MAKAN BESAR DENGAN PARA GURU BESAR

MAKAN BESAR DENGAN PARA GURU BESAR

 

Ini sungguh makan besar. Makanannya sangat beragam, sampai-sampai harus disusun berlapis di meja, yang satu menimpa yang lain. Semuanya merupakan makanan laut. Seakan isi laut tumpah ruah di meja makan. Tetapi yang membuat peristiwa ini sungguh makan besar adalah mereka yang makan. Semuanya tenaga pengajar dari sejumlah perguruan tinggi tersohor di Republik ini. Sebagian besar adalah guru besar, sisanya Insya Allah akan jadi guru besar di masa depan, amin.

 

Suasana makan besar di malam dingin karena hujan deras ini hangat dan heboh. Banyak gelak tawa, lebih banyak lagi topik yang dibincangkan. Tentang beragam makanan khas Makasar, kelezatan telur ikan terbang yang harganya terbang setinggi awan, cumi-cumi kecil yang rasanya gurih, keberagaman rasa sambel, perbedaan rasa ikan antara Jakarta dan Makasar, dan beragam cengceremen tentang kuliner.

 

Sesungguhnya topik pembicraan dalam acara makan malam tidaklah terlalu penting. Topik bisa berganti dengan sangat cepat dan tidak saling berkaitan. Yang terpenting adalah suasana yang akrab, cair, dan menyenangkan. Sebab kesempatan seperti ini adalah saat yang paling tepat untuk memperat silaturahmi, memperluas dan memperkuat jejaring sosial,  membangun pemahaman dan keakraban antar pribadi. Kita bertemu sebagai sesama yang terbebas dari berbagai atribut asal institusi dan bidang ilmu.

 

Pertemuan sebagai sesama dalam keakraban yang cair sungguh dapat mempersatukan kita dalam rasa saling percaya dan hormat menghormati. Ini adalah modal dasar dan utama untuk membangun kerjasama yang lebih konstruktif bagi berbagai keperluan dan tujuan yang lebih fundamental dalam kerangka institusi. Saling percaya dan hormat menghormati di antara insan perguruan tinggi sangat penting maknanya.

 

Sebab, hari depan bangsa ini ikut ditentukan oleh keberadaan, kebertahanan, dan kemajuan perguruan tinggi. Karena itu semua perguruan tinggi harus menumbuhkembangkan semangat berkompetisi di antara mereka untuk menjadi yang terbaik. Artinya, semua perguruan tinggi tanpa kecuali harus membangun dan mentradisikan budaya mutu. Perguruan tinggi tidak cukup hanya memenuhi Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) yang merupakan standar minimal untuk keberadaannya.

 

Setiap perguruan tinggi harus menetapkan standar sendiri yang melampaui SNPT. Hanya dengan cara ini anak-anak bangsa akan mendapatkan peragian kemanusiaan yang bermutu dan mampu bersaing dalam kancah global yang makin kompetitif dan cepat berubah.

 

Pengembangan dan pentradisian budaya mutu pastilah pekerjaan besar yang tidak dapat dilakukan secara instan. Juga tidak dapat dibangun dengan sekadar memenuhi berbagai persyaratan yang ditentukan oleh penilai eksternal yaitu BAN PT. Perguruan tinggi secara bertujuan, terencana, sistematis, terstruktur dan terukur harus meningkatkan berbagai pelayanan, tatakelola, tujuan dan target pencapaian. Dengan demikian dapat meninggalkan sejumlah jejak atau pertanda adanya kemajuan yang kemudian dinilai oleh BAN PT.

 

Merupakan kesalahan yang fatal bila perguruan tinggi melakukan hal yang sebaliknya yaitu mengusahakan berbagai rekayasa hanya untuk memenuhi indikator yang ditetapkan oleh BAN PT. Padahal sejatinya tidak ada usaha yang signifikan untuk meningkatkan mutu melalui pentradisian budaya mutu. Budaya mutu hanya bisa ditumbuhkembangkan dengan upaya yang bersifat sistematis, bertahap dan berkelanjutan.

 

Bila perguruan tinggi mampu mentradisikan budaya mutu dalam penyelenggaraan tatakelolanya. Pastilah terjadi perubahan signifikan dalam tatacara penilaian perguruan tinggi. Bukan perguruan tinggi yang harus mengikuti dan memenuhi standar BAN PT seperti yang selama ini terjadi. Tetapi BAN PT yang harus terus menerus memperbaiki standar, indikator, dan instrumennya mengikuti laju peningkatan mutu perguruan tinggi. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya kita harapkan.

 

Sudah barang tentu, dalam upaya untuk menumbuhkembangkan dan mentradisikan budaya mutu, perguruan tinggi juga mesti mengembankan kerjasama antar-perguruan tinggi. Maknanya, ada saat untuk berkompetisi secara konstruktif-positif, dan ada kala untuk bekerjasama dalam kehangatan bagi kemajuan bangsa.

 

Bangsa ini tidak dapat dibangun oleh hanya satu dua perguruan tinngi yang unggul. Anak bangsa tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Karena itu perguruan tinggi perlu saling memperkuat, peduli dan berbagi untuk kemajuan bersama. Tentu saja setiap perguruan tinggi tetap harus menonjolkan keunggullan khas masing-masing yang menjadi ciri khas atau karakternya.

 

Keakraban yang hangat, menyenangkan dalam atmosfir saling menghormati dan saling percaya yang sangat kental mewarnai makan besar dengan para guru besar, dibutuhkan untuk membangun kerjasama perguruan tinggi. Sebab,

 

KEMAJUAN BANGSA INI SANGAT DITENTUKAN OLEH KESUNGGUHAN PERGURUAN TINGGI MEMBANGUN DAN MENTRADISIKAN BUDAYA MUTU YANG BERKELANJUTAN.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s