MENULISLAH SEPERTI SHALAT (3)

MENULISLAH SEPERTI SHALAT (3)

Alhamdullillah. Setelah MENULISLAH SEPERTI SHALAT (2) beredar, makin banyak pertanyaan yang diajukan. Tampaknya semakin banyak orang yang ingin menulis dan meningkatkan kemampuan menulis. Sejumlah pertanyaan muncul seperti: bagaimana memulai? Apakah perlu membuat kerangka karangan? Apakah aspek kebahasaan itu penting? Bagaimana mengakhiri tulisan? Apakah yang dimaksud belajar menulis dengan model? Tentu masih banyak pertanyaan yang bersifat lebih teknis. Juga ada pertanyaan yang lebih umum seperti apakah menulis dapat meningkatkan kepercayaan diri? Aku akan coba menjawab sejumlah pertanyaan ini.

MEMULAI TULISAN

Biasanya terdapat dua keadaan yang membuat kebanyakan orang sulit untuk mulai menulis. Dua keadaan yang sangat bertentangan. Pertama, merasa tidak ada yang bisa ditulis. Seringkali ada perasaan, apa yang ingin ditulis kurang berguna atau kurang penting. Kedua, merasa terlalu banyak yang akan dituliskan, akibatnya merasa bingung memilih mana yang akan ditulis. Kedua keadaan ini dampaknya sama yaitu membuat si calon penulis akhirnya tidak menulis apa-apa.

Jika ingin menulis, langsung saja menulis. Jangan pikirkan apa pun kecuali menulislah. Abaikan apa pun, mulailah menulis! Apa pun yang terpikir, atau apa pun yang ingin ditulis, tulislah. Jangan pikirkan salah atau benar, berguna atau tidak berguna, tulis saja apa yang mau ditulis. Apa pun itu tulislah!

Kata-kata yang terangkai justru akan memicu Anda untuk melanjutkan tulisan itu. Mengalir saja seperti kali Ciliwung yang mendapat kiriman air dari Bendung Katulampa. Biarkan kata-kata Anda meluap ke mana-mana, bagai banjir yang bahkan menggenangi Istana Negara. Ini memang saat Anda untuk menumpahkan kata-kata, seperti banjir yang menenggelamkan Jakarta, tumpahkan kata-kata itu. Dalam musim banjir, tak ada larangan bagi air mau pergi ke mana saja. Apalagi memang tak ada yang bisa melarang dan menghalangi air bah itu. Menulislah dengan cara itu.

Aku sudah buktikan dengan ribuan mahasiswa, karena aku mendapat SK mengajar 1988, cara ini membuat mereka bisa menulis. Selalu ada yang memulai begini, Saya tidak bisa menulis. Sejak SD pelajaran mengarang saya paling tudak suka. Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya bingung harus mulai dari mana. Sekarang pun saya sedang bingung mau menulis apa. Sama sekali tidak tahu mau menulis apa……… Mahasiswa ini ternyata bisa menulis sampai tujuh halaman. Di dalam tulisannya terdapat banyak gagasan yang bisa dikembangkan menjadi tulisan mandiri. Jadi, mulailah menulis. Di sini berlaku pepatah lama, bisa karena biasa. Karena itu biasakanlah menulis.

Percayalah, kita bisa memanfaatkan apa pun untuk dituliskan. Banyak pengalaman hidup yang kita pikir tidak berguna, tetapi bila dituliskan dan disebarkan berguna dan bisa membantu orang lain. Apa yang kita lihat, rasakan, baui dan pikirkan, bahkan mimpi-mimpi kita bisa dijadikan bahan tulisan. Harry Potter itu kan cuma khayalan, tetapi penulisnya jadi triliuner.

AYO MULAI MENULIS!

Bila sudah terbiasa menulis, jangan tidak menulis. Menulis saja terus. Menulis catatan harian bisa dijadikan wahana untuk terus menulis setiap hari. Apa pun perasaan Anda pada hari itu, atau kejadian tertentu seperti yang lucu atau mengesalkan bisa dijadikan bahan tulisan. Yakinlah, kita tak pernah kehabisan bahan untuk ditulis, sebab apa pun bisa dijadikan bahan tulisan.

