MENULISLAH SEPERTI SHALAT (5)

MENULISLAH SEPERTI SHALAT (5)

Beberapa pertanyaan belum dijawab pada seri sebelumnya, dijawab pada seri ini dengan sejumlah pertanyaan lain. Ada pertanyaan yang bersifat lebih umum yang akan diusahakan untuk dijawab. Beberapa pertanyaan yang bersifat kebih umum dimaksud adalah: apakah menulis dapat membantu menenangkan jiwa? Apakah menulis dapat menigkatkan kepercayaan diri? Apakah menulis dapat dijadikan terapi, terutama untuk mengatasi stres? Pertanyaan yang lebih dahulu dijawab adalah: Apa yang harus dilakukan jika belum berani mengumumkan tulisan ke publik? Bagaimana menjaga konsistensi tulisan dari awal sampai akhir?

MENGUMUMKAN TULISAN

Bila sudah mulai menulis dan menghasilkan tulisan bersyukurlah. Anda sudah menjadi penulis. Bagi para pemula, memang ada rasa ragu dan khawatir untuk menunjukkan hasil tulisannya pada orang lain. Ini gejala normal, dialami oleh banyak orang. Sejumlah alasan yang biasanya melatarbelakangi keraguan itu adalah perasaan bahwa tulisan yang dibuat belum bagus, kurang berguna, dan banyak salahnya.

Menulis adalah keterampilan yang memang tidak dapat dimiliki secara instan. Seperti keterampilan lain, dibutuhkan proses dan rentang waktu untuk terus mengasahnya agar menjadi terampil. Dalam rentang waktu itu tentulah terjadi perkembangan bila kita rajin berlatih dengan terus menulis. Merupakan hal yang wajar jika saat memulainya masih terdapat kesalahan. Santai saja, ini bagian dari proses belajar yang normal.

Kita bisa belajar dari kesalahan yang dibuat sendiri atau yang dikerjakan orang lain. Intinya, kesalahan adalah bagian integral dari proses belajar. Jadi, jangan takut berbuat salah, dan jangan menjadi tidak pede (percaya diri) bila masih ada kesalahan dalam tulisan yang dibuat. Jangan risau. Semua kita pernah dan akan berbuat salah, yang penting tidak tenggelam dalam kesalahan.

Cara paling aman untuk mengumumkan tulisan adalah memberikan tulisan itu pada orang-orang terdekat. Kemudian mintalah pada mereka untuk memberi masukan. Jangan tetapkan masukan apa yang harus mereka berikan. Agar mendapat banyak masukan, lebih banyak teman dekat yang dimintai tolong membaca tulisan itu, dan memberi masukan lebih bagus. Sebab, semakin banyak masukan, kita makin menyadari kesalahan dan kelemahan tulisan itu. Setiap orang yang memberi masukan pastilah memberi masukan sesuai dengan pengetahuan dan pengalamannya. Dengan demikian tulisan itu akan dianalisis dengan beragam cara dan prespektif.

Kemudian perbaikilah tulisan itu, berdasarkan berbagai masukan. Tentu saja penulis dapat memilah dan memilih mana di antara masukan itu yang perlu dimanfaatkan demi perbaikan tulisan. Jangan membuat tulisan baru sebelum memperbaiki tulisan yang telah diberi masukan. Hasil perbaikannya kembalikan pada tiap orang yang telah memberi masukan. Bila ada waktu, berdiskusilah dengannya. Mudah-mudahan perbincangan itu memberi manfaat untuk terus memperbaiki tulisan.

Secara bertahap lebarkan lingkaran pembaca tulisan Anda. Cari teman lain, atau saudara yang mau membacanya. Lebih baik bika membuat grup, seperti grup bbman. Dalam grup itu terjadi saling tukar menukar tulisan, dilanjutkan untuk saling memberi masukan.

