumah tangga. Sifat kedua bantuan tersebut diberikan diberikan kepada kepala keluarga dengan model dana bergulir, yakni diberikan dalam suatu kelompok dan dipergunakan secara bergiliran antar anggota.
Semua kegiatan yang telah dilakukan oleh YNDN, dikerjakan bersama – sama dengan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Jakarta, PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), Karang Taruna dan juga Majlis Ta’lim setempat, serta pelajar kelas akhir Sekolah Menengah Sosial (SMPS) Negeri Jakarta. Dengan kerja secara bersama – sama ini maka pendidik yang mampu membangun empati dan memberi perhatian serta kasih sayang, dapat membangun kesadaran akan hari depan yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s