Kebiasaan menulis yang dibangun, secara perlahan atau sering juga secara mendadak akan membimbing kita untuk menemukenali atau mencaritemukan gaya dan corak tulisan kita. Semakin lama menulis akan semakin mudah, dan kalau tidak menulis tangan terasa gatal. Bila sudah begini, menulis menjadi kebiasaan atau habitus yang mengasyikkan.

Ini saat untuk fokus. Artinya bila menulis, mulailah menentukan fokus. Misalnya Anda tertarik untuk menulis topik banjir. Sebaiknya jangan fokus pada topik banjir. Topik ini terlalu luas, bisa memunculkan kesulitan. Sebagai penulis harus jujur mengakui, pengetahuan dan pengalaman kita terbatas. Karena itu batasi topiknya menjadi Banjir 2013. Bila ini dirasa masih terlalu luas, topiknya bisa dibuat lebih spesifik menjadi Banjir 2013: Tenggelamnya Bundaran HI.

Topik tersebut sangat layak ditulis karena banjir hebat yang melanda Jakarta 2002 dan 2007 tidak sampai menenggelamkan Bundaran HI. Anda bisa menarik perhatian pembaca dengan kalimat pembuka seperti ini. Banjir semata kaki di Bundaran HI akan menenggelamkan seluruh Jakarta. Apa bisa? Pasti bisa, bila banjir itu menyentuh mata kaki patung Selamat Datang.

Sekarang kita sudah memiliki topik yang lebih spesifik yaitu: Banjir 2013: Tenggelamnya Bundaran HI. Sebelum mengembangkan tulisan, ajukan pertanyaan apa pun tentang topik itu, seperti:

. Mengapa banjir 2013 sampai menenggelamkan Bundaran HI?
. Apa sebab banjir 2013 sampai menenggalamkan wilayah sekitar Bundaran HI, bahkan merendam Istana Negara?
. Apakah curah hujan 2013 lebih tinggi daripada 2007?
. Apakah banjir 2013 akibat kegagalan pemimpin DKI Jakarta periode sebelumnya yang tidak memiliki program komprehensif mengatasi banjir Jakarta?
. Apakah banjir 2013 juga diakibatkan oleh jumlah sampah yang semakin meningkat di kali Ciliwung?
. Apakah buruknya sistem pembuangan air di Jakarta memberi pengaruh yang signifikan terhadap banjir besar ini?
. Mungkinkah ketidakjelasan pembagian tugas antara Pemerintah Pusat dan Daerah menjadi pemicu dan pemacu banjir 2013 dan banjir-banjir sebelumnya?
. Mengapa keberadaan banjir kanal timur kurang membantu mengurangi dampak banjir ini?
. Bagaimana mengoptimalkan fungsi banjir kanal timur untuk mengatasi banjir Jakarta?
. Apakah banjir kali ini berbarengan dengan tingginya banjir rob?
. Rendahnya disiplin penduduk menjaga kebersihan lingkungan ikut memperparah banjir Jakarta?
. Langkah-langkah apa yang dapat dilakukan dalam jangka pendek untuk mengurangi dampak banjir Jakarta?
. Berapa kerugian akibat tenggelamnya Bundaran HI?
. Apakah tenggelamnya Bundaran Hi dapat mempengaruhi investasi asing di Indonesia?
. Apakah tenggelamnya Bundaran HI diakibatkan oleh jebolnya tanggul air di Jl. Latuharhari?
. Apakah curah hujan yang tinggi di Jabodetabek dipengaruhi suhu sangat panas di Australia?
. Apakah topan yang meluluhlantakkan Filipina mempengaruhi curah hujan di Jabodetabek?
. Siapa yang paling bertanggungjawab atas terjadinya peristiwa ini?
. Apa yang dapat dilakukan dan disumbangkan masyarakat untuk ikut serta menanggulangi banjir Jakarta?
. Apakah pembuatan waduk untuk menampung air kiriman dari Katulampa dapat mencegah banjir Jakarta?
. Apakah Jakarta masih layak menjadi ibu kota Indonesia?
. Apakah banjir besar ini ada kaitannya dengan banyaknya maksiat di Jakarta?
. Apakah banjir besar ini merupakan bentuk peringatan Tuhan?
. Apakah banjir besar ini merupakan dampak dari kejahatan lingkungan yang dilakukan manusia?

