MENULISLAH SEPERTI SHALAT (4)

MENULISLAH SEPERTI SHALAT (4)

Alhamdullillah. Tanggapan terhadap MENULISLAH SEPERTI SHALAT (3) semakin ramai dan beragam. Pertanyaan semakin banyak. Ada pula yang meminta tambahan penjelasan untuk topik yang dibahas pada seri 1 dan 2. Beberapa pembaca membuat testimoni bahwa mereka telah mencoba kiat-kiat yang dijelaskan dan sekarang sudah mulai bisa menulis. Pertanyaan yang paling banyak muncul adalah bagaimana cara mengolah pengalaman dan hasil bacaan menjadi tulisan? Beberapa teman menanyakan bagaimana kiat untuk memberanikan diri mengumumkan tulisan kepada orang lain? Ada pula yang merasa kesulitan untuk menjaga konsistensi tulisan dari awal sampai akhir. Sejumlah pembaca lain meminta penjelasan tambahan bagaimana caranya memadukan kutipan dengan pendapat penulis dan cara memperlakukan kutipan dengan tepat. Izinkan aku untuk menjelaskan beberapa pertanyaan itu. Pertanyaan yang belum dijawab pada kesempatan ini, Insya Allah dijawab pada seri berikutnya.

MENGOLAH PENGALAMAN DAN HASIL BACAAN

Pengalaman dan bacaan merupakan bahan mentah atau bahan setengah jadi bagi tulisan. Karena itu harus diolah. Keduanya tidak dapat begitu saja dijadikan tulisan. Terkait dengan pengalaman sebagai bahan tulisan, inilah pengalamanku.

Aku bertahun-tahun menjadi relawan untuk anak jalanan, anak pasar dan anak daerah kumuh. Bersama para relawan lain baik sebagai pertemanan yang peduli, maupun yang tergabung dalam Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN), aku ikut serta memberdayakan anak-anak itu dan keluarganya. Perhatian utama adalah pemberdayaan ekonomi dan pendidikan. Dalam semua pekerjaan aku memanfaatkan pengetahuan dan pengalamanku sebagai peneliti khususnya terkait dengan penelitian kualitatif dan partisipatori.

Pengalaman itu tentu sangat banyak dan beragam. Sebab dilakukan selama bertahun-tahun dan di banyak tempat. Pengalaman yang sangat banyak itu kemudian diolah menggunakan kiat tiga M yaitu memilah, memilih, dan mengolah.

Pada tahap memilah dilakukan kategorisasi pengalaman seperti:

1. Pengalaman mengelola anak jalanan
2. Pengalaman mengelola anak pasar
3. Pengalaman mengelola anak daerah kumuh.

Setiap pengalaman itu masih memiliki kategori bawahan atau kategori yang lebih kecil, seperti:

1. Pengalaman mengelola anak jalanan, terdiri dari:

a. Pemberdayaan ekonomi
b. Pemberdayaan pendidikan
c. Pemberdayaan keluarga.

Pemberdayaan ekonomi meliputi kegiatan sebagai berikut:

a). Pelatihan memperbaiki motor
b). Pelatihan daur ulang barang bekas
c). Pelatihan memperbaiki laptop

Setiap pengalaman mengelola mesti dijabarkan seperti di atas. Dengan demikian didapatkan uraian yang lengkap dan rinci. Setelah itu tahapan berlanjut. Saatnya untuk memilih. Memilih kegiatan mana yang dibutuhkan untuk penulisan buku. Tentu saja pemilihan ini dikaitkan dengan topik buku. Ada yang ditempatkan sebagai contoh, ada pula yang digunakan untuk menjelaskan proses. Jadi, pada tahapan ini sudah dibuat pilihan. Contoh, pelatihan daur ulang untuk menjelaskan upaya pemberdayaan, sementara itu proses pelatihan memperbaiki motor digunakan sebagai contoh bagaimana peneliti melakukan pengamatan terlibat dengan ikut serta dalam pelatihan.

Kemudian pengalaman yang telah dituliskan dan dipilih sesuai topik tulisan dalam buku diolah. Diolah memiliki arti menempatkan tulisan tentang pengalaman itu secara tepat di dalam buku, agar menjadi bagian organik atau bagian yang menyatu dengan topik yang dibahas dalam buku. Aku biasanya menempatkannya setelah melakukan penulisan yang bebas dan mengalir. Jadi, penempatannya dilakukan pada saat penataan. Tentu saja saat menulis bebas itu, aku sudah menempatkannya dalam bagian yang sedang ditulis secara mental, sehingga saat penataan tulisan tinggal mengintegrasikannya.

