KEBIASAAN BARU PATRICK

KEBIASAAN BARU PATRICK

Sponge Bob bersedia mengajarkan karate pada Patrick. Patrick sangat bersukacita. Sponge Bob mengajar Patrick bagaimana mengggunakan tangannya untuk memukul dan membelah apa saja. Karate memang mengajarkan agar manusia menghargai, menjaga, dan memanfaatkan tubuh dan anggota tubuhnya. Manusia jangan terlalu tergantung pada alat dan peralatan. Manusia harus tergantung dan mengandalkan badanya sendiri. Karena itu, badan atau tubuh harus dilatih agar kuat, segar, tegar dan selalu siap dalam berbagai keadaan.

Patrick berlatih keras, membelah apa saja dengan tangannya. Karena terus dibiasakan, lama-lama Patrick punya kebiasaan baru yaitu membelah apa saja dengan tangannya menggunakan gaya karate. Pada mulanya benda-benda yang tak berguna, tetapi sekarang segalanya dihancurkannya. Patrick jadi ketagihan dan ketergantungan, sampai-sampai ia sendiri tidak dapat lagi mengendalikan dirinya. Tanggannya kini merusak apa saja di Bikini Bottom.

Penduduk Bikini Bottom sangat terganggu dengan ulah dan kebiasaan Patrick ini. Sponge Bob ikut merasa bersalah dan mencoba menyadarkan Patrick bahwa kebiasaannya itu sangat merusak. Patrick pun ingin berubah, tetapi tidak bisa. Akhirnya Patrick membuat keputusan, memotong tangannya yang digunakan untuk membelah apa saja. Kini Patrick terbebas dari kebiasaan buruk itu. Sponge Bob ikut senang.

Tapi masalah belum berakhir. Karena sifat alaminya, tangan Patrick yang telah dipotong tumbuh menjadi makhluk baru seperti Patrick. Makhluk itu melanjutkan kebiasaan buruk Patrick. Jika Patrick membelah apa saja dengan satu tanggannya, makhluk baru itu dengan seluruh tubuhnya. Sebab ia sepenuhnya tumbuh sebagai makhluk dengan kebiasaan buruk. Bikini Bottom kini memiliki masalah sangat serius, menghadapi makhluk yang sepenuhnya jahat!

Kejahatan memang sangat problematis. Persoalannya sekarang adalah, apakah kejahatan bisa menular atau diturunkan? Saya percaya kejahatan tidak menular dan tidak dapat diturunkan. Ayah Nabi Ibrahim pembuat patung sesembahan, Nabi Ibrahim justru jadi penghancur berhala sesembabahan itu. Anak Nabi Nuh tidak ikut dalam perahu, karena ia termasuk yang berperilaku tidak baik.

Tetapi kejahatan bisa ditularkan dan diajarkan, terutama selama masa pengasuhan. Di kalangan masyarakat kita berkembang pepatah, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Dalam masyarakat juga berkembang omongan, jika pencuri ayam masuk penjara, keluar dari penjara pasti ia bisa mencuri kambing. Bila masuk penjara lagi, nanti keluar dia mencuri sapi. Ucapan ini ada benarnya, meski tidak sepenuhnya benar.

Hitler dibesarkan dengan disiplin yang keras dan cenderung kasar. Ia sering mengalami kekerasan yang keterlaluan dari ayahnya yang menginginkan Hitler menjadi yang terbaik. Kekerasan itu adalah bagian dari pendisiplinan. Tentu, bukan hanya pengasuhan itu saja yang melahirkan seorang Hitler. Kondisi sosial dan karakteristik zamannya yang dipenuhi dengan perang besar, pastilah ikut memberi andil. Manusia memang tidak bisa menentukan dirinya secara mutlak, meskipun ada sejumut (lebih sedikit dari sejumput) kebebasan yang dapat dinikmatinya. Kita tidak bisa memilih siapa ayah dan ibu, dimana dan kapan dilahirkan. Kebebasan manusia itu sangat terbatas.

