MENULISLAH SEPERTI SHALAT (2)

MENULISLAH SEPERTI SHALAT (2)
Nusa Putra

PEMBUKA

Alhamdullillah. Banyak teman mengapresiasi tulisan yang berjudul MENULISLAH SEPERTI SHALAT. Tulisan itu katanya memberi inspirasi. Tidak sedikit teman yang meminta agar aku menjelaskan proses penulisan buku secara lebih rinci agar bisa dijadikan model untuk diteladani dan dikritisi. Ada pula yang menanyakan motivasi yang mendasari penulisan buku-buku itu. Pertanyaan lain adalah, apakah berbagai kegiatan yang kulakukan selama ini, baik di kampus maupun di luar kampus ikut mempengaruhi penulisan buku-bukuku? Izinkan aku bercerita merespon beragam permintaan itu.

MOTIVASI

Aku tidak menulis karena ingin naik pangkat atau menjadi orang yang relatif lebih dikenal. Juga bukan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Bila untuk keperluan naik pangkat rasanya tidak perlu menulis buku sebanyak itu. Bukankah dalam konteks penilaian, satu tahun buku yang diperhitungkan dan dinilai hanya satu? Aku sudah lebih dari 10 tahun tidak tertarik untuk mengurusi kenaikan pangkat, sebab belum dapat hidayah untuk mengurusnya.

Motivasi penulisan buku-buku itu sepenuhnya spiritual. Nabi Muhammad SAW menegaskan bila anak cucu adam game over alias wafat, maka ada tiga hal yang memungkinkan untuk terus mengisi flashdisk kebaikannya yang sangat bermanfaat pada kehidupan di seberang kematian yaitu: anak shaleh, amal jariah, dan ilmu yang bermanfaat.

Ilmuku memang tidak banyak, dan aku bukanlah orang jenius. Tetapi keadaan ini kan tidak menghalangiku untuk membuat ilmu yang sedikit itu bermanfaat. Karena itu kuputuskan untuk menulis buku, dan mulai mengurangi pekerjaan yang memberikan penghasilan tambahan. Sebab, aku tak pernah tahu, kapan sang maut itu datang dan mengajakku pergi bersamanya. Ku segerakan menulis karena kesadaran betapa kematian itu melekat sangat kuaterat dalam jantung kehidupan.

Chairil Anwar penyair besar bilang, Sekali berarti, setelah itu mati. Sementara itu Putu Wijaya, sastrawan kita paling produktif menanggapinya dan tegaskan, Sekali berarti, hidup baru dimulai. Aku beda betul dengan mereka, bagiku ungkapan yang kupedomani adalah SETELAH MATI, TETAP BERARTI. Menulis buku adalah salah satu modus yang bisa kukerjakan untuk memenuhinya.

MODAL PENULISAN BUKU

Aku mulai dari apa yang aku miliki yaitu pengalaman dan refleksi terhadap pengalaman itu. Bertahun-tahun aku mengurusi anak jalanan, anak pasar dan anak-anak daerah kumuh di Jakarta, baik sendirian, bersama beberapa teman, maupun sebagai relawan pada Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN). Kami mengurusi dan memberdayakan anak-anak itu dan keluraganya.

Pada akhir 1980, aku beberapa kali melakukan penelitian kualitatif di bawah bimbingan Prof. Dr. Conny R. Semiawan. Beliau memberikan sejumlah buku penelitian kualitatif yang utama, antara lain karya Denzin, Guba dan sejumlah penulis lain. Kemudian bersama Dr. Moleong, penulis buku Penelitian Kualitatif, aku melakukan penelitian kualitatif, masih di bawah bimbingan Prof. Conny. Prof. Conny pula yang memperkenalkanku pada sejumlah tokoh yang membuatku belajar banyak mengenai kebudayaan dan pandangan filosofis tentang kehidupan. Beberapa di antara mereka adalah Soedjatmoko, Prof. Dr. Umar Kayyam, Romo Mangunwijaya, dan Prof. Dr. Fuad Hassan.

Pada awal 1990, Prof. Dr. Ir Jujun S. Suriasumantri selaku Ketua Lembaga Penelitian IKIP Jakarta memintaku melakukan penelitian kualitatif sampai dua kali dalam tiga tahun berturut-turut sebagai upaya untuk menunjukkan apresiasi terhadap metode penelitian kualitatif. Pekerjaan meneliti semakin sering kulakukan ketika Lembaga Penelitian IKIP/Universitas Negeri Jakarta dipimpin oleh Prof. Dr. I Made Putrawan dan Dr. Syarifudin. Aku juga membantu sejumlah LSM melakukan penelitian kualitatif dan partisipatori. Kerjasama YNDN dan USAID menempatkanku menjadi penangungjawab sosialisasi bahaya HIV/AIDS di kalangan anak jalanan, bencong, dan WTS. Sebuah upaya sosialisasi yang dirempahi dengan pemberdayaan.