Bila proses ini sudah berjalan baik, yakinlah tulisan kita akan semakin baik dan bermutu. Saatnya untuk mempublikasikannya ke khalayak yang lebih banyak. Manfaatkan media sosial dan berbagai fasilitas di internet seperti membuat blog sendiri atau bergabung dengan komunitas penulis yang sudah sangat banyak di internet. Agar tetap bersemangat, ingatlah pesan ini: MENULISLAH SEBELUM DITULIS!

MENJAGA KONSISTESI TULISAN DARI AWAL SAMPAI AKHIR

Aku sering jadi penguji ujian skripsi, tesis, dan disertasi. Beberapa waktu lalu, aku agak kaget saat menjadi penguji pada ujian tertutup kandidat doktor. Kaget karena judul disertasi dengan rumusan pertanyaan penelitiannya beda banget. Lebih kaget lagi ketika membaca isinya, beda betul dengan judulnya. Sebut saja judulnya begini: Pandangan Agama X terhadap Q. Tanpa penjelasan yang cukup, isinya ternyata pandangan ahli-ahli agama X terhadap Q. Ini kan beda betul.

Tadinya aku membayangkan isi disertasi itu adalah bagaimana penulisnya melakukan analisis terhadap sumber-sumber utama agama X untuk menjelaskan pandangan agama itu terhadap Q. Ternyata aku salah. Isinya sepenuhnya pandangan ahli-ahli agama X terhadap Q. Inilah contoh tulisan yang tidak konsisten. Judul dan rumusan pertanyaan, serta isinya seperti lagu Cakra Khan, ku menangis kau tersenyum, ku pergi kau kembali. Gak nyambung bener.

Tulisan itu dapat diusahakan konsistensinya bila dilakukan paling tidak tiga hal yaitu:

1. Memberikan penjelasan dan argumentasi mengapa memilih ahli-ahli agama X untuk menjelaskan Q. Apakah karena para ahli itu dianggap sebagai reprensentasi atau perwakilan dari pandangan agama X. Meskipun, hal ini bisa memunculkan perdebatan, tetapi paling tidak ada alasan mengapa disertasi berkembang seperti ini.

2. Pendapat para ahli itu janganlah dibuang, pastilah merupakan kerja keras untuk membuatnya. Tetapi sebelum pendapat para ahli tersebut dikedepankan, penulis disertasi itu tetap harus mengedepankan pandangan agama X terhadap Q yang bertolak dari sumber-sumber utama agama X yaitu kitab sucinya. Untuk memberi pengayaan bolehlah pendapat para ahli tersebut ditampilkan.

3. Merubah judul dan pertanyaan penelitian sesuai dengan isinya yaitu pandangan ahli-ahli agama X terhadap Q. Tampaknya ini merupakan cara yang paling mudah dan aman.

Apa yang aku paparkan di atas hendak menegaskan bahwa menjaga konsistensi tulisan memang rada ribet, agak sulit, tetapi tiap kesulitan bisalah diatasi. Yakinlah! Sejak kecil kita diajarkan: di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Di mana ada jalan, di situ ada gajlukan, belokan, tanjakan, turunan, dan orang jualan makanan serta minuman. Jadi santai aja.

Tulisan formal yang memiliki format standar seperti skripsi, tesis, disertasi, dan jurnal biasanya lebih mudah melihat konsistensi internalnya. Formatnya memudahkan untuk analisis. Biasanya kemudahan itu bukan untuk menilai rangkaian kalimat dan paragraf. Tetapi untuk melihat konsistensi antar-bagian tulisan.

Analisis itu biasanya dilihat dengan cara sebagai berikut:

1. Perhatikan judul, termasuk anak judul atau judul tambahan
2. Bandingkan judul dengan rumusan masalah
3. Kaitkan rumusan masalah dengan kajian teori dan hipotesis
4. Hubungkan kajian teori dan hipotesis dengan hasil penelitian
5. Bandingkan rumusan masalah dengan hasil penelitian dan kesimpulan.

