COTO, SOTO, DAN SROTO (2)

COTO, SOTO, DAN SROTO (2)

 

Kuliner Indonesia sangat luar biasa. Tengoklah soto. Hampir setiap daerah memiliki soto. Setiap soto menonjolkan cita rasa dan tampilan yang khas, sehingga meskipun sama-sama soto tetapi berbeda satu dan lainnya. Perbedaan itu bukan suatu kebetulan. Terdapat sejumlah alasan mengapa tiap soto itu berbeda. Paling tidak ada dua alasan mengapa terjadi perbedaan itu.

 

Pertama, ketersediaan bahan utama. Saat pertama kali makanan diciptakan pastilah menggunakan bahan-bahan yang tersedia di tempat itu. Dalam hal soto, bisa saja bahan dasar utamanya sama, tetapi rempah dan perancahnya berbeda. Perbedaan itu bisa berupa rempah atau bumbu yang sungguh berbeda, atau bumbu yang sama dengan ukuran yang berbeda, lebih banyak atau lebih sedikit. Tiap daerah yang membuat soto itu tentu saja memiliki beragam pohon penghasil rempah yang tidak selalu sama. Jika sama, belum tentu rasanya persis sama.

 

Kedua, sifat atau karakter para pembuatnya. Rasanya ada hubungan dialektis antara sifat dan karakter pecipta makanan dan makanan yang diciptakan. Sifat dan karakter si pembuat menentukan dan memengaruhi pilihan dan ukuran bahan,  cita rasa serta tampilan makanan. Sementara cita rasa dan kandungan makanan itu dapat memengaruhi si pembuat yang menikmati makanan tersebut, paling tidak dari segi gizi dan vitamin. Dalam kaitan ini ada yang meyakini bahwa manusia adalah apa yang dimakannya.

 

Keyakinan itu tentu bersifat hipotesis. Kita cermati makanan yang paling digemari di Yogya dan beberapa tempat di luar Jawa. Yogyakarta sangat terkenal dengan gudeg. Gudeg adalah campuran buah nangka yang bisa diisi daging, ayam dan telur. Ciri khas utama gudeg adalah warnanya yang mencolok memanfaatkan warna dari tumbuhan dan rasa manisnya yang sangat legit. Bagi kebanyakan orang yang bukan Jawa, gudeg dianggap sebagai kolak nangka. Penamaan ini dikaitkan dengan rasa manisnya yang sungguh legit. Gudeg menggunakan santan, namun proses memasaknya membuat santan menyatu dengan isinya.

 

Di luar Jawa, Sumatera misalnya, unsur terpenting masakan adalah rasa pedas yang biasanya dipadu dalam bumbu berjenis kare dan santan kental yang dibiarkan menjadi kuah kental. Khusus rendang santan itu dibuat menyatu dengan isinya yang biasanya daging sapi. Makanan Sumatera kaya bumbu rempah dan menonjolkan keharuman rempah.

 

Di Sulawesi, pada umumnya penggunnan cabe juga sangat menonjol. Rica-rica terkenal karena rasa pedasnya yang menyengat. Rasa pedas menjadi ciri utama hampir semua jenis makanan utama di Sulawesi. Pada umumnya mengandalkan kuah yang gurih dan sekaligus pedas, penggunaan santan tidak sedominan makanan Sumatera.

 

Coba kita perhatikan karakter utama orang yang dibesarkan di Yogya, Sumatera, dan Sulawesi. Orang Yogya itu dalam berkomunikasi menggunakan tutur yang terukur, halus, cenderung tidak langsung, sabar, dan hati-hati, serta penuh simbol. Ya gayanya manis dan legit. Bandingkan dengan orang Sumatera dan Sulawesi yang langsung, cenderung lugas, hangat sampai panas, berkobar-kobar. Pedas, kadang menyengat. Cabai bangets.

 

Cermati makanan Sunda. Sebuah rentang yang sangat lebar. Mulai dari lalapan, karedok, sayur asem, asinan Bogor, sampai pepes. Daerah Sunda itu sangat subur. Boleh jadi sewaktu Koes Ploes membuat syair lagu tongkat kayu dan batu jadi tanaman, mereka baru pulang plesiran dari Puncak.

 

Makanan Sunda sungguh memanfaatkan kesuburan dan kekayaan alam. Ringan, sehat, beragam, dan dapat dinikmati oleh hampir semua orang. Lihat saudara-saudara kita dari Sunda, ramah, fleksibel, gembira, dan meriah.

 

Tentu saja kaitan ini bisa diperdebatkan kebenarannya. Namun, secara hipotetis terbuka untuk diuji. Kondisi alam, karakter manusia, dan makanan memang memiliki kaitan. Inilah yang menyebabkan orang yang besar di gunung, seleranya berbeda dengan mereka yang tumbuhkembang di pesisir pantai. Pencernaan kita tampaknya mengikuti kebiasaan yang memiliki hubungan dengan kondisi sekitar, meski selera bisa saja kita tentukan.

 

Saya ingat pengalaman saat belajar di Eropa. Sejumlah teman membawa beras dan rice cooker dari Indonesia agar tetap bisa makan nasi. Sementara yang lain tetap bersikeras mencari resto yang menjual nasi, meski jauh dari tempat bermukim dan harganya bisa dua setengah kali lipat dibanding makanan keseharian di sana. Rupanya belum merasa makan jika belum makan nasi, walaupun sudah melahap roti, hamburger, pizza, dan kebab. Makanan memang ikut memengaruhi dan membentuk kita.

 

Jadi, bukan hal yang luar biasa bila dalam semua agama ada sejumlah aturan soal makan, minum dan puasa. Aturan itu tentu saja memiliki tujuan untuk menjaga agar kita tetap sehat dan menjadi baik. Karena itu

 

MARI MENJAGA MAKANAN AGAR DIRI DAN HIDUP KITA TERJAGA LAHIR BATHIN.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s