Metode yang digunakan untuk mengajukan pertanyaan ini adalah badai pikiran (brainstorming)? Karena itu prinsip-prinsip berikut harus dilaksanakan, yaitu;

1. Ajukan pertanyaan dengan bebas, semua pertanyaan baik yang nyambung dan tidak nyambung dengan topik boleh ditanyakan. Jadi, tidak boleh ada pembatasan terhadap pertanyaan, semua pertanyaan yang Jaka Sembung bawa golok, dan Jaka Sembung bawa ojek, boleh-boleh saja.
2. Semua pertanyaan harus dicatat.
3. Ajukan pertanyaan sebanyak mungkin, lebih banyak lebih bagus.

KERANGKA KARANGAN

Bila semua pertanyaan telah diajukan dan dicatat, maka selanjutnya lakukan seleksi dan penataan. Diseleksi mana di antara pertanyaan itu yang terkait atau nyambung dengan topik. Yang kurang atau tidak nyambung disimpan, karena bisa digunakan untuk menulis topik lain. Jangan dibuang, sebab bagaimanapun itu hasil olah pikiran yang tetap dapat dikembangkan.

Setelah proses seleksi, pertanyaan itu diurutkan secara logis dan diberi angka mulai dari satu sesuai urutan logis. Penulis bebas memilih berapa pertanyaan yang akan digunakannya sebagai kerangka karangan. Pilihan itu didasarkan sejumlah pertimbangan seperti:

1. Pengetahuan latar belakang, artinya apa yang sudah diketahui penulis tentang topik banjir ini.
2. Waktu yang tersedia baginya untuk mencari berbagai sumber guna menjawab pertanyaan yang telah dipilihnya. Sumber yang dapat digunakan sangat banyak yaitu berita pada media massa, cetak dan elektronik, bacaan berupa buku-buku, informasi dari internet,dan sumber-sumber tangan pertama seperti orang-otang yang terkena banjir atau pejabat terkait. Informasi dari sumber tangan pertama biasanya didapat melalui wawancara.
3. Akses pada semua sumber informasi yang disebutkan di atas.

Bila penulis memiliki waktu dan akses terbatas, gunakan sumber yang mudah dijangkau yaitu internet dan buku-buku serta pemberitaan. Kedalaman dan kelengkapan jawaban sangat tergantung dari ketersediaan sumber-sumber informasi yang memang dibutuhkan.

Apabila penulis memutuskan hanya mengandalkan pengetahuan latar belakang dan informasi dari media massa, dia bisa tetap memilih urutan pertanyaan yang telah dibuatnya, tetapi tulisannya mungkin kurang lengkap dan mendalam. Ia juga bisa hanya memilih pertanyaan yang bisa dijawab dengan sumber yang dimilikinya itu. Inilah gunanya membuat pertanyaan sebanyak mungkin agar penulis memiliki kebebasan yang lebih besar untuk memilih pertanyaaan yang akan dijawabnya.

Ambillah contoh, penulis memilih pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

1. Apa sebab banjir 2013 sampai menenggelamkan wilayah sekitar Bundaran HI, bahkan sampai merendam Istana Negara?
2. Apakah tenggelamnya Bundaran HI diakibatkan jebolnya tanggul air di Jalan Latuharhari?
3. Apakah buruknya sistem pembuangan air di Jakarta memberi pengaruh yang signifikan terhadap banjir besar ini?
4. Apakah banjir 2013 juga diakibatkan oleh jumlah sampah yang semakin meningkat di kali Ciliwung?