Bila tidak nyambung, atau tidak sesuai, maka konsistensi internal tidak terjaga. Ini cara menilai dengan mudah dan cepat. Tetapi memeriksa konsistensi internal tulisan tidak cukup dengan cara seperti itu. Sebab konsistensi internal tulisan dibangun sejak tataran kata yang dirangkai menjadi kalimat, kalimat membentuk paragraf, paragraf membangun wacana, wacana mengkonstruksi seluruh tulisan.

Dengan cara kerja seperti itu, kerangka karangan dapat membantu menjaga konsistensi internal untuk seluruh tulisan. Namun, intinya tetap pada bagaimana kalimat dirangkai. Perangkaian kalimat itu dapat terjaga bila ditulis mengikuti dua aturan yaitu aturan bahasa dan aturan penelaran. Penalaranlah yang menjadi perekat tulisan.

Tetapi perlu kutegaskan, aturan itu jangan sampai memborgol kita. Jangan karena hendak mengikuti aturan, kita tidak jadi menulis, atau tulidan kita tidak jadi. Aku tetap menyarankan, menulislah semaumu, menulislah dengan cara yang paling menyenangkanmu, lupakan semua aturan dan menulislah. Nabi Adam mengajarkan, peraturan dibuat untuk dilanggar. Nanti, setelah tulisan kita selesai, jedalah, dan mulai menatanya. Saatnya untuk memperhatikan dan ikut aturan. Adam pun bertobat dan mengikuti aturan setelah menikmati kebebasaanya dengan melanggar aturan. Bayangkan jika Adam taat sejak mula. Adakah manusia di bumi ini? Jadi, bila Anda ikuti aturan sejak mula, percayalah Anda akan mengalami kesulitan menghasilkan tulisan.

Artinya, kita harus menghayati betul bagimana bersikap atau menempatkan aturan dalam tulis-menulis. Dahulukan proses menulis, lakukan sesering mungkin, sampai menemukan sendiri gaya menulis, dan rasa bahasa kita terus tumbuh, semakin sensitif dan tajam.

Percayalah, para peneliti neurosains dan para ahli yang berkutat dengan cara kerja otak membuktikan bahwa keterlibatan kita dalam suatu aktivitas seperti menulis secara terus menerus akan menumbuhkan lebih dari sekadar pengetahuan. Aku menyebutnya rasa bahasa, suatu kondisi ketika sesorang melampaui pengetahuan teoritis dan masuk ke wilayah penghayatan bahasa yang lebih intuitif dan sensitif. Atas dasar pengalamanku, dan pengalaman banyak orang yang lebur dalam suatu aktivitas secara intens, keberadaan rasa intuitif itu semakin diakui. Karena itu aku berkeyakinan untuk menulis, dan menjaga konsistensi internal tulisan, yang penting dilakukan adalah terus saja menulis, bukan bersibuk diri dengan belajar tentang aturan-aturan kebahasaan dan penalaran.

Bila ada yang ingin membantah pernyataanku ini, silahkan simak sejumlah buku hasil penelitian tentang otak. Beberapa di antaranya adalah Bernard J. Baars & Nicole M. Gage (2010). Cognition, Brain and Consciousness: Introduction to Cognitive Neurosience; Eric R. Kandel, James H. Schwartz, Thomas M. Jessell (2000). Principles of Neural Science. Eric R. Kandel adalah Pemenang Nobel Kedokteran. Geoff Colvin (2008). Talent Is Overrated; John J. Ratey & Eric Hagerman (2008). SPARK: The Revolutionary New Science of Exercises and The Brain; Les Fehmi & Jim Robbins (2007). The Open Focus Brain. Pada buku-buku itu ditunjukkan bahwa keterlibatan kita pada satu kegiatan secara intens dan fokus akan terus meningkatkan keterampilan di atas rata-rata. Dalam keberlangsungan prosesnya keterampilan bahkan intuisi kita terus dipertajam. Jadi, jangan heran bila melihat Lionel Messi yang semakin produktif menciptakan gol, bahkan dengan cara-cara dan teknik-teknik yang sama sekali baru dan spektakuler. Semuanya itu dapat terjadi karena Messi terus-menerus bertanding pada level yang tinggi dan penuh tantangan.

