MUSIM (2)

MUSIM (2)

Pergantian musim merupakan Sunatullah. Kita menyebutnya hukum alam yang objektif, teratur, dan berulang. Dalam siklus pergantian musim itu adakalanya terjadi beberapa kejutan karena muncul semacam ketidakbiasaan. Misalnya, panas yang terlalu, dingin yang lebih dari biasanya, atau hujan dan angin yang melampaui batas. Sudah pasti, kita menjadi sangat terganggu karenanya.

Bila sudah terganggu, mulailah muncul sejumlah tafsir mengapa musim menjadi seperti ini. Beberapa orang mulai berkotbah bahwa keadaan ini adalah peringatan dari Tuhan supaya manusia sadar dan bertobat. Sementara yang lain bahkan menegaskan ini merupakan hukuman Tuhan karena kejahatan manusia. Ada pula yang menyebut bahwa keadaan yang buuk ini sepenuhnya karena ulah manusia yang telah merusak alam.

Sebagai sebuah tafsir atas realitas tentu tak ada salahnya atau sah-sah saja. Atas banyaknya bencana Ebiet G. Ade malah pernah melantunkan, Mungkin Tuhan mulai bosan…. yang selalu bangga dengan dosa-dosa. Banyaknya tafsir atas realitas adalah sesuatu yang sangat wajar. Sebab manusia selalu ingin mencari dan memberi makna atas apa yang telah terjadi.

Namun, tampaknya perlu sangat hati-hati bila membawa-bawa nama Tuhan. Apalagi sampai menyebut ini hukuman Tuhan atas dosa-dosa manusia. Pertanyaannya adalah: apa betul Tuhan begitu reaktif dan kejam? Mirip penguasa zhalim yang langsung bereaksi menghadapi kritik rakyat? Apalagi dikotbahkan saat saudara-saudara kita sedang menderita karena rumahnya terendam dan mereka hidup apa adanya di pengungsian. Sangat tidak empatis!

Mari kita renungkan banjir yang teratur dan berulang-ulang melanda Jakarta. Sejak zaman Belanda, Batavia ini sudah banjir, karena merupakan dataran sangat rendah yang lebih rendah dari lautan. Konsekuensinya, Pemerintahan penjajahan Hindia-Belanda dengan cermat melakukan sistem pengelolaan air sejak dari daerah Puncak sampai Tanjung Priok. Regulasi dibuat, dijalankan dengan tegas dan konsisten. Dibuat banyak daerah resapan air yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun, termasuk oleh Pemerintah. Orang tidak bisa seenaknya menebang pohon. Ada wilayah yang tidak boleh didirikan bangunan apapun dengan alasan apapun. Tentu saja pada waktu itu ada hujan, namun tak ada kabar tentang air bah atau banjir bandang.

Kita merdeka. Penjajah kita enyahkan, kini kita bebas. Bebas sebagai bangsa berdaulat, dan bebas berbuat apa saja. Dengan kebebasan itu, kini kita merasakan banjir bandang setiap tahun. Mulai terasa kan, betapa anehnya bila kita bawa-bawa Tuhan dalam bencana ini. Ini sepenuhnya kesalahan dan kejahatan manusia. Akarnya adalah sikap manusia terhadap alam.

Alam tak lagi dihayati sebagai bagian dari metabolisme kehidupan, bagian integral dari kebertubuhan kita. Alam lebih dipersepsi dan dihayati sebagai komoditi dalam penalaran transaksi. Dulu kita bilang tanah tumpah darahku, ibu pertiwi, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ungkapan-ungkapan kita menunjuktegaskan betapa kita sangat dekat dengan alam. Mungkin beberapa kita masih mengingatnya seperti besar pasak dari tiang, karena nila setitik rusak susu sebelanga, sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlewati, lain lubuk lain ikannya, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, seperti pinang dibelah dua, alis mata seperti semut beriring, bibir merah delima, ilmu padi, tua-tua keladi, tua-tua kelapa, buaya darat, kambing hitam, dan alam terbentang jadi guru. Ada lagu engkau laksana bulan, rayuan pulau kelapa dan lain-lain.

Sekarang ungkapan-ungkapan, pepatah-petitih, metafora, dan lagu-lagu yang beredar kurang atau tidak memunculkan alam sebagai yang perlu diungkap. Bukan tidak ada sama sekali, tetapi jarang. Dalam banyak iklan, alam lebih ditonjolkan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Biasanya alam mengambil tempat dalam tampilan media dan lagu, bila ada bencana alam. Lagu-lagu Ebeit G. Ade muncul lagi.

Ini semua menunjukkan sikap kita terhadap alam. Terhadap air, tanah, pohon dan udara. Kita terus mengambil jarak dari alam. Kita bicara tentang sumber daya alam, agar lebih fokus dan mudah memperdayanya. Kita merumuskan tanah adalah modal, harta tak bergerak. Kita mengganti istilah tanah menjadi lahan dan kavling, sehingga warna kealamannya perlahan hilang. Tanah menjadi komoditi yang gampang dibagi-bagi dan mudah dikalkulasi.

Bila kini ada bencana menerpa, aneh betul bila tiba-tiba kita bicara tentang peringatan dan hukum Tuhan. Bencana ini adalah dampak dari kejahatan manusia yang memperlakukan alam sebagai barang dagangan.

Saatnya untuk jeda, dan mengambil tindakan nyata. Banjir, longsor, dan bencana alam lain harus merubah pandangan dan penghayatan kita terhadap alam. Bukan hanya terhadap air. Bagi kita alam adalah sesama, sesama makhluk. Alam adalah keluarga kita, alam adalah bagian dari hidup dan keberadaan kita.

Kita butuh tindakan nyata untuk mewujudkannya. Mari kita mulai dari diri sendiri, kini dan di sini. Kurangi pemakaian plastik, kurangi mengkonsumsi makanan produksi pabrik, hemat menggunakan air, listrik dan bbm. Pelihara lingkungan sekitar. Dan percayalah bahwa manusialah yang telah merusak alam.

ALAM ADALAH IBU KITA, KITA AKAN BERSEMAYAM DI DALAM TUBUHNYA. HARUS KITA JAGA DEMI KELANGSUNGAN HIDUP KITA SENDIRI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s