Untuk menjawab pertanyaan ini dan menghasilkan tulisan yang baik, tampaknya penulis tidak dapat hanya mengandalkan pengetahuan latar belakang dan refleksi pemikiran rasional. Perlu melakukan kajian empiris untuk mendapatkan informasi dan data yang akurat. Karena kita tidak dapat berspekulasi tentang buruknya sistem pembuangan air dan jumlah sampah. Untuk kedua hal ini dibutuhkan data yang akurat.

Berbeda sekali jika yang hendak dijawab adalah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1. Mengapa banjir 2013 sampai menenggelamkan Bundaran HI?
2. Apakah tenggelamnya Bundaran HI mempengaruhi investasi asing di Indonesia?
3. Rendahnya disiplin penduduk menjaga lingkunagn ikut mempengaruhi banjir Jakarta?
4. Apa yang dapat disumbangkan masyarakat untuk ikut serta menanggulangi banjir Jakarta?
5. Siapa yang paling bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa ini?
6. Apakah Jakarta masih layak menjadi ibu kota Indonesia?

Rangkaian pertanyaan ini memberi lebih banyak kebebasan kepada penulis untuk melakukan eksplorasi memanfaatkan refleksi pemikiran rasional dan imajinasinya. Ia boleh ngarang dan ngarang-ngarang. Kekuatan argumentasi rasional yang memperhatikan koherensi internal tulisan, bisa lebih menonjol di sini. Tidak ada salahnya bila memanfaatkan data empiris. Tetapi data empiris untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tidaklah sepenting seperti menjawab rangkaian empat pertanyaan yang lebih dulu ditampilkan di atas.

Terlihat dengan jelas, bagaimana dari sebuah topik yang terbatas, menggunakan metode badai pikiran, didapatkan sejumlah besar pertanyaan dan bisa menghasilkan fokus dan gaya penulisan yang berbeda. Yang pertama lebih bergaya induktif empiris yang sangat mengandalkan dan tergantung data, sedangkan yang kedua lebih bergaya deduktif rasional yang memberi kebebadan untuk berefleksi, berimajinasi, bahkan bespekulasi. Penulis tentu saja dapat menggabungkan keduanya. Dengan demikian dapat dihasilkan tulisan yang lebih lengkap, mendalam, dan rinci.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana membuat kerangka karangan. Urut-urutannya mulai dari pemfokusan tulisan dengan cara membatasi topik tulisan, mengajukan pertanyaan menggunakan metode badai pikiran, menyeleksi dan mengurutkan pertanyaan yang mewujud menjadi kerangaka karangan. Kita juga bisa menggunakan peta pikiran yang dikembangkan Tony Buzan untuk membatasi topik tulisan dan membuat kerangka karangan, dan semua cara lain yang permah ditawarkan para ahli. Tetapi cara yang kutawarkan tampaknya lebih mudah, dan lebih melibatkan penulis dengan tulisannya.

Kerangka karangan memang dapat mempermudah mengembangkan tulisan. Bukan saja bagi penulis pemula, juga bagi penulis yang sudah ahli. Kerangka karangan memberi acuan sekaligus arah untuk mengembangkan tulisan. Aku juga membuat kerangka karangan, tetapi tidak tertulis. Namun, membiarkannya berada di dalam fikiran agar mudah dikembangkan dan diubah. Bagi yang memiliki profesi sebagai pengajar dan instruktur, yang terbiasa membuat power poin, buatlah power point dengan lengkap dan terstruktur, karena dapat digunakan sebagai kerangka karangan yang tinggal diberi daging, otot, syaraf dan kulit agar menjadi tulisan yang utuh.

ASPEK-ASPEK KEBAHASAAN

Pada hakikatnya menulis adalah kegiatan dan keterampilan berbahasa. Kita mengungkapkan ide, perasaan, dan imajinasi melalui dan dengan bahasa. Menulis itu merupakan kegiatan berkalimat, menghasilkan atau memproduksi kalimat-kalimat sebagai wahana pengejawantahan pikiran dan perasaan. Kalimat terdiri dari kata-kata, tetapi bukan kumpulan atau tumpukan kata, melainkan rangkaian kata.

