KEJAHATAN PLANKTOON

EJAHATAN PLANKTOON

 Planktoon, kecil, tengil dan jahil. Otaknya yang seupil sepenuhnya berisi rencana jahat untuk mencuri resep kraby patty. Segala cara telah ia lakukan untuk mendapatkan resep itu, dengan menyamar menjadi neneknya sendiri dan Garry, membuat gas bayi, memacari ibu tuan Krab, dan membuat jalan tol, serta berpura-pura jadi psikiater.

 Seluruh upayanya total gagal berantakan, dan selalu berakhir dengan tragis, karena Planktoon sendiri yang menjadi korban. Korban kejahatan sendiri. Namun, ia tak jera dan tak pernah jera. Kegagalan tampaknya makin meningkatkan motivasinya untuk terus mengembangkan ide-ide kreatif dan brilian demi mendapatkan resep kraby patty.

 setiap kali menjalankan aksi jahatnya, Planktoon menhalalkan segala cara. Ia bisa sangat kejam, sadis, juga simpatik, bahkan empatis. Tentu saja semuanya merupakan strategi untuk mencapai niat busuknya mencuri resep. Dalam segala aksinya itu, ia bukan saja sangat cerdas, tetapi juga ulet dan pekerja keras. Ia teliti dan selalu memanfaatkan teknologi mutakhir hasil kreasinya sendiri.

 Sebenarnya, dengan segala kecerdasan, kerja keras dan kreasinya, Planktoon dapat menciptakan sesuatu yang bisa jadi lebih spektakuler dibandingkan kraby patty. Ia juga sudah terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk semua kerja kerasnya yang selalu hanya sampai nyaris berhasil. Tak pernah berhasil.

 Tampaknya rasa iri dan dendam yang membuatnya selalu ingin menghancurkan tuan Krab. Kehancuran itu pasti datang jika ia berhasil mengambil satu-satunya kelebihan dan harta karun tuan Krab yaitu resep kraby patty. Oleh karena itu ia terus menyusun rencana jahatnya. Bagi Planktoon, kejahatan bukan sekedar hobi dan profesi, melainkan panggilan hidup.

 

Kiranya, kejahatan seperti melekat pada kemanusiaan kita, dan terus hadir di dunia sejak dahulu kala sampai senjakala kiamat. Sampai seluruh manusia akhirnya boyong ke akhirat. Kejahatan muncul bersama kehadiran Adam. Kejahatan yang disimbolkan dengan iblis hadir karena tidak mau tunduk pada manusia. Antara lain karena merasa bahan dasarnya bukan saja berbeda, tetapi lebih tinggi dari manusia. Karena itu kejahatan sungguh sangat problematis.

 

Kejahatan tidak menyenangkan, mengganggu, tragik dan cenderung kejam, namun ia selalu hadir dalam semua celah kehidupan. Beberapa orang mempersepsi kejahatan seperti rempah yang membuat hidup penuh aroma dan kehangatan tantangan. Sebagian orang melihat kejahatan seperti seonggok sampah di kamar tidur. Yang lain lagi merasakan kejahatan bagai virus yang meracuni tubuh. Tapi ada pula yang menghayati kejahatan sebagai oksigen yang memastikan hidup dapat dijalani dengan normal. Yang terakhir ini memilih kejahatan sebagai jalan hidup, seperti Planktoon.

 

Bagi mereka yang suka berfikir serius dan kritis, problem kejahatan bisa membuat mereka hanyutlarut dalam kegalauan mendalam. Sebutlah Isaac Newton, salah seorang genius dalam sejarah ilmu dan kemanusiaan, sebagai contoh. Ia dengan rela melepas agama yang dianutnya, dan menjadi pengusung Deisme. Deisme adalah keyakinan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta seperti pembuat arloji. Para pembuat arloji menciptakan arloji lengkap dengan semua pirantinya, dan arloji itu dapat berfungsi seterusnya tanpa  keikutsertaan pembuatnya. Arloji bekerja sendiri dengan piranti, hukum, dan prosedur yang sudah melekat padanya yang dibuat oleh si tukang arloji. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dengan kesempurnaan. Alam bergerak tanpa campur tangan Tuhan.

 Newton sampai pada keyakinan itu justru karena ingin menjaga kesucian Tuhan. Ia tidak dapat menerima keyakinan yang menyatakan Tuhan menentukan segala-galanya, dan penentu akhir semua kejadian. Karena, menurut Newton, bagaimana menjelaskan kejahatan, bila Tuhan penentu akhir segalanya. Apakah Tuhan ikut menentukan munculnya kejahatan? Newton tak menerima  nalar ini. Baginya merupakan kontradiksi yang tak dapat diterima, bila Tuhan yang Maha Suci, ikut memutuskan terjadinya kejahatan. Baginya, Deisme adalah cara yang paling rasional untuk mempertahankan keyakinan bahwa Tuhan Maha Suci, sekaligus menjelaskan eksistensi kejahatan. Dalam Deisme diyakini bahwa kejahatan muncul tanpa campur tangan Tuhan, tetapi karena adanya pelanggaran dan anomali yang dilakukan manusia atas hukum yang telah ditetapkan Tuhan untuknya. Jangan salahkan tukang arloji, bila arloji rusak, tegas Newton.

