METODOLOGI PENELITIAN PADA STUDI LANJUT

METODOLOGI PENELITIAN PADA STUDI LANJUT
(Disampaikan pada Pembukaan Program Magister Pendidikan Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi, FMIPA UNJ, 1.8.2012)

Nusa Putra
(Dosen Prodi P IPS, FIS UNJ & Peneliti pada PUSLIJAK, BALITBANG, KEMDIKBUD)

BERUBAH!
(Power Rengers)

Dasar filosofi atau paradigma keilmuan berubah sangat cepat. Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolution (1970) menyebutnya revolusi paradigma. Perubahan revolusioner dalam paradigma terjadi karena muncul anomali. Paradigma keilmuan lama dalam hal ini positivisme dan neopositivisme, tidak lagi memiliki daya penjelasan yang akurat dan memadai atas berbagai gejala yang muncul. Dalam fisika, ketidakpastian Heisenberg, dan relativitas Einstein telah menjungkirbalikkan paradigma keilmuan Newtonian yang secara definitif dijelaskan dalam karya besarnya PHILOSOPIA NATURALIS PRINCIPIA MATHEMATICA. Dunia keilmuan memasuki kawah candradimuka, gejolak luar biasa dalam pertarungan paradigma. Einstein (Capra, 2006:46) menegaskan, segenap upaya saya mengadaptasi landasan teoritis fisika dengan pengetahuan (yang baru) ini sama sekali gagal. Hal ini terasa bagaikan bumi ditarik dari bawah, tanpa pijakan kukuh sehingga sesuatu bisa dibangun di atasnya.
Perubahan cepat yang menggoyahkan itu jejaknya antara lain dapat ditelusuri pada Ideas a history of though and invention, from fire to freud (Watson, 2006), Arguing About Knowledge (Neta & Pritchard ed, 2009), Smart World: Breakhtrough Creativity and the New Science of Ideas (Ogle,2008), Handbook of Emergent Methods (Hesse-Biber & Leavy ed,2008), Handbook of Research On Teacher Education: Enduring Question in Changing Contexts (Cochran-Smith et al,2008), dan Handbook of Mixed Methods In Social & Behavioral Research (Tashakkori & Teddlie ed, 2010).
Pada hakikatnya perubahan dan gejolak itu menegaskan, kini tidak ada lagi paradigma dominan dalam wacana dan praktik keilmuan dan penelitian. Konsekuensinya, para mahasiswa, terutama yang sedang kuliah pada studi lanjut tidak boleh lagi hanya diberi ‘kaca mata kuda’, berkutat dengan satu-satunya paradigma yaitu paradigma positivisme yang menjadi landas tumpu penelitian kuantitatif. Cara ini bukan saja tidak demokratis dan melanggar HAM, juga sudah sangat ketinggalan zaman. Kahneman, pemenang hadiah Nobel Ekonomi 2002 dalam Thinking, Fast and Slow (2011) menganjurkan penggunaan pendekatan dan cara berfikir yang beragam dalam pemecahan masalah.
Pada sisi lain ilmu juga menghadapi sejumlah problem serius. Horgan dalam The End of Science (2005) mengurai dan menegaskan ilmu sedang berada dalam senjakala. Maknanya ilmu seperti mentok, tertatih-tatih dan kehilangan kemampuan untuk terus maju melaju. Senjakala fisika ditunjukkan dengan tidak munculnya teori besar pasca Einstein. Calon teori besar dalam fisika yaitu superstring yang antara lain membahas ruang 11 dimensi, lebih mirip puisi daripada ilmu. Sementara biologi seperti berputar-putar dalam kontroversi teori Darwin. Neurosains yang berhasil menjelaskan berbagai hal tentang otak, tidak mampu menjelaskan fenomena kesadaran.