Seperti rangkaian bunga yang merupakan upaya menyusun bunga dengan teknik tertentu, dan setiap teknik memiliki cara kerja yang berbeda. Begitu pula halnya dengan rangkaian kata-kata untuk membentuk atau membangun kalimat. Kata memiliki makna dan fungsi. Makna kata tidak sepasti angka. Ada makna denotasi atau makna seperti tertera di dalam kamus, juga makna konotasi yaitu makna tambahan. Kepala berita sebuah surat kabar tertulis: Jakara Tenggelam. Ini konotatif. Memang ada beberapa tempat yang sungguh tenggelam, tetapi sebagian besar hanya tergenang.

Ada lagi makna kontekstual, baik dalam arti konteks kalimat yang dimasuki kata, maupun konteks sosial yang dapat mempengaruhi makna kata. Kata kembali memiliki makna yang berbeda dalam dua kalimat ini,

1. Ia terpaksa mengirim kembali surat itu.
2. Gus Dur telah kembali ke haribaan Illahi.

Pada kalimat pertama kata kembali bermakna perbuatan mengulangi, sedangkan pada kalimat kedua bermakna pulang, dalam kaitan ini wafat. Konteks sosial bisa lebih rumit dari contoh di atas. Kata amis bermakna bau yang tidak menyenangkan dalam bahasa Indonesia, tetapi bermakna manis dalam bahasa Sunda. Secara berkelakar bisa dikatakan yang dibuang dan dihindari orang Indonesia, disukai oleh kebanyakan orang Sunda. Sebaliknya terjadi dengan kata goreng. Kebanyakan orang Indonesia suka nasi goreng, mie goreng, tempe,tahu, dan pisang goreng. Orang Sunda menghindari bahkan membuangnya, karena kata goreng bermakna jelek dalam bahasa Sunda.

Oleh karena makna kata itu tidak pasti dan selalu berubah, para ahli bahasa menyarankan bila kita berbicara dan menulis, perhatikanlah diksi atau pilihan kata. Artinya kita harus memilah, memilih, dan mengolah kata. Tidak menggunakan kata secara sembarangan. Terutama dalam menulis. Bila bebicara makna kata bisa didukung dengan bahasa tubuh dan cara mengucapkan kata. Dalam menulis, bantuan seperti itu tidak ada. Jadi, penulis harus sangat hati-hati dan mengoptimalkan penggunaan kata untuk merangkai kailmat, dan membangun makna.

Para ahli bahasa menetapkan cara untuk memilih kata. Cara itu adalah perhatikan ketepatan dan kesesuaian kata. Ketepatan kata berhubungan dengan makna kata terkait makna yang terdapat dalam kamus, logika bahasa, dan aturan ketatabahasaan, sedangkan kesesuaian kata berkutat pada makna kata dalam kaitannya dengan konteks sosial seperti untuk siapa tulisan ditujukan, dan rasa kata yang berkembang dalam masyarakat. Rasa kata ini berhubungan dengan pantas-tak pantas, dan halus-kasar.

Contoh penggunaan ketepatan kata adalah sinonim atau padanan kata. Kata besar memiliki sinonim akbar, agung, makro, gala, dan raya. Kita tidak dapat menggunakan sesuka kita. Orang pasti menertawakan kita, jika menggunakan mahkamah makro, jaksa akbar, ekonomi agung. Yang berterima adalah mahkamah agung, jaksa agung, dan ekonomi makro. Ini terjadi karena pada hakikatnya sinonim bukanlah kesamaan makna, tapi kesetaraan makna. Jadi, kita tidak dapat saling mempertukarkannya. Menggunakan ketepatan kata memang membutuhkan kehati-hatian. Dengan demikian kalimat yang kita rangkai menjadi benar dan nalar.

