INDONESIA MEMANG MEMBUTUHKAN PEMIMPIN YANG BEDA

 

Jokowi itu beda. Saya suka dia, karena beda aja. Jokowi mungkin gak sehebat yang lain, tapi dia beda banget. Saya sekarang lagi nabung. Nanti kalo Jokowi dicalonin saya mau pulang kampung, saya mau kampanyein biar Jokowi jadi presiden. Presiden wong cilik. Presiden rakyat.

 

Ini ungkapan sebut saja namanya Bingah. Lelaki 56 tahun bertubuh hitam dan kurus, tukang ojek sepeda di sekitar stasiun Beos, Kota. Sepanjang jalan dari Beos ke Pasar Pagi Mangga Dua, dia terus saja bertutur. Aku mendengarkan dengan tekun di boncengannya. Terdengar nafasnya ngos-ngosan. Ia terampil meliak-liuk di tengah kepadatan lalu lintas yang sangat macet. Di antara ngos-ngos nafasnya, ia bicara tentang harapannya pada Jokowi. Berulang-ulang ia katakan Jokowi beda, Jokowi presiden rakyat Indonesia. Kata beda dan rakyat ia ulangi berkali-kali bagai doa.

 

Jokowi adalah manusia biasa, malah sangat biasa, seperti kebanyakan kita, rakyat biasa. Sebagai manusia biasa, bila dicubit pasti ia kesakitan. Melekat dalam dirinya kelebihan dan kekurangan. Kekurangan yang paling tampak adalah kekurangan berat badan. Bentuk tubuhnya mirip Bingah si tukang ojek sepeda.

 

Bingah merasa Jokowi adalah penjelmaan dirinya dan rakyat seperti dia. Kurus, kelihatan kurang gizi, wajahnya ngampung, omongannya apa adanya. Rasanya bukan hanya Bingah yang merasa Jokowi adalah semacam perwakilan dirinya dalam lingkar kuasa. Bingah dan jutaan rakyat kecil tiba-tiba merasa senang aja ada Jokowi dalam tampuk kuasa.

Kebanyakan mereka malah tidak tahu bagaimana mengunkapkannya. Mereka cuma merasa Jokowi adalah bagian dari mereka.

 

Selama ini kuasa dan kekuasaan selalu terkesan angker, angkuh, dipadati para pengawal bertubuh tegap dan sangat sehat, mengerumuni dan menjaga dengan ketat sang penguasa yang tambun, kelihatan sangat makmur dengan seyum yang tampak dibuat-buat. Kekuasaan dengan demikian menjadi sangat terjarak dari rakyat. Terpisah sangat jauh.

 

Jokowi, beda. Dengan tubuh ceking, mirip penderita cacingan, ia berjalan dengan wajah lugu dan senyum yang selalu manis. Blusukan ke mana-mana. Ia bisa dan suka menyapa warganya seperti teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Ia berbicara dengan gaya bicaranya yang memang merakyat. Karena ia berasal dari rakyat. Dan tetap kerakyatan, meski telah jadi penguasa.

 

Jokowi tak pernah terdengar berpidato tentang Indonesia yang cerlang cemerlang, tentang Indonesia menjadi macan, dengan suara lantang, dan gambar gegap gempita yang harga pembuatan dan penyiarannya berulang-ulang di televisi pastilah sangat mahal. Mungkin cukup untuk membantu menyekolahkan ratusan anak miskin, bahkan ribuan anak miskin dan terlantar yang putus sekolah.

 

Jokowi tak penah mengucapkan janji-janji yang sangat hebat tentang cita-cita masa depan Indonesia, mematut-matutkan lidah menggunakan bahasa rakyat supaya terasa dekat dengan rakyat. Jokowi menggunakan bahasa rakyat, karena hanya itu yang dia punya. Ia tak mau berjanji, sebagai bagian dari rakyat dia tahu makna janji bagi rakyat. Bagi rakyat janji adalah harapan, sedangkan bagi kebanyakan politisi, janji adalah komoditi tipu-tipu, penghias bibir menjelang pemilu. Mirip politisi berbasis agama yang rajin caca Ayat Kursi dari Al Quran, tetapi bila sudah dapat kursi lupa pada ayatnya.

 

Jokowi memang tidak sehebat calon lain. Ia hanya beda. Calon lain adalah bagian dari kekuasaan masa lalu. Malah bagian terpenting dari kekuasaan masa lalu yang korup, otoriter dan lebih sering menyusahkan rakyat. Karena itu, selain Jokowi memiliki sejumlah masalah akut dari masa lalu.

 

Jokowi beda. Ia sama sekali tidak punya hubungan dengan kekuasaan masa lalu. Karena itulah ia mampu membuat kekuasaan menjadi terbuka, ramah, peduli, mendengarkan, empatis, dan lekat dengan rakyat.

 

Jokowi adalah bagian dari birokrasi. Namun, bukan tipe birokrat yang jadi benalu bagi pohon keindonesiaan. Tampaknya dan semoga, ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan seperti yang dipraktikkan banyak politisi dan pejabat dari dulu hingga kini.

 

Bagi yang tidak suka Jokowi, silahkan. Ini negara demokrasi. Dulu saat musik dangdut dimusuhi pada zaman orde baru, Rhoma Irama bilang yang tidak suka musik Melayu boleh-boleh saja, itu hak azasi, tapi jangan mengganggu.

 

Meskipun tidak semua rakyat indonesia merasakannya, tetapi tidak sedikit rakyat Indonesia merasakan, bila Jokowi berkuasa, itu artinya kemenangan bagi rakyat.

 

INDONESIA MEMANG MEMBUTUHKAN PEMIMPIN YANG BEDA.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s