Agar menjadi lebih jelas, aku tunjukkan bagaimana pengalaman itu ditempatkan dalam dua buku yang lebih dominan berbasis pengalaman. Dalam Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi, (2012:44-45) pengalaman digunakan sebagai contoh. Berikut kutipan lengkapnya,

———————————————————————————————————————————————-

1. Pengamatan

Terkait pengamatan/observasi ini ada tingkat-tingkatnya mulai dari pengamatan terjarak, pengamatan setengah terlibat sampai terlibat penuh. Inilah yang akan diuraikan berikut ini.

Aplikasi 2.11

Si Item (1)

Ia berusia lebih kurang 13 tahun. Tingginya sekitar 112 cm dan berat badan + 35 kg, kulitnya hitam, rambutnya hitam pendek. Matanya terus bergerak, hidungnya pesek, dan bibirnya terlalu besar dibanding hidungnya. Ia tidak pernah bisa duduk tenang walau hanya dua menit. Ia terus bergerak, berlarian, mengerjakan apa saja. Memunguti sampah, mengangkat kursi, mengumpulkan piring kotor, mencuci piring dan mengangkati apa saja yang menurutnya mesti diangkat. Kadang benda yang sama dipindahkan kemudian dipindahkan lagi ke tempat semula.

Jika tidak ada lagi yang dikerjakan, dia mulai mengganggu teman-temannya. Mencolek, menjambak rambut, mendorong, berteriak di kuping temannya, mengambil kopiah temannya, dan melemparkannya ke mana saja.

Saat teman-temannya shalat ia membersihkan ruangan untuk tidur, dan ketika teman-temannya tidur, ia mulai berjalan keliling lapangan, menyapu, memindahkan pot-pot bunga. Kemudian ke kamar mandi, membersihkan kamar mandi dan wc dengan menyikat semua lantai, membersihkan bak mandi dan ember-ember, lantas mengepel lantai ruang pertemuan dan mengelap kaca-kaca jendela.

Menjelang azan subuh ia tidur tak sampai 30 menit dan kemudian membantu orang memasak makanan di dapur, mengangkat air, membantu membuat teh manis, mengantarkannya ke tempat anak-anak lain sarapan, sarapan mie instan sambil jalan, mengumpulkan piring, mangkok serta gelas kotor, ikut mencuci piring…………

Teman-temannya memanggilnya si Item karena kulitnya hitam. Jika betbicara kata-kata yang diucapkannya tidak jelas, sering ingus keluar dari lubang hidungnya. Teman-temannya menyebut bau badannya bau matahari, meski rajin membersihkan kamar mandi ia jarang sekali mandi. Begitu pun ganti baju.

Si Item adalah salah satu peserta pesantren kilat anak jalanan di DKI Jakarta. Itu tadi hasil pengamatan sepintas tentang si Item. Pengamat mengambil jarak dari si Item dan terus mengamatinya dalam waktu panjang, tanpa menyapanya, atau berinteraksi dengannya. Catatan di atas menimbulkan sejumlah pertanyaan seperti, mengapa si Item berperilaku seperti itu? Apa dia tidak merasa letih? Mengapa ia sampai berperilaku seperti itu? Siapa sebenarnya si Item itu? Dari keluarga seperti apa ia berasal? Apa penyebabnya ia jadi seperti itu? Pertanyaan inilah yang mesti didalami baik dengan pengamatan yang lebih mendalam dan penggalian dengan ngobrol-ngobrol/wawancara.

———————————————————————————————————————————————–

Apa yang digambarkan di atas adalah pengalamanku saat melakukan pemberdayaan terhadap salah satu anak jalanan/anak pasar ketika menyelenggarakan pesantern anak jalanan pada bulan Ramadhan. Pengalaman itu dimanfaatkan untuk menunjukkan proses pengamatan dalam penelitian kualitatif yang biasanya dimulai dengan pengamatan terjarak, sebelum melakukan pengamatan terlibat. Pengalaman itu setelah dipilah dan dipilih, diolah sehingga menjadi bagian utuh dari tulisan.

Dari catatan tentang si Item di atas terlihat, ia tidak ikut sahur, dan sarapan pagi dengan anak-anak yang karena usianya masih terlalu kecil tidak ikut puasa. Jadi, catatan prngalaman yang dibuat harus mencatat apa adanya.

