MATI YANG HANYA SEKALI, BUKAN HIDUP!

MATI YANG HANYA SEKALI, BUKAN HIDUP!

 

Hidup hanya sekali. Ungkapan ini sangat terkenal dalam komunitas tertentu di dunia ini. Seringkali kita mendengar orang berucap, hidup hanya sekali karena itu nikmatilah. Sementara yang lain berucap, hidup hanya sekali, berbuatlah yang terbaik. Chairil Anwar pernah menulis sekali berarti, setelah itu mati.

 

Keyakinan hidup hanya sekali juga diduga menjadi dasar ungkapan hic et nunc, here and now, kini dan di sini. Suatu keyakinan bahwa kita hidup hanya sekali, kini dan di sini, tak ada kehidupan di seberang kematian. Konsekuensinya rengkuh habis hidup ini, sehabis-habisnya, tanpa sisa. Sebab tak ada lagi kehidupan di sana. Tak ada kemungkinan untuk nanti dan di sana.

 

Para penganut hedonisme dan materialisme meyakini bahwa hidup hanya sekali. Pilihannya adalah nikmati habis atau membuatnya bermakna, kini dan di sini. Tak ada celah bagi keyakinan bahwa apa pun yang kita lakukan kini dan di sini, akan diganjar nanti dan di sana.

 

Jadi, orang yang mengatakan hidup hanya sekali, patut diduga seorang hedonis, materialis, atau ateis. Bisa jadi ketiganya sekaligus. Orang beriman, apa pun agamanya tidak boleh percaya hidup hanya sekali. Dalam konstruksi keyakinan Islam dan Kristen ditegaskan bahwa matilah yang hanya sekali. Kita semua pasti mati dan akan dibangkitkan kembali dalam kehidupan setelah mati. Dalam keyakinan Hindu dan Budha, manusia bahkan dilahirkan dan mati berkali-kali dalam lingkaran reinkarnasi.

 

Namun, faktanya banyak orang yang mengaku beragama menghayati hidup dengan paradigma kini dan di sini dan selalu bilang hidup hanya sekali. Seringkali ungkapan itu mengalami metamorfosa menjadi ungkapan, kesempatan tak datang dua kali. Pandangan dan keyakinan inilah yang menjadi akar bagi banyak kejahatan.

 

Saat orang dengan keyakinan seperti ini menjadi penguasa atau pejabat, berkembanglah pandangan hidup mumpungisme. Apa pun dirampok, kewenangan disalahgunakan, aturan diperjualbelikan, dan kuasa serta jabatan dijadikan komoditi. Mereka meyakini bahwa harga diri dan makna hidup ditentukan dari apa yang dimiliki secara material. Jika mereka berbuat baik dan bersedekah maka pola hitungannya adalah: beri sejuta untuk menunjukkan kebaikkan, dan rampok semilyar untuk diri sendiri. Dengan begitu mereka ingin mengesankan mereka adalah orang baik. Inilah model hidup dajjali, anak cucu dajjal. Kiblatnya adalah kini dan di sini. Ini dilakukan karena mereka yakin kesempatan tak datang dua kali.

 

Bersebalikan dan bertentangan dengan itu adalah orang yang meyakini bahwa matilah yang hanya sekali. Karena yakin ada kehidupan kedua setelah kematian. Mereka mengembangkan matematika kehidupan yang berbeda. Bila memberi dengan ikhlas satu rupiah, pemberianmu bukan hanya dicatat untuk kehidupan setelah mati, juga akan dilipatgandakan di dunia ini dan dunia sana. Tentu saja pelipatgandaan itu tidak mesti dalam rupiah juga, bisa jadi dalam bentuk kesehatan dan keselamatan dari segala bencana.

 

Mereka sangat hati-hati, berusaha tidak berbuat kesalahan karena menyadari, semuanya dicatat dan diperhitungkan dalam kehidupan nanti dan di sana. Orientasi hidup mereka tidak melulu materi. Sebab dunia sana yang memang masih jauh dari kini dan di sini, sepenuhnya bersifat spiritual. Spiritualitas inilah yang membuatnya berbeda.

 

Kant, filsuf besar asal Jerman menegaskan, adanya kehidupan nanti dan di sana merupakan keniscayaan. Sebab dalam kehidupan kini dan di sini tak mungkin kita mendapatkan keadilan, terutama atas berbagai kejahatan yang dilakukan oleh manusia. Susah diterima akal bila semua kejahatan tidak dibalas dengan adil, sementara dalam kehidupan kini dan di sini keadilan itu tak pernah sempurna. Konsekuensinya, harus ada kehidupan nanti dan di sana, saat keadilan sempurna itu ditegakkan. Kant memang mengakui keberadaan dan kepentingan kehidupan nanti dan di sana.

 

Persoalan terbesar bagi orang yang percaya bahwa kehidupan tidak hanya sekali, ada kehidupan nanti dan di sana adalah menghayati secara konsisten kesadaran akan keberadaan kehidupan kedua tersebut. Karena kecenderungan kebertubuhan kita adalah menikmati yang nyata, yang ada kini dan di sini. Itulah sebabnya dalam semua agama dan sejumlah keyakinan spiritual terdapat aturan yang ketat soal kebertubuhan. Bahkan ada yang menerapkan aturan sangat keras tentang samadi, tapabrata dan penginkaran terhadap dunia dengan disiplin yang sangat keras. Semua agama dan keyakinan memiliki tradisi puasa atau yang sejenisnya, ada larangan untuk tidak memakan atau meminun makanan dan minuman tertentu. Prinsipnya adalah tubuhmu bukan milikmu. Jadi harus dikelola, dirawat, dijaga dengan disiplin dan hati-hati. Tubuhmu adalah kereta kencana yang membawa ruhmu yang tidak hancur sebagaimana tubuhmu.

