TAHUN BARU DAN ORANG BADUY

                                                   TAHUN BARU DAN ORANG BADUY

Seorang agamawan mengingatkan anak-anak muda untuk tidak ikut serta dalam pesta-pesta dan keramaian pergantian tahun. Tegas ia katakan, tradisi memperingati pergantian tahun bukan tradisi agama kita. Lebih baik tetap di rumah perbanyak zikir atau baca AlQuran. Perhatikan, tiap pergantian tahun ada saja yang mati percuma tabrakan di jalan. Lagi pula buat apa buang-buang duit untuk pasang petasan dan bakar-bakar ayam atau ikan. Lebih baik uangnya diberikan pada anak yatim untuk sekolah mereka, lebih berguna. Kebanyakan yang ngeramaiin tahun baru tak shalat subuh karena begadang dan tidur justru menjelang subuh, tandasnya.

Tak ada yang salah dalam nasihat sang agamawan. Apapun agama kita, memang sebaiknya melakukan yang terbaik, terutama untuk saudara-saudara yang pantas ditolong, terutama anak yatim. Tetapi apa benar tahun baru ada hubungannya dengan tradisi agama tertentu?

Tahun baru merupakan tradisi yang sangat panjang dalam sejarah manusia. Tahun baru sebenarnya menunjukkan kesadaran akan waktu yang terus berjalan ke depan, tak pernah berhenti apalagi mundur. Itu berarti perlu melakukan peninjauan secara mendalam atau refleksi atas apa yang sudah dilakukan pada tahun yang telah lampau, dan apa yang hendak dilakukan pada keakanan, tahun mendatang. Jadi, bila melakukan refleksi untuk mendapatkan yang lebih baik di tahun depan, rasanya sah-sah aja la.

 

Tahun baru bukanlah peringatan yang dilakukan pertama kali oleh orang Eropa yang kebanyakan beragama Kristen. Bangsa Babylonia, 2500 sebelum masehi, memperingati pergantian tahun setelah musim semi. Mungkin sekitar mei-juni, pada kalender sekarang. Pergantian tahun itu diperingati dengan sangat meriah. Bangsa Mesir Kuno melakukan hal yang sama. Sekitar tahun 135 sebelum masehi, kaisar Romawi mulai menetapkan tahun baru pada tanggal 1 Januari dikaitkan dengan pemujaan dan ucapan syukur pada dewa matahari. Mereka menggunakan sistem perhitungan berdasarkan perkisaran matahari, namun dengan jumlah hari melampaui 400.

 

Pada mulanya pejabat Gereja Katolik menolak dan melarang peringatan tahun baru karena ada unsur pemujaan terhadap dewa matahari. Namun, karena di Eropa peringatan tahun baru sudah sangat mentradisi sampai ke berbagai pelosok, akhirnya para petinggi Gereja Katolik mengadopsinya, tentu dengan berbagai perubahan. Kita tentu ingat Paus Gregorius yang mengoreksi sistem penanggalan yang lama.

 

Tampaknya tradisi yang pada mulanya bertentangan dapat diadopsi dan dimodifikasi, diterima dan terus dipelihara. Cara seperti ini tampaknya terjadi dalam banyak agama dan budaya. Sebelum Islam datang, kaum elit Arab sudah biasa bermusyawarah, namun musyawarah dilakukan hanya di kalangan elit yang terbatas. Islam memodifikasi musyawarah ini dengan melibatkan semua orang yang berkepentingan, bukan hanya sebatas elit.

 

Saling pengaruh antarbudaya tampaknya merupakan keniscayaan dalam kehidupam sosial. Saling pengaruh itu antara lain bisa ditelusuri dari bahasa yang digunakan. Dalam bahasa Indonesia banyak kata yang berasal dari bahasa-bahasa Eropa seperti gubernur, perkedel, atret, dan bezuk. Juga dari bahasa Arab seperti musyawarah, rakyat, dan adil. Tentu saja kata-kata itu harus disesuaikan dengan cara ucap, penulisan, bahkan makna yang lebih sesuai dengan bahasa Indoneia. Inilah konsekuensi adopsi dan adaptasi. Ada yang berubah, menyesuaikan diri, dan terkadang sampai sulit menemukan bentuk dan makna aslinya.