Aturan tentang ketepatan dan kesesuaian kata ini sangat banyak dan kompleks. Begitu pula aturan tentang kalimat dan paragraf. Aku menyarankan pelajarilah aturan ini dengan sebaik-baiknya. Tetapi jangan sampai karena banyak dan ketatnya aturan-aturan kebahasaan itu membuat kita tidak menulis. Saranku sederhana saja, menulislah. Saat menulis semua aturan itu abaikan saja. Selama ini aku begitu. Aku sama sekali tak memperhatikannya. Aku menulis dan menulis. Bila tulisanku telah selesai barulah kusediakan waktu untuk menatanya, memperhatikan semua aturan yang ada. Sebab aku berprinsip, lebih mudah menata tulisan yang sudah ada wujudnya, daripada tidak menghasilkan tulisan karena terkungkung oleh macam-macam aturan.

Aku mengenal banyak teman yang mengajar Bahasa Indonesia di perguruan tinggi, bahkan mereka mengajar mata kuliah Menulis. Mereka tahu dan hafal semua aturan bahasa dan kiat-kiat menulis, tetapi aku tak pernah membaca tulisan mereka, apalagi buku yang diterbitkan. Sekali lagi kusarankan, menulislah dan lihat hasilnya yang luar biasa.

Mengapa aku memberi saran seperti itu? Menulis itu adalah salah satu bentuk tindak komunikasi. Bukankah kita bisa berkomunikasi dengan lancar tanpa menjadi ahli bahasa? Para ahli bahasa pastilah berusaha meyakinkan bahwa tanpa pemahaman yang baik dan benar terhadap bahasa, kita tidak akan bisa berkomunikasi dengan baik dan benar. Mari kita hargai pendapat mereka, karena kasihan juga bila tidak dihargai. Mereka sudah lama belajar dan bahasa telah menjadi sumber mata pencariannya. Tetapi tidak ada hukum yang mengharuskan kita mengikuti pendapat mereka. Penulis-penulis terkenal dalam berbagai bidang, termasuk penulis sastra, sebagaian besar bukan ahli bahasa, apalagi ahli tatabahasa. Tetapi mereka adalah para penulis hebat. Sementara para pengajar bahasa Indonesia itu, para ahli bahasa, mana karya tulis mereka? Bila ada, pastilah tidak sebanyak para penulis yang bukan ahli bahasa. Jadi, menulislah terus.

Kita menulis apa yang kita alami, ketahui, fikirkan, rasakan, dan khayalkan. Persoalan kecanggihan bahasa itu menyusul. Malah sering terjadi, para ahli bahasa itu belajar dari para penulis yang tidak ahli bahasa. Para penulis itu bahkan menciptakan banyak konstruksi kata dan kalimat, serta ungkapan yang justru memberi ahli bahasa itu pengetahuan dan pekerjaan.

Lihatlah, anak-anak kita belajar bahasa Indonesia dari sekolah dasar, apakah keterampilan berbahasa Indonesia mereka bagus? Hasil ujian nasional bahasa Indonesia juga tidak bagus. Ayo menulislah dengan bahasa yang kita kuasai, yang kita dapat dari kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa sehari-hari itu kita bisa membangun dunia makna, dan berkomunikasi dengan orang lain, serta hidup normal.

Menulislah terus, semakin lama rasa bahasa itu akan tumbuh kembang, kita akan belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Setiap kita pastilah menginginkan peningkatan kualitas tulisan, dan tidak lagi mendapatkan hambatan kebahasaan saat menulis. Hal-hal inilah yang mendorong kita untuk secara terus menerus meningkatkan pemahaman dan keterampilan berbahasa dan belajar bahasa. Jadi, menulislah lebih dahulu, mempercanggih bahasa kemudian. Jangan dibalik!

MENGAKHIRI TULISAN

Bagi siapa pun yang tidak memiliki atau kurang pengalaman dengan tulis-menulis mungkin menganggap pertanyaan begaimana mengakhiri tulisan sebagai pertanyaan yang aneh dan lucu. Apa benar tidak mudah mengakhiri tulisan? Jawabannya, tergantung. Tergantung pengalaman dan kebiasaan, topik tulisan, sumber-sumber yang tersedia, tujuan dan manfaat tulisan.

