Contoh Proposal Etnografi Pendidikan

KARAKTERISTIK BUDAYA  SEKOLAH BERKARAKTER

Dr. Nusa Putra

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sekolah bisa dilihat dan dimaknai dengan banyak cara. Sekolah adalah sebuah sistem yang terdiri dari banyak unsur pendukung. Sekolah  merupakan lembaga pendidikan formal. Sekolah adalah komunitas yang diikat oleh tujuan yang terencana dan terukur. Sekolah adalah masyarakat belajar. Sekolah adalah cermin masyarakat.

Apapun makna sekolah dan bagaimanapun sekolah dilihat, sekolah merupakan tempat penyemaian nilai-nilai, baik nilai-nilai yang harus dilestarikan maupun nilai-nilai yang mengandung benih perubahan. Sebagai akibatnya sekolah harus terus menerus menata dan mengembangkan beragram program dan aktivitas yang membuatnya memiliki kemampuan untuk sekaligus  bisa menghadapi tuntutan masyarakat dan tantangan hari depan bagi anak didiknya.

Tidak mudah bagi sekolah untuk menghadapi tuntunan dan tantangan itu. Sebab sekolah, negeri atau swasta, terikat pada sejumlah aturan yang harus dipenuhi sebagai syarat keberadaan dan kelangsungannya. Dalam konteks seperti inilah sekolah harus mengembangkan kreativitas untuk mempertahankan keberadaannya, membentuk dan mengembangkan jati diri atau karakteristik sekolah, menciptakan berbagai aturan dan program yang dapat membentuk dan mengembangkan peserta didik, mengembangkan berbagai tradisi dan kebiasaan atau habitus yang mengarah pada keunggulan komparatif dan kompetitif sekolah.

Sekolah juga harus mengembangkan kemampuan untuk memilah, memilih, dan mengolah berbagai aspirasi, tuntutan masyarakat, peserta didik, dan tujuan serta target yang telah ditentukan pemerintah yang terus meningkat setiap tahunnya. Hanya dengan mengembangkan kemampuan-kemampuan itulah sekolah dapat mempertahankan dan meningkatkan kebermaknaannya bagi masyarakat yang menjadi pemangku kepentingan yang utama.

Dalam berbagai upaya sekolah untuk memenuhi tuntutan dan tantangan tersebut, melewati waktu dan beragam pengalaman, biasanya secara terstruktur atau tidak, sekolah kemudian memiliki sejumlah tradisi, kebiasaan, nilai, aturan main, dan simbol-simbol yang membuat sekolah itu berbeda dari sekolah lain. Pada tingkat ini, sekolah telah mengembangkan, melaksanakan dan menghayati budaya sekolah.

Peterson dan Deal (2009:7) menegaskan bahwa budaya sekolah sangat penting dikaji karena  sangat menentukan kinerja, tampilan dan mutu sekolah. Peterson dan Deal (2009:9) menguraikan,

Culture exist in deeper elements of a school: the unwritten rules and assumptions, the combination of rituals and traditions, the array of symbols and artifact, the special language and phrasing that staff and the students use, and the expectations about change and learning that saturate the school’s world.

Sementara itu Finnan & Swanson (2000:78) menjelaskan,

A school’s culture is composite of a culture that existed in the past, the cultural assumptions brought to the school by members of the school community, and the cultural force in the larger community…. The assumptions, beliefs, and values that shape school cultures can be grouped into five components of school culture. They include the following:

  1. 1.      Assumptinos related to expectations for children
  2. 2.      Assumptions held by children about themselves and their future
  3. 3.      Assumptions related to expectation for adult (teachers, principals, and parents)
  4. 4.      Assumptions about educational practices that are considered “acceptable”
  5. 5.      Assumptions about the value of changes.

 

Beranjak dari pendapat-pendapat di atas tampak dengan jelas bahwa penelitian tentang budaya sekolah mencakupi suatu kawasan yang sangat luas dan sekaligus mendalam. Penelitian bisa beranjak dari bangunan fisik sekolah, tata letak gedung, halaman, tempat ibadah, lingkungan, kebersihan sekolah, manajemen sekolah, kualitas pegawai, model dan kualitas pelayanan, tradisi sekolah, prestasi sekolah, fasilitas pendukung pemelajaran, sejarah sekolah, model-model dan metode pemelajaran, model dan pelaksanaan evaluasi, kegiatan ekstra kurikuler, latar belakang dan kualitas guru, model kepemimpinan kepala sekolah. Juga masuk dalam bidang kajian: nilai-nilai, aturan, kebiasaan, harapan, keinginan, dan aspirasi yang berkembang di kalangan murid, guru, kepala sekolah, orang tua murid, dan masyarakat. Bisa digali pula persepsi serta harapan murid terkait dengan dirinya, gurunya, sekolahnya, dan hari depannya. Hal yang sama bisa digali dari guru, kepala sekolah dan orang tua murid. Termasuk dalam kawasan budaya sekolah adalah model komunikasi dan interaksi yang terjalin di sekolah antara murid dengan murid, murid dengan guru, guru dengan guru, murid dengan kepala sekolah, guru dengan kepala sekolah, sekolah dan masyarakat. Tidak ketinggalan cara dan tradisi sekolah mengelola konflik, menerapkan hukuman dan memberi penghargaan. Cara-cara sekolah mengembangkan kompetisi dan kooperasi di antara murid, guru, dan kelas. Model dan strategi sekolah menata kelas, kantin, taman, dan toilet. Budaya sekolah memang merentang dari yang abstrak seperti nilai sampai yang konkret seperti penataan ruang, sangat luas dan mendalam.