 

Antonio Gramsci memperkenalkan konsep hegemoni budaya untuk menjelaskan fenomena ini. Budaya yang superior menghegemoni yang inferior. Pada masa lalu melalui senjata, perang dan penjajahan. Sekarang menggunakan persuasi dengan menanamkan cara berfikir menggunakan berbagai media. Para kapitalis melakukannya  terutama melalui iklan dan promosi. Jadi, sepintas seperti tidak ada korban, karena perubahan seakan-akan berlangsung tanpa paksaan.

 

Situasi itulah yang kelihatannya telah terjadi dengan orang Baduy, terutama Baduy Luar, dan generasi muda Baduy Dalam. Datanglah ke Baduy. Tepat di pintu masuk desa Baduy Luar teluar telah nangkring toko waralaba terkenal yang sudah membuka gerainya pada hampir semua tempat di Indonesia. Tampaknya para pengusaha waralaba seperti ini punya prinsip, di mana ada orang, di situ kita jualan. Peduli amat siapa orang-orang itu.

 

Begitu masuk ke perkampungan Baduy Luar, kita langsung ketemu warung yang menjual semua makanan dan minuman pabrikan yang dimiliki orang Baduy. Anak-anak Baduy menggunakan baju kaos Barcelona, MU, Real Madrid dan klub-klub Eropa lain. Beberapa menggunakan kaos Sponge Bob dan Upin-Ipin. Pada banyak jemuran tergantung BH dan celana dalam modis aneka warna. Pemandangan sama ditemui sampai desa Baduy Luar yang terletak di tengah hutan.

 

Tidak sedikit keluarga yang telah memiliki kamar mandi sendiri lengkap dengan wc jongkok keramik dengan merek yang sama dengan yang digunakan bayak orang. Di kamar mandi itu ada sabun cuci bubuk, berbagai jenis dan merek shampo lengkap dengan kondisioner, dan beragam sabun mandi cair. Para wanita muda telah terbiasa dengan odorono dan lipstik. Beberapa anak muda memiliki telepon genggam yang memanfaatkan rumah dan warung penduduk untuk mengecasnya. Para bayi menggunakan pempers dan mendapatkan makanan tambahan. Para bidan rajin berkeliling menyambangi ibu-ibu hamil, dan memberi berbagai obat pabrikan.

 

Jaro atau kepala desa Baduy Luar yang berbicara campuran bahasa Sunda dan Indonesia menjelaskan: kami tetap menjaga adat leluhur nenek moyang, tapi memilih mana yang berguna dari kehidupan moderen. Kami tetap tidak mau memakai listrik dan menonton televisi atau mendengar radio, pendidikan kami larang karena bisa merusak anak-anak, kami tidak boleh pakai handphone. Tetapi lihatlah, rumah sang jaro dipenuhi poster besar foto anak perempuannya, bahkan ada foto saat sang jaro menghadiri wisuda sebuah perguruan tinggi.

 

Baduy, terutama Baduy Luar, semakin berubah. Tsunami modernitas seperti tak terhindarkan merasuk jauh ke pantai dan lubuk hati banyak orang Baduy, terutama generasi mudanya. Beberapa gelintir orang, atas nama agama rajin melakukan bakti soial ke Baduy dengan harapan semoga orang Baduy dapat di arahkan ke jalan yang benar. Karena mereka percaya orang Baduy berada dalam kegelapan dan harus diberi cahaya terang. Pertanyaannya: apakah orang Baduy tidak boleh hidup dengan keyakinannya akan kebenaran? Apakah kebenaran yang kita bawa lebih baik dari yang mereka hayati? Sungguh pemikiran bahwa orang Baduy harus di bawa ke jalan yang benar atau ke cahaya terang, bukan saja menghina orang Baduy, melainkan sangat menghina manusia dan Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri yang berfirman: tidak ada paksaan, keras atau lembut, dalam kebenaran?

