MENULISLAH SEPERTI SHALAT

MENULISLAH SEPERTI SHALAT
Nusa Putra

Aku percaya, sebagai sebuah keterampilan, menulis lebih ditentukan oleh latihan dan pembelajaran daripada bakat atau talenta. Aku merasa tidak memiliki bakat menulis, tetapi aku belajar, berlatih dan melakukan pembiasaan sampai terbentuk kebiasaan menulis. Sekarang aku merasa aditif atau memiliki ketergantungan pada menulis. Ini ketergantungan yang baik. Bisa jadi sudah menjadi writingcholic penyakit untuk terus menulis. Penyakit yang semoga tidak pernah sembuh. Hasilnya lumayan, 2011 aku menulis enam buku yang semuanya telah diterbitkan, dan 2012 menulis enam tiga perempat atau hampir tujuh buku, yang sudah dan segera akan terbit.

Pada 2011 aku menulis buku:
1. Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi (INDEKS, 2011 & 2012)
2. Riset Partisipatori (KEMENAG, 2012)
3. Research & Development: Penelitian Pengembangan Suatu Pengantar (RajaGrafindo, 2011,2012)
4. Penelitian Kualitatif PAUD, bersama istri: Ninin Dwilestari (RajaGrafindo,2012)
5. Penelitian Kualitatif PAI, bersama mahasiswa: Santi Lisnawati (Rosda Karya, 2012)
6. Metodologi Penelitian Kebijakan, bersama teman: Hendarman ( Rosda Karya, 2012).

Sementara itu tulisanku juga termuat dalam kumpulan tulisan pada buku yang berjudul:

1. Filsafat Ilmu Lanjutan (Kencana Prenada, 2011)
2. Bunga Rampai Problematika Bahasa Indonesia (Trikarsa Media, 2010).

Pada 2012 aku melanjutkan kebiasaan menulis buku dan lahirlah buku-buku:

1. Penelitian Kualitatif Prndidikan (RajaGrafindo,2012)
2. Metode Penenelitian Campur Sari, bersama teman: Hendarman (INDEKS, 2013)
3. Penelitian Kualitatif Ilmu Sosial (Sinar Harapan, 2013)
4. Penelitian Kualitatif Manajemen (RajaGrafindo, 2013)
5. Peningkatan Kualitas Pendidikan Dasar (Balitbang, KEMDIKBUD, 2013)
6. Einstein Galau dan Sponge Bob Kesepian
7. Penelitian Tindakan Partisipatori, Pendidikan dan Organisasi (hampir selesai).

Pada 1994 bersama teman-teman aku menulis Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP sebanyak 6 jilid (Aries Lima). Kemudian skripsi S1 ku berjudul Pemikiran Soedjatmoka tentang Kebebasan diterbitkan Gramedia yang bekerjasama dengan Yayasan Soedjatmoko. Pada masa ini sejumlah tulisanki dimuat di KOMPAS dan MEDIA INDONESIA, serta sejumlah penerbitan berbagai kampus, dan jurnal-jurnal.
Pada 1996, pengalaman memberdayakan anak jalanan aku tuliskan dan menjadi bagian dari buku Dehumanisasi Anak Marjinal: Pengalaman Pemberdayaan (Akatiga). Pada 2000 sebagai bahan kuliah aku menulis Penelitian Kualitatif dan Action Research dalam Pembelajaran Bahasa (Manasco).

Sebagai penulis berbobot (ini berkaitan dengan berat badan 83 kg saat membuat tulisan ini), rasanya pantas aku berbagi dengan siapa pun yang ingin menulis dan menjadi penulis. Berbagi pengalamanku menulis dari waktu ke waktu, dari buku ke buku. Pengalaman menulis tiap buku tidak sama persis, ada kekhususan terkait dengan topik buku yang ditulis, waktu, dan kesibukan dalam pekerjaan.