Pada pertengahan sampai akhir tahun 1990, Prof. Dr. H.A.R Tilaar M.Sc.Ed. dan Prof. Dr. Winarno Surachmad melibatkanku dalam banyak penelitian berskala nasional pada lembaga yang mereka pimpin yaitu Lembaga Penelitian dan Manajemen Pendidikan (LPMP). Aku selalu diberi tugas untuk mengumpulkan data kualitatif terutama melalui wancara mendalam. Penelitian-penelitian yang dikerjakan itu memberi aku kesempatan untuk bertatap muka dengan banyak orang terutama dari pedesaan-pedesaan di NTT, Yogya, Maluku Utara, Pesisir Pariaman dan banyak tempat lain. Sungguh ini mengasah kemampuanku melakukan penelitian nonkuantitatif.

Awal tahun 2000an Dr. Hafid Abbas selaku Dirjen HAM melibatkanku pada banyak kegiatan sosialisai dan penyebarluasan HAM bagi banyak kalangan di berbagai daerah. Kesempatan ini juga memberiku peluang untuk belajar semakin mendalam tetang manusia dan masyarakat dengan sudut pandang kualitatif dan pemberdayaan. Kemudian aku mendapat kesempatan belajar tentang HAM dan berbagai penelitian nonkuantitatif di Lund Universitet Swedia, sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas peneliti dan penggiat HAM yang diusahakan oleh Dr. Hafid Abbas.

Selama 2000-2007 aku banyak membantu kegiatan di DIKDASMEN DEPDIKBUD untuk penelitian, pelatihan guru dan kepala sekolah, serta ujicoba model pembelajaran seperti guru kunjung yang memungkinkanku menelusuri banyak daerah pedalam di Kalimantan, Irian, Sukawesi, Maluku, dan Sumatera. Aku juga ikut mengembangkan dan menguji coba serta mengevaluasi Majamen Berbasis Masyarakat dan Manajemen Berbasis Sekolah, dan pelatihan kepala sekolah dan guru untuk pengembangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Aku juga melakukan hal yang sama di Departemen Agama. Aku juga terlibat pada kegiatan pengembangan kurikulum, yang lagi-lagi mempertemukanku dengan banyak guru dan murid dari banyak tempat di Indonesia. Aku biasanya memilih tempat yang orang lain ogah pergi ke sana karena ribet dan beresiko.

Pada kisaran waktu yang sama 1999-2005 aku menjadi asessor dan visitor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Tugas ini mengharuskan aku sekaligus memperhatikan dan mempraktikkan akurasi dan keketatan kuantitatif serta pemahaman mendalam kualitatif. Selanjutnya, aku menjadi staf ahli adhoc di BSNP (2007-2009) yang terlibat dalam perumusan sejumlah standar pendidkan.

Ada sejumlah pengalaman sangat penting dalam rentang waktu yang panjang itu. Bersama-sama dengan semua relawan Yayasan Nanda Dian Nusantara di bawah komando Ibu Rustie Ilyas, kami terlibat melakukan konseling trauma terutama pada anak-anak di lokasi-lokasi konflik seperti Poso, Ambon, dan Sampit, dan di daerah-daerah bencana seperti Aceh, Padang, Yogyakarta, dan Garut-Tasik. Aku selalu jadi koorfinator lapangan (korlap). Kurasakan pengalaman ini sangat membekas dalam hati dan hidupku.

Itulah sejumlah pengalaman yang kuyakini bisa dijadikan modal dan diolah jadi tulisan. Paling kurang ada tiga hal penting yang kudapat dari pengalaman-pengalaman itu. Pertama, aku berada terus-menerus dalam proses pencarian. Paling tidak upaya untuk menemukenali banyak hal. Kedua, aku berada dalam pekerjaan ulang-alik yaitu pengalaman lapangan yang bersifat empiris-deduktif, dan pemahaman konseptual teoritis yang rasional-deduktif. Ketiga, aku selalu membangun interaksi, komunikasi dan pemahaman dengan banyak orang dari beragam latar belakang. Ini memberi kesempatan untuk mengasah dan menajamkan empati. Dengan semua itu aku mulai menulis. Aku mulai dengan menyusun buku penelitian kualitatif, sebab merasa cukup modal dan alasan untuk itu.

BUKU PENELITIAN KUALITATIF: PROSES DAN APLIKASI (INDEKS)

Oleh karena ingin memanfaatkan pengalaman, terutama tentang anak jalanan dan daerah kumuh, aku kembali ke beberapa daerah kumuh yang dulu merupakan tempatku meneliti dan bekerja sebagai relawan. Aku juga kembali lagi mengajar anak jalanan. Selama ini aku lebih banyak mengembangkan program dan jarang mengajar mereka. Kulakukan semua ini agar mendapatkan ruh tulisan. Aku tidak mau tulisan itu hanya mengedepankan pendekatan yang hanya akademik-intelektual. Sekadar berisi penjelasan teoritis tentang penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif itu sangat mementingkan keterlibatan dan empati. Jadi, aku harus beranjak dari situ dan konsisten menjaganya. Aku menulis sebuah buku penelitian kualitatif yang praktis-operasional dan mudah dimengerti. Contoh-contoh aplikasinya kuolah dari pengalamanku berinteraksi dan hidup dengan anak jalanan dan tinggal lama di daerah kumuh. Bila mengalami semacam hambatan, aku tidak membaca buku, tetapi berkumpul dengan anak jalanan dan berdiskusi serta berbincang. Setelah itu aku membaca buku untuk menambah gizi bagi penjelasanku.