Di sini berlaku prinsip kuantitas dapat meningkatkan kualitas. Semakin sering Messi bertanding, semakin meningkat kualitas permainannya dan gol-golnya. Messi tidak perlu membaca buku atau menonton bagaimana Pele, Maradona, dan Van Basten membuat gol pada masa lalu. Yang dibutuhkan Messi adalah terus bertanding dan menemukan gayanya sendiri, dan melahirkan gol-gol yang beda banget.

Tentu saja untuk sampai pada tingkat seperti ini, Messi pernah belajar dasar-dasar sepak bola sampai mahir. Kemudian latihan dan pertandingan menajamkan dan meningkatkan kualitas permainannya. Dalam konteks keterampilan menulis, bukankah kita pernah belajar dasar-dasar menulis dari SD sampai SMU. Kita tetap tidak dapat menulis karena kurang latihan dan kurang menulis. Karena itu, sejak saat ini menulislah terus. Sampai menemukan gaya sendiri, dan rasa bahasa itu semakin tumbuh, tajam, dan sensitif.

Dengan demikian, aku akan tetap menegaskan dan menyerukan, menulislah terus. Ketika tulisan telah jadi, waktunya untuk memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Konsistensi internal tulisan dibangun dengan memperhatikan bagaimana kalimat dirangkaikan. Pilihan kata dan penggunaan kata penghubung sangat menentukan
2. Kalimat harus dirangkai dengan tepat agar membentuk paragraf yang utuh
3. Paragraf harus dikonstruksi dengan logis agar terbangun wacana yang padu.

Untuk memenuhi ketiga hal di atas, biasanya digunakan peralatan bahasa terutama kata penghubung. Kalimat mesti jelas subjek dan predikatnya. Paragraf tidak boleh terdiri dari lebih dari satu pokok pikiran. Pokok pikiran itu harus dijelaskan dengan kalimat-kalimat yang mendukung. Usahakan penjelasannya lengkap. Ini sebuah contoh,

1).Suasana saling menghormati dalam kebebasan mesti diciptakan secara positif. 2).Ini perlu ditegaskan agar kebebasan tidak dimaknai secara negatif.3). Karena kebebasan sering diartikan sebagai keliaran, “semau gue”, pelecehan aturan dan tata tertib.4). Kebebasan dalam pembentukan perilaku harus dimaknai secara positif konstruktif dan secara langsung dikaitkan dengan tanggung jawab dan kesadaran akan kebebasan orang lain. 5).Kebebasan seperti inilah yang dapat melahirkan kegembiraan yang menyenangkan.

Perhatikan dengan seksama, apakah rangkaian kailmat di atas sudah membentuk paragraf yang padu? Topik utama pada paragraf itu sangat jelas yaitu kebebasan yang positif. Untuk menjelaskan kebebasan postif, penulisnya memberikan penjelasan menggunakan cara mempertentangkannya dengan kebebasan negatif. Ini dilakukan untuk menegaskan apa itu kebebasan positif. Namun, pada kalimat ke 4), Kebebasan dalam pembentukan perilaku….tiba-tiba penulisnya memasukkan pikiran baru yaitu kebebasan dalam pembentukan perilaku. Aku merasa ini menunjukkan gangguan terhadap konsistensi internal. Lebih baik melengkapi penjelasan tentang kebebasan positif dengan memberi contoh, daripada secara halus mengalihkannya ke topik baru.