 

Generasi tua di Baduy Dalam sudah banyak yang bisa berbahasa Indonesia. Mereka yang dulu menjaga jarak dengan para tamu, kini bersikap sangat ramah. Sekarang lebih mudah untuk menginap di Baduy Dalam. Anak-anak mereka bersedia menjadi penunjuk jalan dan membawakan barang-barang para pendatang dengan bayaran tertentu.

 

Sementar itu Pemerintah daerah menjadikan Baduy tujuan wisata. Mereka juga terus mengusahakan orang Baduy memasuki peradaban. Tentu saja maksudnya baik, agar orang Baduy menjadi seperti orang Indonesia lain. Memiliki martabat sebagai manusia Indonesia. Itulah sebabnya orang Baduy kini memiliki e-ktp dan ikut pemilihan umum. Foto calon Bupati Lebak tertempel bahkan di dalam rumah orang Baduy.

 

Karena menjadi desa wisata, maka Baduy menjadi komoditi yang mesti dijual. Ini soal peningkatan pendapatan daerah. Banyak jejak parwisata di Baduy. Jalan ke Baduy Dalam dipenuhi sampah plastik, bungkus berbagai makanan dan minumam pabrikan. Siapa saja bisa masuk ke mana saja. Banyak tempat terlarang bisa dimasuki. Apa saja bisa dijual dan diberi simbol-simbol Baduy. Kebanyakan buatan pabrik yang tidak ada hubungannya dengan orang Baduy. Dalam jumlah yang makin meningkat, turis lokal yang datang ke Baduy berbuat seenaknya, kurang atau tidak menghargai aturan hidup dan ketentuan memasuki wilayah Baduy.

 

Tidak sedikit orang Baduy yang membeli tanah di luar tanah ulayat, bahkan beberapa memiliki ternak ayam yang cukup besar di luar wilayah Baduy. Banyak orang Baduy telah menjadi bagian dari ekonomi pasar sebagai peserta aktif. Kepemilikan pribadi ini tampak memicu persaingan di antara beberapa orang Baduy. Sudah pasti ini bertentangan dengan semangat kebersamaan yang menjadi ruh masyarakat Baduy.

 

Kita bisa berdialog, berdiskusi, berdebat bahkan bersitegang untuk mengedepankan argumentasi pro atau kontra tekait dengan perubahan yang kini terjadi di Baduy. Perubahan merupakan takdir alam semesta dan manusia yang tak dapat ditolak oleh siapa pun. Orang Baduy pasti berubah, kini apalagi nanti. Sebab modernitas adalah buldozer yang dapat menghantam dan meremukkan budaya apapun. Apalagi budaya dan ekonomi kapitalis selalu punya alasan untuk dan atas nama peningkatan kualitas hidup manusia, untuk mendorong percepatan perubahan. Apa yang tak digerus oleh modernitas dan kapitalisme?

 

Mestinya, biarlah orang-orang Baduy menentukan pilihannya secara bebas. Beri mereka kesempatan untuk berinteraksi dan berdialektika dengan modernitas melalui cara mereka yang khas. Biarkan mereka menentukan sendiri arah perubahan yang mereka tempuh dan tuju. Kita boleh membantu, memberdayakan agar mereka dapat melakukan emansipasi dengan kekuatan sikap dan budaya mereka. Kita harus menjadi bagian dari bangsa ini yang menjaga keberadaan dan kebertahanan orang Baduy dengan segala keunikannya dan keberbedaannya itu. Bukan untuk dijual sebagai komoditi pariwisata. Tetapi untuk menghargai orang dan budaya Baduy. Karena: INDONESIA DAN KEINDONESIAAN BISA DIPERTAHANKAN BILA KITA MENJAGA DAN MEWUJUDKAN BHINNEKA TUNGGAL IKA.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s