Aku beruntung karena bisa tetap berdiskusi dengan Prof. Conny. Beliau memberikan beberapa masukan. Beliau sangat setuju agar aku membuat buku yang sangat berbeda dari yang sudah ada. Beberapa guru besar yang sering kuajak diskusi, bersedia membaca naskah buku ini. Walah, mereka menyatakan buku ini aneh, gak umum, dan ditulis dengan semangat seorang yang nekad. Seorang guru besar dengan sinis bilang, buku ini tidak bakal bisa digunakan untuk naik pangkat jadi profesor. Gak masalah bagiku, karena aku menulis buku bukan untuk menjadi prof., sebab sejak tahun 80an aku sudah mendapat gelar prov. alias provokator di kampus.

Keberatan utama mereka adalah buku ini ditulis dengan gaya cerita. Mereka menyarankan agar cerita-cerita itu dibuang saja. Aku harus mengabaikan saran mereka karena tiga alasan. Pertama, pada umumnya aku belum pernah membaca buku karya mereka. Jika pun mereka menulis buku, biasanya diterbitkan terbatas karena dicetak sendiri, bukan oleh penerbit yang dikenal. Berbeda dengan Prof. Conny yang sudah memiliki banyak buku yang diterbitkan. Kedua, aku yakin cerita merupakan cara ungkap terbaik untuk membangun pemahaman yang komprehensif dan bermakna.

Keyakinan ini berakar sangat dalam pada diriku. Sebagai seorang muslim aku akrab dengan AlQuran. Saat masih kecil, Emakku selalu menuturkan cerita-cerita yang berasal dari AlQuran. Cerita-cerita itu kemudian kubaca sendiri sampai hari ini. Cerita-cerita itu sangat melekat dalam ingatanku, maknanya terus berkembang seiring tumbuhkembangku, dan menjadi pedoman hidupku.

Cerita setidaknya memiliki sejumlah kekuatan yaitu, pertama, cerita tidak sekadar penjelasan logis, ada emosi di dalamnya. Aspek emosi ini yang membuat kita terlibat di dalamnya. Kedua, keterlibatan itu yang membuat kita mudah mengingat dan memahami maknanya, baik yang tersurat, tersirat, maupun yang tersorot. Ketiga, cerita menyediakan rentang makna. Maksudnya, cerita terbuka untuk diberi keragaman makna sesuai dengan kapasitas pembacanya. Karena itu makna sebuah cerita berkembang sesuai dengan perkembangan pembacanya. Itu sebabnya cerita Nabi Yunus dalam perut ikan, maknanya sangat beda bagiku saat Emakku menuturkannya sewaktu aku belum sekolah, setelah sekolah dan saat ini. Makna cerita berkembang sesuai perkembangan diriku. Itu kehebatan cerita. Itulah alasan mengapa semua bukuku selalu dimulai dengan cerita. Aku mengikuti paradigma AlQuran yang selalu bercerita. Wajarkan bila aku mengabaikan saran profesor dan mengikuti AlQuran.

Agar cerita dan penjelasan dalam buku ini lebih menyentuh, aku semakin intens ke lapangan. Bermalam lagi di daerah kumuh, dan nongkrong lagi bersama anak jalanan. Beberapa anak yang kutulis di buku kumintai pendapatnya. Mereka ketawa ngakak dan minta namanya dicantumkan. Beberapa anak yang diceritakan di buku, cerita itu merupakan kisah hidupnya waktu dia masih berumur tujuh atau delapan tahun, kini ia sudah berusia enam belas tahun. Ia menambahkan beberapa pendalaman pada cerita itu.

Waktu paling lama yang kugunakan bukanlah untuk menulis, namun melakukan eksplorasi lapangan. Aku lebih mudah masuk dalam kehidupan mereka karena sudah sangat kenal, tetapi tak elok bila ketemu hanya untuk mencari masukan bagi buku. Aku juga harus membantu mereka yang lagi bermasalah. Proses penulisannya tidaklah lama, rasanya aku hanya butuh waktu dua minggu. Beberapa bagian naskah kutulis di daerah kumuh, saat bermalam di sana. Dibutuhkan waktu khusus yaitu dua hari untuk membaca saat naskahnya kuanggap selesai. Inilah saat untuk penataan tulisan secara lengkap.