Tentu saja cara penempatan cerita si Item itu akan sangat berbeda bila yang ditulis bukan penelitian kualitatif. Bila yang ditulis adalah riwayat hidup si Item, maka cerita ini merupakan bagian cerita yang utuh, bukan menjadi contoh. Pengalaman memang harus dipilah, dipilih dan diolah sebelum jadi tulisan.

Selama bertahun-tahun melakukan pemberdayaan, kami selalu merasakan betapa upaya sulit yang dilakukan selama bertahun-tahun, bisa dihancurkan oleh anggota keluarga si anak yang telah merasakan dampak positif upaya pemberdayaan. Sudah pasti, kejadian ini memberikan masukan bagi kami untuk terus menyempurnakan rencana aksi atau tindakan, demi perbaikan dan peningkatan mutu layanan. Agar mendapat masukan yang bermakna dan memahami masalahnya dengan baik, maka pengalaman itu harus dituliskan. Setelah diolah pengalaman itu menjadi bagian dari buku Penelitian Partisipatori (2012: 82-85),

———————————————————————————————————————————————-

Penghadapan pada masalah nyata dan secara langsung ‘melihat wajah korban’ seringkali menumbuhkembangkan empati mendalam dan mengakartunjangkan komitmen di dalam hati para calon relawan itu. Semua itu mengikat mereka dalam semangat untuk berbagi dengan mereka yang kalah dan dipinggirkan. Inilah ‘SOFT SKILL’ yang mesti ada dalam diri, dalam kesadaran relawan sosial.

Berikut ini ditampilkan dua peristiwa yang terjadi sebelum ada Undang-undang Perlindungan Anak. Semua yang sedang berlatih, yaitu relawan sosial anak jalanan, relawan konseling trauma anak, anak jalanan yang sedang ikut pelatihan, dan sejumlah ibu yang tinggal di tempat kejadian beserta relawan yang terlatih bersama-sama mencoba mencari solusi bagi pemecahan masalahnya. Inilah ringkasan ceritanya:

Aku dijual Kakakku……

Nr (14 tahun) anak wanita, anak keempat dari lima bersaudara. Kakaknya dua perempuan, satu lelaki, dan adiknya seorang perempuan. Ibunya mengutip buah dan sayur, bapaknya meninggal ketika adiknya berusia dua tahun.

Untuk ukuran anak pasar, Nr tergolong cantik dan cerdas. Karena tidak pernah sekolah ia ikut paket A di YNDN. Ibunya kemudian diberi modal untuk menjual sayur. Nr anak yang rajin, ia minta ingin belajar ‘ngebordir’ dan dibiayai. Hasil bordirnya rapih dan bagus. Nr sungguh anak yang membanggakan.

Lulus ujian persamaan SD, Nr minta sekolah di SMP biasa. Setelah mendapat izin ibunya, Nr disekolahkan di SMP swasta. Ibunya berjualan, Nr sekolah. Ia sekarang sudah bisa membuat janur selain tetap ‘ngebordir’.

Ibunya sakit, ada gangguan paru-paru, sesak nafas, dan minta diantar ke kampung. Karena masih sekolah Nr dititipkan pada kakak perempuannya.

Bulan Ramadhan, Nr ikut Pesantren Ramadhan anak jalanan yang diselenggarakan dekat stasiun kereta api Pasar Minggu.

Pada hari kedua pesantren, menjelang buka puasa kakak perempuan Nr datang dengan berurai air mata. Ia minta izin mau membawa Nr pulang kampung karena ibu mereka sakit keras. Panitia mengizinkan dan menawarkan diri untuk mengantar. Kakak perempuan Nr menolak tawaran itu.

Dua hari kemudian ketika anak-anak sedang taraweh di lapangan di depan tempat mereka menginap, ada suara tangisan, beberapa kakak pembina bergegas ke arah tangisan itu. Di kepekatan malam gulita, di bawah pohon Nr nangis sesegukan. Kakak pembina perempuan memeluknya. Nr tambah kencang tangisnya. Kemudian Nr dibawa menjauhi tenda dan lapangan.

Sepanjang jalan Nr menangis dan memaki, ia menyumpahnyerapahi kakaknya. Di antara sumpah serapah itu terucap ‘Aku dijual kakakku.’

Semalaman mereka tenangkan Nr. Ia bercerita, ia dipaksa melayani lelaki yang sudah tua, kakaknya yang memaksa membuka bajunya. Ia menolak dan menangis, tetapi kakaknya tetap memaksa. Nr memang kelihatan kacau, wajahnya pucat, rambutnya berantakan dan seluruh tubuhnya terus saja gemetaran.

