SADAR MATI

Semua yang hidup pasti mati. Kita semua mengetahuinya. Namun, apakah kita sungguh menyadarinya? Rasanya, belum. Atau bahkan, tidak? Pengetahuan barulah jalan masuk bagi penghayatan. Itu berarti tahu akan mati, belum tentu sadar mati.

 

Hidup kita merupakan rutinitas yang niscaya, tak terhindarkan. Kita larut, hanyut, tenggelam dalam pekerjaan detik demi detik, dan acap kali tiba-tiba kaget karena hari telah rembang petang. Sepanjang senja, sering juga sampai malam terjebak di jalan macet menuju rumah. Sesampai di rumah yang tersisa hanyalah keletihan yang terlalu. Berbincang seadanya dengan keluarga, lantas lenyap ditelan mimpi. Begitulah setiap hari. Di akhir pekan mungkin kita menjalani rutinitas yang agak berbeda, berlibur bersama keluarga. Seringkali liburan yang juga sudah terjadwal layaknya pekerjaan. Kadang bisa memberi kegembiraan, belum tentu mendatangkan kebahagiaan.

 

Karena sudah terbiasa seperti ini bertahun-tahun, kita merasa inilah hidup yang mesti dijalani. Seakan tak ada pilihan lain. Jalani rutinitas dan monotoni tanpa pernah lagi bertanya, apa memang harus begini? Kita jadi mirip mesin yang terus berputar tanpa henti mengikuti kerangka fikir produktifitas, efisiensi, dan efektivitas. Masih lagi dibumbui dengan nilai tambah. Dengan cara inilah kita dinilai dan dihargai. Itulah yang menyebabkan sering kali manusia diperlakukan layaknya sendal jepit atau batang korek api. Tak lagi dipakai bila tak berguna, bahkan harus dibuang setelah digunakan. Manusia direndahkan menjadi sekadar benda. Identitasnya tak lebih sekadar angka-angka.

 

Mestinya  kita kerja untuk hidup. Tetapi nyatanya kita menjalani hidup untuk kerja. Kerja seharusnya merupakan aktualisasi diri yang menegaskan keberadaan kita sebagai manusia, wahana untuk mengejawantahkan seluruh potensi yang tersimpan di dalam diri menjadi karya-karya terbaik, menjadi kinerja yang bermanfaat bagi sesama. Kerja adalah modus terbaik untuk mengabarkan kehadiran kita bagi sesama. Kerja adalah cara yang paling rasional untuk tunjukkan inilah aku, tentu dengan amanah, tanggung jawab, dan prestasi. Kerja adalah dimensi penting kemanusiaan kita. Melalui kerja kita menata dan melampaui alam, mengubah alam menjadi karya yang berguna bagi kemanusiaan.

 

Namun, kerja dan pekerjaan kini menjadi penjara yang membuat kita berpacu dengan waktu, bahkan menghisap seluruh energi hingga tak ada lagi yang tersisa. Kerja menenggelamkan kita dalam rutinitas yang acap kali membuat kita lupa, bahkan pada diri sendiri. Kerja kini bermakna target yang harus dicapai. Ketentuan ini membuat kebanyakan kita hanya fokus mengejar target. Seakan tak ada celah bagi yang lain, yang bisa jadi lebih bermakna bagi hidup kita, kini dan nanti. Kita sering alpa, manusia tidak diciptakan hanya untuk kerja dan demi kerja. Kerja meskipun sangat penting, tetaplah hanya satu dimensi saja dari kemanusiaan kita yang sesungguhnya sangat kaya penuh corak dan warna. Tetapi kita memiskinkannya dan membuatnya pudar dengan kerja bagai robot.

 

Di samping kerja yang hanya berorientasi target dan telah melucuti banyak nilai kemanusiaan kita, ada pula sejumlah masalah yang seakan terus memasung fikiran, kesempatan, dan perhatian. Macam-macam masalah, mulai dari masalah pribadi, masalah rumah tangga, dan masalah di tempat kerja. Keseluruhannya membuat kita tak berdaya.

