HENING MALAM CIBUBUR (2)

HENING MALAM CIBUBUR (2)

Senja beringsut merayapi sore. Langit mulai gelap. Masih tersisa gerimis. Dari kejauhan terdengar azan maghrib. Sungguh cuaca kurang bersahabat. Lembab dan dingin. Sesekali terdengar suara binatang malam. Di tenda putri suasana agak mencekam. Seorang mahasiswi berteriak-teriak. Sejumlah mahasiswi memegang dan memijat kakinya, sementara yang lain memegangi kedua lengannya. Ia terbaring di tandu. Badannya tampak kaku. Matanya terpejam dan ia terus berteriak. Beberapa mahasiswi membacakan Al Quran dan seorang mahasiswi membimbingnya agar melafazkan pujian pada Allah. Di dalam tenda yang dipenuhi mahasiswi ini, suasana sungguh terasa tegang. Wajah-wajah takut dan khawatir. Mereka membaca Al Quran dengan suara keras. Di empat tenda yang lain, para mahasiswa dan mahasiswi juga membaca Al Quran setelah sholat maghrib berjamaah. Mahasiswi yang berteriak-teriak itu diyakini sedang kesurupan atau kerasukan. Ia mengalami ini untuk kedua kalinya. Kemarin sore ia juga mengalami kerasukan. Di tenda terdekat, dua orang mahasiswi mengalami hal yang sama dengan intensitas lebih ringan.

Aku baru saja tiba saat mahasiswi itu berteriak kencang. Aku pegang telapak tangannya dan ku tekan dengan keras beberapa titik tertentu sambil ku bacakan beberapa ayat Al Quran di dalam hati. Alhamdullillah. Ia berteriak mengucapkan Alllahu Akbar dan berangsur sadar. Bisa membuka mata dan mulai dapat diajak berkomunikasi. Seorang mahasiswa senior nyamper dan bilang, bapak orang pinter juga ya. Saya kira tadinya bapak hanya orang pintar. Aku hanya senyum dan meninggalkan tenda untuk shalat maghrib.

Ini bukan pengalaman pertamaku menghadapi orang kesurupan yang sangat berbeda dengan orang kesirupan. Pasca tsunami Aceh, bersama sejumlah teman, aku bertugas di pengungsian di Meulaboh. Setiap hari, setelah azan ashar, kami harus mengurusi orang kesurupan atau kerasukan. Banyak keanehan memang jika orang sedang kerasukan. Seorang wanita berusia sekitar enam belas tahun dengan tubuh kecil, bisa mendorong sampai jatuh enam pria bertubuh besar, termasuk aku yang mencoba memegang tangannya. Ada pula seorang ibu yang berbicara dengan suara seorang pria yang tenyata adalah suara suaminya. Suara itu memberi tahu keberadaan dirinya. Benarnya saja, ketika kami mendatangi tempat yang dimaksudkan oleh suara itu, kami menemukan mayat suami wanita itu yang sudah hancur karena telah lama tenggelam di laut.

Kerasukan adalah fenomena yang sangat kuno. Terdapat dalam semua kebudayaan di seluruh dunia. Cerita rakyat dan beragan naskah sangat kuno mencatat kerasukan dengan beragam penjelasan dan tafsir yang berbeda. Kerasukan memang diselimuti misteri dan bersifat mitis. Praktik-praktik ritual religi kuno diwarnai dengan sangat kental oleh fenomena kerasukan. Kerasukan juga menjadi tindakan kunci bagi pengobatan. Kerasukan dalam budaya mitis tradisional memang dikaitkan dengan hal-hal ghaib dan spiritual. Karena itu pendekatan mitis lebih mengemuka daripada penjelasan logis.

Kerasukan selalu dikaitkan dengan kepercayaan atau keyakinan tertentu. Inilah sisi ghaib dan mitis dari kerasukan. Artinya, kerasukan diyakini tidak pernah hanya bersifat fisik-material. Ada sisi mitis-spiritual di dalamnya. Terkait dengan keyakinan ini, sejak zaman kuno difahami kerasukan memiliki dua sisi, yaitu sisi hitam dan putih. Masyarakat tradisional sangat memahami mana kerasukan hitam dan kerasukan putih. Kerasukan hitam dikaitkan dengan kekuatan jahat seperti iblis atau tokoh-tokoh jahat. Sedangkan kerasukan putih dikaitkan dengan kekuatan spiritual atau Sang Maha Agung.

Baik agama bumi dan agama langit yang menjadikan wahyu Illahi sebagai basis ajaran, mengakui adanya dua model kerasukan ini. Saat menerima wahyu Illahi, para nabi merasakan pengalaman spiritual luar biasa yang meninggalkan pengaruh dahsyat secara psikis dan fisik. Wiiliam James seorang psikolog besar sampai menulis satu buku tebal untuk menjelaskan pengalaman spiritual ini. Sejumlah filsuf menyebut pengalaman ini sebagai sisi transenden dari manusia yaitu kemampuan manusia mengatasi dimensi kemanusiaannya untuk memasuki wilayah spiritual tingkat tinggi, bersatu dengan semesta.