Contoh di atas memperlihatkan bahwa konsistensi internal tulisan tidak hanya dibangun oleh piranti kebahasaan, juga penalaran. Konsistensi itu dibangun kalimat demi kalimat. Di sinilah pentingnya topik tulisan. Topik tulisan mengarahkan agar kita tetap konsisiten dan fokus untuk menjelasuraikan topik itu. Dengan demikian konsistensi tulisan bisa dibangun dan dipertahankan. Kerangka karangan akan semakin memudahkan untuk mencapai konsistensi itu.

Beberapa di antara kita mungkin mulai terganggu dengan istilah penalaran. Karena yang terbayangkan adalah kerumitan logika. Keharusan untuk berfikir logis yang teratur, terstruktur dan terukur. Santai sajalah. Aku menulis menggunakan akal sehat yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah kita dapat menjalani hidup dengan akal sehat itu?

Pengalaman hidup mengajari kita lebih banyak daripada yang kita dapat di lembaga pendidikan. Kadang terasa sekali, yang kita pelajari di sekolah atau universitas kurang berguna dalam kehidupan. Andaipun berguna tidak dapat langsung digunakan karena mesti disesuaikan dengan konteks kehidupan lebih dulu.

Oleh sebab itu, dalam menulis pun gunakan saja akal sehat yang biasa kita gunakan dalam hidup sehari-hari. Aristoteles yang pertama kali menyusun buku tentang logika pada kurun sebelum masehi, tetapi sampai hari ini masih digunakan, juga beranjak dari pengalaman bagimana kita berfikir dalam hidup sehari-hari. Jangan sampai terjadi, gara-gara hendak mengikuti penalaran yang canggih, kita tidak menghasilkan tulisan. Menulis saja dulu sedapat-dapat atau sebisa-bisanya menggunakan akal sehat. Percayalah bahwa setiap kita sudah memiliki dan terbiasa dengan penalaran akal sehat.

Mulailah menulis menggunakan akal sehat yang kita gunakan sehari-hari, kemudian mempercanggih penalaran tatkala membaca ulang tulisan yang sudah selesai ditulis. Jadi, ada proses penataan yang akan mengasah ketajaman penalaran kita. Pengalamanku menulis seperti itu. Mengapa aku yakin cara ini akan lebih berhasil. Beberapa alasan dapat kukemukakan yaitu:

Pertama, dengan cara seperti ini aku telah menulis lebih dari 20 buku, beberapa di antaranya sudah cetak ulang.

Kedua, berbagai penelitian neurosains (beberapa bukunya telah disebut di atas) membuktikan bahwa keterlibatan intensif dan fokus pada satu kegiatan akan meningkatkan dan memperbarui jejaring sinapsis yang membuat kemampuan kita makin tajam terasah, bahkan meningkatkan kemampuan intuitif yang sangat membantu kita memecahkan banyak masalah.

Ketiga, aku mengenal sejumlah orang termasuk profesor yang mengajar tentang penalaran, dan membuat tulisan kecil tentang penalaran, tetapi sangat langka bukunya. Setahuku, dia hanya menulis dua buku keroyokan, buku yang ditulis rame-rame. Malah ada profesor yang juga mengajar penalaran, cuma menulis satu buku keroyokan. Artinya, pengetahuan canggih tentang penalaran belum tentu membuat orang bisa menulis.

Oleh sebab itu, anjuranku adalah teruslah menulis dengan gaya mengalir bagai sungai atau layaknya banjir. Konsistensi tulisan, baik yang terkait dengan piranti kebahasaan, maupun penalaran diperbaiki dan dipercanggih belakangan. Yang penting sediakan waktu untuk membaca tulisan yang telah selesai ditulis. Dibaca dengan seksama dan hati-hati. Lebih bagus jika membacanya berulang kali.

Jadi, prinsip yang kukembangkan adalah: menulislah, yang lain-lain dilengkapi dan disempurnakan belakangan. Menulis, sejelek apa pun, lebih baik daripada tidak menulis. Bila ada orang yang bilang, lebih baik tidak menulis daripada menulis tapi jelek. Yakinlah, orang seperti ini tidak akan pernah menghasilkan tulisan, apalagi tulisan yang bagus. Karena itu, mari menulis!

