KECIL-KECIL MEMATIKAN (2)

KECIL-KECIL MEMATIKAN (2)

 

Kuman penyakit terus berevolusi, tambah kuat dan ganas. Sudah terbukti para kuman itu terus merespon serangan manusia terhadapnya. Berlaku hukum evolusi di sini, apa pun yang tak dapat mengalahkan kita, membuat kita bertambah kuat. Ini rumusan filosofis dari Nietzsche atas pandangan Darwinian.

 

Dalam konteks inilah bisa dimengerti mengapa ada malaria versi baru, demam berdarah generasi baru, TBC jenis baru, dan yang paling berkembang adalah flu karena memiliki banyak sekali variannya. Menghadapi ini semua, manusia mahkluk paling kreatif dan inovatif terus saja mencaritemukan berbagai solusi berupa obat dan mengembankan teknologi kedokteran. Dalam arti tertentu dapat dikatakan, ini pertarungan hidup-mati bagi manusia dan para kuman penyakit.

 

Sejak Alexander Fleming pada 1928 yang karena kekuranghati-hatiannya menemukan penisilin, pencarian dan temuan obat tidak pernah berhenti. VOA (Voice of America) melaporkan bahwa John Connor ahli virus dari Universitas Boston menemukan senyawa kimia yang bisa membunuh virus berbahaya Ebola, pemicu campak, rabies dan gondongan. Kita tahu Ebola, campak dan rabies telah membunuh banyak orang. Para peneliti Australia melakukan terobosan menemukan vaksin flu universal yang bisa mengatasi flu yang terus berkembang dengan sangat cepat dan makin mematikan. Harvard Medical School menemukan vaksin super untuk bayi yang baru lahir. Vaksin ini sangat berguna karena bayi yang baru lahir sangat rentan. Peneliti Amerika Serikat yang lain menemukan plester khusus untuk bayi yang kulitnya sangat halus dan sensitif.

 

Terkait dengan HIV-AIDS telah pula ditemukan obat yang masih terus diujicoba. Dua jenis obat yang bisa mencegah penularan telah diujicoba yaitu Tenofovir dan Emtricitabine. Juga ada Methadone yang bisa mengurangi resiko penularan. Universitas Benin di Nigeria menemukan Decontion X (DX) yang dapat menyembuhkan AIDS dan kini masih terus diuji.

 

Para peneliti dari Universitas Airlangga bekerjasama dengan Prof. Max Reynolds dari Australia menemukan obat deman berdarah dari bahan herbal. Sementara itu Dr. Steph Wright menemukan kandungan ganja THCV dan cannabidiol yang bisa melindungi sel alami yang menghasilkan insulin dalam tubuh sehingga dapat mengontrol gula darah, menurunkan kolesterol dalam darah, dan membakar lemak.

Stellenbosch University di Afrika Selatan sedang mengujicoba obat formula baru untuk TBC jenis baru. Peneliti di Yale University mengembangkan obat untuk mengatasi lupus. Para pakar Salk Institute for Biological Studies terus mengujicoba obat untuk Alzheimer. Penemuan lain adalah Cordycepin dari jamur ulat untuk kanker, dan ujicoba Perjeta khusus untuk kanker payudara.

 

Inilah sekelumit usaha sistematis yang dilakukan manusia untuk memerangi kuman penyakit. Tentu saja usaha ini melibatkan para ahli yang memiliki ilmu dan kompetensi tingkat tinggi, dan membutuhkan dana miliaran dolar. Penemuan obat biasanya membutuhkan ahli dari berbagai disiplin ilmu, dan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Ujicoba dilakukan berkali-kali, bahkan seringkali melibatkan ujicoba pada binatang. Karena obat bukan saja harus bisa menyembuhkan penyakit, juga tidak memiliki efek samping yang membahayakan pemakainya. Tentulah upaya ini sungguh sangat membutuhkan daya tahan, semangat, dan kesabaran. Sungguh upaya yang tidak main-main melawan makhluk ultra kecil yang menjadi musuh tak terlihat bagi manusia.