Paling tidak ada tiga hal yang ku rasa sangat berguna untuk dibagikan yaitu:

1. Pengelolaan waktu dan kondisi
2. Proses penulisan
3. Sumber-sumber tulisan.

1. Pengelolaan waktu dan kondisi

Aku agak sibuk karena banyak kewajiban dan pekerjaan. Pada semester pertama 2012, aku mengajar Dasar-Dasar Filsafat 4 SKS dan 4 kelas di Jurusan Sastra Inggris, Filsafat Ilmu 2 SKS dan 2 kelas di Program Studi Pendidikan IPS semuanya di UNJ, serta Metodologi Pembelajaran 3 SKS di Pasca UIKA Bogor. Ikut serta dalam kegiatan penelitian dan menjadi narasumber, instruktur, penyaji, pembahas, perumus dalam berbagai kegiatan penelitian, seminar, pelatihan dan lokakarya nasional yang diselenggarakan oleh Balitbang Kemdikbud. Kegitan ini mengharuskanku melakukan perjalanan keliling ke berbagai tempat di Indonesia. Aku juga diundang menjadi pembicara oleh banyak perguruan tinggi, dinas pendidikan, sekolah dari PAUD sampai dengan SMU di Jabodetabek dan Jabar. Tambahnnya adalah membantu Direktorat PAUDNI Kemdikbud untuk pengembangan Model Pembelajaran PAUD, monitoring dan evaluasi program bantuan. Sebagai relawan sosial mesti juga menyediakan waktu untuk mengurusi anak jalanan. Pada semester kedua keadaannya lebih parah, sebab kegiatan makin menumpuk, dan yang diajar kelas seeta SKSnya makin banyak. Dari semester ke semester selalu begitu.

Oleh karena setiap waktu keadaannya seperti itu, aku menyusun strategi pengelolaan waktu berdasarkan paradigma shalat. Setidaknya ada dua hal yang aku jadikan pedoman dari shalat. Pertama, shalat dilakukan setiap hari dan berkali-kali. Kedua, shalat melatih kita berdisiplin, khusuk atau fokus, dan mengembangkan daya tahan serta konsistensi jangka panjang.

Atas dasar paradigma shalat itu, aku menulis setiap hari dan berkali-kali, kapan dan di manapun. Shalat membiasakanku untuk disiplin dan konsisten. Aku memang sangat disiplin dan konsisten, setiap hari menulis berkali-kali, apapun keadaannya.

Siapa pun tidak dapat menulis bila tidak khusuk atau fokus. Dalam kaitan inilah aku selalu bilang, Anda bisa menulis kalau punya pantat, menulis itu lebih membutuhkan pantat daripada otak. Maksudnya adalah, Anda harus menyediakan waktu untuk duduk dan khusuk. Jika sudah duduk dan khusuk, percayalah otak kita bisa bekerja dengan optimal. Secerdas apapun otak kita, bila tak ada waktu untuk duduk dan khusuk, jangankan buku, satu kata pun tak akan bisa ditulis.

Memang, pada mulanya aku pun agak sulit menulis kapan dan di mana pun. Ada saja gangguan. Mulai dari keributan yang muncul dari mana saja seperti orang berbincang dan suara kendaraan, sampai ada orang iseng yang nanya macem-macem ketika melihat kita menulis. Percayalah, itu semua bisa diatasi, katakan pada diri kita, AKU MAU FOKUS MENULIS. Otak kita bisa diarahkan. Kitalah yang harus mengarahkannya. Makanya, kepada teman-teman dekat aku selalu mengirim sms: SEMANGAT DAN FOKUS. Ini modal untuk menghadapi apa saja, juga untuk menulis.

Aku sepenuhnya percaya karena mengalami, bahwa keberhasilan dalam hidup dan menulis hanya bisa dicapai jika DISIPLIN DAN FOKUS.

Ada sejumlah orang yang hanya bisa menulis bila ada mood. Mohon maaf, aku sama sekali tidak percaya pada pandangan itu. Aku suka bilang kalau gak mood ya ngemut atau di emut-emut aja. Terserah mau ngemut apa dan apanya yang diemut. Aku percaya kita bisa mengkondisikan diri. Menciptakan mood. Karena itu aku menciptakan WAKTU EMAS untuk menulis.

Aku mengikuti waktu tidur anakku Khalifa Lyan Bohemianda yang kini kelas satu di SMP ALMUSLIM Bekasi yaitu pukul 21.00 atau 21.30. Aku biasakan untuk bangun pukul 02.an. Aku shalat dan berzikir. Aku juga berdoa, tetapi jarang dengan kata-kata, karena air mata biasanya sudah luruh dan mengalir, saat doa baru saja akan dimulai. Aku yakin berdoa dengan air mata itu lebih baik, karena Allah menangkap denyut kemanusiaan kita yang utuh. Ya kita semua bukan orang suci, pastilah pernah berbuat salah dan dosa. Memohon pada Allah adalah keniscayaan.