 

Hidup jadi terasa sangat padat, bergerak cepat, penuh liku dan gajlukan  yang benar-benar mendamparkan kita pada lelah raga, letih hati, mati rasa, dan kehilangan gairah serta orientasi. Hidup tak lagi dirasakan sebagai berkah yang pantas disyukuri. Hidup terasa menjadi beban yang teramat berat. Hidup benar-benar menjadi terasa tak bermakna, dijalani dengan rasa terpaksa.

 

qSialnya, semua beban ini justru menyedot kita dalam labirin tak bertepi, membuat kita tak lagi sensitif pada kenyataan yang paling tak terbantahkan bahwa pada akhirnya kita akan dan pasti mati. Kesadaran bahwa kita pasti mati tampaknya telah tertimbun oleh macam-macam sampah yang dimuntahkan oleh hidup yang kehilangan arah.

 

Boleh jadi kita sangat fasih berbicara tentang hidup yang terbatas dan pasti berakhir.  Bahkan mungkin kita selalu mengesankan pada orang lain bahwa kita selalu ingat akan mati. Kita seringkali menonjolkan berbagai kebaikan yang telah kita lakukan sebagai bukti bahwa inilah cara kita mengisi hidup yang berujung mati. Tetapi sayang sekali, bersamaan dengan itu kita bersibuk diri melakukan apa saja untuk memperoleh segala sesuatu yang sepenuhnya duniawi seperti kekuasaan, jabatan, dan rezeki yang sebenarnya bukan hak kita. Mestinya orang yang sadar betul akan kematian tak pernah silau oleh godaan duniawi. Selama orang begitu terlekat dengan dunia, sebenarnya ia sedang dibekap oleh hidup yang penuh racun. Kesadaran akan mati hanya penghias bibir.

 

Ada pula orang yang secara tegas menyatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah jihad di jalan Tuhan, sebagai upaya untuk memaknai hidup sebelum kematian tiba. Namun, bersamaan dengan itu dengan cara halus, kadang bahkan sangat kasar ia merampok hak-hak orang, menyalahgunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan komplotan atau gerombolannya. Orang seperti ini hanya menjual omongan tanpa rasa malu. Hakikinya mereka adalah rampok yang sangat rompak. Meski bertopeng malaikat, semua orang faham, hatinya berbulu, omongannya racun. Meski dibalut madu.

 

Sadar akan kematian tak pernah membuat orang menjadi pasif, apalagi menyerah pasrah. Kesadaran akan kematian justru merupakan pemantik semangat untuk melakukan yang terbaik bagi sesama dengan semangat keikhlasan. Sadar mati memicu orang untuk berbagi, dan mengusahakan apa pun yang terbaik bagi kemanusiaan, tanpa peduli apakah orang lain menghargai atau tidak. Dalam kebaikan, penilaian sesama tidaklah terlalu penting.

 

Sadar mati mestinya lahir dari pemahaman dan penghayatan mendalam bahwa hidup yang bermakna adalah apabila kita mau dan mampu mengusahakan dan memberikan yang terbaik bagi sesama. Dan itu diejawantahkan dengan perbuatan nyata, tanpa pamrih untuk mendapatkan sesuatu. Karena kebaikan sejati bukanlah transaksi. Selagi kita bergairah melakukan kebaikan layaknya orang jual beli, sebenarnya kita tidak sedang berbuat baik. Kita hanyalah pengasong kebaikan.

 

Bila kita terus saja berbicara bahwa hidup ini pasti berakhir pada mati, namun rasa cinta pada dunia begitu bergelora, hakikinya dunia masih mempesona kita. Selama itu omongan tentang kesadaran akan kematian hanyalah iklan murahan. Sebab,

 

KESADARAN AKAN MATI, MESTINYA MENDORONG KITA BERBUAT KEBAIKAN DENGAN KEIKHLASAN.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s