 Newton bukanlah satu-satunya tokoh yang terlibat serius merenungkan problema kejahatan. Sejarah panjang filsafat sejak Socrates sampai kini, diramaikan oleh pembahasan dan perdebatan tentang problema kejahatan. Tidak hanya dalam filasafat Barat, juga filsafat Timur. Sejarah pemikiran agama, semua agama, juga dihebohkan oleh perdebatan tentang topik ini.

 Hebohnya perdebatan tentang kejahatan tidaklah mengherankan. Sebab, kejahatan begitu konkret. Kejahatan selalu menimbulkan korban, bahkan seringkali  rangkaian korban. Lihatlah di dalam bus kota yang padat, seorang petugas kebersihan yang bergaji kecil, dicopet orang saat baru saja menerima gaji. Sangat menyakitkan, hasil kerja keras sebulan, diambil para penjahat. Ia menangis, dada terasa sesak karena membayangkan anak istrinya yang menunggu di rumah. Bayangkan, bagaimana perasaan dan suasana hati seorang gadis abg yang diperkosa beramai-ramai. Apakah ia masih memiliki harapan masa depan? Lihatlah gedung-gedung sekolah yang ambrol, jalanan yang rusak parah, orang miskin yang ditelantarkan di rumah sakit, korban bencana yang dapat makanan seadanya. Semua ini terjadi karena kejahatan luar biasa yaitu korupsi. Terbukti dengan sangat jelas bahwa kejahatan sangat merusak dan menghancurkan kemanusiaan.

 Wajar kan, bila kejahatan terus dipersoalkan, dari zaman ke zaman. Apalagi kini, ketika kejahatan semakin canggih berkat pemanfaatan teknologi. Paradigma, metode dan modus kejahatan semakin berkembang. Baru-baru ini kita dihebohkan oleh penangkapan seorang mucikari alias germo yang memanfaatkan internet untuk menawarkan ribuan wanita cantik di berbagi kota di Indonesia. Sebuah jejaring kejahatan yang tertata rapi, dan terstruktur.

 

Sebenarnya dimanakah akar kejahatan itu? Apakah ada di dalam diri manusia, melekat di dalam dirinya, atau ditambahkan padanya? Atau kejahatan dipungut secara tidak sengaja di lorong gelap kehidupan manusia?

 Salah satu sumber cerita untuk memahami kejahatan adalah kejatuhan Adam. Bermula dari penolakan iblis untuk tunduk pada Adam, berujung ia diusir dari syurga. Iblis bersumpah akan menggoda, mengganngu, dan menyesatkan Adam dan seluruh anak cucunya tanpa kecuali. Tuhan memberi kesempatan pada iblis sebagai suatu cara untuk menguji manusia. Cerita berlanjut, Adam digoda iblis untuk menikmati buah terlarang, Adam tergoda dan terbuang. Adam akhirnya bertobat.

 Cerita ini mengisyaratkan bahwa kejahatan tidak melekat pada manusia, tetapi ditambahkan padanya dengan dan melalui iblis. Kemudian ada perdebatan, apakah iblis itu makhluk, sifat, atau sekaligus makhluk dan sifat. Artinya makhluk yang bisa menjelma menjadi sifat dalam diri manusia.

 Meskipun ada variabel iblis, rasanya manusia tak pernah bisa dibebaskan dari kejahatan yang telah dilakukannya. Karena kebebasan dan nurani melekat dalam diri manusia. Sebagai pembanding untuk menunjukkan pentingnya peran manusia dalam mengelola diri dan komunitasnya untuk menjauhi kejahatan adalah memperhatikan suku-suku pedalaman di Indonesia seperti masyarakat Baduy, Dayak, Samin, dan Anak Dalam. Mengapa kejahatan kurang atau tidak muncul dan berfungsi dalam hidup masayarakat itu? Apa iblis kurang berfungsi di situ?

 Beberapa orang berpendapat, pada masyarakat itu kejahatan jarang muncul karena mereka sangat sederhana. Tidak ada atau sedikit pencuri karena tidak ada yang bisa dicuri. Apa benar? Di situ tidak ada pemerkosaan, padahal ada yang bisa diperkosa. Jadi, kesederhanaan masyarakat itu tidak dapat dijadikan alasan tidak atau kurang berfungsinya kejahatan.

 Coba kita perhatikan angka kejahatan berbagai negara. Negara-negara Skandinavia yang dekat dengan kutub, dan udaranya cenderung dingin, angka kejahatannya relatif kecil. Di negara-negara dengan penegakan hukum yang tegas dan konsisten seperti Sinagpura, kejahatan juga relatif kecil. Sedangkan di Indonesia, yang hukum dan penegak hukumnya bisa diperjualbelikan angka kejahatan luar biasa, terutama korupsi. PPATK dalam refleksi akhir tahun menyebut lebih dari 60 persen anggota DPR disinyalir melakukan korupsi.

 Beragam fakta di atas memberi petunjuk pada kita bahwa,

 MESKIPUN KEJAHATAN ITU SELALU ADA DAN MENGHANCURKAN KEMANUSIAAN, KITA BISA MELAWAN DAN MENGHANCURKANNYA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s