Setelah itu, aku mulai menulis sampai menjelang shalat subuh. Inilah waktu emasku. Aki sendiri acap kali kaget, karena hasil tulisan biasanya sangat banyak, semuanya seperti lahar dingin yang meluncur dari puncak gunung ke sungai. Mengalir dengan sangat cepat. Ungkapan-ungkapan indah dalam tulisanku biasanya muncul pada waktu ini. Waktu emas ini memberiku inspirasi dan kekuatan luar biasa.

Untuk menciptakan waktu emas ini tentu aku harus mengorbankan yang lain. Aku harus rela mengurangi jatah tidur, dan mengganti kebiasaan menonton Barcelona menjadi kebiasaan menulis. Pada mulanya memang terasa sangat berat. Sekarang sudah jadi kebiasaan yang enteng. Malah ada rasa gak enak, bila tidak melaksanakannya, seperti ada yang hilang di dalam diri, entah apa itu yang hilang. Tapi ya gak enak aja.

Jika Anda ingin menjadi penulis ciptakanlah waktu emas itu. Anda yang paling tahu saat yang terbaik untuk dijadikan waktu emas Anda. Saat Anda bisa dengan enjoy dan larut dalam tulisan.

2. Proses penulisan

Aku sangat intuitif. Bila menggunakan pendekatan belahan dan quadran otak, mungkin bagian bawah dan atas belahan otak kananku lebih dominan. Jadi, aku lebih suka mengalir, berpetualang, dan memasuki ketidakpastian, tantangan yang tak terukur, dan dalam beberapa hal menentang arus. Komitmen, disiplin, konsistensi dan fokus merupakan tali kendali bagi keliaran kecenderungan ngananku. Namun, untuk keperluan kreativitas menulis, aku izinkan diriku untuk menikmati keliaran itu

Itulah sebabnya dalam menulis aku mendahulukan menulis langsung, menulis mengikuti hati dan mengalir, hanyut dan tenggelam dalam prosesnya. Aku tidak pernah membuat kerangka karangan. Satu-satunya buku yang ditulis agak teratur adalah Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi. Sebab aku memulainya dari bab satu dan dua, kemudian membuat bab terakhir, baru kembali lagi ke depan. Jadi, bolak-balik, ngacak.

Buku yang lain lebih ngacak dan ngaco. Aku biasa memulai dari mana saja. Aku hanya menulis dan menulis sesuka hati. Membiarkan fikiran berkembang dan berpetualang ke mana saja. Aku tidak peduli apakah yang ku tulis tepat atau tidak, benar apa salah.

Saya ikuti saja ke mana pikiran bergerak. Kadang layaknya air bah, kadang bagai lahar dingin kena hujan deras. Acapkali seperti gelombang laut ditiup angin sepoi. Aku sungguh tak memperhatikan diksi atau pilihan kata, efektivitas kalimat, dan kelengkapan paragraf. Menulis bagiku ya menulis apa pun yang muncul dalam pikiran untuk ditulis. Aku tidak mau jadi polisi, jaksa atau hakim bagi diri sendiri. Aku hanya mau jadi diri sendiri yang larut dalam tulisan.

Bila tulisan itu sudah selesai ditulis, berapa pun banyaknya, ya sudah aku simpan. Aku mengerjakan yang lain. Apa sajalah seperti jalan-jalan pagi, menonton siarang lansung liga Inggris, atau berbincang dengan istri dan anakku. Setelah itu, barulah tulisan itu ku longok kembali. Membaca ulang dan menatanya.

Mengapa aku berbuat seperti itu. Bila tulisan yang baru saja ku tulis dan langsung dibaca ulang, biasanya aku sulit menemukan kesalahan dan sulit juga menambahkannya jika perlu tambahan. Sebab, bila selesai ditulis dan langsung dibaca, yang kita baca bukanlah tulisan yang tertera di layar laptop atau di atas kertas, tetapi kita masih membaca apa yang ada dalam fikiran kita saat menulis. Kita bukan melihat tulisan yang baru jadi itu. Namun, mempersepsinya yaitu melihatnya dengan mata fikiran. Itu gunanya menjaga jarak dengan tulisan. Bukankah gunung indah dilihat justru dari kejauhan. Bukankah rasa kangen baru muncul bila jauh dari orang yang dicintai? Begitupun dengan tulisan.