 

 

 

B. Fokus Masalah

Penelitian tentang budaya sekolah sangat luas cakupannya. Oleh karena itu pada penelitian ini   dibatasi fokusnya pada budaya sekolah yang mencakup tradisi akademis dan sosial. Pembatasan ini didasarkan pada keyakinan bahwa kedua tradisi ini sangat menentukan kualitas dan keberadaan sekolah.

Tradisi akademis mencakup:

  1. Guru: rekrutmen, pembinaan, kompetensi, penilaian kinerja dan sistem penghargaan
  2. Proses pemelajaran: metode pemelajaran, sistem  evaluasi, program-program tambahan dan pengayaan, solusi bagi siswa lambat, sistem penghargaan bagi siswa berprestasi, sistem kompetisi dan kooperasi antar siswa dan kelas, pemanfaatan perpustakaan dan laboratorium, kegiatan-kegiatan khusus akademik, teknik-teknik motivasi yang dikembangkan
  3. Kegiatan ekstra kurikuler: bentuk dan jenis, keberlangsungan, dan keikutsertaan murid dan guru
  4. Capaian prestasi: sekolah, murid dan guru: pada tingkat sekolah, daerah, nasional dan internasional

Tradisi sosial meliputi:

  1. Model-model komunikas dan interaksi: siswa-siswa, siswa-guru, guru-guru, siswa-kepala sekolah, guru-kepala sekolah, sekolah-masyarakat
  2. Kegiatan-kegiatan sosial
  3. Sumbangansih sosial pada masyarakat
  4. Status sosial ekonomi murid dan guru

Fokus ini akan berkembang selama penelitian belangsung. Namun cakupannya tetap pada kedua tradisi yang telah ditentukan.

Atas dasar fokus masalah di atas, pertanyaan penelitian ini adalah:

“Bagaimanakah karakteristik budaya Sekolah Berkarakter terkait dengan tradisi akademis dan sosial?”

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki sejumlah tujuan spesifik sebagai berikut:

  1. Mendapatkan gambaran atau deskripsi yang lengkap tentang latar penelitian terkait dengan aspek geografis, demografis, fisik, dan sosial budaya
  2. Mengkaji secara lengkap, rinci dan mendalam tradisi akademis sekolah sesuai dengan fokus yang telah ditentukan
  3. Mengkaji secara lengkap, rinci, dan mendalam tradisi sosial sekolah sesuai dengan fokus yang telah ditentukan
  4. Mendapatkan gambaran yang menyeluruh, rinci, lengkap dan mendalam tentang budaya sekolah terkait dengan tradisi akademis dan sosial yang dirumuskan dalam bentuk model dan proses.

 

 

 

 

 

 

BAB II

METODOLOGIPENELITIAN

 

A. Metode Penelitian

Penelitian budaya sekolah ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe atau strategi etnografi. Creswell (2012:462) menguraikan,

Ethnographic design are qualitative research procedures for describing, analyzing and interpreting a culture-sharing group’s patterns of behavior, beliefs, and language that develop over time.

Etnografi diplih karena merupakan tipe penelitian kualitatif yang fokusnya adalah mendeskripsikan, menganalisis dan menginterpretasikan kebudayaan kelompok. Terkait dengan pendidikan, sebagaimana dijelaskan oleh Wiersma & Jurs (2009:273) etnografi merupakan,

The process of providing holistic and scientific descriptions of educational system, processes, and phenomenon within their specific contexts.

Dengan demikian etnografi pendidikan adalah metode yang paling tepat untuk mengeksplorasi budaya sekolah seperti telah dirumuskan dalam fokus masalah.

