MU, BARCELONA, CHELSEA, AC MILAN,….

MU, BARCELONA, CHELSEA, AC MILAN,….

 

Niscaya. Sejumlah klub elit Eropa jungkir balik musim ini. Mereka yang biasanya langganan berbagai kejuaraan, kini tak dapatkan apapun. Tragis memang. Sudah habis-habisan keluar uang untuk membeli pemain dan mendatangkan pelatih. Namun, hasilnya benar-benar mengecewakan.

 

MU dan AC Milan benar-benar terlempar dari papan atas. Barcelona dan Chelsea nihil gelar. Bagi klub sebesar Barcelona dan Chelsea hanya peringkat dua di kompetisi liga, tanpa sebuah trofi pun adalah sebuah kehinaan yang keterlaluan.

 

Kita bisa berdebat untuk menentukan akibat mengapa klub-klub super kaya dan raksasa dengan pemain-pemain bintang ini tersungkur terjerembab. Bagi MU, Barcelona, dan AC Milan mungkin faktor pelatih bisa dijadikan sebab utama, bersamaan dengan perubahan mendasar suasana dan tradisi karena ditinggalkan pelatih yang selama ini terbukti berhasil mempertahankan dominasi dan kekuatan klub. Ada semacam kekagetan para pemain karena dipimpin oleh pelatih yang belum berkaliber. Sementara Chelsea yang dipimpin oleh manajer berkaliber tetap tak bertaji.

 

Kita bisa melihat sejenak ke kelampauan. AC Milan di bawah Sachi pernah menjadi klub tak terdandingi untuk waktu yang cukup lama. Namun, akhirnya terpuruk juga. Begitupun Ajax di bawah kendali Van Gaal, pernah secara berturut-turut juara Liga Champion Eropa. Waktu itu ketemu Ajax tinggal menghitung kalah berapa. Tetapi ujungnya, Ajax kedodoran juga.

 

Hakikinya ini bukan sekadar masalah kebertahanan sebuah klub sepak bola, tetapi lebih merupakan problem manusia, daya tahan, dan keterbatasannya. Cermatilah, problem yang sama terjadi pada cabang olah raga lain. Juga pada profesi lain seperti penyanyi dan bintang film.

 

Sejumlah pertanyaan sangat mendasar yang bisa dikedepankan adalah: seberapa lama manusia dapat bertahan untuk terus menerus berada dalam ketegangan dan tekanan sangat tinggi berada di puncak kejayaan? Bagaimana cara manusia bertahan dalam kegiatan rutin yang menjurus ke arah monotoni dalam jangka panjang? Seberapa lama manusia bisa mempertahankan kebugaran tubuh dan jiwanya menghadapi jadwal yang sangat padat?

 

Khusus untuk sepakbola yang merupakan kerja tim, ada sejumlah pertanyaan tambahan, berapa lama manusia bisa memelihara dan mempertahankan kebersamaan, solidaritas dan soliditas? Seberapa kuat manusia menekan dorongan ego individual untuk tetap menjaga kekompakan tim? Apakah kebersamaan dalam jangka panjang dan di bawah tekanan tidak membahayakan setiap individu yang juga memiliki keinginan, harapan, harapan dan cita-cita yang bersifat pribadi? Apakah persaingan antar pemain untuk terpilih menjadi pemain utama dalam jangka panjang tidak merusak kebersamaan yang justru dibutuhkan?

 

Tidak berlebihan bila setelah bermain bersama dalan rentang waktu sangat lama, para pemain mulai merasa jenuh, kehilangan gairah dan kreativitas. Sensitivitas kurang tajam, dan respon menjadi kurang akurat. Inilah yang sering kali menjadi penyebab strategi yang diinstruksikan pelatih, siapa pun pelatihnya, tidak berjalan sebagai mana diharapkan. Akibatnya pemain mulai saling tidak percaya dan saling menyalahkan. Kekompakan tim mulai retak bahkan pecah. Secara kesuluruhan tim menjadi lemah dan mandul.

 

Bila kita perhatikan dengan seksama penampilan Barcelona yang tidak konsisten sepanjang musim ini, kesalahan terbanyak terjadi karena kesalahpahaman pemain antarlini. Sementara di MU soliditas pemain tiap lini sangat lemah. Inilah yang membuat Van Versie beberapa kali marah besar. Di Chelsea, sang pelatih sampai berkali-kali mengeritik pemainnya yang dianggap tak lagi punya mental juara dan gampang menyerah, serta tidak kreatif.

 

Apa yang terjadi di klub-klub raksasa itu adalah bukti nyata tentang keterbatasan manusia. Siapa pun manusia, sehebat apapun ia, tetaplah ada keterbatasannya. Manusia tidak dapat dipaksa untuk terus menerus berada pada kondisi puncak dengan pencapaian maksimal. Manusia bagaimanapun adalah makhluk darah daging yang terbatas kemampuan otot dan syarafnya. Juga suasana dan ketahanan hatinya.

 

Itulah sebabnya dalam semua bidang, ada pembatasan bagi setiap orang untuk menempati satu posisi. Ini dilakukan agar manusia tidak terjebak dalam kesalahan fatal, bukan karena ia berniat tidak baik. Tetapi karena kendala fisik dan mental yang bersifat sangat manusiawi dan tak terelakkan.

 

Manusia memang makhluk yang bisa tak terduga. Ia seringkali mampu melampaui berbagai keterbatasannya. Namun, acapkali ia bisa terperangkap dalam kepercayaan diri yang berlebih dan lupa akan berbagai keterbatasan. Sikap inilah yang menghancurkan banyak manusia.

Sepakbola adalah permainan tim yang membutuhkan kemampuan melebur ego pribadi ke dalam ego tim. Ini bukanlah proses yang mudah. Persoalannya seringkali bersifat emosional daripada fisik. Sekali lagi, semua orang akan diuji kesabaran dan daya tahannya untuk berbagi. Bahkan seringkali harus mengorbankan semua yang bersifat pribadi.

 

Tidak semua manusia memiliki daya tahan jangka panjang untuk terus berada dalam kondisi terbaik untuk berbagi, menerima dan berkorban untuk orang lain dan mengalahkan ego dan aspirasinya sendiri. Inilah fakta-fakta substansial tentang manusia.

 

Bila klub-klub raksasa itu sekarang ini layu berguguran, penyebab fundamentalnya adalah fakta dasar terkait dengan kelemahan manusia. Secara teknis kelemahan manusia itu bisa ditampilkan oleh para pemain dan pelatih.

 

KETERBATASAN MANUSIA MERUPAKAN FAKTA FUNDAMENTAL YANG HARUS SEPENUHNYA DISADARI.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s