Hal yang sama terjadi pada filsafat, khususnya filasafat ilmu. Revolusi paradigma yang dimulai oleh Kuhn dilanjutkan secara ekstrim oleh Lakatos dan Feyerabend, serta campuran posmoderen yang menghasilkan paradigma ‘apa saja boleh’ yang menjurus pada anarkisme. Mereka berhasil menunjukkan bahwa ilmu tidak lebih hebat dan benar dibandingkan mitos. Bahkan ilmu telah berubah menjadi mitos.
Ini semua seyogiyanya memberi kita kesadaran, terutama mereka yang sedang menata dirinya untuk menjadi guru yang ilmuwan atau ilmuwan yang guru, bahwa kebenaran ilmu tak pernah mutlak. Bagaimanapun kebenaran ilmu tetaplah tentatif, probabalistik, dan relatif. Maknanya, metodologi penelitian hanyalah salah satu jalan untuk mencaritemukan kebenaran dan kepastian. Bukan satu-satunya jalan menuju kepastian dan kebenaran.
Kesadaran ini akan menghindarkan kita dari saintisme. Saintisme adalah pandangan yang meyakini bahwa ilmu adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran dan kepastian. Selain ilmu, atau yang bukan ilmu dianggap sebagai tahayul. Pandangan ini secara ekstrim diucapkan salah seorang tokoh dalam film Titanic, yang menegaskan, “Tuhan pun tidak dapat menenggelamkan kapal ini!”.
Meskipun masa keemasan saintisme telah berlalu. Namun, jejak dan pengaruhnya masih terasa sampai kini. Simaklah, betapa banyaknya agamawan yang mencari alasan dan bukti saintifik untuk membenarkan iman. Sepenting itukah sains? Sampai sangat dibutuhkan untuk menopang iman? Cara fikir seperti ini adalah bentuk halus saintisme. Karena itu mempelajari ilmu dan cara kerjanya dalam metodologi penelitian haruslah didedikasikan untuk memecahkan masalah-masalah praktis yang nyata. Bukan untuk mencarikatemukan makna hakikat hidup dan keberadaan manusia. Karena ilmu dan metodologi penelitian ‘gak nyandak’ atau tidak pernah sampai ke situ!
Pada hakikatnya atau secara filosofis metodologi penelitian dihayati sebagai tools atau perkakas untuk memecahkan masalah-masalah empiris atau yang nyata seperti: mengapa matematika bagi sebagian siswa dirasakan sebagai mata pelajaran mati-matian? Bagaimana membuat pelajaran fisika semenarik dan menyenangkan seperti games warcraft? Bagaimana menjadikan pelajaran kimia menantang dan menyenangkan seperti acara master chef ? Bagaimana merekayasa pelajaran biologi selucu dan semenarik sponge bob atau shaun sheep?
Ketika belajar pada strata S1, kita telah berpengalaman menggunakan metode penelitian untuk mencoba merumuskan dan memecahkan masalah-masalah nyata itu. Kita mengerti bagaimana merumuskan masalah, memanfaatkan teori untuk menjelaskan variabel dan merumuskan hipotesis. Juga mengerti bagaimana menguji hipotesis, menentukan sampel, dan menarik kesimpulan menggunakan statistik.
Jadi, kebagaimanaan (epistemologi) ilmu yang berujud metodologi penelitian, mudah-mudahan sudah sangat dimengerti. Pertanyaannya adalah, apakah juga dimengerti mengapa hipotesis harus diturunkan dari teori, mengapa berdasar sampel yang terbatas, bisa dibuat kesimpulan tentang populasi yang lebih luas (generalisasi)?
Selama ini, di S1 memang persoalan itu tidak didalami atau dikupas tuntas. Sebab, tujuan mempelajari metodologi penelitian pada S1 memang memampukan mahasiswa melakukan penelitian untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran. Jadi, orientasinya praktis operasional. Karena itu kajian filosofis yang menjadi landas tumpu berbagai konsep dan cara kerja metodologi penelitian tidak atau kurang didalami.
