TENTANG KEBERSAMAAN

                                              TENTANG KEBERSAMAAN

 

Merupakan takdir manusia harus hidup bersama, dalam kebersamaan. Kesendirian bukan saja dapat menghancurkan manusia, bahkan seluruh manusia. Karena itulah Tuhan ciptakan Hawa untuk temani Adam. Kesendirian memunculkan sepi yang menyayat dan membunuh. Seberapa lama manusia tahan berada dalam sepi, sunyi, senyap? Sidharta Gautama buktikan, pencerahan dapat dicapai tatkala manusia menjaga keseimbangan antara sendiri dan bersama sesama. Meskipun mendapat wahyu saat sendirian di Gua Hira, Nabi Muhammad SAW lebih sering berkumpul dan tidak menarik diri secara total dari kebersamaan.

 

Manusia selalu bermakna sesama manusia. Kesempatan dan tempat bagi manusia untuk sendirian sangat terbatas yaitu dalam rahim bila ia tidak kembar, tatkala buang hajat di wc, jika di sungai biasanya rame-rame,  di liang lahat atau kuburan jika tidak dikubur secara massal, sedang shalat jika tidak berjamaah, dan bersamadi.

 

Pada hakikatnya tatkala sendirian sebenarnya orang lain juga hadir dengan cara lain, atau dalam kesendirian ada jejak orang lain. Saat menyendiri di wc coba renungkan, siapakah yang membuat wc duduk atau jongkok yang sedang ditongkrongi? Siapakah yang telah membuat lubang  tempat kotoran disimpan? Siapakah yang telah membangun wc? Apakah aku yang membuat saluran air sampai ke wc? Apakah aku yang memasang kabel listrik yang ada di wc? Sangat jelas bahwa yang mengerjakannya adalah orang lain. Apa pun yang kita lakukan sendiri, pasti ada jejak orang lain. Kebersamaan dengan demikian adalah keniscayaan.

 

Namun tidak pernah mudah hidup dalam kebersamaan. Semuanya berakar pada fakta yang juga niscaya bahwa kita lahir sebagai individu yang utuh dan unik. Hidup Bukan Pasar Malam, kata Pramoedya Ananta Toer. Inilah paradoks manusia. Lahir dan mati sendiri, tetapi ditakdirkan hidup dalam kebersamaan. Sangat susah untuk mengawinkan keakuan dan kebersamaan.

 

Meski  hidup dan dibentuk dalam kebersamaan, kita tumbuh kembang sebagai individu yang memiliki keakuan. Inilah yang membuat setiap manusia itu unik dan berbeda satu sama lain. Tak ada manusia yang persis sama, meskipun kembar siam. Keakuan dan keunikan inilah yang menjadi akar mengapa kebersamaan itu sangat sulit untuk diujudkan.

 

Setiap manusia diasuh dengan cara yang berbeda, oleh orang yang berbeda dalam budaya yang berbeda. Bahkan anak-anak yang berasal dari keluarga yang sama, memiliki ayah dan ibu yang sama, berada dalam budaya yang sama tetap memiliki perbedaan satu sama lain, meski ada beberapa kesamaan dalam beberapa segi perilaku. Ini terjadi karena setiap orang memiliki rasa dan persepsi yang tidak selalu sama saat menghayati pengalaman dalam hidup, meskipun pengalaman itu sama. Keakuan memang sangat melekat dalam diri manusia.

 

Tentu ini paradoks yang mengasyikkan, menantang, dan sekaligus menyulitkan. Ini mengisyaratkan bahwa kita harus dapat hidup dalam kebersamaan tanpa larut dan tenggelam sampai kehilangan jati diri. Tentu kondisi inilah yang membuat hidup sebagai manusia tidak pernah mudah. Menjaga harmoni antara keakuan dan kebersamaan dalam keseharian hidup sama sekali tidak pernah mudah. Sering kali kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit, apakah mengikuti dan menegaskan keakuan atau terlibat dalam kebersamaan. Pilihannya memang tidak banyak, solitaritas atau solidaritas, kesendirian atau kebersamaan.

 

Ada kalanya kita harus terlibat secara empatis dalam kebersamaan, terutama untuk mencapai tujuan-tujuan mulia dalam konteks sosial di mana kita hidup. Kenanglah kembali tsunami Aceh-Nias, erupsi Merapi, dan koin Prita yang melarutkan kita dalam kebersamaan. Tetapi seringkali kita juga harus duduk sendiri, menelusuri relung hati, melihat kembali masa lalu untuk memperbaiki diri, bagi hidup kita kini dan nanti.

 

Dalam hidup keseharian kita berada dalam kondisi yang tak terelakkan antara kesendirian dan kebersamaan. Seringkali sulit menjaga harmoni dan keseimbangan di antara keduanya. Saat dalam kebersamaan kerapkali kita lupa dan menonjolkan keakuan. Pada waktu makan, kita mengambil banyak lauk dan lupa bahwa masih banyak orang lain yang juga mau makan seperti kita. Magnet keakuan seringkali membuat kita lupa, ada orang lain di sekitar kita. Apalagi saat terdesak, waktu menghadapi bahaya, seringkali kita merasakan diri kita adalah pusat, hanya diri kitalah yang berhak untuk selamat lebih dulu. Acapkali kita alpa ada orang tua, anak-anak, dan orang yang lebih lemah yang butuh pertolongan pada prioritas utama.

 

Rasanya kita memang belum menjelma menjadi manusia adalah serigala bagi manusia lainnya seperti yang ditegaskan Hobbes. Namun, seringkali kita menjadi kecoa bagi manusia lain. Mengganggu dan mengancam dengan cara yang mungkin tidak menakutkan, tetapi menjijikkan.

 

Memang sangat sulit, tetapi

 

HIDUP YANG INDAH ADALAH HIDUP YANG MEMAMPUKAN KITA MENAKAR KEAKUAN DALAM KEBERSAMAAN.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s