BUKU PENELITIAN PARTISIPATORI (KEMENAG)

Kembali berinteraksi secara intens dengan anak jalanan dan bermalam di daerah kumuh membawa sejumlah konsekuensi. Aku harus terlibat lagi secara langsung dengan masalah-masalah mereka seperti dulu. Bersama sejumlah relawan pada Yayasan Nanda Dian Nusantara, kami membuat pelatihan perbaikan komputer dan laptop. Tentu saja kegiatan ini membuatku kembali bersama anak jalanan, tidak hanya menjadi perancang program.

Aku sudah lama diminta membantu Direrktorat Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS) Kemenag untuk aktif mengembangkan Participatory Action Research (PAR) di lingkungan dosen perguruan tinggi Islam. Aku fikir ini saatnya untuk membuat buku tentang penelitian partisipatori sebagai refleksi terhadap pengalaman memberdayakan anak jalanan selama ini. Apalagi sekarang aku sedang bersama anak-anak jalanan itu dan sering ke pemukiman kumuh.

Aku mulai menulis perumusan aksi pemberdayaan yang kemudian menjadi bab 3 buku Penelitian Partisipatori, selanjutnya berturut-turut bab 2, bab 4 dan 5, terakhir bab 1. Tidak ada keharusan untuk memulainya dari bab satu dan secara berturutan bab-bab selanjutnya.

Selama penulisan berlangsung, aku tidak hanya melakukan pemberdayaan, tetapi berdiskusi dan berbincang dengan para relawan, anak-anak jalanan, dan sejumlah orang di daerah kumuh. Kegiatan ini dengan sangat intens kulakukan untuk memelihara dan mempertahankan ruh tulisan, dan membuat tulisan itu sungguh-sungguh dikerjakan secara empiris-induktif yakni berdasar data lapangan.

Beberapa relawan yang bekerja bersamaku pada pertengah 90an kudatangi dan berbincang dengan mereka. Ada juga beberapa orang yang terlibat pemberdayaan, baik itu anak jalanan maupun beberapa orang tua mereka kusambangi dan berbincang dengan mereka. Aku juga berdiskusi dengan para relawan baru untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda dan lebih segar. Setelah itu aku membaca ulang hampir semua buku yang berkaitan dan masih kumiliki, mencari bacaan tambahan di internet dan buku-buku baru.

Aku membutuhkan waktu sebelas hari untuk menulis buku ini. Tetapi pencarian data, keberadaan di lapangan membutuhkan waktu yang cukup lama juga. Setelah naskahnya relatif selesai, aku butuhkan satu hari untuk penataan. Bukan hanya aspek bahasa, terutama isinya. Kemudian naskah itu kuberikan pada beberap rekan relawan untuk mendapatkan masukan. Ada sejumlah usul yang kemudian ku olah untuk penyempurnaan buku. Kali ini aku tidak meminta masukan dari kampus kecuali Prof. Conny. Mohon maaf, aku gak yakin apa rekan-rekanku di kampus memiliki pengalaman pemberdayaan. Aku sama sekali tidak butuh masukan yang bersifat akademik. Ini buku praktis yang diharapkan membantu untuk melakukan pemberdayaan secara nyata dalam konteks sosial. Teman-teman relawan dan anak jalanan tampaknya lebih cocok dan pas untuk memberi masukan perbaikan.

BUKU RESEARCH & DEVELOPMENT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN: SUATU PENGANTAR (RAJAGRAFINDO)

Aku menulis disertasi dengan judul Pembentukan Perilaku HAM sebuah kajian di sekolah dasar. Promotornya adalah Prof. Dr. Conny R. Semiawan dan Prof. Dr. I Made Putrawan. Sewaktu seminar proposal aku dinyatakan lulus. Namun, diminta membuat tulisan yang rinci tentang metodologi penelitian. Alasannya metode yang kupilih tidak lazim.

Metode yang kupilih adalah: payung penelitiannya yaitu research & development karena akau mengembangkan model, uji cobanya memanfaatkan penelitian tindakan yang mengikuti pola siklis, dan datanya dikumpulkan serta dianalisis secara kualitatif. Memang tidak lazim. Sampai ujian terbuka pilihan metode ini terus dipersoalkan. Aku gak peduli. Aku ogah menulis disertasi seperti orang lain. Aku memang suka berbeda, bukan sebagai gaya, tetapi sebagai sikap hidup. Karena itu anakku ku beri nama Zendara Beda Azani dan Khalifa Lyan Bohemianda. Lyan itu bahasa Jawa yang artinya Lain.

Aku juga beberapa kali membimbing mahasiswa S1 mengembangkan inovasi pembelajaran sederhana dengan penalaran research & development. Di Dikdasmen aku ikut serta mengembangkan berbagai inovasi. Jadi aku memiliki pengalaman dalam research & development, modal untuk menulis buku.

