TAHUN BARU DAN KITA

                                                                      TAHUN BARU DAN KITA                                                           

 

Alhamdullillah, hari ini 1 Januari 2013 kita masih menghirup udara segar, melewati 2012 yang dihebohkan oleh isu kiamat. Bersyukur pada Allah atas apapun yang telah kita nikmati sampai detik ini. Rasa syukur wajib diungkapkan karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, sebentar lagi, besok, minggu depan, apalagi tahun depan. Bahwa hari ini kita masih hidup di sini, sangat pantas disyukuri.

 

Hidup  bergerak maju sebagai sebuah kontinum yang berisi momen kelampauan, kekinian, keakanan. Kita bisa dengan mudah mengenang kelampauan, masa-masa kecil atau remaja yang indah. Sekarang kita sedang menghayati dan menikmati kekinian. Tapi bagaimana dengan keakanan. Apakah kita sungguh-sungguh pernah datang ke keakanan, ke masa depan. Setiap kali kita katakan ‘saya sekarang sedang menulis’, bukankah sekarang telah jadi kelampauan sebelum ia selesai diucapkan. Bukankah sebenarnya kita terus menerus berada dalam kekinian? Kita hidup kini dan di sini. Lantas di mana keakanan? Kapan sebenarnya masa depan itu?

 

Betul, kita hidup kini dan di sini. Tetapi tidak berhenti kini dan di sini. Hidup terus mengalir bergerak ke depan. Ini bermakna keakanan bukanlah suatu ruang kosong yang kita sambangi, atau keadaan yang tiba-tiba datang secara mendadak menghampiri kita. Namun, suatu kesempatan yang kita rancang pada kekinian. Keakanan memang ada dalam fikiran, imajinasi dan angan-angan kita. Pencapaiannya sangat tergantung pada apa yang kita rencanakan dan perbuat pada kekinian. Tentu saja kelampauan bisa memberikan corak pada keakanan. Sebab, kelampauan memengaruhi kekinian kita, entah sebongkah atau secuil. Maknanya, kita bisa secara aktif menentukan keakanan. Kita makhluk yang menyejarah. Datang dari kelampuan, terus berbuat di kekinian, dan menunju ke keakanan.

 

Mengapa disebut kita bisa secara aktif menentukan keakanan? Apa makna kata bisa? Sebab pada dasarnya keakanan tidak dapat kita tentukan sendiri, keakanan  juga sangat ditentukan oleh ada-ada yang lain. Bagi saya yang akhirnya paling menentukan adalah Ada Yang Lain. Konsekuensinya, jangan pernah berfikir dan merasa bahwa kita dapat menentukan keakanan. Keyakinan bahwa kita bisa menentukan keakanan adalah ilusi, fatamorgana.

 

Sebenarnya penalaran seperti itulah yang terkandung dalam janji adanya kehidupan di seberang kematian. Akan berada di kavling sebelah mana di akhirat, setelah mati,  kita tentukan pada kehidupan sangat singkat di dunia ini, kini dan di sini. Sangat penting memberi makna  pada keberadaan kita di kekinian. Sebab faktanya keakanan atau masa depan yang paling pasti adalah kematian. Berbuat baik setiap hari, kini dan di sini, dapat menentukan keakanan kita di seberang kematian.

 

Penalaran ini berlaku bagi kita yang  hidup dengan penghayatan waktu linier: lahir-hidup-mati. Juga dialami orang-orang yang hidup dengan penghayatan waktu siklis yaitu: lahir-hidup-mati-lahir kembali. Bedanya yang linier hanya punya satu kesempatan, sedangkan yang siklis memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk menjadi yang terbaik atau terburuk.

 

Kehadiran tahun baru, apakah dihitung berdasar kisaran bulan atau matahari, semestinya dimaknai seperti itu. Mencermati dan mengalisis secara reflektif, jernih dan apa adanya semua aktivitas setahun yang berlalu, dan apa yang direncanakan untuk tahun yang mulai dijelajahi. Dengan demikian diharapkan hidup kita makin bermakna, bagi diri sendiri dan orang lain.