MENULIS DAN KETENANGAN JIWA

Sejumlah penelitian menunjukkan, orang yang rajin menulis buku harian memiliki stabilitas emosi yang lebih baik, dan dapat menjalani hidup lebih bermakna. Koq bisa? Saat menulis, kita fokus atau khusuk, terlibat secara total dalam prosesnya. Total bermakna bukan hanya tubuh, tetapi fikiran rasional dan emosi juga terlibat. Meskipun yang ditulis adalah tulisan formal yang membutuhkan penalaran logis. Apalagi jika yang ditulis menyangkut perasaaan.

Tatkala menulis kita seperti berbincang dan berdiskusi dengan diri sendiri, memasuki palung hati dan ceruk-ceruk fikiran sampai jauh. Ada keasyikan dalam proses itu. Kadang ada jeda untuk mencari lebih dalam apa yang hendak dituliskan. Kemudian semuanya dimuncratkan, atau tumpah ruah keluar menjadi rangkaian kata. Sesuatu yang tadinya bergolak atau berkecamuk secara mental, kemudian mengalir keluar, memberi sensasi kebebasan. Inilah yang membuat orang yang sedang asyikmasyuk menulis sampai tak ingat lapar dan haus, apalagi hutang.

Ada perasaan hangat, senang, bahagia dan lega tatkala tulisan itu mengalir. Hormon kebahagiaan seperti memenuhi seluruh otak dan tubuh. Aku sering menyebutnya ‘narkotika alami’ bagi otak, yang bisa memberi perasaan penuh kebahagiaan dan kebermaknaan. Proses ini lebih merupakan pencerahan daripada sekadar sensasi. Itulah yang menyebabkan aku menyebutnya orgasme mental.

Perasaan senang, tenang, bahagia dan bermakna yang dirasakan setelah tulisan selesai dikerjakan rupanya berlangsung dalam jangka panjang, tidak singkat. Itulah sebabnya, bila sebuah tulisan selesai, tulisan apapun itu, bahkan hanya sebuah surat, membuat rasa lega yang panjang.

Keseluruhan proses dengan segala rasanya itulah yang bisa menenangkan jiwa, bahkan menimbulkan ketagihan. Memang proses kreatif dalam bidang apapun selalu diwarnai oleh perasaan misterius yang seringkali terasa menekan, menghempas, dan merisaukan. Karena memasukkan kita dalam labirin ketidakpastian. Kadang ada semacam rasa sepi yang perih, saat gagasan atau perasaan yang mulai muncul belum bisa dirumuskan dengan tepat. Bahkan secara fisik bisa menimbulkan rasa pusing alias pening. Tetapi jangan pernah minum obat sakit kepala bila keadaan seperti itu muncul. Lanjutkan saja terus, sebab bila dilanjutkan akan berujung pada suasana pencapaian yang nikmat tiada tara, tatkala menjelma jadi tulisan. Menariknya saat tulisan itu mewujud menjadi benda seperti buku atau artikel junal yang diterbitkan, rasa bahagia itu terus saja mengalir. Apalagi bila buku atau artikel itu muncul di banyak tempat, dan digunakan banyak orang. Inilah efek berkelanjutan yang dirasakan oleh para penulis. Kelihatannya aura seperti ini dirasakan dan dihayati oleh orang kreatif dalam bidang apapun.

Untuk memberi gambaran lebih konkrit, coba bayangkan saat kita ingin buang hajat kecil atau besar ketika di perjalanan. Di sepanjang jalan itu tidak ada tempat untuk melakukannya. Kita terpaksa menahannya dengan rasa sakit dan gelisah sambil terus melihat kiri-kanan kalau-kalau ada tempat yang bisa disinggahi, sampai akhirnya ditemukan tempat untuk melepas hajat itu. Bayangkan tatkala hajat itu di lepaskan. Ada rasa sakit dalam kenikmatan. Serelah dilepaskan semuanya, rasakan betapa leganya. Kelegaan dan kebahagiaan menulis mungkin lebih hebat 1000x dari kelegaan itu. Efeknya adalah ketenangan jiwa.