Inilah pengalamanku. Aku biasanya mengakhiri tulisan bila merasa tulisan harus diakhiri. Aku kurang memperdulikan apakah semua yang harus dan perlu dijelaskan sudah dijelaskan. Setelah membiarkannya beberapa lama, paling tidak setengah jam, barulah aku baca ulang. Pada saat inilah kuputuskan, apakah perlu penambahan, penajaman, dan membuat catatan penutup. Catatan penutup itu bisa berupa simpulan, atau simpulan dan pengantar untuk bab selanjutnya. Aku selalu begitu, sebab bagiku menulis adalah kegiatan yang bersifat bertahap dan berkelanjutan, yang dikerjakan berulang-ulang, tidak sekali jadi.

Aku tidak pernah memaksakan diri untuk sampai pada satu titik tertentu, misalnya harus mencapai simpulan dalam sekali menulis. Aku menulis saja semampuku. Ini kulakukan karena bila dipaksakan hasilnya pasti tidak bagus. Sebagai suatu contoh nyata. Pada 2012 aku mendapatkan kesempatan dari Balitbang Kemdikbud untuk menulis dalam kerangka Outlook pendidikan. Aku diminta menulis Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar. Sistematika tulisan telah ditentukan, tulisan harus berakhir dengan simpulan dan rekomendasi. Meskipun topiknya serius-formal, dan agak sulit karena harus berbasis konsep teoritis dan fakta empiris, serta sebuah pandangan visionet untuk memecahakan masalah masa kini, bagi peningkatan mutu pada masa depan. Namun, tidak sulit menentukan akhir tulisan karena sudah ada format dan target yang harus diberikan yaitu rekomendasi.

Itulah sebabnya mengapa semua tulisan formal selalu memiliki sistematika agar memudahkan bagi siapa pun untuk mewujudkannya menjadi tulisan. Tetapi terkadang sistematika itu juga tidak terlalu membantu, karena mengakhiri tulisan bukan persoalan sistematika, lebih merupakan isi tulisan.

Aku mengembangkan sebuah kiat untuk melakukan pengecekan tulisan formal. Sebuah kiat untuk memastikan bahwa tulisan itu sudah layak diakhiri. Berbeda dengan tulisan yang tidak formal yang memiliki rentang kebebasan lebih besar, tulisan formal harus mengikuti sejumlah aturan yang harus diperhatikan. Tulisan formal biasanya mengedepankan sejumlah konsep utama yang merupakan konsep kunci dari topik yang ditulis. Periksalah apakah konsep-konsep kunci itu sudah dijelaskan? Bagaimana cara memeriksanya? Perhatikan apakah kata-kata kunci yang terkandung dalam konsep kunci itu sudah disebut dan dijelaskan? Bila sudah, pertanyaan berikutnya adalah, apakah kata-kata kunci itu sudah dijelaskan kaitannya satu sama lain sehingga seluruh konsep kuncinya terurai dengan baik? Apakah perlu menambahkan contoh untuk semakin memperjelas?

Pemeriksaan inilah yang antara lain kukerjakan dalam tahapan penataan tulisan. Konsekuensinya, tahap penataan tulisan bagiku merupakan tahap yang sangat penting setelah tahap menulis bebas terlampaui. Pada tahap penstaan inilah diputuskan apakah tulisan perlu diperbaiki, ditambah, dikurangi, dipertajam, atau diubah. Setelah semuanya dikerjakan, saatnya untuk mengakhiri tulisan.

Ambillah contoh ketika aku menulis disertasi. Salah satu variabel yang harus kujelaskan adalah Hak Asasi Manusia (HAM). Aku melakukan eksplorasi teoritik-konseptual. Konsep kunci apa saja yang membangun konsep HAM. Ternyata HAM dibangun atas dasar tiga konsep utama yaitu 1). Menghormati martabat manusia, 2). Menghormati dan mempraktikkan kebebasan, dan 3). Menghormati dan mempraktikkan kesetaraan manusia. Jadi ketiga konsep utama ini dijelaskan satu persatu. Setelah itu kaitan ketiga konsep ini juga dijelaskan. Dengan demikian terjelaskanlah apa itu HAM.

