BERDIRI DALAM KEKOSONGAN, DIDERA KESEPIAN

Juangtualang

BERDIRI DALAM KEKOSONGAN, DIDERA KESEPIAN

 

Siapa yang tahan tenggelam dalam sepi? Saat berhadapan dengan diri sendiri. Telanjang dalam kejujuran. Kala hati bicara apa adanya, tanpa tetapi atau namun.

 

Ada kalanya kita merasa seperti terperosok ke dalam sumur gelap. Fikiran butek, seluruh tubuh rasa tak berdaya dan tak tahu harus berbuat apa. Serba salah dan terasa dada sesek penuh, ngap. Ini bukan saat teduh. Serasa keberadaan kita tak bermakna. Berdiri dalam kekosongan. Bahkan kita tak mengerti diri sendiri. Sejuta tanya menyeruak dan menghujam diri sendiri. Siapa aku? Apa makna keberadaanku? Mengapa aku jadi begini? Apa arti hidupku? Apakah yang telah kukerjakan selama ini ada manfaatnya? Akan jadi apa aku di masa depan? Semua terasa berat menghimpit.

 

Kerap kali kita tak mengerti, mengapa bisa seperti ini. Mungkin letih hati. Atau hidup menghimpit menekan rasa. Urat otot penat didera pekerjaan dan beban hidup. Lelah dalam rutinitas yang tak terelakkan…

View original post 750 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s