BU(A)YA

BU(A)YA

 

Buya Mandela telah pergi, meninggalkan warisan kebaikan. Begitupun dengan Buya Hamka. Kita masih punya seorang buya yaitu Buya Safii Maarif.

 

Buya bukanlah gelar akademik, tetapi gelar yang diberikan masyarakat dengan ikhlas sebagai penghargaan atas sejumlah sikap dan perilaku yang ditampilkan oleh seseorang. Mereka yang diberi gelar buya adalah orang yang hidup dalam dan dengan kebenaran. Tentu sebagai manusia mereka pastilah tak luput dari salah. Namun, mereka berusaha keras untuk terus berada dalam jalan kebenaran. Mereka sangat konsisten dengan jalan kebenaran itu, meskipun harus menerima resiko yang tak terperi.

 

Buya Nelson Mandela harus mendekam 27 tahun dalam penjara yang antara lain memberi penyakit pada paru-parunya dan menjadi sebab penderitaan panjang dan wafatnya. Pemenjaraannya merupakan resiko dari pendiriannya yang sangat konsisten menentang rezim apartheid di Afrika selatan. Sementara itu Buya Hamka mengalami berbagai halang rintang sejak jaman penjajahan sampai zaman kemerdekaan. Pada zaman penjajahan Belanda sejumlah bukunya dilarang beredar oleh penjajah Belanda. Saat pemerintahan Jepang, majalah yang dipimpinnya diberangus. Ketika Indonesia merdeka ia diasingkan dan dipenjarakan oleh Pemerintahan Sukarno. Sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia ia berhadapan dan mendapat berbagai tekanan dari rezim Suharto karena sikap tegasnya menolak RUU Perkawianan, dan acara natal bersama.

 

Di samping konsisten dalam sikap dan perjuangan, para buya juga hidup dalam kesederhanaan, dan bukan pengejar jabatan dan kekuasaan. Buya Mandela hanya mau menjadi presiden dalam satu periode, meskipun ia bisa menjadi presiden lebih lama. Ia memilih menjadi pewarta kedamaian. Buya Hamka lebih memilih melayani ummat tinimbang menjadi pejabat.

 

Jadi, tidaklah mengherankan Buya Hamka dan Buya Mandela yang telah mendahului kita merupakan teladan untuk sejumlah sikap, sifat dan tindakan terpuji. Nama mereka harum karena hidupnya dipenuhi oleh perbuatan baik yang sangat mendahulukan kepentingan ummat. Mereka sungguh hidup untuk membela dan memperjuangkan kepentingan dan kehormatan ummat manusia. Pantas benar jika masyarakat menghormati mereka dengan memberi gelar BUYA. Manusia yang terpilih, terhormat, dan terpuji. Mereka adalah pemimpin sejati.

 

Saat ini dalam menghadapi begitu banyak masalah akut seperti korupsi yang makin tak terkendali, ketidakpastian hukum, dan merosotnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah, serta banyaknya konflik, Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang mempraktikkan gaya hidup buya. Pemimpin yang bersahaja, mendahulukan kepentingan ummat, konsisten dalam dan dengan kebenaran, serta sungguh terpuji.

 

Sangat disayangkan, banyak pemimpin kita ternyata meniru dosomuko. Manusia dengan banyak muka atau topeng yang merupakan ekspresi banyaknya karakter dalam satu diri. Di depan publik berperilaku seperti buya. Bahkan ada yang baru saja selesai sholat wajib berjamaah, langsung berdiri sholat sunat. Berbicara dengan muka yang manis dan kerap menggunakan istilah-istilah dan  kalimat-kalimat yang sangat kental berbau keagamaan. Menunjukkan kepada publik betapa ia murah hati dengan memamerkan beragam kebaikan. Sungguh mau kelihatan seperti buya, padahal sejatinya bu(a)ya.

 

Berperilaku layaknya bu(a)ya darat dengan air mata bu(a)ya. Pribadi penuh tipu-tipu. Mengatasnamakan kepentingan publik, padahal merampok. Kita bisa lihat sekarang betapa banyak pejabat negara yang terjerat hukum karena memanipulasi bantuan sosial. Mengatasnamakan kepentingan bangsa, sebagai kedok untuk menjarah duit negara dan rakyat.

 

Tidak sedikit di antara para penguasa-pejabat itu yang menampakkan diri sebagai orang yang sangat peduli. Mematut-matutkan diri layaknya orang yang berempati, padahal sejatinya sedang memasang perangkap untuk meluluhlantakkan orang lain dan merompak. Persis seperti buaya yang berpura-pura mati di rawa, agar binatang lain mendekat dan dilahap abis.

 

Apalagi jika musim pemilihan seperti saat ini. Para manusia bu(a)ya ini sibuk menebar janji dan kebaikan. Rajin menyambangi orang-orang untuk menunjukkan perhatian, kepedulian, bahkan keprihatinan. Tanpa malu mengucapkan janji, bahkan memberi uang dengan royal sehingga terkesan mereka sangat baik. Uang yang dibagikan ternyata hasil merampok melalui penyalahgunaan kuasa dan wewenang.

 

Bila perilaku buaya yang dibalut dengan topeng buya ini terus dibiarkan dipraktikkan terutama oleh para penguasa-pejabat, pastilah negara bangsa ini akan hanyut dan tenggelam.

 

NEGARA BANGSA INI MEMBUTUHKAN BUYA YANG SEJATI, BUKAN PEMIMPIN YANG BERTOPENG BUYA PADAHAL BUAYA!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s