HENING MALAM CIBUBUR (3)

HENING MALAM CIBUBUR (3)

 

Malam makin tenggelam. Kini sungguh telah tengah malam. Udara terasa seger. Angin malam lembut berseliweran di antara pepohonan. Di warung darurat yang menyediakan minuman hangat dan mie instan, beberapa mahasiswa senior berbincang bersamaku. Aku selalu merasa saat seperti inilah waktu yang paling tepat untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Dalam suasana informal, di bawah udara terbuka kami berbincang sebagai sesama. Tidak dalam konteks dosen-mahasiswa. Suasana sangat cair dan tidak dibatasi waktu. Sangat berbeda dengan kuliah formal di kelas. Suasana makin hangat karena ada kopi hangat, aromanya membuat malam jadi makin sedep.

 

Mahasiswa senior yang merupakan angkatan pertama, saat ini sedang praktik mengajar di sekolah. Mereka bercerita berbagai pengalaman selama praktik. Kebanyakan dari mereka menuturkan bahwa sekarang ini para guru yang mengajar mata pelajaran IPS memiliki latar belakang yang sangat beragam yaitu guru sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi dan guru-guru yang berasal dari mata pelajaran di luar rumpun IPS. Akibatnya mata pelajaran IPS difokuskan atau disederhanakan sesuai dengan latar belakang ilmu si guru. Pastilah kondisi ini sangat merugikan para murid. Karena perspektifnya menjadi sangat terbatas.

 

Para mahasiswa juga sangat prihatin karena para guru tampaknya asyik menjelaskan konsep. Pendekatannya sangat kognitif-intelektual. Padahal tujuan pembelajaran IPS adalah menajamkan kecerdasan sosial anak didik agar dapat hidup dengan baik, produktif dan bermakna dalam konteks sosial masyarakat. Fakta ini memaksa mereka untuk mencoba berbagai pendekatan pemelajaran yang memungkinkan ditumbuhkembangkannya kecerdasan sosial anak didik.

 

Banyak fakta menarik lain yang mereka temukan. Sebuah sekolah di daerah yang tergolong pas-pasan para muridnya sangat patuh, disiplin dan sangat bergairah belajar. Meskipun sebagian murid ikut membantu orang tuanya mencari nafkah dan menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Sebaliknya sekolah yang berada di daerah kelas menengah atas, muridnya relatif tidak disiplin, bahkan berani melawan guru. Ada pula sejumlah siswa yang rajin tawuran, tetapi prestasi belajarnya baik, dan anaknya termasuk yang berdisiplin. Sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan IPS, berbagai fenomena ini tentulah sangat menantang untuk didalami lebih kanjut.

 

Sebagai akibatnya, para mahasiswa mengganti judul-judul bakal skripsi yang sudah mulai mereka kerjakan. Berbagai fakta lapangan ini memberi kesadaran tentang masalah-masalah nyata yang sungguh-sungguh terjadi dalam proses pemelajaran di sekolah. Keterlibatan dalam realitas memang merupakan sumber inspirasi yang kaya, bermakna, dan relatif tak terbatas.

 

Udara malam terasa makin menyegarkan. Diskusi makin menggairahkan. Sejumlah mahasiswa yang lebih muda terlibat dengan memberondongkan sejumlah pertanyaan ingin tahu dan pertanyaan-pertanyan kritis. Aku sabar mendengarkan dan memberi komentar sekedarnya. Saat pembicaraan menyangkut skripsi, aku bercerita pengalamanku menulis skripsi yang juga mendapat inspirasi dari praktik mengajar di sekolah.

 

Pembicaraan menjadi makin bergairah dan seru ketika membahas metode penelitian. Para mahasiswa tertarik ingin melakukan penelitian kualitatif untuk menggali lebih dalam berbagai problem yang mereka temukan di sekolah. Beberapa bermaksud mencoba penelitian tindakan kelas sebagai upaya untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas proses pemelajaran.  Persoalan utama yang dikhawatirkan adalah waktu yang tersedia untuk melaksanakan penelitian. Pembicaraan menjadi hangat menjurus panas karena beberapa mahasiswa tidak sependapat terkait dengan ketersedian waktu. Aku coba menjelaskan, masalah itu bisa diatasi dengan membatasi fokus penelitian. Ada beberapa kekhawatiran soal kemampuan meneliti bila yang dipilih kualitatif atau penelitian tindakan. Meskipun semua mahasiswa pernah melakukan penelitian kualitatif secara terbatas.

 

Aroma tengah malam perlahan berganti dini hari. Kantuk tak juga singgah. Beberapa memesan mie gelas dan kopi mix, peserta diskusi malah bertambah banyak. Pembicaraan melebar pada cara sejumlah dosen mengajar dan mengelola kelas. Aku sungguh menahan diri untuk tidak terlalu banyak bicara. Ini saatnya menjadi pendengar budiman. Cara berbicara dan gaya pengungkapan, serta suasana emosional mulai berubah. Ada rasa kecewa dan kesal. Ternyata banyak harapan tak terpenuhi. Ada pula yang mengeluhkan gaya dosen yang otoriter, bahkan rasa heran karena ada dosen yang kelihatan sekali kurang menguasai materi. Beberapa mahasiswa mempersoalkan disiplin dosen. Di tengah kehangatan pembicaraan, nyembul satu pertanyaan yang tampaknya membuat semua agak kaget. Apa prodi kita bisa terakreditasi dalam kondisi seperti ini?

 

Diskusi menemukan arah baru pembicaraan. Terasa sekali ada kekhawatiran mengelambui mahasiswa. Pembicaraan selanjutnya syarat dengan emosi. Ini menyangkut hari depan mereka. Tampak betul mereka mau melakukan apapun yang terbaik bagi prodi. Mereka mengkhawatirkan sikap sejumlah dosen yang kelihatan agak tidak peduli pada status akreditasi ini. Mereka secara terbuka menyebut nama-nama dosen tersebut.

 

Dingin dini hari mulai merasuki daging dan otot. Angin tak lagi sepoi. Namun, semangat mahasiswa, dan gairah mereka untuk membicarakan akreditasi prodi menyala bagai obor olimpiade.

 

Hening malam Cibubur, dan dingin dini hari telah memberikan kebahagiaan yang luar biasa. Melampaui kuliah yang formal dan dibatasi waktu, di sini kami peduli, berbagi, dan menghayati apa arti menjadi keluarga besar. Merasakan secara empatis apa yang menjadi masalah, keprihatinan, harapan, dan keprihatinan bersama. Semua proses ini menegaskan bahwa,

 

PROSES PENDIDIKAN ADALAH PERTEMUAN ANTARA SESAMA MANUSIA UNTUK SALING MEMBANTU DALAM KASIH YANG EMPATIS BAGI PENDEWASAAN DIRI, DAN HIDUP YANG LEBIH BERMAKNA.

 

Semalaman di Cibubur, aku makin belajar apa arti menjadi manusia dan apa makna pendidikan melalui kebersamaan yang sederhana, jujur, apa adanya dalam suasana hangat sebagai sesama.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s