Pada studi lanjut, tujuan dan keadaannya harus berbeda. Para mahasiswa studi lanjut tidak boleh hanya memahami kebagaimanaan, juga harus mengerti keapaan atau hakikat (ontologi) dan kemengapaan (aksiologi) seluruh metodologi penelitian yang ada, dan terutama yang akan digunakannya. Mereka harus mengerti paradigma atau landasan filosfis dari tiap metodologi penelitian. Karena itu mata kuliah filsafat ilmu pada studi lanjut tidak boleh diarahkan untuk mendorong mahasiswa menjadi filsuf, tetapi memberi mereka landasan yang kokoh untuk menjadi ilmuwan guru atau guru ilmuwan.
Kuliah filsafat ilmu memang bertugas menjelaskan secara tuntas landasan filosofis ilmu, terutama paradigma metodologi penelitian keilmuan, dengan cara bertanya dan mempertanyakan yang menjadi ciri khas filsafat. Artinya, penekanannya pada pemikiran analistis dan sintesis sekaligus. Pemikiran analitis mendorong mahasiswa untuk kritis, sementara pemikiran sintesis membuka peluang bagi berkembangnya kreatifitas. Kritis dan kreatif, itulah tujuan utamanya.
Sebagai contoh, penarikan sampel yang sangat teknis itu ada landasan filosofisnya. Dalam penelitian kuantitatif, pengambilan sampel acak sangat populer. Dari populasi yang banyak dan luas dipilih secara acak sejumlah sampel. Menariknya, jika sejumlah persyaratan terpenuhi, dari penelitian atau pengujian terhadap sampel yang terbatas ini dapat ditarik kesimpulan ke populasinya yang lebih luas. Proses ini biasa disebut generalisasi. Generalisasi merupakan karakteristik utama dalam penelitian kuantitatif.
Sedangkan dalam penelitian kualitatif, penarikan sampel acak dengan maksud generalisasi tidak boleh dilakukan. Penarikan sampel yang populer dalam penelitian kualitatif adalah purposif, yang bersifat sangat terbatas dan didasarkan pada sejumlah alasan yang harus dijelaskan. Hasilnya tidak mengikuti nalar generalisasi, tetapi transferability. Mengapa sangat berbeda, bahkan cenderung bertentangan?
Karena dua metodologi penelitian itu didasarkan pada landasan filosofis atau paradigma yang berbeda. Metodologi penelitian kuantitatif berlandastumpu pada filsafat positivisme dan neopositivisme, sedangkan metodologi penelitian kualitatif didasarkan pada filsafat fenomenologi, konstruktivisme/interpretif, dan interaksionalisme simbolik. Sementara itu pragmatisme menjadi fondasi bagi Research & Development ( R & D) dan metode campur sari (mix methods).
Penarikan sampel yang berbeda itu berakar pada perbedaan pemahaman dan penghayatan terhadap realitas dalam beragan filasafat di atas. Positivisme memahami realitas itu tunggal,homogen, dan dapat diukur, contohnya adalah air mineral. Jika ingin mengetahui rasa air mineral, tidak perlulah meminumnya segelas, sebotol apalagi segalon. Karena realitas air mineral itu dimaknai sebagai tunggal dan homogen, cukup meminumnya seteguk atau sesendok sebagai sampel, dan itu sudah mewakili seluruh populasinya (segelas, sebotol atau segalon).
Sebaliknya filasafat yang melandasi metode penelitian kualitatif memahami dan menghayati realitas sebagai heterogen atau jamak, berlapis- lapis, dan unik, seperti sop buah. Apa rasa sop buah? Tidak dapat disimpulkan hanya dengan memakan buah yang dipilih secara acak. Bayangkan jika anda mengatakan sop buah rasanya seperti lengkeng karena yang terpilih secara acak adalah lengkeng. Bisa jadi dikira anda minun jus lengkeng, bukan sop buah. Rasa sop buah bisa dirumuskan setelah anda menghabiskannya. Karena dalam sop buah terdapat banyak sekali buah yang rasanya juga beraneka. Yang tidak ada dalam sop buah adalah buah simalakama. Karena jika ada buah simalakama, pasti akan menyulitkan anda. Di makan mati ayah, tidak dimakan mati ibu. Begitulah jamak, berlapis dan uniknya realitas dalam pandangan pendukung metodologi penelitian kualitatif.