MENULIS DAN RASA PERCAYA DIRI

Tatkala tulisan telah jadi dalam bentuk artikel, makalah atau buku, perasaan lega, puas dan bahagia muncul. Apalagi bila tulisan itu beredar dan digunakan orang lain, pastilah semakin terasa betapa bermaknanya tulisan, dan keberadaan penulisnya. Wajar jika rasa percaya diri meningkat dibuatnya. Bahkan seandainya ada orang yang mengecam tulisan kita tidak bermutu, kita masih bisa bilang, aku sudah menulis, Anda sudah membaca tulisan saya. Lantas, mana tulisan Anda? Kalau dia katakan, ini tulisan saya. Kita bisa bilang, mari bandingkan. Kalau ternyata tulisan dia lebih bagus, katakan, Anda kan sudah lama menulis, saya baru saja menulis, lihat halamannya lebih banyak daripa tulisan Anda. Sebutkan saja kelebihan tulisan kita, misalnya ketikannya lebih rapih, tampilannya lebih bersih, apa sajalah.

Terasa agak narsis ya? Narsis yang proporsional adalah ujud rasa percaya diri! Tulisan yang kita buat merupakan bukti, paling tidak bagi diri kita sendiri, bahwa kita telah mampu merumuskan secara sistematis apapun yang kita fikirkan dan rasakan. Kita telah tunjukkan karya dan prestasi kita. Dalam bentuk sesuatu yang nyata, yaitu tulisan yang bisa dibaca orang lain.

Kita tahu, tidak semua orang bisa menulis. Bahkan tidak sedikit orang yang sangat pandai bicara, namun tidak dapat menulis. Ada juga yang pandai bicara, tetapi tulisannya tidak oke. Tulisan, entah berapa persen, menunjukkan siapa penulisnya. Bahkan karakter penulis bisa dilihat dari tulisan yang dihasilkannya. Itu bermakna, kita telah berhasil menunjukkan siapa aku, sang penulis.

Bila ada yang katakan tulisan kita tidak bagus, santai saja. Dulu, penulis angkatan sebelum Khairil Anwar bilang karya-karyanya tidak mutu. Mereka bilang begitu, karena cara menulis Khairil beda dengan mereka. Coba ingat, ada tidak sastrawan sebelum Khairil Anwar yang masih Anda ingat? Sejarah membuktikan, Khairil Anwar adalah penyair dan satrawan yang paling dikenal orang Indonesia. Ia bahkan lebih terkenal dari banyak penyair lain yang lahir setelah ia wafat.

Banyak penulis yang kemudian sangat terkenal, pada mulanya dianggap pecundang karena gaya tulisan, dan topik yang dipilihnya berbeda dengan penulis yang dianggap sudah mapan. Beberapa tulisan Wittgeinstein dan Husserl baru diterbitkan dan berpengaruh setelah kematiannya. Padahal sebelumnya dianggap kurang penting. Tulisan-tulisan Schopenhauer pernah diabaikan orang karena kuatnya pengaruh Hegel. Tetapi filsafat modern akhirnya sangat dipengaruhi tulisan-tulisannya.

Jadi, menghasilkan tulisan itu mestinya, dan seharusnya mendatangkan perasaan bahagia dan bermakna yang pasti meningkatkan rasa percaya, bahkan harga diri. Bukuku Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi, dikecam oleh beberapa profesor. Aku santai aja. Karena mereka yang mengecam belum lagi menulis buku. Bila menulis buku, diterbitkan sendiri karena ditolak penerbit yang ada. Kemudian mahasiswa dipaksa membeli. Buku itu beredar di kalangan terbatas, jadi kurang atau tidak teruji. Ada lagi yang menerbitkan buku keroyokan, sehingga tidak kelihatan keterampilan dan warna pribadinya. Sedangkan bukuku itu beredar ke seluruh Indonesia dan akan cetakan ketiga. Para profesor yang banyak menulis buku yaitu: Prof. Dr. Conny R. Semiawan dan Prof. Dr. H.A.R Tilaar, M.Sc.,Ed. sangat memuji dan mendorong aku terus menulis. Ya aku lebih pecaya beliau berdualah.

