KEMISKINAN TUAN KRAB

KEMISKINAN TUAN KRAB

Tuan Krab adalah kapitalis kaya raya. Apapun ia miliki. Restorannya paling sohor dan laku di Bikini Bottom. Nalurinya sebagai pengusaha sangat sensitif dan responsif, itu yang membuatnya selalu kreatif menemukenali berbagai peluang perluasan keberagaman usaha baru. Ambisinya binal dan bengal, itu yang membuatnya banal dan majal, menghalalkan segala upaya dan cara.

Ia pernah memaksa Sponge Bob menerbitkan koran karena ia lihat koran sangat laku melampaui lakunya kraby patty miliknya. Ia sama sekali tak peduli bahwa Sponge Bob sama sekali tidak memiliki pengalaman mengelola surat kabar. Ia bahkan pernah menjual Sponge Bob.

Karena selalu menang tahuran bermain kartu dengan Plankton, tuan Krab mempertaruhkan Sponge Bob. Sial, kali ini dia kalah. Sponge Bob akhirnya harus diserahkan pada Plankton. Sponge Bob mengalami berbagai siksaan karena Plankton berambisi membongkar rahasia resep kraby patty.

Meski sangat kaya, tuan Krab sangat rakus dan pelit. Ia benar-benar mirip mesin penghisap debu. Mekanismenya hanya menghisap, mengambil tapi tak pernah memberi. Itulah sebabnya anaknya sendiri tidak menyukainya.

Tuan Krab tak pernah bisa menghargai manusia. Satu-satunya yang dia hargai adalah yang memberi manfaat berupa keuntungan. Karena itu, bila ia bersikap baik pada siapa pun, motifnya adalah seratus persen keuntungan. Ia memperlakukan sesama persis seperti batang korek api. Sekali pakai langsung buang, karena tidak lagi bisa dimanfaatkan.

Untuk menunjukkan kebaikan hatinya, tuan Krab selalu mengucapkan kata-kata penuh kebaikan dan janji-janji manis. Tetapi di balik semua itu, ia menyimpan belati yang siap dihujamkan kepada siapa pun yang dirasa tidak menguntungkannya.

Tuan Krab memang kaya, tetapi sangat miskin. Ia iblis yang bertopeng malaikat.

Tidak sedikit di antara kita yang merupakan fotocopy atau penjelmaan tuan Krab. Mungkin dengan tampilan lebih lembut atau kasar. Namun, substansinya sama saja.

Ada manusia yang pernah dihimpit beratnya kemiskinan sampai hampir mampus. Sebagian lagi merasakan sakitnya hinaan kemiskinan dalam waktu yang panjang, sampai-sampai hidup dikira hanya berisi kemiskinan tak bertepi. Kemiskinan memang memiliki kekuatan dahsyat yang menghancurkan kesabaran dan ketegaran manusia. Itulah sebabnya Nabi Muhammad berucap, kefakiran mendekatkan orang pada kekafiran. Artinya, kemiskinan bisa menggelincirkanan orang dari jalan lurus anugerah Tuhan.

Tidak sedikit orang, dengan kerja keras atau kelicikan berhasil keluar, terbebas dari kubangan kemiskinan. Kini mereka kaya raya seperti tuan Krab. Terapi jiwanya tetap disandera kemiskinan. Mereka menumpuk kekayaan, membangun istana bagi keluarganya, bahkan tabungan bagi cucunya yang belum lahir. Ia kira bisa menentukan hari depan dengan kekayaannya. Meski rajin beribadah, sebenarnya mereka tidak percaya bahwa Tuhan lah yang menentukan hidup dan hari depannya. Karena itu ia terus saja menumpuk harta dengan berbagai cara, tak peduli haram sekalipun.

Mereka bersedia menggadaikan dan menjual apa saja, termasuk harkat, martabat, dan harga diri. Bahkan sering dengan rasa bangga layaknya pahlawan kebenaran. Berhala mereka adalah uang. Karena itu manusia selalu diukur dengan uang. Uang adalah indikator utamanya. Jangan heran dalam semua urusan, kata kuncinya adalah: ‘wani piro?’ Dengan cara yang sama mereka mengukur dirinya sendiri. Dalam konteks inilah Nabi Muhammad menegaskan, jangan dekati orang kaya yang tak beriman. Karena, mereka sungguh sangat terbiasa merendahkan orang lain. Kemiskinan telah memberi bekas yang buruk dalam sistem kesadarannya. Meski kaya atau sangat kaya, mereka ternyata masih disandera kemiskinan. Betapa rendah dan rapuh jiwanya. Bagi orang seperti ini kefakiran atau kemiskinan dan kekayaan sama saja, sama-sama membawa pada kekafiran.

Tidak sedikit pula manusia yang jiwanya dimurnikan dan dimekarkan oleh kemiskinan, dan disuburkan serta ditumbuhkembangkan oleh kekayaan. Meski masa lalunya juga hampir mati dicekik kemiskinan, namun ketika akhirnya menjadi kaya karena kerja keras dan keuletan, ia menghayati kekayaannya sebagai amanah Tuhan yang harus dibagikan pada sesama dengan semangat orang yang paling kaya adalah yang paling banyak memberi. Ia sepenuhnya sadar, bila dihimpit kemiskinan itu bukanlah kutukan. Ada kesempatan untuk berubah. Jika diberi anugerah kekayaan, kekayaan itu pun bisa pergi tanpa alasan. Hidup dihayati sebagai pergantian musim, hukum yang mengatur alam tetap dalam keseimbangan. Sebab itu, selama harta itu ada dalam genggaman, maka ambil manfaatnya dengan berbagi. Bila lepas dari genggaman, pahala kebaikan dari harta yang dibagikan tetap mengalir. Bukankah pada hakikatnya manusia itu lahir telanjang, dan mati hanya dengan selembar kain. Harta tak pernah bisa dibawa mati, tetapi kebaikan dari harta yang dimanfaatkan untuk kebaikan pasti tetap mengalir bagai air terjun Niagara. Inilah orang kaya dengan jiwa yang kaya dan purna. Kemiskinan tak pernah menyanderanya, karena kemiskinan tidak membuat luka menganga di hatinya.

KEMISKINAN DAN KEKAYAAN HANYALAH KENDARAAN, JIWA KITALAH PILOTNYA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s