PESTA SPONGE BOB

PESTA SPONGE BOB

Tuan Krab bangun tidur. Ia merasa semua badannya sakit, pegel, dan nyeri. Sungguh ia merasa sangat terganggu. Hatinya ciut, ia ogah mengakui bahwa ia telah tuir alias tua. Ia ingin mengembalikan rasa mudanya, gairah sebagai anak muda.

Ia sangat gembira ketika mendengar Sponge Bob dan Patric hendak berpesta. Ia menyatakan keinginannya untuk ikut serta. Dengan gairah meluap-luap ia ikut bersama Sponge Bob dan Patrick ke tempat pesta. Ia sangat kaget, ternyata Sponge Bob dan Patrick pergi ke tempat pencucian baju dan menikmati pesta, bersenang-senang mencuci pakaian dengan mesin cuci. Bagi Sponge Bob dan Patric, pesta adalah menikmati kegembiraan dalam pekerjaan. Tuan Krab sangat kecewa. Persepsinya tentang pesta sangat berbeda dengan Sponge Bob dan Patrick.

Karena sungguh ingin berpesta membangkitkan gairah mudanya, tuan Krab masih saja ikut bersama Sponge Bob dan Patrick berpesta. Pestanya adalah memunguti sampah di Bikini Bottom, membersihakan dan memperbaiki rumah, membaca buku di perpustakaan, dan bermain di taman bermain anak-anak.

Tuan Krab sangat marah dan merasa dilecehkan. Ia menginginkan pesta anak muda atau orang dewasa yang membangkitkan dan penuh gairah. Sponge Bob dan Patrick kemudian mengajak tuan Krab menyelinap ke rumah seorang wanita, dan memasuki tempat penyimpanan pakaian dalam. Tuan Krab kali ini sungguh-sungguh bergairah dan sangat senang. Saat ia berhasil mendapatkan pakaian dalam, tiba-tiba lampu hidup dan muncul ibunya. Ternyata yang disatroni adalah rumah ibu Tuan Krab. Ia sangat malu, ibunya marah. Selanjutnya tuan Krab dihukum, dikurung di kamar tidur ketika ia masih kanak-kanak. Harapannya bisa menikmati gairah anak muda, malah dianggap masih kanak-kanak.

Usia menggrogoti kita bagai ulat bulu melumatlahap daun muda. Sangat cepat, tak terasa dan tak bersisa. Ini niscaya, hukum kodrat yang abadi dan melumat kita tanpa ampun, berlaku universal pada siapa saja dan dimana saja. Kita lahir, hidup dan mati. Hidup untuk mati, kata Heidegger, filsuf Jerman yang sangat berpengaruh.

Ada yang berkesempatan menjalani hidup dengan rentang menjadi bayi, kanak-kanak, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan mati. Namun, tidak sedikit yang sudah dilumat maut sebelum merasakan masa tua. Jadi, tua, masa tua, dan ketuaan merupakan periode yang harus dijalani bagi siapa pun yang diberi kesempatan hidup lebih lama.

Tidak menyenangkan memang menjadi tua. Tubuh tak lagi perkasa, gigi pun mungkin sudah rontok sebagaian atau semua, lidah tak lagi bisa rasakan nikmatnya makanan, mata mulai rabun. Hidup tak lagi bisa dinikmati dalam kepenuhanya. Syaraf -syaraf di tubuh malah seperti rantai yang mengikat sehingga tubuh jadi terasa kaku dan tak mudah digerakkan. Asam urat yang tinggi sungguh menurunkan asam aurat. Betapa tersiksanya.

Seperti tuan Krab, kita dan kebanyakan manusia terganggu dan ogah mengakui realitas ketuaan ini. Berbagai cara diupayakan agar ketuaan bisa dimanipulasi. Kadang dengan cara-cara yang terlihat konyol. Lihatlah, betapa banyak lelaki paruh baya mengejar abg. Mengaku bujangan kepada tiap wanita, ternyata cucunya segudang, lantun Anggun. Itulah sebabnya ada istilah tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Menjadi apa? Gatelen, bertambah gatel. Maunya digaruk oleh jari-jari lentik.