Ketika menjelaskan konsep utama menghormati martabat manusia, muncul sejumlah kata-kata kunci. Dalam bidang pendidikan kata-kunci untuk menghormati martabat manusia adalah:

a. Mengenali diri sendiri
b. Menghormati orang lain
c. Mengembangkan potensi diri sendiri secara positif
d. Membantu orang lain mengembangkan diri.

Kata-kata kunci yang ada dalam kata kunci mengenali diri sendiri adalah:

a). Bersikap positif terhadap kelebihan diri sendiri
b). Berani mengakui kesalahan diri sendiri

Kata-kata kunci yang terkandung dalam kata kunci menghormati orang lain yaitu:

a). Mengakui kelebihan orang lain secara positif
b). Menerima kekurangan orang lain secara positif.

Keseluruhan kata-kata kunci beserta contoh dan kaitan atau konstelasi kata-kata kunci itu harus dijelaskan. Bila semuanya telah dijelaskan secara lengkap, rinci, dan mendalam, tulisan boleh diakhiri.

Tulisan yang tidak formal tentulah tidak serumit ini. Tulisan formal yang hendak digunakan untuk tujuan yang lebih sederhana seperti makalah yang hendak disampaikan dalam seminar juga tidak perlu sekompleks itu. Begitu juga tulisan formal yang digunakan sebagai proposal penelitian tidak perlu selengkap dan serinci itu. Jadi, mengakhiri tulisan sangat tergantung banyak faktor. Aku biasanya berhenti saat aku merasa harus berhenti.

MENULIS DENGAN MODEL

Menulis dengan model merupakan salah satu cara untuk belajar menulis. Ada banyak kemudahan menulis menggunakan model. Aku memiliki sejumlah pengalaman menulis dengan model. Aku mengajar mata kuliah Menulis Jurnal. Mahasiswa aku minta mencari jurnal-jurnal terakriditasi. Harus yang sudah terakriditasi, karena yang dijadikan model harus tulisan terbaik. Ini syarat mutlak menulis dengan model.

Kemudian artikel dalam jurnal itu dianalisis. Unsur yang dianalisis adalah:

1. Sistematika atau struktur tulisan
2. Isi tulisan
3. Aspek kebahasaan, termasuk tata tulis.

Analisis dilakukan untuk menemukenali bukan saja apa yang tersurat, juga yang tersirat seperti:

1. Mengapa sistematika atau strukturnya seperti ini?
2. Apa saja yang harus muncul dalam latar belakang, mengapa tidak semua teori dimasukkan dalam artikel, apa saja hasil penelitian yang ditulis dalam artikel, bagaimana rumusan simpulannya?
3. Bagaimana pilihan kata, dan bentuk serta pola kalimat dan paragrafnya?

Setelah analisis dilakukan, barulah mahasiswa membuat artikel berdasarkan artikel yang telah dianalisis. Selama membuat tulisan mahasiswa boleh melihat artikel yang dijadikan model. Selanjutnya mahasiswa diminta saling menukarkan hasil pekerjaannya, dan saling koreksi. Hasil koreksian diperbaiki. Kemudian mereka membuat artikel baru dan tidak lagi melihat modelnya. Biasanya hasilnya bagus. Karena ada model yang dijadikan contoh.

Agar terampil dalam beragam jenis tulisan, pilihlah tulisan terbaik dari bermacam-macam jenis tulisan. Mulai dari tulisan ringan seperti kisah perjalanan, artikel bebas, artikel ilmiah, dan tulisan-tulisan lain. Lakukan berulang-ulang, sampai Anda menemukan gaya menulis sendiri. Menulis dengan model hanyalah strategi untuk latihan menulis. Anda harus menemukan gaya sendiri yang berbeda dari model-model itu.

Segerakan untuk menulis. Menulislah sekarang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s