KECERDASAN DAN BERMAIN

Bermain itu sangat menyenangkan. Main, bermain dan permainan itu setua umur manusia. Bermain itu bebas usia. Artinya tak ada batasan usia untuk bermain. Itulah sebabnya semua manusia, tanpa memandang usia, senang bermain. Minimal senang menyaksikan permainan sebagai bagian dari ikut bermain. Itulah sebabnya perhelatan piala dunia sepak bola selalu heboh dan sangat melibatkan banyak orang dengan penuh emosi.

 

Bayangkan berapa duit yang berputar dalam bisnis bermainan dan permainan. Hampir di seluruh dunia ada kompetisi sepak bola yang melibatkan banyak penggemar. Belum lagi kompetisi olahraga lain seperti basket, volley, futsal, semua jenis balap, sampai memancing. Yang tidak kalah spektakuler adalah bisnis games yang melibatkan perusahaan besar seperti Sony, Nintendo, dan Microsof.

 

Di seluruh dunia, berbagai suku bangsa mengembangkan permainan sangat khas yang kini diberi istilah permainan tradisional untuk membedakannya dengan permainan moderen. Artinya, bermain dan permainan itu sangat lekat erat dengan manusia. Bila kita perhatikan lebih cermat, hewan pun senang bermain-main. Bukan hanya binatang yang tergolong jinak seperti anjing, kucing, dan monyet senang bermain. Binatang buas seperti singa dan harimau pun suka bermain-main.

 

Bagi manusia, bermain ternyata bukan sekadar kegiatan sampingan yang tak penting. Johan Huizinga, filsuf dan guru besar kebudayaan asal Belanda sampai menyebut manusia homo ludens, makhluk yang bermain. Ia membangun teori bahwa kebudayaan dibangun melalui dan dengan bermain dalam bukunya berjudul, Homo Ludens: a Study of Play Element in Culture (1938).

 

Berbagai studi dan penelitian yang dilakukan oleh para ahli neurosains dan pendidikan anak membuktikan bahwa bermain dan permainan sangat membantu tumbuh kembang anak, terutama otaknya. Jeni Riley ed. dalam Learning In The Early Years (2004) menjelaskan bahwa bagi anak model pembelajaran yang baik adalah play-based-activiting. Bermain sebagai landas tumpu bagi semua aktivitas. Bermain memberi kesempatan bagi anak untuk merasakan berbagai pengalaman dengan sesama dan benda, melakukan eksplorasi yang relatif sangat luas sesuai perkembangan usianya. Bermain bukan saja memicu dan memacu perkembangan dan peningkatan kecerdasan intelektualnya, juga kecerdasan lain seperti kecerdasan sosial, kinestetis, dan bahasa.

TIME dalam Your Brain: A User’s Guide (2009) menguraikan bahwa bermain dan permainan sangat membantu pembentukan jejaring sinapsis dalam otak anak. Beragam pengalaman dalam bermain dan dengan permainan benar-benar sangat membantu menegembangkan seluruh bagian atau lobus dalam otak anak. Bukan hanya bagian tertentu seperti bagian yang mengatur kegiatan motorik.

 

Atas dasar fakta itulah mengapa perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi permainan anak terus berinovasi menciptakan beragam permainan anak yang sangat memperhatikan kualitas, warna, bentuk, tantangan, dan keasyikan bermain bagi anak. Saat anak menyusun balok misalnya, terjadi sekaligus kegiatan yang bersifat fisik, dan psikis. Tangannya menyusun, dan imajinasinya terus berkembang. Jika ia menyusun balok bersama teman, maka kecerdasan sosialnya juga terasah.

 

Itulah sebabnya mengapa di seluruh dunia, kini secara sengaja dikembangkan model pendidikan bagi anak usia dini yang dikenal dengan istilah Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD. Sewaktu berada di Swedia saya melakukan observasi di tempat PAUD diselenggarakan. Menu belajarnya adalah 100 persen bermain. Mereka meyakini BERMAIN=BELAJAR. Beragam permainan disediakan. Apa pun yang dibutuhkan bagi tumbuh kembang anak seperti pemahaman angka dan bahasa diberikan melalui bermainan dan permainan.

 

Terdapat perbedaan antara bermain dan permaianan di dalam dan luar ruang. Sebab tujuan yang hendak dicapai melalui bermain dan permainan itu memang tidak sama. Setiap aktivitas bermain dan permainan sengaja dirancang untuk mengembang dimensi atau aspek yang berbeda-beda bagi tumbuh kembang anak. Dengan demikian keseluruhan dimensi kemanusiaan si anak dilatih, dikembangkan dan dipertajam. Bila mengikuti istilah Gardner, dapat dikatakan seluruh kecerdasan anak dalam kategori kecerdasan majemuk benar-benar dilayani.

 

Bermain dan permainan tentulah bukan hanya untuk anak bagi tumbuh kembangya. Bermain dan permainan juga sangat dibutuhkan manusia dewasa. Bagi manusia dewasa bermain dan permainan sangat berguna untuk kebugaran tubuh dan otaknya. Bermain memberikan dampak relaksasi yang menyenangkan, sehingga otak dan fikiran manusia dewasa dapat dipertahankan kebugaran, kesegaran, dan ketajamannya.

 

Bermain dan permainan bagi manusia dewasa terbukti mampu memperbaiki dan memperbaharui berbagai jaringan sinapsis. Inilah yang disebut sebagai penyegaran otak. Bermain dan permainan mampu mengatasi dan melepaskan kita dari stres. Stres diketahui sangat merusak otak.  Bermain dan permainan dengan demikian sangat membantu menjaga kebugaran dan kinerja otak.

 

BERMAIN DAN PERMAINAN  MEMBANTU TUMBUH KEMBANG DAN PENINGKATAN KINERJA OTAK.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s