Beberapa relawan pria langsung menuju kontrakan kakak Nr pada dini hari. Sesampai di sana didapati kontrakan itu kosong dan lampunya padam. Tetangga bilang kakak Nr sudah beberapa hari tidak pulang, katanya pulang kampung melihat ibunya sakit.

Setelah bertanya dengan kenalan Ibu Nr, kami mendapatkan alamatnya di kampung. Subuh itu kami menuju kampung Ibu Nr. Karena sulit mencarinya, baru menjelang buka puasa kami temukan tempat tinggal Ibu Nr. Ia tidak sakit parah, bahkan sudah mulai sehat. Kakak Nr tidak pernah pulang kampung, sudah tiga bulan ini.

Dengan berat hati kami ceritakan apa yang menimpa Nr dan bagaimana keadaan Nr sekarang. Ibu Nr sama sekali tidak kaget, ia menanggapi dengan datar saja. Kemudian ia berucap,” Ya biarin aja. Nr begitu karena belum biasa, masih sakit. Ntar lama-lama juga biasa. Gak apa-apa Nr begitu. Dulu kakaknya Nr, saya yang jual ke jagoan pasar. Udah biarin aja.”

Kami bengong, terkesima, kaget dan geram. Mau marah sama siapa?

Setelah itu kami berkonsentrasi memulihkan Nr dan mencari kakaknya yang hilang lenyap lenyap seperti dihisap lumpur hidup di tengah hutan. Beberapa relawan mencoba mengusahakan persoalan ini diselesaikan melalui jalur hukum. Kami bersepakat mencari kakak Nr sampai ketemu dulu dan memulihkan Nr. Ternyata menggunakan jalur hukum persoalannya akan sangat berbelit-belit dan panjang. Sementara kakak Nr tidak pernah bisa diketemukan lagi. Pemulihan Nr kemudian menjadi prioritas.

———————————————————————————————————————————————-

Pengalaman kami dengan Nr berlangsung sangat lama, amat beragam, dan penuh emosi. Pengalaman itu harus ditata, dipilah, dipilih, dan diolah agar sesuai dengan topik yang akan ditulis. Pengalaman itu juga harus ditulis dengan cara tertentu agar dapat dimanfaatkan. Bagian mana yang cocok untuk topik tertentu, dan bagian mana lagi untuk topik lainnya. Semua pengalaman kita yang sangat beragam dan kompleks harus ditata sebaik mungkin agar bisa menjadi bahan yang layak ditulis dan bermakna.

Cara yang sama harus dilakukan untuk hasil bacaan. Mengapa kita harus membaca dan mengutip secara langsung atau tidak langsung dari bacaan? Sebagai penulis, kita harus dengan jujur mengakui bahwa pengalaman dan ilmu kita sangat terbatas. Oleh sebab itu kita membutuhkan bantuan orang lain. Orang lain memiliki pengalaman yang lain dan pengetahuan yang berbeda dari kita. Orang lain lebih pintar dan lebih ahli dari kita. Jadi, tidak ada salahnya memanfaatkan apa yang kita baca, dan dengar dari orang lain sebagai bahan untuk tulisan. Yang penting kita memanfaatkannya secara jujur dengan mencantumkan sumber jika mengutip. Bila tidak mencantumkan sumber, kita bukan mengutip, tapi mengutil alias mencuri.

Terdapat banyak manfaat bacaan bagi tulisan. Menjelaskan topik yang sedang dibahas, memerkuatnya dengan data, memberikan contoh dan perbandingan dengan pikiran atau pendapat kita. Dalam penelitian kuantitatif, hasil bacaan berupa teori dan konsep mutlak diperlukan untuk menjelaskan variabel, merumuskan hipotesis, dan menjadi landasan bagi perumusan indikator sebagai dasar untuk membuat instrumen penelitian. Sementara dalam pemelitian kualitatif teori dan konsep dimanfaatkan untuk menjelaskan fokus penelitian dan hasil penelitian.

Bahan bacaan juga harus dipilah, dipilih, dan diolah sebelum diintegrasikan dalam tulisan kita. Memang banyak orang menjadikan kutipan dari bacaan sebagai etalase atau pajangan dalam tulisannya. Seperti barang di etalase supermarket. Hanya disusun, dan pembeli diminta menilai dan memilih sendiri. Seringkali kutipan dalam tulisan seperti pulau asing yang tidak terkait dengan kalimat sebelum dan sesudah kutipan.