Pada tahap penataan inilah aku perbaiki apa yang salah. Aku tentukan bagian mana yang perlu dicarikan teori, data atau gambar pendukung. Bila sejak mula disibuki oleh teori, data atau pendukung yang lain, pasti tulisanku tak pernah selesai. Jadi, segeralah menulis bila memang ingin menulis. Atau tulis saja apa pun yang ingin ditulis, mengalirlah, tenggelamlah, nikmati aja. Setelah itu, sediakan waktu untuk membaca ulang, menatanya agar jadi tulisan bagus. Aku tidak pernah berfikir tulisan bagus bisa dihasilkan secara instan. Ada proses yang perlu dinikmati, dihayati dan dilalui.

Aku selalu menjaga silaturahmi dengan tulisan. Apa maksudnya? Bila aku perhitungkan acara akan sangat padat, maka di pagi hari aku melanjutkan tulisan yang sedang dikerjakan sedapatnya. Satu kalimat pun tak apa. Nanti malam, saat hendak tidur dan sangat letih, aku buka tulisan yang telah jadi secara acak. Aku baca yang mana saja dan aku ganti satu kata, misalnya bisa menjadi dapat. Kemudian tulisan itu ku simpan.

Ini ku lakukan untuk mengikuti sifat alamiah otak semua manusia. Bila tulisan lama tidak dilongok, dibaca ulang dan ditambahkan, kita seperti membuat tulisan baru. Semua kita menyadari, memulai itu selalu sulit, pun ketika sewaktu malam pengantin baru. Apalagi sewaktu menulis. Menjaga silaturahmi dengan tulisan itu, bagiku sangat penting.

Pada dasarnya saya aku menulis di mana saja dalam suasana apapun. Meski ada keributan atau bau tidak sedap. Namun, jika memungkinkan, menulis sambil mendengarkan lagu atau musik membua aku lebih enjoy, tak penting lagu apa, aku menyukai hampir semua lagu dan musik. Terkadang aku menulis sambil mendengarkan gandrung Banyuwangi, saluang Padang, Stanley Jordan, Earl Klugh, atau doa Budha Tibet. Ada saatnya aku asyik mendengarkan lagu-lagu yang diproduksi oleh Putumayo. Tapi, aku tetap bisa enjoy menulis dikeributan dan bau amis di pelelangan ikan Muara Angke. Sebagian naskah Penelitian Tindakan, aku tulis di Muara Angke ketika menunggu mahasiswa yang hendak melakukan studi di Pulau Pramuka.

Sewaktu mendampingi mahasiswa studi ke Baduy, aku menginap di kampung Baduy Luar. Di tengah malam, aku bangun dan menulis dikesyahduan gulita malam memanfaatkan ipad yang bisa digunakan dalam kegelapan. Besok malamnya, saat kaki keram dan nyeri karena berjalan ke Baduy Dalam, aku tetap bangun tengah malam untuk menulis. Dalam kondisi, keadaan, dan suasana apa saja, aku usahakan untuk tetap bisa menulis, ya seperti shalat.

Aku kadang mencari suasana-suasana baru untuk menulis. Duduk santai menulis di sebuah sudut Grand Indonesia yang mewah, tapi gratis. Pernah juga aku pergi ke kuburan yang dekat dengan perempatan Slipi. Aku suka suasananya, tenang, luas, dan membuat aku lebih menghargai hidup. Ketika berceramah di Makasar, aku menulis dekat kolam renang yang ada di bagian belakang hotel, segar sekali suasanya. Gak tahu apa yang bikin segar, mungkin air kolamnya yang bening dan isinya yang tak kalah bening. Aku memang kerap membuat eksperimen, mencari tempat, suasana, dan waktu yang beragam untuk menulis.