 

Manusia tak berhenti di situ. Dikembangkan sejumlah teknologi kedokteran sebagai upaya untuk menghadapi penyakit dengan lebih efektif memanfaatkan perkembangan teknologi. Kini sudah sangat berkembang stem cells solusi teknologis dengan cara meregenerasi sel yang rusak karena penyakit. Ada pula obalon menempatkan pil yang dapat berkembang seperti balon di lambung agar tidak cepat lapar, ini upaya untuk memerangi obesitas. Ilmuwan Jepang sedang mengembangkan hati buatan dari sel induk.

 

Peneliti Zurich membuat robot ukuran nano berukuran mikroskopis membantu melakukan operasi halus. Ukurannya setara dengan empat helai rambut kita. Juga ada Robotic Laparascopy Surgery yang diberi nama daVincy Surgery System untuk pembedahan dada, perut dan panggul. Teknologi ini menggunakan computer, console dan joy stick, membedah menggunakan joy stick tanpa menyentuh pasien, organ yang dioperasi muncul di layar komputer, bener-bener mirip bermain games di komputer.

 

Telah pula dikembangkan robot kepiting untuk mengangkat tumor dari perut tanpa pembedahan. Tumor di ambil dari mulut menggunakan alat seperti japit kepiting. Cara ini mudah, cepat, dan praktis. Demi kepraktisan telah pula diciptakan homopurifier penyaring darah mini seukuran tangkai pulpen yang bisa diselipkan pada pembuluh nadi di lengan. Fungsinya menyaring racun, kuman, dan virus di dalam darah. Dengan cara lama kuman SARS dideteksi 90 hari, dengan alat ini hanya beberapa jam saja.

 

Tufs University memanfaatkan benang jaring laba-laba sebagai bahan untuk ligamen buatan, biasa digunakan untuk mengganti ligamen lutut yang rusak. Juga bisa dimanfaatkan untuk menjahit luka. Intel mengembangkan Mobile Clinical  Assistant (MCA) tablet PC dengan layar 10 inchi menyimpan riwayat pasien dengan lengkap dan sistematis. Penyakit juga bisa didekati dengan analisis DNA setiap orang, karena semakin diyakini DNA tiap orang berbeda dan merespon kuman dengan cara berbeda.

 

Berbagai upaya ini tentulah tidak pernah berhenti, terus dilakukan untuk melawan kuman dan mengatasi berbagai penyakit dengan cara yang semakin mudah, efektif, dan praktis. Semuanya ini menunjuktegaskan betapa manusia adalah makhluk paling jenius, sang kreator dan inovator yang tersu mencari dan menemukan.

 

Namun, semuanya terasa agak lucu dan ironis. Sebab semua kejeniusan, kreativitas dan daya inovasi yang luar biasa dari manusia ini, ditujukan pada makhluk ultra kecil bernama kuman.

 

Dengan getir kita bisa bertanya, siapa yang sebenarnya jenius, kreatif dan inovatif? Kuman atau manusia? Padahal kuman itu tak memiliki otak sebagaimana manusia. Penaklukan kuman dan penyakit merupakan upaya manusia untuk mengatasi alam, sejauh ini kegagalan lebih menonjol daripa keberhasilan.

 

Berapa gelintir saja di antara manusia yang sungguh menyadari bahwa keberadaan kuman penyakit yang ultra kecil adalah tanda Kebesaran dan Kehadiran Tuhan. Tuhan sungguh hadir dalam kehidupan manusia dengan banyak fenomena dan modus. Kuman penyakit hanyalah salah satunya. Apakah kita baru menyadarinya saat kuman itu menguyah kita, dan kita merasa sudah di tepi jurang kematian, kala sakratul maut berada di tenggorokan?

 

KEBERADAAN KUMAN, SEMESTINYA TERUS MEMICU KESADARAN KITA AKAN KEHADIRAN TUHAN KAPAN DAN DI MANAPUN KITA BERADA.

 

 

 

One thought on “KECIL-KECIL MEMATIKAN (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s