COTO, SOTO DAN SROTO

COTO, SOTO DAN SROTO

( Sebagai ungkapan terima kasih kepada Prof. Dr. M. Natsir Nessa dan Dr. Indrianty Sudirman)

 

Indonesia itu kaya raya. Di Makasar ada coto, diberbagai tempat terdapat soto, dan dibeberapa daerah di Jawa ada sroto. Pastilah ada kesamaan di antara ketiga makanan ini, karena itu namanya hampir sama. Namun, pasti ada perbedaan. Keberbedaan itu biasanya merefleksikan sejumlah hal terkait dengan komunitas atau budaya yang menciptakan masakan tersebut.

 

Masakan dan cara memasak sudah lama diakui para antropolog dapat menggambarkan manusia dan budaya pembuat masakan itu. Cara memasak bahkan dipercaya bisa jadi indikator kemajuan masyarakat atau budaya. Masyarakat yang telah mampu memasak dengan meramu makanan dan merebus dianggap lebih tinggi daripada yang memanggang masakannya. Sementara yang memanggang makanan dengan tambahan bumbu diakui memiliki budaya lebih tinggi tinimbang yang hanya memanggang apa adanya. Memasak menggunakan kayu api, arang, minyak tanah, batu bara, gas dan listrik sudah tentu juga menunjukkan status sosial ekonomi dan kemajuan.

 

Meramu makanan bukanlah hal yang mudah. Orang pertama-tama harus memastikan berbagai bahan yang akan diramu tidak membahayakan. Dibutuhkan upaya yang tidak sebentar untuk memastikan cabe misalnya, bisa dimakan. Juga mesti diketahui seberapa banyak cabe aman dikonsumsi. Pastilah masalahnya merumit bila menyangkut bumbu atau rempah-rempah yang jumlahnya sangat banyak di alam. Mana di antara rempah-rempah itu yang bisa dimanfaatkan dan seberapa ukurannya. Sekarang kita bisa memasak sayur lodeh, kare, soto, bahkan rendang dengan bumbu instan yang dijual di warung.

 

Coba bayangkan berapa lama waktu yang dubutuhkan sewaktu pertama kali coto, gudeg, dan rendang dibuat. Rasanya tidak sekali jadi. Ada proses panjang berulang-ulang dengan coba-coba. Bisa jadi ada banyak kesalahan yang dibuat sampai akhirnya ditemukan coto dan rendang yang kita kenal sekarang ini. Kita tidak tahu pasti berapa lama waktu yang harus dilewati dan berapa kali percobaan dilakukan sampai akhirnya ditemukan coto dan rendang yang kita nikmati sekarang.

 

Boleh jadi ada evolusi yang bertahap, lama dan rumit yang mesti dilalui dan terkait dengan perkembangan kecerdasan manusia untuk menciptakan makanan yang rumit seperti coto dan rendang. Artinya makanan itu mencerminkan kecerdasan, kreativitas, dan pencarian tak kenal henti. Makanan yang kompleks, yang merupakan hasil meramu berbagai bahan yang tersedia di alam menegaskan kecanggihan berfikir dan kreativitas yang luar biasa dari para penciptanya.

 

Dalam masyarakat, penciptaan makanan itu biasanya merupakan hasil kerja komunitas yang melibatkan banyak sekali orang. Bolehlah kita berhipotesis bahwa komunitas yang memiliki makanan yang kompleks seperti coto, rendang dan gudeg adalah komunitas yang cerdas dan kreatif.

 

Penciptaan makanan merupakan simbol dari kemampuan manusia memahami dan melampaui alam. Bahan alami yang tersebar di alam, yang sebelumnya tunas, tumbuh, berkembang dan layu. Di tangan manusia cerdas dan kreatif, menjelma menjadi makanan. Di dunia ini, Tuhan tidak akan memberi kita coto makasar. Namun, Tuhan menciptakan sapi, dan berbagai tumbuhan, kemudian Tuhan menciptakan orang Makasar, dan orang Makasar itulah dengan kecerdasan dan kreativitasnya menemukan coto. Hal yang sama terjadi untuk rendang, gudeg, dan semua makanan lain.

 

Masyarakat dan kebudayaan yang sederhana menghasilkan makanan yang sederhana. Sebaliknya, masyarakat dan kebudayaan yang kompleks mampu meramu makanan yang kompleks pula. Dalam konteks seperti ini,  tak usah heran jika dalam era globalisasi, kapitalisme hendak mendominasi selera orang di seluruh jagad dengan mempromosikan bahwa makanan dan minuman yang mereka tawarkan adalah yang terbaik, terlezat, dengan resep rahasia yang belum pernah diciptakan siapapun di dunia ini. Mereka terus-menerus meyakinkan kita bahwa makanan yang mereka jual adalah hasil kajian yang canggih memanfaatkan semua bahan terbaik dari seluruh dunia. Mereka mau tunjukkan keunggulannya melalui makanan. Mereka mau bilang mereka lebih cerdas dan hebat dibandingkan kita, karena itu kita harus menyantap makanan yang mereka jual.

 

Hegemoni melalui makanan ini mau menegaskan bahwa merekalah pihak yang paling pantas untuk mengatur selera orang. Menikmati makanan yang mereka buat adalah tanda modernitas dan kemajuan. Sebenarnya ini adalah penjajahan model baru. Menjajah melalui selera makan. Hasilnya mencengankan, banyak anak muda kita tiba-tiba merasa kampungan bila mengkonsumsi karedok, gado-gado, pecel, dan sayur asem. Para pengusaha kuliner harus berfikir keras untuk kembali merebut pangsa pasar agar makanan tradisonal itu dipilih dengan menampilkan berbagai nuansa modern yang dikaitkan dengan gengsi sosial. Kita mesti memicu terus kreativitas untuk menciptakan makanan atau mempercanggih makanan tradisional kita, karena

 

KITA BISA DIJAJAH KEMBALI DAN DIHANCURKAN MELALUI MAKANAN.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s