THE POLICE: ANOMALI MODERNITAS

THE POLICE: ANOMALI MODERNITAS

 

“Massage in a bottle”

 

Just a castaway

An island lost at sea

Another lonely day

With no one here but me

More loneliness

Than any man could bear

Rescue me before I fall into despair

 

I’ll send an SOS to the world

I’ll send an SOS to the world

I hope that someone gets my

I hope that someone gets my

I hope that someone gets my

Message in a bottle

(Message in a bottle)

 

……………………………

 

Walked out this morning

Don’t believe what I saw

A hundred billion bottles

Washed up on the shore

Seems I’m not alone at being alone

A hundred billion casatways

Looking for a home

……………………..

 

“Synchronicity II”

 

Another suburban family morning

Grandmother screaming at the wall

We have to shout above the din of our Rice Crispies

We can’t hear anything at all

Mother chants her litany of boredom and frustration

But we know all her suicides are fake

Daddy only stares into the distance

There’s only so much more that he can take

Many miles away

Something crawls from the slime

At the bottom of a dark Scottish lake

 

Another industrial ugly morning

The factory belches filth into the sky

He walks unhindered through the picket lines today

He doesn’t think to wonder why

The secretaries pout and preen like

cheap tarts in a red light street

But all he ever thinks to do is watch

And every single meeting with his so-called superior

Is a humiliating kick in the crotch

Many miles away

Something crawls to the surface

Of a dark Scottish loch

………………………..

 

“So Lonely”

 

Well someone told me yesterday

That when you throw your love away

You act as if you don’t care

You look as if you’re going somewhere

 

But I just can’t convince myself

I couldn’t live with no one else

And I can only play that part

And sit and nurse my broken heart

 

So lonely

So lonely

So lonely

………………

 

Hebat. The Police itu band besar dan legendaris, meski umurnya tidaklah panjang untuk ukuran band legendaris. Para kritisi musik pada zamannya berdebat habis dalam mengkategorikan jenis musik mereka. Pastilah masuk dalam kategori rock, tetapi rock yang mana. Ada yang bilang punk. Banyak yang tidak setuju. Ada terasa warna reggae dalam musik mereka yang dinamis. Karena itu mereka lebih sering disebut new wave, sebuah sebutan untuk semua musik alternatif pada masa itu. Memang orang dan grup hebat pasti susah dikategorikan. Kebesaran mereka tampak pada jumlah penonton yang mencapai hampir seratus ribu tiap kali konser di mana pun. Diperkirakan album mereka sudah laku melampui 50 juta copy. Mereka saling mengalahkan dengan Michael Jackson untuk memperebutkan penghargaan Grammy, saat Michael Jackson menguasai musik pop dunia.

 

Namun yang membuat The Police sangat menarik saat saya SMA, bukan saja musiknya yang waktu itu benar-benar baru dan amat berbeda. Tetapi lirik lagunya yang tergolong tidak biasa. Mereka tidak bersibuk dan berkutat dengan cinta romantis gaya anak muda. Tetapi dengan cerdas memotret dan mengungkapkan persoalan fundamental zamannya yaitu anomali modernitas.

 

Salah satu fondasi modernitas adalah individualitas. Manusia diakui sebagai makhluk individu yang bebas dan memiliki martabat. Ia bebas mentukan pilihan dan mau jadi apa, hendak bergaul dengan siapa. Juga bebas menggunakan tubuhnya, karena pada hakikatnya tubuhnya adalah milik, hak dan wewenangnya.

 

Untuk tunjuktegaskan individualitasnya, manusia harus berani berbeda dari siapa pun. Makin berbeda makin bagus. Konsekuensinya, modernitas diramaikan oleh persaingan untuk tunjukkan pencapaian individu dalam segala bidang. Berkembanglah dunia mode (fashion) yang menonjolkan cara dan mode pakaian yang berbeda. Setiap orang mau tunjukkan dirinya secara tegas dengan pilihan model, warna, corak dan potongan yang berbeda.

 

Ciri individualitas ini muncul dalam semua bidang kehidupan seperti seni, ilmu, arsitektur, dan kuliner. Setiap orang terus melakukan eksperimen yang hendak tunjuktegaskan individualitasnya. Juga dalam agama. Karena itu tidak usah heran bila sekte-sekte dalam satu agama muncul bagai hujan dimusim jamur. Sebab setiap orang merasa punya kebebasan untuk memberi tafsir pada apa yang tertulis di dalam kitab suci.