Bukan hanya pemilihan sampel, semua aspek teknis dalam metodologi penelitian memiliki pendasaran filosofis sebagai basis dan penjelasannya. Cara kerja deduktif, pentingnya teori, pengujian hipotesis, dan fungsi statistik dalam penelitian kuantitatif, dan cara kerja induktif, perumusan hipotesis secara induktif, dan tidak dominannya teori dalam penelitian kualitatif, berakar pada paradigma atau filosofi yang melandasinya.
Pada studi lanjut, pendasaran filosofis atas berbagai metodologi penelitian harus dijelaskan secara mendalam, luas dan tuntas dalam filsafat ilmu. Karena itu filsafat ilmu pada studi lanjut bidang pendidikan tidak boleh menghabiskan waktunya untuk menjelaskan pemikiran para filsuf seperti Plato, Descartes dan semua pendiri dan penganjur rasionalisme, atau Aristoteles, David Hume serta para tokoh empirisme. Tentu saja sumbangan mereka pada ilmu boleh dibicarakan (Putra, 2011). Namun yang lebih penting dibahas adalah pendasaran filosofis atas metodologi penelitian. Agar mahasiswa mendapat pemahaman mendalam dan dapat memilih serta menggunakan metodologi penelitian secara tepat dan akurat.
Pemahaman mendalam atas pendasaran filosofis atau paradigma itu akan membangun kesadaran bahwa tidak ada metodologi penelitian super. Semua metodologi penelitian memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu indikator untuk memilih metodologi penelitian yang akan digunakan, bukan didasarkan pada kelebihan metodologi penelitian yang satu dibandingkan metodologi penelitian yang lainnya. Tetapi ditentukan oleh tujuan dan masalah penelitian yang akan dilaksanakan. Konsekuensinya adalah, si peneliti harus merumuskan dengan tepat dan jelas serta memastikan masalah dan tujuan penelitiannya.
Bila si peneliti bertujuan untuk:
1. Menjelaskan/eksplanasi hubungan atau pengaruh antarvariabel dan menguji hipotesis, maka metodologi penelitian yang paling tepat adalah kuantitatif
2. Memahami secara mendalam/eksplorasi, menemukan tema, pola, menggali proses, pengalaman subjektif partisipan, maka yang cocok adalah metodologi penelitian kualitatif
3. Melakukan perubahan ke arah perbaikan dan pemberdayaan, maka yang tepat digunakan adalah penelitian tindakan
4. Melakukan inovasi, menciptakan model, produk, prosedur, cara kerja baru, yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (Research & Development= R & D)
5. Menjelaskan dan memahami, memahami dan memberdayakan, inovasi dan memberdayakan, menggunakan metodologi campur sari (mix methods)
6. Merumuskan dan mengevaluasi kebijakan, memanfaatkan metodologi penelitian kebijakan.

Keberagaman metodologi penelitian inilah yang harus menjadi isi mata kuliah metodologi penelitian pada studi lanjut. Tentu saja porsinya disesuaikan dengan tujuan-tujuan khusus pemelajaran terkait bidang studi. Sudah bukan zamannya mahasiswa studi lanjut hanya dijejali satu menu, yaitu metodologi penelitian kuantitatif. Harus ditegaskan bila mereka hanya diberi menu tunggal itu, kita telah menzhalimi mereka. Menu tunggal itu akan membuat mereka seperti ‘katak di bawah katak di bawah tempurung’.
Keberagaman itu semakin penting dalam ranah pendidikan. Sebab pendidikan merupakan proses yang terencana, bertujuan, sistematis, terstruktur, dan terukur untuk membantu, mendorong, mengarahkan, dan mengelola manusia menuju perbaikan dan peningkatan kemanusiaannya. Oleh karena berurusan dengan manusia, pendidikan merupakan proses yang kompleks. Kompleksitas itu berakar pada hakikat manusia sebagai makhluk multidimensional. Alangkah ruginya, jika kompleksitas proses pendidikan itu hanya didekati dan dikaji dengan metodologi penelitian kuantitatif yang cenderung mereduksi atau menyederhanakan kompleksitas itu ke dalam sejumlah variabel yang terbatas dan sempit.