Aku mulai menulis buku. Kini aku menulisnya berurutan. Aku mulai dari bab 5 bagian akhir buku itu. Bab 5 ini kuolah dari disertasiku. Kemudian aku berhentu menulis. Aku berpetualang dan terbang layang di internet mencari bahan. Ribuan lembar kertas kugunakan untuk mencetak bahan dari internet sampai printerku rusak total.

Aku juga meminta mahasiswaku, Agung Jogja, untuk mencarikan e-book terbaru tentang R&D. Sembari mengumpulkan bahan, aku terus membaca. Ini saat untuk memilah, memilih dan mengolah bahan-bahan yang sangat banyak jumlahnya. Aku baca saja semua bahan yang ada. Tidak penting apakah aku faham, setengah faham, atau sama sekali tak faham.

Aku yakin bila satu bahan dibaca, aku kurang atau tak faham, membaca bahan lain dengan topik sama membuka peluang untuk menambah pemahaman terhadap bacaan sebelumnya yang aku kurang atau tidak faham, begitulah seterusnya. Jadi, aku lanjutkan membaca. Saat dan setelah membaca, aku melakukan permainan mental, yaitu mencoba menyusun atau mengkonstruksi apa yang kubaca dalam fikiran. Imajinasi menjadi penting di sini. Aku membuat banyak gambaran mental. Bisa tentang struktur tulisan, pemanfaatan gambar-gambar untuk menjelaskan konsep yang diuraikan, penggunaan data pendukung, dan cerita-cerita yang menggugah emosi. Semuanya dilakukan dalam fikiran, tidak dituliskan.

Ini saat aku sering melakukan solilokui, berbincang dengan diri sendiri, kadang dengan suara lembut, jadi tidak di dalam hati. Tampak seperti orgil (orang gila) atau ragil (rada gila). Seringkali aku sampai mengedit struktur tulisan itu secara mental. Biasanya gambaran mental itu tidak segera kutuliskan, tetapi kubiarkan berkembang sendiri dalam fikiran. Ini semacam proses peragian. Aku kemudian melanjutkan membaca sampai ada rasa ingin muntah secar mental, karena dengan sengaja aku membaca secara acak bahan yang telah ada sebanyak yang aku bisa.

Bila rasa ingin muntah ini muncul, aku segera berhenti membaca. Aku mulai melakukan aktivitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan penulisan buku ini. Apa sajalah, seperti main games, jalan-jalan, nonton Sponge Bob, dan bercanda dengan nunun, sela, bila, opic, dan kawan-kawan, anak-anak balita di sekitar rumahku. Bila membaca buku, buku yang dibaca tidak berhubungan dengan topik R & D. Aku suka ke toko buku melihat buku-buku yang sama sekali beda dengan topik yang kutulis, seperti buku resep makanan, arsitektur, hukum pidana, komik manga, buku-buku agama Budha, perdebatan mazhab dalam Islam, ya pokoknya buku yang tidak ada R & Dnya.

Setelah jeda dan mengerjakan yang lain, aku mulai menulis. Biasanya tulisan itu mengalir keluar seperti lumpur Lapindo. Aku sering kewalahan karena ada semacam tekanan dari dalam. Inilah saat nikmat dan indahnya menulis, apalagi dilakukan setelah shalat malam, waktu emasku untuk menulis.

Untuk kondisi ini aku pernah menulis, para penulis tampaknya memiliki dunia tersendiri yang tak pernah bisa disinggahi apalagi dimasuki orang lain. Saat mereka merajangcincang, memberi rempah dan ragi bagi gagasan atau ide-ide mereka yang kerap kali iseng, aneh, bahkan syarat kegilaan. Keasyikan dan kekhusukan bercengkerama dengan gagasan itu seringkali memunculkan rasa sepi yang menggigit, sebab mereka untuk sementara harus menafikan dunia luar dan orang lain. Rasanya suasana ini meliputi semua orang yang sedang larut dalam aura penciptaan. Apakah mereka pelukis, penyair, pembuat lagu, arsitek, bahkan perangkai bunga. Ada suasana hati yang bergejolak sekaligus gairah yang melonjaklompat ingin muncrat dari dalam kepala dan keluar sebagai sebongkah keberadaan, serangkaian kalimat yang meluncur deras membentuk paragraf dan wacana dengan sendirinya. Tangan bergerak cepat tanpa kendali seperti tak sabar dan ingin melampaui arus waktu.

Aku menyebut kondisi ini orgasme mental. Meski agak meletihkan seperti berputar dalam labirin, namun sangat nikmat dan menyegarkan ketika ide muncrat mewujud rangkaian kata, kalimat, paragraf, dan wacana. Sungguh, menulis itu memperkaya, menenangkan, dan membahagiakan jiwa. Proses kreatif yang menggemaskan dan mengasyikkan.

Dengan cara seperti itulah bab demi bab mewujud. Setiap kali bab selesai ditulis dilakukan pemeriksaan dan penataan. Bila semua bab sudah selesai ditulis, pemeriksaan dan penataan dilakukan lagi. Saatnya memeriksa konsistensi intenal dan kelengkapan seluruh buku.