 

Modernitas memang merupakan antitesis atau lawan tradisionalitas. Tradisionalitas justru menekankan pentingnya kebersamaan atau komunalitas. Setiap individu justru harus secara ketat mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok. Taat pada aturan kelompok, mengikuti semua tatakrama kelompok dan membiasakan diri dengan kebersamaan dan keseragaman. Tidak ada orang yang berani berbeda. Semua orang dengan setia menggunakan atribut, simbol-simbol yang menunjukkan bahwa dia adalah anggota kelompok. Hukuman paling mengerikan adalah bila diusir dari kelompok. Menjadi individu justru merupakan hukuman yang mengerikan. Boleh jadi akan ada kebosanan, namun semua orang merasa aman, nyaman, dan tenteram. Karena sadar, ia tak pernah sendirian dalam susah dan senang, dalam duka dan suka.

Modernitas seringkali menganggap kebersamaan sebagai sebuah gangguan yang serius. Sartre, pemenang Nobel Satra dari Perancis sampai bilang, neraka adalah orang lain. Karena itu sulit meyakinkan manusia moderen bahwa, ada selalu bermakna ada bersama. Sebab, mereka sudah kadung percaya dan menghayati bahwa menjadi manusia artinya menjadi individu, yang berbeda dan terpisah dari orang lain.

 

Dalam cara berfikir seperti itulah kita mesti melihat penghayatan orang moderen menjalani hidup dan bagaimana cara mereka berpakaian, tampil, memperlakukan diri atau tubuhnya dan membangun hubungan dengan orang lain.

 

Tidak usah heran apalagi marah dan terganggu bila para wanita ‘menyedekahkan’ auratnya. Karena sebagai individu dia bebas lakukan itu. Bila merasa terganggu, silahkan alihkan pandanganmu. Anggun C. Sasmi dalam lagunya bilang, jangan salahkan pakaian yang kami kenakan, tapi periksa isi otakmu! Tubuhku adalah milikku, aku bebas menggunakan dan memperlakukannya. Itulah sebabnya modernitas jadi identik dengan tingginya angka bunuh diri. Aku berhak atas hidupku, tentu juga matiku! Inilah realitas modernitas.

 

Modernitas memberi ruang sangat luas bagi individu menggunakan dan mengungkapkan kebebasan. Sungguh tanpa batas. Pesona kebebasan memang luar biasa. Namun, rupanya ada semacam racun dalam kebebasan indvidu itu. The Police melalui penulis utama lagunya yaitu Sting, yang pernah menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah, berhasil dengan tepat akurat mengungkapkannya.

 

Manusia moderen diluluhlantakkan oleh sepi yang nyeri, kesendirian yang membunuh, kesunyian yang merajangcincang dan mengiris habis nurani. Bukan kesunyian penuh makna seperti yang dialami dan dihayati Sidharta Gautama atau Muhammad saat di Gua Hira.

 

Kesunyisepian manusia moderen bisa berupa insomnia yang amat menyiksa jiwa dan raga. Industri hiburan malam, narkoba dan seks bebas menjadi niscaya. Kala sepi mendera, sunyi meremukkan jiwa kemana mereka akan pergi? Apa yang akan mereka lakukan? Sungguh bisa lebih mengerikan daripada yang dialami Nabi Yunus dalam perut ikan. Kesunyisepian yang membunuh harapan. Dan itu penyakit akut yang menimpa bukan ribuan, bahkan milyaran orang moderen. Tahun 80an The Police telah dengan indah ungkapkan itu. Kita tak tahu keadaannya sekarang. Sebagai perbandingan, kini di Indonesia pengguna narkoba sudah melampaui lima juta orang, sebagian besar anak muda remaja, manusia pada umur produktif. Jangankan mereka, Akil, mantan ketua MK, aja juga make koq.

 

Kesepian, keterpecahan pribadi tampaknya mampu mengoyak moyak manusia moderen. Sampai-sampai keluarga yang semestinya menjadi tempat yang hangat penuh cinta menjadi ruang pertempuran yang mengerikan. Saat tak ada lagi cinta, kehangatan, empati dan keinginan berbagi.

 

Industrialisasi sebagai bagian penting modernitas telah merubah manusia menjadi mesin untuk memenuhi target pekerjaan yang tak berujung. Jadilah manusia sekadar robot yang tak lagi berjiwa. Cinta telah bermetamorfosa menjadi sekadar kenikmatan kelamin yang kehilangan kesucian dan spiritualitasnya.

 

MODERNITAS SUNGGUH TELAH HANCURKAN MANUSIA!

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s