Dalam sejarah Islam paling tidak ada dua cerita besar tentang Al Hallaj dan Syech Siti Jenar yang harus dihukum karena mengaku telah bersatu dengan Tuhan. Sejumlah filsuf Islam mengakui kemungkinan manusia mengalami peristiwa seperti yang dialami Al Hallaj dan Syech Siti Jenar. Ada aroma pemikiran Plotinus di situ. Para spiritualis besar atau tokoh dan penghayat sufi seperti Rumi dan Attar, dalam syair-syair yang cerlang menggambarkan dengan indah pertemuan antara makhluk dan Khaliq, dan ‘kemabukan’ yang diakibatkannya. Kini di Indonesia syair-syair seperti itu dipopulerkan oleh grup musik Debu. Dengan cara yang lebih puitis, ungkapan tentang keakraban makhluk dan Khaliq terdapat dalam puisi-puisi Amir Hamzah (Tuhan, mangsa aku dalam cakarMu, bertukar tangkap dengan lepas).

Kerasukan dalam dua dimensinya yaitu putih dan hitam, tampaknya bekaitan dengan dimensi bukan-manusia. Dimensi bukan-manusia ini diakui bahkan disadari dan dihayati oleh orang beragama, tentu dengan penjelasan yang tidak selalu sama. Masyarakat tradisional seperti suku Baduy dan Dayak menerima dan merasakan kehadiran dimensi bukan-manusia dalam hidup sehari-hari, dan fenomena kerasukan dihayati sebagai bagian integral dalam hidup.

Fenomena kerasukan menjadi problematis dalam khazanah pemikiran dan ilmu pengetahuan moderen atau modernitas. Pemikiran moderen berdiri di atas paradigma positivisme. Positivisme menegaskan hanya pernyataan yang rasional atau masuk akal, dan bisa diuji secara empiris atau berdasarkan bukti-bukti yang bisa dicerap pengindraan yang disebut sebagai pernyataan yang bermakna. Sedangkan pernyataan yang tidak memenuhi salah satu syarat tersebut ditegaskan sebagai pernyataan tidak bermakna. Paradigma inilah yang melahirkan saintisme yaitu keyakinan yang menegaskan hanya ilmu yang dapat dipercaya, memiliki kebenaran dan kepastian. Itulah sebabnya fenomena kerasukan tidak lagi didekati dan dijelaskan dengan cara lama. Kerasukan dipandang melulu sebagai peristiwa biologis dan psikologis.

Kerasukan atau kesurupan lebih dikaitkan dengan jenis kepribadian tertentu, kondisi-kondisi tertentu dan pengaruhnya pada proses-proses biologis dan kimiawi di dalam otak manusia. Tak ada tempat bagi dimensi bukan-manusia di dalam penjelasannya. Konsekuensinya, kesurupan bisa diatasi dengan teknik-teknik relaksasi dan obat-obat yang dapat mempengaruhi kimia otak. Bukankah ekstasi dan sejenisnya adalah produk dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang dapat membantu pemakainya memasuki kondisi menyenangkan melalui perangsangan kimiawi otak? Jika obat untuk memengaruhi kimiawi otak untuk merasakan semacam ‘kerasukan’ bisa dibuat, mengapa pula obat untuk mengatasi kerasukan tidak bisa diproduksi?

Tidak sedikit orang sangat percaya pada kehebatan ilmu pengetahuan moderen. Mereka diam-diam, mungkin tanpa sepenuhnya sadar menjadi penganut saintisme. Seringkali dengan akibat meremehkan dan menentang penjelasan tardisional dan informasi kitab suci. Tidak mengherankan ada segelintir orang yang tidak faham betul karakter ilmu pengetahuan moderen, menyebut penjelasan agama sudah ketinggalan zaman dan harus disesuaikan dengan bukti-bukti baru yang ditawarkan ilmu pengetahuan moderen. Tragis memang.

Ilmu pengetahuan moderen sebenarnya menyimpan banyak kontradiksi internal dan ketidakmampuan menjelaskan banyak hal. Rasanya, kita tak akan pernah lupa kontradiksi di dalam ilmu yang paling pasti yaitu fisika yang akhirnya menghasilkan ketidakpastian Heisenberg. Ketidakpastian Heisenberg memunculkan pandangan miring dalam ilmu. Kini orang bisa katakan, yang paling pasti dari ilmu pasti adalah ketidakpastiannya. Tidak berhenti sampai di situ. Fisika kontemporer pasca Einstein menghadapi masalah besar. Pasca Einstein tak ada lagi teori besar dalam fisika. Di awal era 80an muncullah teori superstring. Teori ini diharapkan dapat menjelaskan banyak persoalan ruang waktu yang belum dapat dijelaskan oleh teori Einstein dengan memuaskan. Edwrad Witten, fisikawan paling cerdas pasca Einstein percaya teori ini merupakan teori paling baik dan hebat bagi fisika masa depan. Namun, sangat disayangkan pada akhirnya teori ini lebih mirip puisi daripada teori. Salah satu sebabnya adalah kesulitan membuktikannya secara empiris.