Untuk penulisan buku ini aku butuh waktu sekitar 13 hari. Tetapi proses mencari, memilah, memilih, dan mengolah bahan, butuh waktu sebulan lebih.

BUKU PENELITIAN KUALITATIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (ROSDA KARYA)

Mentorku di SMA, M.S. Kaban yang sedang menjabat Menteri Kehutanan memintaku untuk membantu mengajar di Universitas Ibnu Khaldun Bogor (UIKA). Di UIKA ini ada dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang merupakan mahasiswaku di pascasarjana UNJ yaitu Santi Lisnawati, S.Ag.,M.Si., M. Pd. Ia beberapa kali ikut penelitianku, dan kuminta bersama sejumlah mahasiswa S1 PAI untuk turut serta pada kegiatan pesantren Ramadhan Anak Jalanan Jabodetabek yang diselenggarakan oleh Yayasan Nanda Dian Nusantara. Setelah itu kami melakukan penelitian partisipatori selama dua tahun pada anak jalanan yang bermukim di sekitar UIKA.

Aku kemudian mengajak Santi untuk menulis buku Penelitian Kualitatif Pendidikan Agama Islam. Buku ini prosesnya berbeda dengan tiga buku yang sebelumnya kutulis sendiri. Aku tetap menekankan pentingnya pengalaman, terutama pengalaman melakukan penelitian dan pemberdayaan sebagai modal untuk menulis buku. Aku yakin modal itu lebih bernilai daripada studi pustaka.

Kami tidak membuat kerangka karangan. Kami sepakat memulai saja menulis secara bebas apa pun tentang penelitian kualitatif. Santi memilih melakukan penelitian kecil ke beberapa madrasah sebagai basis tulisannya tentang proses penelitian kualitatif, terutama terkait dengan pengamatan, wancara, dan penulisan catatan lapangan. Sementara aku membuat tulisan tentang catatan lapangan dan ciri penelitian kualitatif.

Ada tantangan khusus buatku. Bukuku Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi sudah terbit. Jadi aku harus membuat pendekatan dan cara penjelasan yang berbeda. Aku lakukan sejumlah langkah. Pertama, menuliskan topik yang berbeda, misalnya Etnografi Pendidikan. Kedua, menulis dengan sudut pandang berbeda, misalnya Dasar-dasar Penelitian Kualitatif yang merupakan karakteristik penelitian kualitatif. Isinya merupakan rangkuman pengalaman meneliti yang disintesiskan dengan buku-buku standar tentang penelitian kualitatif.

Terkait dengan topik pembuka yaitu Pendidikan Agama Islam sebagai dasar bagi penulisan buku ini, Santi dan aku membuat tulisan sendiri-sendiri, kemudian kedua tulisan itu disatukan. Setiap kali selesai menulis satu topik kami saling bertukar tulisan untuk saling koreksi dan memberi masukan. Kami membiarkan gaya menulis masing-masing berkembang, tidak perlu saling menyesuaikan diri. Sebab pada dasarnya setiap orang memiliki gaya dan cara ungkap yang berbeda. Kita menganut prinsip, Tidak ada paksaan dalam agama, apalagi dalam gaya menulis.

Kami sama-sama mencari beragam sumber terbaru melalui internet dan e-book. Khusus untuk e-book, Agung Yogya adalah andalanku. Tentu bacaan-bacaan ini sangat membantu untuk mengembangkan topik-topik yang sedang ditulis. Pemilihan sumber yang tepat sangat menentukan kualitas tulisan. Karena itu, meski kami membaca banyak sumber, sumber-sumber itu dipilih dengan sangat cermat. Mungkin ini salah satu keuntungan menulis bersama. Ada cukup waktu untuk menelaah sumber dengan lebih cermat, dan kita bisa saling belajar.

Setelah naskah terlihat lengkap, sesuai dengan stantap atau standar tetap, seluruh naskah diperiksa secara rinci dan hati-hati. Ada beberapa tambahan terkait dengan penjelasan tentang karakteristik penelitian kualitatif, dan Pendidikan Agama Islam. Naskah dinyatakan selesai.

Khusus untuk penulisan, tidak memperhitungkan pencarian dan pengkajian bahan, dan waktu yang digunakan Santi untuk melakukan penelitian lapangan, dibutuhkan waktu kurang dari 15 hari untuk selesaikan buku ini.

BUKU PENELITIAN KUALITATIF PAUD (RAJAGRAFINDO)

Pada kisaran 1992-1993 bersama relawan Yayasan Nanda Dian Nusantara, aku merintis pendirian taman bermain anak di daerah kumuh Kampung Bandan di belakang Pusat Perbelanjaan Mangga Dua, dan Pasar Ikan Kota yang dekat dengan Museum Bahari. Taman bermain anak itu didirikan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan anak di kedua daerah kumuh itu.