B. Tahapan Penelitian

Penelitian etnografis ini dilaksanakan mengikuti tahapan dan proses penelitian kualitatif yang bersifat induktif, dan terdiri dari tahapan sebagai berikut:

1. Tahap penjajakan atau orientasi lapangan ( grand tour)

  1. Para peneliti melakukan kegiatan terkait dengan administrasi/perizinan
  2. Para peneliti melakukan diskusi menentukan strategi untuk memasuki latar penelitian
  3. Para peneliti melakukan kunjungan ke latar atau tempat penelitian dilaksanakan. Ini merupakan kegiatan inti pada tahapan ini. Sewaktu berada di tempat penelitian, dalam penelitian ini adalah Sekolah Berkarakter, para peneliti melakukan pengawamatan dan wawancara. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan gambaran umum tentang latar penelitian, membangun hubungan dengan partisipan, dan mencari informan kunci
  4. Para peneliti membuat catatan lapangan sebagai hasil kunjungan ke latar penelitian.

2. Tahap Perumusan Temuan Awal dan Penentuan Strategi Penelitian

Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif yang menganalisis data sepanjang penelitian berlangsung, maka para peneliti melakukan analisis terhadap catatan lapangan yang dihasilkan dari tahapan penjajakan. Berdasarkan temuan awal ini, para peneliti menentukan strategi lapangan terkait dengan fokus mana yang akan dikaji lebih dulu, siapa dari partisipan yang akan diwawancara, atau para peneliti bersepakat untuk  membentuk dua kelompok dan masing-masing kelompok menggali fokus yang berbeda. Semua keputusan sangat tergantung temuan lapangan.

3. Tahap Eksplorasi Fokus Penelitian (mini tour)

Tahap ini merupakan tahap inti atau utama dalam penelitian etnografis ini. Pada tahap ini para peneliti mengeksplorasi fokus penelitian melalui wawancara kualitatif, pengamatan biasa dan pengamatan partisipatif, focus discussion groups (FGD), dan analisis dokumen. Para peneliti harus mewawancara para murid, para guru para pimpinan sekolah, orang tua siswa, komite sekolah, dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan informasi terkait fokus penelitian. Para peneliti juga harus melakukan pengamatan terhadap berbagai aktivitas yang terkait dengan fokus penelitian, melaksanakan FGD, mencari dan menganalisis dokumen yang tekait dengan fokus penelitian. Para peneliti harus membuat berbagai catatan kualitatif yaitu catatan lapangan, notulensi FGD, dan hasil analisis dokumen.

4. Tahap Analisis Data Lanjutan

Pada tahap kedua telah dilakukan analisis data terhadap hasil penjajakan lapangan. Selama proses eksplorasi fokus, para peneliti juga melakukan analisis data untuk menentukan eksplorasi lebih lanjut. Ketika kegiatan eksplorasi sudah sampai pada data jenuh, penelitian diakhiri dan analisi data dilanjutkan. Oleh karena kegiatan inti sudah dilakukan, didapatkan deskripsi yang menyeluruh, lengkap, rinci dan mendalam, maka dilakukan analisis data lanjutan yang bisa menghasilkan kategori, tema, pola, proses, dan model tradisi akademis dan sosial.

5. Tahap Pemeriksaan Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif tidak dilakukan pemeriksaan kebasahan instrumen, tetapi pemeriksaan keabsahan data. Nusa Putra (2012a:87-88) menjelaskan, untuk keperluan pemeriksaan keabsahan data dikembangkan empat indikator, yaitu: (1) kredibilitas, (2) keteralihan atau transferability, (3) kebergantungan, dan (4) kepastian. Uji kredibilitas data diperiksa dengan teknik-teknik sebagai berikut:

a. Perpanjangan pengamatan

b. Peningkatan ketekunan pengamatan

c. Triangulasi

d. Pengecekan teman sejawat

e. Pengecekan anggota

f.  Analisis kasus negatif

g. Kecukupan referensial.

Dalam penelitian ini diusahakan semua indikator pemeriksaan keabsahan data   digunakan untuk memastikan  bahwa datanya akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

6. Tahap Analisis Data Akhir dan Perumusan Hasil Penelitian

Setelah pemeriksaan keabsahan data, dilakukan analisis akhir untuk menyimpulkan hasil penelitian dan temuan penelitian. Analisis ini merupakan kelanjutan dari analisis sebelumnya. Pada tahap ini sudah bisa disimpulkan katergori, tema, pola, model dan proses dari fokus penelitian.

7. Tahap Pembuatan Laporan

Keseluruhan proses dan hasil penelitian harus  ditulis secara sistematis dalam laporan akhir yang berisi keseluruhan proses,   kesimpulan dan semua yang ditemukan dalam penelitian. Dalam laporan ini dilampirkan catatan lapangan, dan hasil analisis data beserta semua dokumen yang dianalisis yang ditemukan selama proses  penelitian berlangsung, dan foto-foto.

8. Tahap Pasca Lapangan

Para peneliti melakukan atau menyelenggarakan seminar untuk mendapatkan masukan dan mempertanggungjawabkan proses dan hasil penelitian.