 

Karena itu agak sulit dimengerti apa sumbangan, korelasi, dan pengaruh pesta kembang api yang menghabiskan jutaan dollar (Sydney 6,9 & Hongkong 1,6 juta dollar) dengan penalaran hakiki tahun baru ini. Dalam tradisi China, tahun baru memang wajib menyalakan kembang api dan petasan. Makin meriah, makin terang dan indah, serta makin kuat dentumannya makin bagus. Sebab, suara keras petasan dan nyala apinya diyakini dapat mengusir semua unsur jahat dalam dunia menghadapi tahun baru. Dalam konteks itulah bisa dipahami mengapa China yang menemukan mesiu.

 

Pesta meriah menyambut pergantian tahun yang menyebar hampir di semua pelosok dengan kegembiraan yang berlebihan dan cenderung menghabiskan uang tampaknya mesti dicermati dengan teliti. Mengapa? Karena pada hakikatnya setiap pertambahan waktu yang kita lewati mulai dari detik, menit, jam, hari, sampai tahun, sebenarnya semakin mendekatkan kita pada kematian. Waktu menggerogoti kita detik demi detik, seperti ulat bulu menggerogoti pucuk daun. Ya…setiap pergantian tahun umur kita berkurang. Kematian begitu dekat, kata penyair Abdul Hadi W.M.

 

Apakah pesta besar pergantian tahun adalah naluri bawah sadar manusia untuk melupakan atau melawan kematian. Menunjukkan bahwa mereka mampu mengatasi kematian, dan meremehkannya. Atau justru mau menunjukkan mesti mati tak terelakkan, pasti datang, tapi mereka tetap dapat bergembira menyambutnya. Atau justru kegembiraan itu sepenuhnya karena merasa berhasil melewati kelampauan dan menyosong keakanan yang dihayati sebagai anugerah panjang umur. Ya….ini persolan cara memaknai realitas. Bila bertolak dari usia kelahiran yang ada di kelampauan, pergantian tahun merupakan pertambahan usia. Sebaliknya jika dilihat dari titik kematian yang pasti terjadi pada keakanan, pergantian tahun adalah pengurangan usia, atau kesempatan untuk hidup. Dalam konteks yang kedua, pesta kembang api terlihat tragis, merayakan perjalanan ke kematian dengan pesta yang meriah.

 

Tidak mengherankan, di beberapa negara Amerika Latin, ada tradisi memperingati pergantian tahun dengan berkumpul di makam. Ini dilakukan untuk dua hal sekaligus. Menjenguk yang telah pergi ke kematian, dan mengingatkan diri sendiri bahwa suatu saat nanti, juga harus pergi menuju kematian. Karena itu ritual utamanya adalah berdoa. Tentu tak ada kembang api dan petasan.

 

Memperingati atau merayakan pergantian tahun sebenarnya adalah sebuah momen kecil dalam kehidupan karena sudah ditradisikan sejak sebelum masehi. Setahun dianggap waktu yang tepat untuk menentukan sebuah batas antara kelampauan dan keakanan. Namun, kita seharusnya menyadari dan menghayati perjalanan waktu secara intens dalam keseharian. Refleksi atas perjalanan waktu mesti dilakukan sesuai dengan masalah dan tantangan setiap individu. Tidak perlu harus dilakukan hanya dalam satu momen tertentu bersama-sama. Karena setiap kita menghadapi dan menghayati hidup dengan cara yang tidak sama.

 

Kita tak boleh bermain-main dengan waktu. Waktu tak dapat dibendung atau dibelokkan. Ia terus mengalir dan tak memperdulikan kita. Kita tak pernah bisa mengatur waktu. Yang sesungguhnya terjadi adalah kita mengatur diri agar dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Karena itu jangan pernah katakan, atur waktumu! Ini sama sekali tak mungkin. Yang mungkin kita lakukan adalah, atur dirimu!

 

Waktu lebih dahsyat dari tsunami, karena waktu maju terus dan tak pernah kembali lagi seperti tsunami yang menerjang ke depan, tetapi kembali lagi ke laut. Kita menulis sejarah, mendirikan museum untuk mengenang keperkasaan waktu. Waktu lebih keras dari titanium, lebih tajam dari sinar laser. Dapat menghancurkan dan mencincang kita menjadi hanya seonggok kenangan.

 

Tak heran jika Tuhan bersumpah: Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

 

KEBERMAKNAAN HIDUP KITA, KINI DAN NANTI SANGAT DITENTUKAN BAGAIMANA CARA KITA MEMBERMAKNAKAN KEKINIAN.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s