Memperlakukan bacaan itu mirip mengolah makanan. Pertama, kita pergi ke pasar membeli macam-macam sayur, lauk dan bumbu sesuai dengan rencana kita hendak memasak apa. Kedua, semua sayur, lauk dan bumbu itu harus dikupas, disiangi, dicuci, dirajangcincang, ada yang ditumbuk atau digiling. Ketiga, semuanya kemudian dimasak. Biasanya tidak sekaligus, ada yang lebih dulu, ada yang belakangan. Harus digarami dengan pas. Hasilnya adalah masakan yang matang dan lezat.

Kutipan hasil bacaan jangan hanya dijejer dalam tulisan, harus ada analisis. Kata-kata kuncinya dijelaskan sehingga topik utama tulisan kita makin jelas karena kutipan itu. Kata-kata kuncinya bisa dijelaskan oleh ahli lain, berarti kita menambah kutipan, bisa juga kita jelaskan sendiri.

Aku biasanya menulis saja dengan lancar dan apa adanya yang kuketahui. Kemudian pada bagian yang kurasa perlu bantuan konsep atau teori kuberi tanda, misalnya menyebut ahli yang akan dikutip. Ini kulakukan agar dapat terus menulis tanpa terganggu dengan kutipan. Sebab bila tergantung kutipan, tulisannya sulit berkembang. Yang penting gagasanku tentang topik itu dituliskan dulu, baru kemudian mencari kutipan dari bacaan.

Inilah contoh bagaimana aku memperlakukan bahan bacaan dalam tulisannku Penelitian Kualitatif Paud (2012:3-4)

———————————————————————————————————————————————-

Otak manusia diakui sebagai benda paling kompleks dan misterius di alam semesta. Karena terdiri dari miliaran sel dan triliunan jaringan syaraf, jumlah ini mengalahkan bintang gemintang pada gugus galaksi Bima Sakti.

Secara spesifik biasanya disebut angka 100 miliar sel syaraf yang diberi nama neuron (Ruben & Daufur,2009:6; Hayness, 2006:3). Setiap neuron dapat mengembangkan ribuan sampai ratusan ribu sambungan/jaringan/koneksi/jalinan yang disebut sinapsis, sehingga secara keseluruhan otak bisa memiliki 1.000 triliun sinapsis (McCrone, 2003:6).

Sekarang ini telah dapat dijelaskan bahwa yang membedakan tingkat kecerdasan antara manusia bukanlah banyaknya jumlah neuron. Tetapi banyak dan rumitnya jaringan neuron (sinapsis) yang terhubung antar-neuron.

Ketika bayi berusia tiga tahun, jumlah hubungan sinaps akan mencapai 1.000 triliun, lebih dari jumlah sinaps pada usia dewasa. Jumlah sinaps yang sangat besar itu sangat penting untuk menunjang dan mempertajam kemampuan otak melalui berbagai pengalaman yang didapat anak (Erny & Suharso, 2006:3).

Ahli PAUD Jepang Ibuka (2009:3) menulis, studi psikologi serebral pada satu sisi dan psikologi anak pada sisi yang lain menunjukkan dengan gamblang bahwa kunci perkembangan inteligensia tergantung pengalaman anak saat berusia tiga tahun, yakni selama masa-masa perkembangan sel-sel otak. Tidak ada anak genius atau bodoh setelah lahir. Semua tergantung pada rangsang sel-sel otak pada masa krusial.

Semua yang dijelaskan di atas menunjukkan tumbuh kembang sinapsis ini tidak terjadi secara otomatis, tetapi sangat ditentukan oleh rangsangan atau stimulus yang diberikan pada anak dan aktivitas yang dilakukan oleh anak. Di sini berlaku aturan, “DIGUNAKAN ATAU MATI”.

———————————————————————————————————————————————–

Aku membuat sebuah pernyataan yang sangat umum tentang otak. Kemudian memanfaatkan kutipan untuk menjelaskannya. Mengapa kutipan? Sebab aku bukan ahli tentang otak, jadi dibutuhkan pendapat ahli otak yang telah menuliskan hasil penelitian atau penelusurannya dalam buku yang khusus membahas tentang otak. Dengan demikian pernyataanku diperkuat oleh ahlinya, sehingga dapat dipercaya. Selanjutnya atas dasar kutipan itu aku mencoba membuat simpulan sementara yang dijelaskan lebih lanjut oleh ahli pada kutipan selanjutnya. Aku kemudian membuat beberapa simpulan yang nanti akan dijelaskan oleh kutipan berikutnya.