 

C. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian etnografis ini menggunakan teknik pengumpulan data yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif, dan yang kerap digunakan dalam penelitian etnografis. Teknik yang lazim digunakan  untuk pengumpulan data dalam penelitian kualitatif adalah:

1. Wawancara

Wawancara yang dilakukan adalah wawancara kualitatif atau yang juga dikenal sebagai wawancara mendalam. Berbeda dengan wawancara formal yang biasanya sangat terstruktur dan relatif terbatas atau tertutup. Wawancara mendalam dilakukan secara informal dalam bentuk perbincangan sehari-hari terhadap semua partisipan. Wawancara bertujuan menggali fokus penelitian secara mendalam, karena itu dilakukan secara berkelanjutan, dan pada partisipan tertentu mungkin dilakukan berulang-ulang.

2. Pengamatan

Dalam penelitian kualitatif, pengamatan dilakukan dengan beragam jenis pengamatan yaitu pengamatan biasa atau terjarak, pengamatan terlibat atau partisipatif terbatas, dan pengamatan terlibat atau partisipatif penuh. Dalam proses penelitian, para peneliti akan menentukan aktivitas, peristiwa atau kejadian apa saja yang harus diamati. Peneliti juga akan menentukan    kapan waktunya melakukan pengematan partisipatif untuk menggali fokus lebih dalam dan rinci.

3. Analisis Dokumen

Untuk mendapatkan deskripsi dan pemahaman mendalam atas fokus penelitian, para peneliti akan mengumpulkan sejumlah dokumen seperti silabus, rencana pelaksaan pemelajaran, pekerjaan siswa dan berbagai dokumen yang terkait lainnya. Domumen-dokumen itu dianalisis untuk memperdalam, dan memperinci temuan penelitian.

4. Focus Groups Discussion (FGD)

Oleh karena yang diteliti adalah budaya sekolah yang melibatkan dan dihayati oleh komunitas, maka perlu untuk mendiskusikan berbagai topik agar didapatkan pandangan yang lebih komprehensif tentang fokus penelitian. Diskusi akan dilakukan dalam kelompok dengan topik-topik tertentu yang dapat membantu memperdalam sekaligus memeriksa data. FGD bisa dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri dari para siswa, para siswa dan guru, para guru dan orang tua siswa, para guru dan pimpinan sekolah, para siswa, guru, dan kepala sekolah.

Saukko (2003:62,64,67) menambahkan beberapa cara yang biasa digunakan untuk memperkaya data yaitu:

a. Self-reflexivity

Refleksi peneliti atau para peneliti atas temuan atau   hasil perbincangan dengan partisipan  dan hasil pengamatan. Agar terhindar dari bias pribadi sebaiknya refleksi tersebut merupakan hasil perbincangan mendalam dengan teman sejawat yang memiliki keahlian.

b. Polyvocality

Kemampuan peneliti atau para peneliti untuk menemukan suara atau pendapat yang sangat majemuk, bahkan saling bertentangan dari   para partisipan terkait dengan fokus penelitian. Temuan ini dapat ditinjaklanjuti dan diperdalam dalam FGD.

c. Testimony/Pengakuan/Kesaksian

Dalam penelitian kualitatif, khususnya dalam etnografi testimoni atau pengakuan dari partisipan yang terlibat dalam fokus penelitian sangat penting untuk dimanfaatkan demi pendalaman dan pemahaman fokus. Bagaimana pengalaman murid dan guru selama bersekolah, akan lebih mendalam jika  diungkapkan dalam bentuk testimoni. Seperti semua data, testimoni pastilah juga harus diperiksa keabsahannya.

D. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, instrumen utama penelitian adalah peneliti atau para peneliti. Demi kecukupan referensial, para peneliti dapat menggunakan catatan, kamera foto, kamera video, dan perekam suara.

E. Teknik Sampling Purposif

Dalam penelitian kualitatif teknik samplingnya adalah purposif. Dipilih atas tujuan dan alasan tertentu. Para partisipan yang akan diwawancara dan diamati dalam penelitian ini dipilih karena mereka adalah orang-orang yang terlibat dan menghayati tradisi akademik dan sosial di sekolah yang diteliti. Karena alasan itu mereka dipilih sebagai partisipan yang diteliti. Dalam prakteknya akan digunakan teknik ‘bola salju’ yang semakin lama akan semakin membesar dan padat. Artinya partisipan yang satu akan menunjuk pertisipan yang lain, aktivitas tertentu terkait dengan aktivitas lain, begitulah seterusnya sampai seluruh fokus penelitian tergali dan terungkap.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah modifikasi dari Milles & Huberman (Nusa Putra,2011:204) dan analisis kategori Spradley yang disederhanakan.

One thought on “Contoh Proposal Etnografi Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s