Kondisi yang sama terdapat dalam neurosains. Neurosains telah berhasil membongkar banyak misteri yang menyelimuti penjelasan tentang otak manusia. Kini kita mengerti cara kerja, sifat alamiah dan beragam fungsi dari berbagai bagian atau lobus di dalam otak. Sekarang kita tidak hanya mengenal kecerdasan intelektual. Ternyata ada kecerdasan majemuk yang berbasis pada beragam fungsi bagian-bagian otak. Belahan kanan dan kiri otak ternyata memiliki susunan dan fungsi yang berbeda dan spesifik. Teori dua belahan otak kini berkembang menjadi teori kuadran otak yang membagi otak menjadi belahan kiri dan kanan atas, serta belahan kiri dan kanan bawah yang memiliki fungsi yang makin spesifik. Sekarang kita juga mengerti di dalam otak terdapat bagian yang mengatur emosi yang biasa disebut sistem limbik, dan bagian otak berfikir yang dikenal sebagai neokorteks. Otak ternyata sebuah sistem yang terintegrasi, dan dapat berfugsi maksimal jika semua bagian di dalam otak terlibat secara aktif. Nyaris, semua hal tentang otak tampaknya bisa dijelaskan.

Ternyata, tidak! Para ahli semakin menyadari bahwa otak bisa berfungsi karena adanya kesadaran. Sejumlah pemenang hadiah Nobel dari berbagai disiplin ilmu yaitu fisika, biologi, kimia, kedokteran dan neurosains mencoba kerja bareng untuk menjelaskan apa hakitakat kesadaran. Sejauh ini mereka gagal. Inilah fakta tentang ilmu pengetahuan moderen, kemampuannya menjelaskan sangat terbatas. Jika mampu memberi penjelasan, penjelasannya tidak selalu tuntas. Kebenaran ilmu memang relatif, tentatif, dan probabilistik.

Secara filosofis dan metodologis Popper secara kritis dan sangat keras telah menelanjangi positivisme dan saintisme. Popper menunjukkan banyak kontradiksi dalam paradigma ilmu penegetahuan moderen. Kuhn bahkan menegaskan paradigma keilmuan selalu mengalami anomali, yaitu ketidakmampuan dan atau kegagalan menjelaskan sebuah fenomena atau kejadian. Bila terjadi anomali maka dibutuhkan revolusi untuk melahirkan paradigma keilmuan baru yang mampu memberikan penjelasan yang lebih baik dan lebih lengkap. Kondisi ini dinamis, artinya akan ada anomali baru dan revolusi lanjutan. Dibutuhkannya revolusi paradigma menunjuktegaskan bahwa ilmu selalu menyimpan kelemahan dan berujung anomali. Lakatos dan Feyerabend melanjutkan kritik Kuhn terhadap paradigma dan cara kerja ilmu. Mereka sampai pada pandangan APA SAJA BOLEH. Sebuah pandangan anarkisme dalam ilmu. Artinya, cara kerja apa pun sah di dalam ilmu. Pandangan ini seperti sebuah ironi dalam konteks keilmuan moderen yang sangat menekankan pentingnya cara kerja yang sistematis, terukur, dan akurat.

Sudah dapat dipastikan pandangan postmoderen merasuki paradigma ilmu APA SAJA BOLEH. Bagi penganjur dan perumus postmoderen diyakini bahwa mitos dan logos adalah sama dan sebangun. Dalam mitos ada logos, dan dalam logos ada mitos. Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan. Pandangan postmoderen ini merupakan anti tesis terhadap pandangan moderen yang hanya menghargai logos dan tidak memberi tempat pada mitos.

Era moderen memang telah berakhir, saintisme juga sudah babak belur dan tak lagi populer. Karena itu fenomena kerasukan tidak dapat lagi dilihat semata dengan kaca mata ilmu pengetahuan moderen. Begitulah aku menghayati kerasukan. Aku lahir dan dibesarkan di Indonesia sebagai seorang Muslim. Aku mengalami empat kali kuliah dan pernah belajar metode penelitian serta Hak Azasi Manusia di Eropa. Tetapi aku tak pernah silau dengan ilmu pengetahuan moderen. Aku pun tak pernah percaya pada saintisme.

Ketika menghadapi mahasiswi kerasukan, aku menghargai kearifan tradisional, menghayati apa yang dikatakan agamaku tentang fakta bukan manusia, dan menghargai solusi yang ditawarkan ilmu pengetahuan moderen. Mengapa kulakukan itu? Karena akau meyakini,

BETAPA PUN HEBATNYA MANUSIA, PENGETAHUAN DAN ILMUNYA SANGAT SEDIKIT.

Hening malam Cibubur memberi kebahagian luar biasa bagiku. Peristiwa kerasukan itu seperti menjawil kesadaran kemanusiaanku betapa terbatasnya manusia. Aku jadi teringat pada bacaan masa remaja yaitu komik Kho Ping Ho. Dalam sebuah episodenya seorang pendekar yang baru saja mengalahkan penjahat yang sombong berucap, di atas langit, masih ada langit…………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s