CINTA DAN KEBAHAGIAAN MEMBERI DAMPAK POSITIF BAGI TUMBUH KEMBANG DAN KINERJA OTAK

KECERDASAN, CINTA DAN KEBAHAGIAAN

Revolusioner. Saat penelitian otak mampu menelisik sampai pada tumbuh kembang bayi dalam rahim ibu, sungguh mencengangkan. Ternyata bagian otak yang mengendalikan emosi yaitu sistem limbik, lebih dulu tumbuh, baru kemudian menyusul bagian yang mengatur pemikiran rasional yaitul frontal lobes atau neokorteks. Disebut neokorteks sebab baru tumbuh dan sangat khas manusia.

Apa dan mengapa otak emosi ini semakin jelas setelah Joseph LeDoux melakukan penelitian mendalam dan menuliskannya pada The Emotional Brain (1996). Buku terkenal Emotional Intelligence yang ditulis Daniel Goleman, menjadikan temuan dan buku LeDoux sebagai fondasinya.

Meskipun pada mulanya diragukan, dipersoalkan dan digugat, kini kecerdasan emosional diakui keberadaan dan kepentingannya. Penelitian-penelitian mutakhir menegaskan bahwa keberhasilan dalam mengarungi bahtera kehidupan ternyata lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional tinimbang kecerdasan kognitif intelektual.

Bahkan keberhasilan dalam bidang-bidang akademik juga sangat ditentukan oleh kecerdasan emosional. Bisakah kita mengerjakan soal ujian apapun, mulai dari pelajaran umum seperti Kewarganegaraan sampai yang sulit seperti statistik bila menjelang ujian ada SMS dari sang kekasih yang isinya, hubungan kita berakhir sekarang, mohon maaf.

Hantaman keras emosi itu menyebabkan otak rasional kita lumpuh, tak berdaya, dan bisa jadi macet total. Ini terjadi karena, menggunakan istilah Goleman, otak emosi memiliki kemampuan membajak otak rasional. Mekanisme pembajakan inilah yang terjadi jika manusia tenggelam dalam emosi positif dan negatif.

Bila sedang sangat gembira, bahagia atau jatuh cinta, tiba-tiba berkata pun tak bisa. Paling hanya air mata hangat mengalir, lidah kelu. Pun saat kemarahan menguasai sistem limbik, maka semua pertimbangan rasional hilang, yang ada hanya makian, pukulan, lempara, bahkan bisa berujung pembunuhan. Bila pembajakan itu berhasil, sudah ada korban, barulah otak rasional bekerja, dan sang pelaku baru menyadari perbuatannya.

Fakta tentang tumbuh kembang otak emosi, kepentingan dan kekuatannya telah merevolusi pandangan tentang hakikat manusia. Dulu diyakini bahwa manusia adalah makhluk rasional yang memiliki emosi. Kini sudah terbalik menjadi manusia adalah makhluk emosional yang memiliki rasio. Konsekuensi pembalikan ini pastilah tidak sederhana.

Emosi ternyata adalah bahan bakar bagi rasio dan kemanusiaan kita. Emosi bisa membuat rasio dan kemanusiaan kita berfungsi, juga bisa meledakkannya. Dengan keindahan cinta atau melalui kemarahan tak terkendali.

Kekuatan emosi bisa dengan sederhana dibuktikan. Apakah masih ingat dengan rinci apa yang kita lakukan dua bulan yang lalu? Mungkin sudah agak susah mengingatnya. Tetapi, apakah masih ingat saat bertemu pertama sekali dengan pasangan kita sekarang? Meskipun kejadiannya sudah berlalu sekian tahun, bahkan sekian puluh tahun, rasanya kita masih mengingatnya dengan sangat rinci dan lengkap. Mengapa bisa? Sebab peristiwa itu sangat emosional. Semua kejadian yang memiliki emosi yang sangat kuat, melekat kuat dalam memori kita, dan dengan mudah memengaruhi otak rasional kita. Itulah kekuatan emosi.

Cinta adalah emosi yang sangat kuat dan penuh pesona. Apakah ada manusia yang kuat melawan sergapan cinta? Cinta memiliki kekuatan luar biasa untuk memengaruhi, mencoraki, dan merempahi hidup manusia. Juga dalam tumbuh kembang otak dan kecerdasan.

Daniel G. Amien dalam The Brain in Love (2007) menguraijelaskan bagaimana cinta memengaruhi kimia otak terkait dengan produksi hormon yang memberi rasa bahagia, bukan sekedar kesenangan jangka pendek. Cinta ternyata mempunyai kekuatan untuk membuat otak berada dalam kondisi terbaik. Cinta sebagai bentuk emosi positif mampu memicu manusia untuk melakukan berbagai tindakan positif seperti membangun hubungan empatis dan rela berkorban. Keseluruhannya memberi dampak positif pada kesegaran dan kinerja otak.

Caroline Leaf dalam Who Switched Off My Brain? (2009), menjelaskan bahwa bagi tumbuh kembang anak, cinta yang diujudkan dalam bentuk sentuhan hangat, perhatian, pengasuhan yang penuh kasih dapat menghindarkannya dari stres dan membangkitkan rasa bahagia. Cinta dan rasa bahagia tersebut sungguh memberi dampak yang sangat positif bagi tumbuh kembang otak dan kecerdasan anak. Bukan hanya kecerdasan kognitif.

Sebaliknya bayi yang kurang mendapatkan kehangatan cinta, sentuhan dan pandangan mata dari ibu dan orang dewasa lain cenderung menjadi bayi atau anak yang mengalami stres. Stres terbukti dapat mengganggu tumbuh kembang otak dan kecerdasan.

Cinta yang mendatangkan kebahagiaan ternyata memberi efek positif pada otak manusia, semua manusia tanpa kecuali dan tak memandang usia. Earl Henslin dalam Inilah Otak Anda Ketika Bahagia (2008) menggunakan teknologi pemindai otak membuktikan bagimana rasa bahagia menyebabkan banyak area atau bagian otak terlihat lebih terang. Sebaliknya stres memberi warna kusam pada banyak bagian otak.

Maknanya, cinta dan kebahagiaan sungguh mampu menyegarkan dan membantu tumbuh kembang otak dan meningkatkan kinerjanya. Memberi pada manusia rasa bermakna dalam hidupnya.

CINTA DAN KEBAHAGIAAN MEMBERI DAMPAK POSITIF BAGI TUMBUH KEMBANG DAN KINERJA OTAK.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s