Menulis itu memang bisa meningkatkan rasa percaya diri. Tetapi yang lebih penting, menulis itu meningkatkan amal sholeh kita.

MENULIS SEBAGAI TERAPI

Sangat banyak penelitian yang menegasbuktikan bahwa menulis merupakan terapi efektif untuk membantu banyak persoalan kejiwaan dan kepribadian manusia. Bahkan sangat membantu untuk tumbuh kembang manusia secara kreatif. Beberapa buku menunjukkan itu, seperti: Joe Dispenza (2012). Breaking the Habit of Being Yourself: How to Lose Your Mind and Create a New One; Valerie Maholmes & Carmela Gina Lomonaco ed. (2010). Applied Research in Child and Adolescent Development: A Practical Guide; Thomas Armstrong (2010). The Power of Neurodiversity: Unleashing The Advantages of Your Differently Wired Brain; Angela Hobday & Kate Ollier. (2007). Creative Therapy with Chlidren & Adolescents; Judith Aron Rubin (2005). Child Art Therapy; Lucy Willetts & Cathy Creswell (2007). Overcoming Your Child’s Shyness & Social Anxiety: A self-help guide using Cognitive Behavioral Techniques; Norman Doidge (2007). The Brain That Changes Itself; Sharon Begley (2007). Train Your Mind Change Your Brain.

Ada keberagaman pemanfaatan menulis sebagai terapi. Beberapa di antaranya adalah: menulis secara fisik, yaitu menggunakan tangan untuk menuliskan sesuatu di atas kertas sebagai upaya pengendalian kemarahan, dan emosi negatif lain, terutama bagi anak-anak. Mengungkapkan atau menumpahmuntahkan semua perasaan marah, sedih, takut, kecewa dalam bentuk tulisan. Biasanya, setelah melakukannya ada rasa lega, enteng, dan bebas dari tekanan. Kemudian, saat emosi terkendali, dilanjutkan dengan menuliskan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.

Orang-orang yang mengalami gangguan yang membuatnya tidak merasa nyaman, gelisah atau takut terhadap sesuatu yang tidak jelas, dapat dengan bebas menuliskan sesuatu yang tidak jelas itu, sampai ia dapat mengidentifikasinya menjadi lebih jelas. Bagi orang yang mengalami tekanan karena berbagai masalah kepribadian, atau akibat ketidakharmonisan hubungan antar-manusia, bisa menuliskan khayalannya tentang apa yang dia sukai, atau yang paling diinginkannya. Banyak teknik lain yang digunakan untuk memanfaatkan menulis sebagai terapi.

Akar dari semua terapi itu adalah pada hakikatnya menulis merupakan upaya untuk mengungkapkan apa yang terpendam, tersimpan dalam ceruk hati, dan fikiran manusia. Apapun yang mengganjal di dalam hati dan fikiran bila dapat diungkapkan dengan bebas melalui dan dengan tulisan membuat energi yang menekan itu diledakkan keluar. Proses dan mekanisme ini paling kurang dapat mengurangi tekanan stres dan gangguan emosi lainnya. Sebab menulis itu melibatkan keseluruhan kemanusiaan kita, fisik dan psikis, rasa dan rasio, getar dan nalar.

Tak berlebihan jika aku ingatkan, gunakan sehatmu untuk menulis, manfaatkan menulis tatkala datang sakitmu, agar sehat dan tetap menulis. Menulis menjauhkan kita dari kepikunan dan penuaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s