Perilaku-perilaku seperti itu yang menegaskan, banyak orang bertambah tua dan renta, tetapi tak juga menjadi dewasa atau bertambah dewasa. Malah menjadi seperti kanak-kanak, tak mudah dimengerti dan suka aneh-aneh. Maunya menang sendiri dan dimengerti, tetapi tak pernah berempati.

Mejadi tua memang niscaya, tak terelakkan, tetapi tak mudah menjadi dewasa. Kedewasaan adalah kematangan, ukuran bagi kualitas pribadi, sedangkan ketuaan adalah kerentaan, ukuran biologis umur yang ditandai oleh semakin melemahnya berbagai organ tubuh yang makin lama makin disfungsi. Kedewasaan dan ketuaan mestinya berjalan seiring, namun tidak selalu begitu. Sering terjadi ketuaan terus bertambah, kedewasaan tak kunjung tumbuh kembang.

Kedewasaan adalah pilihan sadar untuk mengembangkan sejumlah sikap seiring perjalanan waktu. Sebuah proses yang dijalani dengan terus belajar dari kehidupan dengan segala gejolaknya. Semua kita pasti menjalani hidup yang tidak datar dan lurus saja. Hidup lebih sering bergelombang, naik turun dan berliku, berkelok-kelok. Ada tawa dan tangis, canda dan carut, suka dan duka. Ada hantaman bencana, sering pula ada berkah, keberuntungan dan kebahagiaan. Semuanya adalah pembelajaran yang membuka kesempatan dan peluang untuk menumbukembangkan kedewasaan.

Kedewasaan merupakan respon yang lahir dari kemampuan memilah, memilih, dan mengolah semua denyut dan liku kehidupan. Kedewasaan tidak bisa ditumbuhkembangkan di sekolah-sekolah kepribadian. Sekolah bagi kedewasaan adalah kehidupan, ruang praktiknya adalah masyarakat dengan segala kompleksitasnya.

Tentu saja tidak mudah belajar menjadi dewasa, tidak semudah belajar menghadapi ujian nasional atau ujian tertutup dan terbuka menjadi doktor. Itu sebabnya mereka yang doktor bahkan profesor ada yang penalaran moral dan perilakunya tidak sebaik petugas kebersihan yang biasa diperintah-perintah untuk mengerjakan apa saja. Orang-orang biasa seperti petugas kebersihan pastilah pendidikan formalnya rendah. Tetapi bisa jadi kehidupan telah mendidiknya menjadi manusia yang empatis dan sangat peduli, tidak rakus, dan tidak suka seenaknya. Mereka tumbuh jadi dewasa, karena tempaan kehidupan yang keras dan sulit.

Di republik penuh masalah ini, kini makin banyak doktor dan profesor. Tetapi itu bukan jaminan makin banyak orang yang makin dewasa. Bisa jadi karena sebagian doktor itu adalah doktor bayaran. Menjadi doktor karena bisa membayar profesornya.

Ini bisa terjadi karena pendidikan formal lebih bersibuk atau berkutat dengan struktur logis, kerangka teori, kerangka berfikir dan perumusan hipotesis. Pendidikan formal lebih asyik mengejar hasil ujian nasional, bukan ujian kehidupan. Peningkatan hasil belajar, bukan peningkatan kualitas manusia. Sekarang pendidikan nasional malah harus tunduk dan menyesuiakan diri dengan dunia pekerjaan, bukan dunia kehidupan. Pendidikan kita sangat mengejar keterukuran yang harus bisa dikuantifikasi, bukan kualitas kemanusiaan yang melekat pada diri subjek didik. Pendidikan kita terus menyempurnakan perangkat-perangkatnya agar manusia Indonesia siap kerja dan bersaing, bukan siap hidup dengan kedewasaan. Waktu terus berjalan, generasi muda kita bertambah usia, mungkin juga bertambah cerdas dan kompetitif. Tetapi apakah kita dan mereka bertambah dewasa sebagai manusia.

KEDEWASAAN LEBIH MENUNJUKKAN KEMANUSIAAN KITA, DAN MENENTUKAN KEBERADAAN KITA DI DUNIA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s