 

Pandangan ini bertentangan secara diametral dengan pandangan liberal-sekuler yang berkembang terutama di Barat. Mereka meyakini tubuhku adalah milikku, di bawah kuasaku, sehingga aku bebas berbuat apapun dan memperlakukan tubuhku. Semua sensasi kebertubuhan yaitu kenikmatan syaraf dihayati sebagai ritual penting yang tak boleh dilewatkan. Dalam konteks inilah seks bebas dan narkoba mengemuka sebagai ritual utama. Tubuh boleh dieksploitasi mengatasnamakan seni, ekspresi, hak asasi, dan kebebasan. Tubuh dengan segala kenikmatannya adalah kiblat utama yang kemudian melahirkan tradisi hedonik.

 

Semua industri seks, mulai dari segala jenis kondom, obat kuat, majalah dan film porno, sampai perdagangan wanita untuk memenuhi libido liar menjadi mode utama. Itulah yang menjadi landas tumpu pengembangan berbagai gaya dan mode video klip, film, pakaian, dan lagu yang secara sengaja dan bertujuan mengeksploitasi kebertubuhan. Karena tubuh yang sepenuhnya fisik-material merupakan orientasi utama dalam keyakinan kini dan di sini. Mereka meyakini, setelah mati tubuh pasti hancur dan semuanya berakhir.

 

Tak mengherankan bila di Barat yang sekuler (Barat tidak tunggal dan tidak semuanya sekuler. Di Timur pun pandangan sekuler berkembang, dapat ditelusuri pada pemikiran Kong Hu Cu, filsuf Cina pendiri Konfusianisme) berkembang Psikoanalisis yang dipelopori oleh Sigmund Freud. Freud meyakini perkembangan manusia sangat ditentukan oleh pengalaman masa kecil, terutama terkait dengan genital yaitu alat kelamin. Dia juga mengedepankan konsep Oedipus Complex untuk menjelaskan hubungan anak-ayah-ibu. Penjelasannya sangat berorientasi kebertubuhan dan perkelaminan. Tidak ada tempat bagi spiritualitas. Dalam bukunya Totem dan Tabu, juga dalam Musa dan Monoteisme sangat jelas dia menolak keyakinan keberadaan Tuhan. Secara kasar ia menyebut bahwa Tuhan adalah produk dari mimpi terburuk manusia. Sangat materailistis, berakar pada kebertubuhan dan perkelaminan.

 

Freud tidak sendirian. Watson dan Skinner mengembangkan behaviorisme, sebuah pandangan yang mereduksi manusia sebagai makhluk yang ditentukan oleh rangsang lingkungan. Perilaku manusia ditentukan oleh lingkungan. Manusia tak lebih dari bentukan lingkungan. Para pendiri gerakan ini percaya betul pada eksperimen terhadap sejumlah binatang sebagai upaya menjelaskan perilaku manusia. Karena eksperimen itu sangat terstruktur dan terukur mengikuti cara kerja ilmiah. Behaviorisme sebenarnya mereduksi manusia menjadi sekadar monkey see, monkey do. Behaviorisme tak dapat menjelaskan mengapa ada orang yang mau dan penuh semangat melakukan bom bunuh diri yang dimotivasi oleh idelogi atau keyakinan spritual tertentu. Behaviorisme memang lebih menekankan kebertubuhan manusia, dan kurang memberi perhatian pada akal fikiran manusia. Maklumlah, behaviorisme adalah anak kandung empirisme yang sangat percaya pada pencerapan indra manusia dan kurang menghargai akal atau rasio manusia.

 

Empirisme berkembang menjadi neopositivisme yang sepenuhnya percaya bahwa hanya yang bisa dicerap panca indra saja yang nyata dan benar. Di luar itu adalah omong kosong. Modernitas mengawinkan empirisme dan rasionalisme dan hanya mengakui realitas dan kebenaran berbasis keduanya. Tak ada tempat bagi spiritualitas. Pada akhirnya munculah saintisme, sebuah keyakinan yang menyatakan hanya ilmulah yang dapat merumuskan dan menjamin kebenaran dan kepastian. Di luar ilmu yang bersifat empiris dan rasional adalah omong kosong.

 

Berbasis keyakinan kini dan di sini telah berkembang pandangan hidup dan cara fikir yang sama sekali tidak memberi tempat pada spiritualitas, juga pada hidup nanti dan di sana. Seluruh kerusakan yang mengemuka di dunia moderen berakar pada keyakinan ini. Kerusakan moral dan kerusakan alam merupakan konsekuensi logis yang tak terelakkan, sebab para penganutnya sepenuhnya percaya hidup hanya sekali, kini dan di sini. Tak ada kehidupan lain, nanti dan di sana. Jangan heran bila mereka brani dan terbiasa melakukan apapun demi kenikmatan duniawi yang sepenuhnya fisik material dengan semangat hedonik. Akibatnya,

 

KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERADABAN MANUSIA SANGAT DITENTUKAN OLEH KEYAKINAN MANA YANG KELUAR SEBAGAI PEMENANG, KINI DAN DI SINI ATAU NANTI DAN DI SANA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s