Dalam konteks ekperimen ini aku mencoba merubah beberapa kebiasaan. Biasanya dalam perjalanan ke tempat kerja atau terkena macet di Jakarta yang padet meredet, aku membaca atau mengoreksi tulisan. Aku coba untuk mulai menulis. Setiap kali tulisan selesai, dibaca ulang dan diperbaiki, langsung tulisan itu ku email ke teman-teman. Alhamdullillah, kini sudah selesai lebih dari 30 tulisan, melampaui 100 halaman, belum sampai satu bulan. Sementara naskah itu aku beri judul Einsten Galau, Sponge Bob Kesepian. Beberapa penerbit berhasrat menerbitkannya. Ada dua mahasiswaku yang membuat blog untuk mengumpulkan tulisan-tulisan itu. Pertama, Juangtualang’s blog yang juga berisi contoh proposal penelitian tindakan partisipatori dan kualitatif. Kedua, paknusa.blogspot.com. Bila Anda tertarik membacanya silahkan kunjungi blog tersebut.

3. Sumber-sumber tulisan

Aku sepenuhnya percaya siapa pun bisa menulis. Sebab sumber tulisan itu banyak sekali. Bagiku apapun bisa menjadi sumber tulisan. Apa yang kita khayalkan, rasakan, fikirkan, lihat,dengar, baui, baca, bicarakan dan diskusikan bisa menjadi sumber tulisan. Bukuku Riset Partisipatori dan Peneliian Kualitatif: Proses dan Aplikasi, 90 persen berisi pengalaman mendampingi, dan memberdayakan anak jalanan, dan beberapa penelitian kualitatif di Kepulauan Seribu, serta sejumlah daerah kumuh di Jakarta. Karena itu aku bisa menyelesaikannya dalam hitungan hari.

Bila ingin menulis buku tentang sesuatu, misalkan Penelitian Kualitatif Manajemen, aku menuliskan saja dulu apa yang sudah dimiliki yaitu apa yang aku alami, fikirkan, dan khayalkan. Kemudian aku mencari buku-buku terbaru tentang topik itu. Lantas aku membaca semua buku itu. Aku tidak pernah hanya mencari kutipan atau yang dibutuhkan saja. Aku harus menangkap secara holistik-komprehensif gagasan-gagasan pokok, contoh dan aplikasinya. Aku hanya memberi tanda berupa lipatan kecil pada halaman yang ku rasa penting. Sengaja tidak membuat catatan, atau menggunakan stabilo. Sebab, mencari ulang sekali lagi dengan membaca ulang ketika bahan itu dibutuhkan, sangat efektif untuk membantuku merekonstruksinya dalam tulisanku. Terlihat tidak efektif, tetapi bagiku itu sangat bermakna.

Menulis memanfaatkan bacaan bagiku sama persis seperti makan. Bila kita makan, kita sangat menikmatinya. Setelah itu kita tidak lagi memikirkan makanan itu. Biarkan makanan itu berproses dalam pencernaan, kemudian besok pagi siap dilepaskan ketika buang hajat. Begitulah aku membaca. Saat membaca, aku benar-benar menikmati dan serius, setelah itu aku mengerjakan apa saja dan tidak memikirkan bacaan itu. Biarkan semua bacaan itu mengalami peragian di alam otak. Nanti, pada waktunya ia muncul menjadi fikiran yang siap ditulis. Aku tidak menunggu ia muncul, biasanya aku usahakan untuk muncul, namun harus ada waktu untuk membiarkan bahan-bahan itu mengalami peragian lebih dahulu. Kadang lama, kadang sebentar. Aku yakin banyak membaca sangat membantu untuk menulis. Tetapi bukan hanya membaca, berkahayal, berbincang, dan berdiskusi juga sangat membantu.

Aku meyakini, orang-orang yang berprofesi sebagai pengajar seharusnya lebih mudah menulis. Saat mereka mengolah bahan dan menjelaskannya kepada siswa, seringkali ada gagasan atau ide-ide tak terduga yang merupakan campuran atau sintesis dari bacaan, fikiran, pengalaman, dan tantangan untuk memberi penjelasan yang mudah difahami. Aku sering mengalami itu, dan sesegera mungkin menuliskannya, sebelum ide itu tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.

Jadi, menulis itu bisa mudah. Percayalah, ada kenikmatan dan keindahan ketika larut dalam proses menulis. Mau tahu rasa kenikmatan dan keindahannya? Mulailah menulis sekarang! Selamat merasakan kenikmatan dan keindahannya.

3 thoughts on “MENULISLAH SEPERTI SHALAT

  1. super sekali pak Nusa, semoga bisa menjadi motivasi bagi saya yang masih “amatir” dalam hal tulis menulis, Hhehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s