BERDIRI DALAM KEKOSONGAN, DIDERA KESEPIAN

BERDIRI DALAM KEKOSONGAN, DIDERA KESEPIAN

 

Siapa yang tahan tenggelam dalam sepi? Saat berhadapan dengan diri sendiri. Telanjang dalam kejujuran. Kala hati bicara apa adanya, tanpa tetapi atau namun.

 

Ada kalanya kita merasa seperti terperosok ke dalam sumur gelap. Fikiran butek, seluruh tubuh rasa tak berdaya dan tak tahu harus berbuat apa. Serba salah dan terasa dada sesek penuh, ngap. Ini bukan saat teduh. Serasa keberadaan kita tak bermakna. Berdiri dalam kekosongan. Bahkan kita tak mengerti diri sendiri. Sejuta tanya menyeruak dan menghujam diri sendiri. Siapa aku? Apa makna keberadaanku? Mengapa aku jadi begini? Apa arti hidupku? Apakah yang telah kukerjakan selama ini ada manfaatnya? Akan jadi apa aku di masa depan? Semua terasa berat menghimpit.

 

Kerap kali kita tak mengerti, mengapa bisa seperti ini. Mungkin letih hati. Atau hidup menghimpit menekan rasa. Urat otot penat didera pekerjaan dan beban hidup. Lelah dalam rutinitas yang tak terelakkan. Hidup tertekan karena target-target yang telah ditentukan dalam pekerjaan. Banyak persoalan diri dan keluarga yang seakan tak pernah selesai. Syaraf terasa mau putus karena tekanan keadaan. Kadang, kita sampai tak memiliki kata tuk ungkapkan rasa hati. Air mata tak mampu sejukkan hati.

 

Ah….. Semua terasa berat menekan mendera. Seperti Nabi Yunus dalam perut ikan. Rasanya berada dalam labirin. Jalan tak berujung, sumur tanpa dasar. Kosong di dalam diri, hampa di sekeliling. Sepi seperti pisau yang tajam tak bertepi mengiris-ngiris hati, nyeri dan sangat menyakitkan, pedih perih.

 

Tak semua orang brani dan kuat hadapi kekosongan ini. Kurt Cobain, vokalis Nirvana, yang sedang berada di puncak kejayaan dan dipuja jutaan orang, memilih menembak kepalanya saat menghadapi situasi batas ini. Ia tak mampu berdiri di kekosongan, didera kesepian. Dalam surat yang ditulis dengan coretan tangannya, ia jujur menyatakan betapa sakit menjalani hidup tanpa makna. Betapa sulit menjadi diri sendiri. Ia menulis, lebih baik kamu dibenci karena menjadi dirimu sendiri, daripada kamu disukai karena menjadi orang lain.

 

Cobain dan banyak orang sangat faham, tidak mudah menjadi diri sendiri. Berhadapan dengan diri sendiri, tanpa tetapi. Menjadi diri sendiri tanpa rekayasa dan manipulasi. Menjadi apa adanya. Sebab saat berhadapan orang lain kita sering ditanya, adanya apa?

 

Hidup memang tidak pernah mudah. Beragam kejadian dalam rentang waktu yang panjang sering kali membuat kita letih, lelah, penat dan tak berdaya. Karena itu ada saat kita merasa sungguh tak berdaya dan merasa semuanya membosankan dan memuakkan. Edgar Allan Poe, penulis besar Amerika pernah berucap, Tuhan,tolong jiwaku yang malang. Winston Curchill, Perdana Menteri Inggris yang hebat dan sohor mengeluh, saya bosan dengan semua ini, sembilan hari sebelum koma dan meninggal. Frank Sinatra, penyanyi legendaris berkata, saya sedang kalah. Justru saat ia berada di puncak ketenaran. Dan penyair besar kita Chairil Anwar dalam sajaknya menulis, aku hilang bentuk, remuk.