Cara di atas bukalah satu-satunya cara memperlakukan bahan bacaan yang dijadikan kutipan dalam tulisan kita. Dalam buku Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan (2013:75-76) aku membuatnya seperti ini,

———————————————————————————————————————————————–

Dalam perkembangannya kini, meskipun penelitian kualitatif tidak bertujuan menjelaskan sebab akibat atau hubungan kausal, namun dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan kausal. Maxwell dalam Causal Explanation Qualitative Research, and Scientific Inquiry in Education (2004:3) menguraikan,

I argue that a realist understanding of causality is compatible with the key characteristic of qualitative research, and supports a view of qualitative research as legimately scientific approach to causal explanation.

Maxwell berpendapat bahwa penelitian kualitatif dapat menjelaskan kausalitas. Namun, tentu saja penjelasan kausalitas yang diberikan oleh penelitian kualitatif tidak sama dengan penelitian kuantitatif yang berbasis kuantifikasi data dan menggunakan statistik. Penjelasan kausalitas dalam penelitian kulaitatif didasarkan pada pengamatan berulang-ulang dalam jangka panjang, diperkaya dengan penggalian lebih dalam memanfaatkan wawancara kualitatif. Hasilnya lebih berupa penjelasan kecenderungan pengaruh satu peristiwa terhadap peristiwa lain.

Sebagai contoh adalah keberhasilan Provinsi Bali menjadi peringkat satu Ujian Nasional selama beberapa tahun berturut-turut. Peneliti kualitatif melakukan penelitian dengan fokus strategi yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah di Bali menghadapi UN. Mulai dari proses belajar di sekolah-sekolah, model pengayaan yang dikembangkan, strategi uji coba yang dilaksanakan sampai kerja sama sekolah dan orang tua.

Untuk memastikan adanya prngaruh keseluruhan strategi tersebut terhadap hasil UN paling tidak dapat dilakukan dua cara. Pertama, melakukan penelitian kualitatif berjangka panjang dalam dua periode UN, selam dua tahun. Peneliti mencari data lengkap apakah sekolah di Bali konsisten menjalankan strategi itu, dan apakah hasilnya juga konsisten. Jika konsisten, dapat diduga dan disimpulkan ada pengaruh strategi tersebut terhadap hasil UN.

Kedua, membandingkan strategi menghadapi UN antara Bali yang berhasil berada pada tingkat pertama secara berturut-turut dengan daerah lain yang peringkatnya kurang bagus, juga secara berturu-turut. Fokus penelitiannya sama yaitu strategi menghadapi UN, jika strateginya berbeda dan hasilnya berbeda, maka patut diduga dan disimpulkan bahwa strategi menghadapi UN berpengaruh terhadap hasil UN.

Oleh karena yang diteliti banyak aspek, dan penelitian dilakukan secara mendalam, hasilnya bisa jadi lebih baik dari penjelasan kausalitas menggunakan penelitian kuantitatif yang biasanya membatasi penelitian pada beberapa variabel. Karena alasan seperti inilah Maxwell menggunakan penjelasan a legitimately scientific approach to causal explanation. Artinya, penjelasan kausalitas yang mendapat legitimasi ilmiah.
———————————————————————————————————————————————–

Bila pada contoh yang pertama aku mencoba menjelaskan kata kunci menggunakan pendapat ahli yang kemudian dijelaskan lebih rinci oleh ahli yang lain, sehingga akhirnya kata kunci itu semakin terjelaskan lebih spesifik. Maka, pada contoh yang kedua ini, aku yang mencoba menjelaskan kata kuncinya dengan membuat contoh. Pada kutipan yang pertama aku berperan lebih banyak untuk menyintesiskan pendapat para ahli, yang kedua justru aku yang memberi penjelasan. Tentu saja masih ada cara yang lain, yang terdapat dalam bukuku yang lain.

Cara apapun yang dipilih, satu hal tidak boleh terjadi yaitu, jangan sampai bahan bacaan yang dikutip itu menenggelamkan penulisnya. Bahan bacaan yang dikutip itu justru berfungsi membantu penulis mengedepankan perspektif atau gagasannya. Kutipan-kutipan itu dimaksudkan untuk memperkuat, melegitimasi, dan menegaskan pandangan si penulis. Jangan gunakan bahan bacaan yang dikutip jadi tempat persembunyian si penulis. Jadikan kutipan itu tempat berpijak si penulis mengedepankan dan menyuarakan gagasannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s