Semasa pendirian dan pelaksanaan pembelajaran, banyak mahasiswaku yang aktif membantu, salah satunya adalah Ninin Dwilestari. Kami akhirnya menikah, dan pada 2005 mendirikan TK Anak Sholeh yang memprioritaskan anak-anak dari keluarga kurang dan tidak mampu. Kini TK Anak Shaleh telah berkembang menjadi dua dan ada tambahan lain yaitu PAUD Anak Shaleh.

Pengalaman kami berdua mengelola taman bermain di beberapa daerah kumuh di Jakarta, dan TK Anak Shaleh tampaknya pantas diabadikan dalam sebuah buku. Maka kami putuskan untuk menulis.

Masing-masing kami menuliskan pengalaman spesifik dalam mengelola PAUD tersebut terkait dengan bagaimana mengatasi berbagai masalah anak, menyelesaikan masalah kekerasan dalam pengasuhan anak-anak itu di rumah, dan pengalaman melakukan penelitian sebagai cara untuk mendirikan taman bermain yang sesuai dengan konteks masyarakatnya. Di dalamnya juga ada catatan pemberdayaan yang kami lakukan tehadap keluarga anak-anak itu.

Masing-masing tulisan yang telah jadi dibaca bersama. Tentu saja terdapat uraian yang sangat panjang. Ini adalah bahan dasar yang kemudian dikategorisasi dan ditetapkan menjadi topik tertentu serta ditentukan jadi bab berapa di dalam buku setelah ditambah dan disempurnakan.

Kami menyediakan waktu untuk kembali berkunjung pada keluarga-keluarga yang memiliki masalah terutama terkait dengan kekerasan terhadap anak. Aku juga masih selalu datang ke daerah kumuh melanjutkan beberapa pemberdayaan yang sedang dilaksanakan oleh Yayasan Nanda Dian Nusantara.

Setelah tulisan relatif hampir jadi, barulah aku membaca sejumlah bahan dan buku yang memang sudah dikumpulkan sebelumnya. Pembacaan ini dimaksudkan untuk mengecek dan memperkaya tulisan. Mengecek apa yang kita tulis dibandingkan apa yang dijelaskan oleh para ahli.

Ada dua catatan yang penting untuk dikedepankan di sini. Pertama, bab pertama buku ini berisi konsep penting tentang tumbuh kembang anak dan konsep dasar PAUD. Terdapat cerita tersendiri untuk bab pertama ini. Aku sering diundang untuk berbicara tentang perkembangan anak, khususnya terkait dengan sumbangan neurosains. Pengundangnya macam-macam seperti para guru PAUD, pengelola PAUD komunitas, para istri bupati/walikota, dan sekolah-sekolah dasar Islam Terpadu.

Untuk membuat pembicaraan itu menarik dan gampang dimengerti, aku membuat power point yang lengkap dan terstruktur. Pada mulanya hanya 15 tampilan. Tetapi setiap ceramah ada pertanyaan yang selalu sama. Power point itu terus bertambah sesuai dengan perkembangan pertanyaan. Aku terus membaca buku untuk membuat power point. Akhirnya power point itu melampaui 100 tampilan. Ketika menulis bab satu, aku tinggal “mendagingi” power point itu. Ini merupakan salah satu modus untuk membuat tulisan. Bermula dari power point yang lengkap dan terstruktur dengan baik.

Kedua, dalam buku ini terdapat penjelasan tentang karakteristik penelitian kualitatif. Ini tak terelakkan. Bacalah sejumlah buku Gardner tentang kecerdasan majemuk, atau Creswell tentang penelitian, ada konsep kunci yang harus ditulis ulang. Tetapi jangan diulang sama persis. Kata kuncinya tentulah sama, namun penjelasan dan contohnya harus berbeda, disesuaikan dengan topik khusus bukunya. Dalam buku ini tentu saja penjelasan dan contoh-contoh dikaitkan dengan PAUD. Dengan demikian terdapat perbedaan yang bermakna dari buku sebelumnya.

Buku ini banyak contoh-contoh nyata dan konsep-konsep mutakhir tentang perkembangan anak. Contoh-contoh dapat diberikan dan dijelaskan karena selama penulisan buku, Ninin tetap sambil mengajar dan mengelola TK Anak Shaleh, jadi berbagai kejadian yang baru terjadi dapat diolah jadi tulisan. Sementara itu konsep-konsep mutakhir diolah dari berbagai hasil penelitian terbaru yang didapatkan dari internet.

Sintesis dari data lapangan yang bersifat empiris-induktif, dan kosep teoritis yang dijabarkan secara rasional-deduktif untuk menjelaskan berbagai fenomena, membuat buku ini berbeda dengan beragam penjelasan yang selama ini terdapat dalam banyak buku. Sebagaimana buku Research & Development, dan Penelitian Kualitatif PAI, buku ini juga merupakan buku pertama dalam bidangnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Seperti biasa, dibutuhkan waktu untuk penataan. Waktu untuk menulis buku ini, di luar waktu pencarian data dan membaca buku adalah 11 hari.