 

Tak ada manusia yang tidak mengalami situasi batas ini dalam perjalanan hidupnya. Semua kita pernah mengalaminya. Resah hati tak terperi. Tak ada gairah hidup. Dan semuanya terasa kosong. Sepi menghimpit, menulangsumsum. Bukan hanya tubuh yang nyeri, juga hati.

 

Menghadapi saat resah ini, sebagian orang memilih menjadi budak narkoba. Sejumlah artis papan atas dunia, Marilyn Monroe, Jim Hendrix, Elvis Presley, Michael Jackson, Whitney Houston, dan Amy Winehouse memilih narkoba sebagai jalan menghadapi kekosongan dan kesepian yang menyakitkan ini, dan mereka wafat dengan sangat tragik. Sejumlah yang lainnya memilih bunuh diri.

 

Beridiri dalam kekosongan, didera kesepian tampaknya merupakan taqdir manusia. Siapapun, dalam zaman apa pun pernah mengalaminya. Terserah pada kita bagaimana menyikapinya. Apakah mau dan mampu bermuka-muka dengannya, atau menyerah menjadi sanderanya.

 

Sidartha Gautama, pangeran yang hidup dalam kelimpahmewahan, tersedak hatinya tatkala keluar istana dan berjalan di jalan raya. Ia melihat orang tua, orang sakit dan orang mati. Ia berhadapan dengan fakta kehidupan yang sangat hakiki tentang manusia. Ia jeda. Meninggalkan sejenak seluruh kehidupan mewahnya, dan bertanya di dalam hati. Apakah realitas manusia yang terdalam? Menjadi tua, sakit, dan mati? Ini semua bertentangan dengan gaya dan penghayatan hidupnya selama ini di dalam istana. Sungguh ia seperti dibenturkan pada tembok batu yang keras dan kasar. Sangat melukai hati dan fikirannya.

 

Ia sangat terganggu dan bingung. Ia berdiri dalam kekosongan, diterpa kesepian. Sontak mendadak ia tak mau lagi hidup dalam kemewahan, bahkan tak tertarik untuk sekadar makan. Ia dicekam rasa ingin tahu yang mendalam. Tiba-tiba ia merasa berdiri di keraguan, menginjak tanda tanya yang tak berujung. Ia jatuh sakit dan sangat menderita. Fakta kehidupan yang telanjang tentang menjadi tua, sakit dan mati sangat mengoyak moyak kesadarannya. Artinya hidup itu fana, terus bergerak, melindas apa saja. Lantas, apa yang masih tinggal? Apa yang masih bertahan? Tak adakah sisa, bahkan secuil pun?

 

Sidartha kemudian meninggalkan dunia yang selama ini dinikmatinya. Melakukan tapa brata dengan disiplin yang sangat keras sebagaimana dilakukan oleh para pencari kebenaran pada masanya. Bertahun-tahun ia lakukan hidup dalam penolakan terhadap dunia. Ia malah seperti terperosok ke dalam jurang yang makin dalam. Kini, ia sungguh berdiri dalam kekosongan yang gulita, dihancurlantakkan sepi. Ia sungguh frustrasi. Akhirnya ia mengubah cara. Hidup mengikuti jalan tengah yang lebih manusiawi. Tapa brata dak komunikasi manusiawi dengan sesama. Meditasi dan diskusi. Solitaritas dan solidaritas. Ia memperoleh pencerahan tentang hakikat hidup, hidup sebagai manusia. Ia menjadi Budha. Dari kekosongan dan sepi, berpuncak pada pencerahan. Budha menyadari penderitaan adalah fakta hidup yang niscaya. Hidup adalah dukha. Tetapi kita bisa melampauinya, dengan berusaha keras.

 

DALAM KEKOSONGAN DAN DIDERA SEPI, KITA YANG TENTUKAN, MAU TENGGELAM ATAU MELAPAUINYA MENCAPAI PENCERAHAN.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “BERDIRI DALAM KEKOSONGAN, DIDERA KESEPIAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s