CAPI (2)

CAPI (2)

Sapi memang eksis dalam sejarah manusia sejak dulu kala. Dalam mitologi Yunani dikenal Minotaur makhluk berbadan manusia berkepala sapi. Minotaur merupakan bentuk kutukan pada Minos raja Kreta karena ingkar janji pada Dewa Poseidon. Minos menginginkan anak lelaki. Ia memohon pada Poseidon. Poseidon memberinya patung sapi emas dan harus dikembalikan pada Poisedon bila Minos mendapatkan anak lelaki. Tatkala mengetahui dari tabib anaknya lelaki, Minos tidak mau mengembalikan patung sapi emas itu. Poseidon mengutuknya dan anaknya menjadi Minotaur yang jahat. Sapi emas, menggelincirkan raja Minos. Dalam legenda Jepang dikenal Gozu, makhluk berkepala sapi yang jahat.

Menariknya dalam AlQuran ada surat Sapi betina (Al Baqarah) dan Binatang ternak (Al An’am). Dalam Al Baqarah dijelaskan bagaimana Bani Israil menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan saat Nabi Musa pergi. Tentu saja perbuatan itu menyesatkan mereka. Penyembahan pada patung anak sapi juga menegaskan bahwa Bani Israil lebih tertarik dan percaya pada sesuatu yang material dan duniawi. Mengingkari Nabi Musa yang membawa kebenaran dan janji syurga yang bersifat spiritual. Jadi, sapi memang selalu menjerumuskan orang. Tak mengherankan bila hari raya qurban selain kambing, sapi juga disembelih sebagai cara untuk memotong ketergantungan dan kecenderungan manusia pada materi dan dunia.

Dalam AlQuran ada pernyataan bahwa manusia bisa lebih rendah dari binatang ternak. Binatang ternak menggunakan sebagian besar hidupnya untuk memamah biak dan beranak. Jadi kesenangannya ada di mulut, perut dan bawah perut. Bila menggunakan bahasa populer hewan ternak itu sangat hedonik. Tetapi tak ada salahnya bila binatang ternak seperti itu, karena mereka adalah binatang!

Mengapa manusia dikatakan bisa lebih rendah daripada binatang ternak. Karena hidup layaknya binatang ternak yang hanya mengejar isi mulut, perut, dan kesenangan bawah perut. Bila manusia seperti ini tentulah nilainya lebih rendah daripada binatang. Sebab manusia diberi kelebihan fikiran yang seharusnya dapat digunakan untuk memilih, sesuatu yang tidak dimiliki binatang ternak. Lebih kacau lagi bila binatang ternak, khususnya sapi, bisa menjerumuskan manusia. Seperti yang kita lihat pada kisah Minos dan Bani Israil.

Sisi lain yang membuat manusia bisa lebih rendah dari binatang ternak adalah sikap dalam penyembahan. Manuisa hanya boleh bersujud, menempatkan kepalanya lebih rendah daripada pantatnya hanya ketika menyembah Allah. Sedangkan binatang ternak menempatkan kepalanya lebih rendah daripada pantatnya tatkala sedang makan. Dengan demikian bisa ditegaskan manusia hanya boleh menyembah dan takluk pada Allah, tidak seperti sapi dan hewan ternak lainnya yang takluk pada makanan, sesuatu yang sangat duniawi. Jadi, bila manusia takluk misalnya pada doku alais duit, ya lebih rendahlah dia dibanding sapi. Binatang ternak, termasuk sapi yang telah menyesatkan Bani Israil adalah lambang dominasi materi, duniawi, dan syawati.

Pastilah bukan kebetulan bila tragedi partai kesandung sapi, dibumbui kisah wanita abg yang cantik dan seksi. Ini menegaskan sisi materi, duniawi, dan syahwati dari kasus itu.

Semoga jangan ada sapi di antara kita, dan jangan sampai sapi menang pemilu. Insya Allah, Amin……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s