CERDAS

Kecerdasan adalah kontroversi. Teori dan rumusan kecerdasan berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangnnya tidak menempuh jalan lurus lempang seperti mobil melaju di jalan tol. Tetapi lebih sering saling bentur antara satu teori dengan teori lain. Perkembangan teori kecerdasan lebih mirip dengan apa yang dijelaskan Kuhn tentang revolusi ilmiah yaitu adanya anomali, benturan dan lahirnya teori yang baru sama sekali.

 

Dulu diyakini tingkat IQ tidak bisa berubah. Cara mengukur IQ juga terbatas pada angka, bahasa dan bentuk-bentuk yang sederhana. Selanjutnya cara mengukur IQ semakin kompleks dan beragam. Namun keyakinan bahwa tingkat IQ tetap, tidak bisa berubah masih dipertahankan. Kemudian muncul teori baru bahwa tingak IQ bisa berubah walau perubahannya tidak banyak.

 

Dalam konteks inilah perdebatan tentang plastisitas otak yaitu apakah otak tetap dapat tumbuh kembang sepanjang hayat, atau hanya sampai usia balita, menjadi sangat menarik dan penting. Kontroversi ini juga seru dan berlangsung lama.

 

Beragam penelitian dan fakta, serta kejadian dramatis yang dialami banyak orang akhirnya menegasbuktikan bahwa plastisitas otak terjadi sepanjang hayat. Tentulah laju kecepatannya melambat sesuai usia. Makin bertambah tua usia, plastisitas itu tidak lagi secepat dan seresponsif anak balita. Tetapi otak tidak statis. Otak terus berkembang bila kita dengan sengaja menciptakan tantangan. Betrand Russel, Sutan Takdir Alisyahbana, Conny R. Semiawan, dan H.A.R Tilaar membuktikannya dengan tetap menulis karya bermutu pada usia sangat lanjut. Jadi sangat tidak benar bila menjadikan usia tua sebagai alasan untuk tidak lagi berkarya.

 

Penelitian lanjutan menghasilkan pandangan baru bahwa kecerdasan itu sesungguhnya tidak tunggal. Kecerdasan itu jamak, tidak hanya kognitif-intelektual. Ada yang lain seperti emosional, sosial, dan spiritual. Malah kini berkembang istilah pelangi kecerdasan untuk menggambarkan betapa sangat beragamnya kecerdasan.

 

Dalam tautan ini sangat menarik untuk menyimak apa yang ditulis Dan Harley dalam SMARTER: The New Science of Building Brain Power (2013). Ia bilang bukanlah hal sulit untuk menjadi cerdas. Kecerdasan bisa dibangun dengan cara menjaga kebugaran tubuh, artinya harus rajin olah raga dan menjaga makanan, rajin mendengarkan musik terutama selagi muda, lebih bagus bila bisa memainkan alat musik. Rajin main games. Tentu dalam hal yang satu ini harus dipilih games yang bisa mengasah kecerdasan dan diatur waktunya dengan baik. Jangan lupa melatih ingatan dan memecahkan masalah setiap hari. Berlatih meditasi atau selalu shalat dengan khusu’ juga sangat membantu. Yang terpenting dilakukan secara rutin.

 

Memang telah berkembang di masyarakat anggapan bahwa main games itu bisa merusak mata dan jiwa. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah bila games yang dimainkan anak-anak kita melulu kekerasan dan nggames sampai tak ingat waktu. Bila games yang dimainkan dipilih dengan bijak, dan bermain dalam waktu yang terukur akan positif pengaruhnya. Tidak sedikit games yang mengajarkan anak berempati, biasanya yang bersifat Role Playing Game (RPG). Seperti anak mempraktikkan menjadi dokter atau perawat yang menolong orang, atau menjadi detektif yang memecahkan masalah rumit.

 

Namun, memang tidak mudah menemukan games yang positif, karena dunia games didominasi beragam kekerasan dan kecenderungan melawan kemapanan. Oleh sebab itu peran aktif orang tua untuk membimbing anak sangat penting.

 

Mendengarkan musik memang sekaligus merangsang banyak bagian otak. Seluruh belahan otak yaitu kanan dan kiri atas, serta kanan dan kiri bawah yang memiliki fungsi berbeda diaktivasi oleh musik. Tentu musik yang diiringi lagu juga sama fungsinya.

 

Memainkan alat musik lebih besar lagi manfaatnya karena mensintesiskan keterlibatan tubuh dan semua belahan otak. Phytagoras, filsuf dan ahli matematika kuno sudah menunjukkan bukti hubungan atau korelasi erat antara matematika dan musik. Jadi, musik tidak hanya soal emosi, juga harmoni nada yang mempersyaratkan perhitungan, meskipun tentu berbeda dengan hitungan untung rugi para pedagang.

 

Howard Gardner yang merumuskan kecerdasan majemuk juga menunjukkan bahwa kecerdasan musikal itu bisa jadi pengikat atau perekat berbagai kecerdasan dalam otak kita. Sementara itu dalam revolusi pembelajaran berupa Quantum Learning, musik mendapatkan peran penting agar pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna dapat diujudkan.

 

Musik memang dapat memengaruhi otak secara sangat bermakna. Apapun jenis musiknya. Itulah sebabnya kini berkembang genre musik yang dalam penciptaanya sangat memperhitungkan dan mengaitkannya dengan gelombang otak. Genre ini paling banyak berkembang untuk pencerdasan bayi dan anak balita menggunakan musik. Juga musik yang diciptakan para DJ yang mampu memicu goyangan menghentak di berbagai club, pub dan diskotik di seluruh dunia. Musik-musik Pitbull, dan banyak DJ tingkat dunia sungguh memanfaatkan secara canggih gelombang otak.

 

Kita mesti memanfaatkan musik lebih untuk kecerdasan dalam makna yang positif. Musik memang mampu membuat kita terlena dan tidak terasa menikmati waktu berlalu. Ternyata mengerjakan apapun diiringi musik meningkatkan daya tahan jangka panjang otak kita. Sudah barang tentu, musik yang didengarkan adalah yang kita senangi.

 

Melatih ingatan yang dipersyaratkan oleh Hurley bisa dilakukan dengan menghafal lagu. Mengingat nomor telepon atau pin bb teman dengan tidak mencatatnya. Banyak cara untuk melatih ingatan seperti mengisi teka-teki silang. Melatih ingatan sangat penting karena semakin terbukti bahwa memori atau ingatan itu sangat penting dalam peningkatan kinerja otak, pun untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

 

Menarik untuk memperhatikan kebiasaan orang Jepang dari anak-anak sampai kakek-nenek yang sangat senang memainkan sudoku. Meyusun angka seperti teka-teki silang, dengan memperhatikan sejumlah aturan. Memainkan sudoku dengan teratur mampu mencegah kelupaan dan kepikunan dan meningkatkan kinerja otak.

 

Jadi, dangat disayangkan bila pendidikan kita pada semua tingkat kurang memberi kesempatan bagi para pembelajar untuk memecahkan masalah. Kebiasaan memecahkan masalah ternyata sangat meningkatkan kecerdasan.

 

Semua yang dipersyaratkan itu harus dilakukan secara rutin, terus menerus, dan konsisten. Hanya dengan cara ini kecerdasan bisa ditumbuhkembangkan dan diasah. Karena pada hakikatnya

 

KECERDASAN TIDAK DAPAT DITUMBUHKEMBANGKAN SECARA INSTAN.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s