Dalam semangat hendak menggalakkan keberagaman itulah, saya menulis sejumlah buku penelitian yaitu:
1. Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi (Indeks, 2011)
2. Research & Development: Suatu pengantar (Rajagrafindo, 2011)
3. Riset Partisipatori (Kemenag, 2012)
4. Penelitian Kualitatif Pendidikan Agama Islam ( & Santi Lisnawati, Rosda Karya, 2012)
5. Penelitian Kualitatif PAUD (& Ninin Dwilestari, Rajagrafindo, 2012)
6. Metode Penelitian Campur Sari (Mix Methods) (& Hendarman, dalam proses penerbitan, Indeks)
7. Metode Penelitian Kebijakan ( & Hendarman, dalam proses penerbitan, Rosda Karya)
8. Penelitian Kualitatif Ilmu Sosial ( dalam proses penerbitan, Sinar Harapan)
9. Penelitian Kualitatif Pendidikan ( dalam proses penerbitan, Rajagrafindo)
10. Penelitian Kualitatif Manajemen ( dalam proses penulisan).

Keberagaman itu bukan saja memberi pemahaman yang mendalam atas berbagai metodologi penelitian. Tetapi juga membuka peluang bagi berbagai alternatif pilihan sesuai dengan kemampuan, minat, dan persoalan nyata yang sungguh-sungguh dihadapi dan dirasakan oleh para mahasiswa. Keberagaman adalah berkah.
Dalam proses pemelajaran, jangan memberikan pemahaman bahwa berbagai metodologi penelitian itu saling bertentangan. Masa tingkai pangkai dan perdebatan sengit antarparadigma telah lama berlalu. Kini beragam metodologi penelitian itu berada dalam satu rentang atau kontinum. Kuantitatif di ujung yang satu, dan kualiatatif di ujung yang lain. Di antara keduanya ada R & D, Mix Methods, dan Penelitian Tindakan.
Terjadi dinamika di antara metodologi itu. Pada mulanya penelitian tindakan merupakan bagian dari penelitian kualitatif, kini penelitian tindakan cenderung menggunakan penelitian eksperimen yang berasal dari penelitian kuantitatif dalam uji coba untuk melakukan perbaikan. Sebaliknya dengan R & D. Pada mulanya R & D lekaterat dengan eksperimen untuk menguji model atau produknya. Kini R & D justru dekat dengan pemberdayaan yang sangat kualitatif dalam penelitian pemberdayaan masyarakat. Ini bermakna zaman kekakuan dan pertikaian metodologi sudah menjadi sejarah. Mahasiswa harus menikmati berbagai sintesis kreatif dalam metodologi penelitian.
Penelitian pendidikan memang cenderung dan mampu memanfaatkan semua paradigma itu. Cohen, Manion & Morrison (2007:7) menegaskan,
Educational research has absorbed several competing views of social sciences-the established, traditional view and interpretive view, and several others that we explore in this chapter- critical theory, feminist theory and complexity theory.
Pada hakikatnya penelitian pendidikan memiliki kemampuan memanfaatkan beragam pandangan yang saling bersaing, mulai dari yang tradisional sampai yang paling mutakhir. Dalam semangat itulah mata kulaih metodologi penelitian harus dikembangkan pada studi lanjut.