Foulcault dalam kajiannya tentang orang gila, kegilaan, rumah sakit dan penjara menemukan pendisiplinan yang sangat ketat cenderung mengarah pada kekerasan. Dan kekerasan selalu beranak pinak kekerasan, bahkan kejahatan. Para ahli neurosains melaui penelitian lapangan dan eksperimen membuktikan perkembangan otak, dan perilaku, lebih banyak ditentukan oleh lingkungan kontekstual dimana kita dibesarkan. Ini juga berlaku bagi binatang. Karena itu kelinci dan monyet yang lahir dan besar di alam bebas, lebih kuat dan lebih adaptif daripada yang dipelihara manusia.

Tetapi manusia dengan kebebasannya yang sejumut itu bisa, biasa dan selalu membuat perbedaan, dan dapat keluar dari determinisme lingkungan, bahkan dari determinisme atau pengaruh pola otaknya yang relatif telah terbentuk dan terstruktur. Siapakah Umar dan Abuzhar AlGhifari sebelum masuk dan menjadi pembela Islam? Siapakah Paulus dan Maria Magdalena sebelum menjadi orang penting dalam agama Kristen? Siapakah Sidharta Gautama sebelum mendapat pencerahan menjadi Budha? Bukankah Karl Marx tidak berasal dari keluarga dan lingkungan buruh yang dibelanya? Siapakah Malclom X sebelum menjadi tokoh Islam Amerika?

Manusia bukanlah kedele yang sangat terbatas bisa diolah menjadi tempe, tahu, toge, tauco, soya dan beberapa produk turunan lainnnya. Manusia bisa berubah menjadi yang tak terduga. Agamawan bisa menjadi dan melakoni peran iblis. Profesor bisa jadi pencuri, rampok dan koruptor justru memanfaatkan kepintarannya. Namun, pelacur bisa menjadi penolong yang penuh keikhlasan. Orang yang baik, apalagi yang kelihatan baik bisa jadi penjahat dan pecundang. Sebaliknya orang jahat, bisa berubah menjadi sangat baik. Sejarah panjang kemanusiaan mencatat ini semua, dalam semua zaman dan agama.

Kejahatan memang bisa ditularkan dan diajarkan. Kejahatan bisa tenggelamkan dan hancurkan manusia dan kemanusiaan. Tetapi manusia selalu bisa dan mampu kalahkan dan hancurkan kejahatan. Namun, juga menjadi sangat jelas, sekali kejahatan dilakukan sangat sulit untuk mencegah, memberangus dan menghancurkannya. Kejahatan lebih sering beranak pinak kejahatan.

Kejahatan tampaknya merupakan penyedap rasa kehidupan. Sebagaimana penyedap rasa, meskipun dalam jangka panjang bida merusak kesehatan, tetapi banyak orang menyukainya, karena ia memberi kenikmatan yang langsung dan segera. Itulah karakter kejahatan memberi hasil, keuntungan, dan kenikmatan yang langsung dan segera. Kejahatan itu seperti cabe atau merica yang langsung terasa di lidah.

Sedangkan kebaikan lebih mirip virus, membutuhkan masa inkubasi yang agak panjang untuk menunjukkan pengaruhnya. Tak heran bila kejahatan menjadi godaan terbesar yang menarik perhatian dan seringkali menjerumuskan kita.

Kejahatan selalu hadir pada semua kesempatan dalam hidup kita. Kadang ia datang dari luar diri sebagai tantangan yang harus dihadapi, acap kali dia nyembul dari dalam diri sendiri sebagai godaan yang tidak mudah ditaklukan. Tak ada seorang pun di antara kita yang bisa terbebas dari tantangan dan godaan kejahatan. Kejahatan tampaknya tidak melekat dalam gen dan kemanusiaan kita, tetapi merupakan bagian integral dari keberadaan dunia ini. Dunia tempat kita dilahirkan, tumbuh kembang dan mati.

KEJAHATAN ADALAH UJIAN TAK TERELAKKAN YANG HARUS DITAKLUKKAN UNTUK LULUS SEBAGAI MANUSIA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s