BUKU METODOLOGI PENELITIAN KEBIJAKAN (ROSDA KARYA)

Pada akhir 2009 aku kembali ikutan membantu Balitbang, khususnya di Puslitjak yang dipimpin oleh Ir. Hendarman, M.Sc., Ph.D. Aku ikut serta dalam berbagai penelitian, menjadi instruktur dan pemateri pelatihan para peneliti, dan seminar serta lokakarya bertaraf nasional. Semua kegiatan ini memungkinkan aku sering berdiskusi dengan Pak Hen.

Pak Hen mendapat gelar master di USA, dan Doktor di Australia. Pendidikan dan pekerjaannya membuat ia akrab dengan kebijakan publik baik sebagai peneliti, praktisi, maupun sebagai pengambil kebijakan. Ia memiliki banyak penelitian dan tulisan tentang kebijakan publik dalam bidang pendidikan. Penelitiannya tentang RSBI menemukan banyak anomali dalam penyelenggaraannya. Ia juga mengajar Analisis Kebijakan pada beberapa program pasca. Latar belakang ini dan power pointnya yang sangat lengkap dan terstruktur tentang Analisis Kebijakan membuat penulisan buku ini menjadi lebih mudah.

Kami sepakat menulis buku bersama. Pembagian topiknya sangat adil 50:50 persen dengan rincian sebagai berikut: Pak Hen menulis bagian teori, tetapi paling banyak adalah aplikasi praktis penelitian kebijakan. Aku menulis sebagian besar teori, dan sedikit pada aplikasi.

Karena sulit untuk bertemu, disepakati kita berdiskusi dan saling memberi masukan serta koreksian melalui email. Secara teratur kami berkomunikasi melaui email. Tulisan saling dipertukarkan dan saling mengoreksi. Kami bersepakat untuk menghargai dan tidak merubah gaya tulis masing-masing.

Apa yang kami lakukan menunjukkan, pada masa kini kendala waktu dan jarak bisa diatasi memanfaatkan teknologi. Menulis bersama bisa dilakukan memanfaatkan email.

Bagiku menulis buku yang satu ini sungguh pengalaman yang sama sekali baru. Biasanya aku menulis apa yang sudah aku miliki, lazimnya pengalaman yang direfleksikan dan diolah. Kini aku memulai dengan mencari dan mempelajari bahan yang jumlah dan jenisnya banyak sekali. Aku sampai melakukan kajian pustaka mendalam terhadap kebijakan Pembuatan Waduk Kedung Ombo yang sangat menghebohkan di zaman orde baru. Aku juga melakukan studi pustaka yang sangat hati-hati tentang proses pembuatan kebijakan pada berbagai bidang di banyak negara. Mbah Google sungguh sangat membantu, juga tentunya Agung Jogja yang terus mencarikan buku yang kubutuhkan.

Aku membaca dan menulis secara simultan, atau saling bergantian. Mulai dengan membaca dan kemudian menulis. Tetapi tetap tidak dari bab satu. Jadi menulis teori dan konsep saja dulu. Kemudian dipadukan dengan tulisan Pak Hen, jadilah bab 3. Bab 4 dan 5 sepenuhnya ditulis oleh Pak Hen. Kami berbagi pada Bab 1,2,3. Jadi akhirnya Pak Hen menulis lebih banyak, tidak 50:50 sebagaimana yang direncanakan.

Tulisan ini relatif sangat cepat ditulis. Proses penulisannya saja, tidak termasuk pencarian dan pengolahan bahan hanya berlangsung 10 hari.

PENUTUP

Inilah cerita tentang enam buku yang kutulis pada 2011. Tiga sendirian dan tiga berdua. Setiap buku ditulis dengan modus yang tidak sama persis. Buku pertama dan kedua didominasi oleh pengalaman, yang ketiga, keempat, dan kelima sintesis yang seimbang antara pengalaman dan teori, dan yang keenam lebih banyak teori dan konsep. Artinya sumber penulisan buku itu sangat banyak dan beragam.

Rasanya modal utama agar bisa menghasilkan buku adalah kemampuan untuk khusuk atau fokus, konsistensi, dan daya tahan jangka panjang. Sebab tak ada buku yang bisa ditulis secara instan. Untuk bisa menciptakan atau mengkondisikan diri seperti itu, kiatnya sudah kujelaskan pada Menulislah Seperti Shalat yang pertama. Semoga berguna, dan selamat mencoba.

2 thoughts on “MENULISLAH SEPERTI SHALAT (2)

  1. Nama: Marsella Dwi Rahmah | NIM: 4915131394
    sangat menginspirasi pak, semoga saya bisa menjadi penulis seperti bapak. terus berkaya dengan buku-bukunya ya pak:)

  2. memang pa Nusa berbeda….. sudah terpenuhi…menjadi orang berbeda…. ceritanya begitu memberi inspirasi….saya suka gaya ceritanya…… sukses ya pa…. setelah mati tetap berarti…setuju…gbu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s