Keberagaman itulah yang ditampilkan oleh sejumlah buku penelitian pendidikan yang ditulis oleh para pakar tingkat dunia. Buku-buku itu adalah:
1. John W. Creswell (2012). Educational Reserach.
2. Marguerite G. Lodico, Dean T. Spaulding & Katherine H. Voegtle (2006). Methods in Educational Research.
3. Louis Cohen, Lawrence Manion, & Keith Morrison (2007). Research Methods in Education.
4. William Wiersma & Stephen G. Jurs (2009). Research Methods in Education.
5. L. R. Gay, Geoffrey E. Mills & Peter Airasian (2009). Educational Research.
6. Meredith D. Gall, Joyce P. Gall & Walter R. Borg (2007). Educational Research.
7. National Research Council (2005). Advancing Scientific Research In Education.
Keberagaman itu bisa ditunjukkan dengan penggunaan penelitian kualitatif dalam pendidikan. Terdapat sejumlah strategi atau jenis penelitian kualitatif yang berbasis penelitian lapangan. Peneliti boleh memilih sesuai tujuan dan masalahnya. Jika ia hendak meneliti secara sempit dan dalam (selam) bagaimana siswa yang sangat cerdas, atau siswa yang tergolong lambat belajar dan memahami matematika dapat menggunakan studi kasus kualitatif. Bila tertarik untuk menggali pengalaman subjektif individu atau sejumlah individu seperti bagaimana pemahaman dan penghayatan guru fisika terhadap profesinya dan proses pemelajaran fisika, bisa menggunakan fenomenologi. Juga, bila berkeinginan mengeksplorasi secara mendalam bagaimana siswa mengalami fisika. Ketika mahasiswa ingin membangun teori tentang pemelajaran kimia, ia dapat memulainya dengan mengobservasi sejumlah guru kimia yang sedang melakukan proses pemelajaran, dan memanfaatkan grounded theory. Bila berkeinginan mendalami tradisi belajar-mengajar biologi di sekolah unggulan, peneliti menggunakan etnografi.
Marton (Sherman & Webb,2005) dan para koleganya mengembangkan fenomenografi. Pada mulanya mereka tertarik pada jawaban yang sangat beragam dari para pelajar ketika diberi soal fisika. Fisika adalah ilmu pasti, meteka berharap jawabannya akan relatif sama atau ‘beti’ beda-beda tipis. Ternyata ada keberagaman jawaban yang relatif sangat berbeda. Fenomenografi adalah penelitian yang menggali respon yang berbeda ketika sejumlah siswa menghadapi fenomena yang sama. Fokus yang digali adalah apa penyebab perbedaan itu, dan bagimana derajat keberbedaan itu. Kini, ratusan disertasi telah ditulis menggunakan fenomenografi.
Menggunakan R & D para mahasiswa studi lanjut berkesempatan mengembangkan berbagai model pembelajaran atau media pembelajaran yang sama sekali baru sebagai upaya inovasi. Sementara itu dengan penelitian tindakan, ada kesempatan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran yang sekarang sedang dikelola oleh para mahasiswa. Oleh sebab itu mata kuliah metodologi penelitian harus memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi penelitiannya, agar mereka memiliki kesempatan untuk mencaritemukan berbagai solusi yang praktis dan bermakna atas berbagai persoalan pendidikan dan pemelajaran yang nyata.
Jika mata kuliah metodologi penelitian berisi keberagaman, maka ada konsekuensi logis pada mata kuliah statistik. Mata kuliah itu sebaiknya merupakan mata kuliah analisis data, dan statistik merupakan salah satu isinya. Karena harus ada tempat untuk analisis data kualitatif.

Daftar Pustaka

Cohen, Louis, Lawrence Manion & Keith Morrison (2007). Research Methods In Education. London: Routledge.
Capra, Fritjof (2006). The Tao of Physics: menyingkap kesejajaran fisika modern dan mistisisme Timur. Yogyakarta: Jalasutra.
Horgan, John (2005). The End of Science. Jakarta: Teraju.
Kahneman, Daniel (2011). Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux.
Kuhn, Thomas S. (1970). The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: The University of Chicago Press.
Putra, Nusa (2011). Ilmu dan Nilai. Dalam Sabarti & Winda ed. Filasafat Ilmu Lanjutan. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Sherman, Robert R. & Rodman B. Webb ed (2005). Qualitative Research In Education: Focus and Methods. London: Routledge.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s