JOHN LENNON: NIHILIS EKSTRIM

JOHN LENNON: NIHILIS EKSTRIM

 

Imagine

 

Imagine there is no heaven

It’s easy if you try

No hell below us

Above us only sky

 

Imagine all the people

Living for today

 

Imagine there’s no countries

It isn’t hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion, too

 

Imagine all the people

Living life in peace

 

You may say I’m a dreamer

But I’m not the only one

I hope someday you will join us

And the world will be as one

 

Imagine no possessions

I wonder if you can

No need for greed or hunger

A brotherhood of man

 

Imagine all the people

Sharing all the world

 

You, you may say I’m a dreamer

But I’m not the only one

I hope someday you will join us

And the world will live as one

……………………..

 

Berimajinasi, membayangkan apapun boleh dan gratis. Karena itu bayangkanlah apa saja yang diinginkan. Imajinasi makin aneh, makin tak masuk akal semakin bagus. Imajinasi yang aneh, tak biasa, unik, dan makin jauh dari realitas bukan saja bagus, juga laku dijual. Penulis Harry Potter telah membuktikannya. Ia menjadi sangat kaya raya karena menulis dan menjual imajinasi yang sangat spektakuler yang benar-benar melawan akal sehat, dan mampu memengaruhi milyaran orang di dunia.

 

Sejak zaman kuno sampai kini, imajinasilah yang telah mendorong kemajuan peradaban manusia. Para pemikir besar segala zaman pasti menawarkan fikiran yang bukan merupakan deskripsi realitas apa adanya pada zamannya. Pemikir besar bisa menggunakan realitas sezaman sebagai dasar bagi imajinasinya. Ia berimajinasi tentang keadaan ideal yang melampaui realitas zamannya. Plato dan Aristoteles melakukan itu, Al Farabi juga. Membayangkan dan menjelaskan negara ideal, negara sempurna, dan pemimpin ideal dalam buku-bukunya.

 

Voltaire, Karl Marx dan banyak pemikir besar pada awal dan selama zaman moderen melakukannya. Nietsche terkenal antara lain karena karyanya tentang manusia super yang sepenuhnya bersifat imajinatif. Dan tak pernah bisa diujudkan kapan dan dimana pun. Tokoh-tokoh seperti superman, batman, gatot kaca kan hanya ada dalam komik dan film. Tak pernah ada dalam kenyataan.

 

Pastilah negara ideal, pemimpin ideal, dan manusia super yang dibayangkan itu tidak ada dalam realitas. Bahkan mungkin antitesis atau bersebalikan dengan realitas yang ada. Gagasan tentang demokrasi sungguh dianggap mimpi kosong dan imajinasi liar saat pertama sekali diungkapkan. Sebab pada waktu itu sistem kerajaan absolut mendominasi sistem pemerintahan di dunia. Pembagian kekuasaan juga dirasakan sebagai mimpi di siang bolong melompong.

 

Dalam konteks inilah harus dipahami mengapa Nabi Muhammad SAW dinyatakan gila oleh orang sezamannya. Karena apa yang disampaikannya dirasakan sebagai imaji liar yang sangat aneh. Apalagi adanya kejadian Isra’ Mi’raj yang sampai kini pun ada yang tak mempercayainya. Waktu itu Nabi Muhammad menyampaikan bahwa gunung-gunung itu bergerak laksana bergeraknya awan, itulah isi Al Qur’an. Tentu saja ia dianggap gila karena faktanya, gunung itu kokoh berdiri. Maklumlah orang belum mahfum bahwa bumi tempat gunung dan manusia berpijak sebenarnya terus berputar. Pada waktu itu belum ada manusia yang tahu bahwa Galaksi Bima Sakti, dimana bumi hanyalah salah satu penghuninya, merupakan salah satu saja dari sekian milyar galaksi dan terus bergerak dan berkembang sebagaimana dijelaskan oleh Edwin Hubble.

 

Ajaran agama dan imajinasi memang selalu melampaui realitas dan zaman. Membumbung tinggi dan kadang tak bisa dimengerti bahkan dirasakan sebagai hal yang mustahil. Namun, dalam perjalanan waktu, bisa pendek, boleh jadi sangat panjang, akan menjadi realitas tak terbantahkan. Karena itu tak usah takut dianggap gila dan dimusuhi orang karena memiliki imajinasi liar dan tak masuk akal, bahkan mustahil.

John Lennon brani mengambil resiko melawan zaman dan dianggap gila. Ia seorang revolusioner sejati. Bukan hanya lewat musik dan litik lagu, juga dalam gaya hidup. Bersama-sama rekannya dalam The Betles, ia mempopulerkan musik yang melawan semangat zaman. Itulah sebabnya pada awal kemunculannya para kritisi musik susah memetakan masuk kategori mana jenis musik mereka. Para inovator biasanya memang pelintas batas yang tidak dapat dimasukkan dalam kategori apapun.

 

Mereka melawan kemapanan dengan musik, lirik dan gaya. Lirik atau lagu mereka dengan terbuka kadang sarkas mengeritik keadaan dan menyerukan perlawanan. Perlawanan pada kemapanan, kekuasaan, dan semua dominasi.

 

Saat bersolo karir John Lennon makin menegaskan kepribadian dan pilihan hidupnya. Ia tampak seperti cermin yang dengan sangat jelas menggambarkan semangat dan aspirasi zamannya. Zaman yang masih sangat ditandai dengan sangat kental oleh puing-puing peperangan, perang ideologi yang sangat terbuka, dan masih terjadinya perang, krisis ekonomi, dan kelaparan di banyak tempat. Di Irlandia kekerasan atas nama agama berujung pada saling bunuh. Di India terjadi hal yang sama.

 

Blok kapitalis dan sosialis-komunis yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik ternyata membawa sengsara bagi masyarakat luas dengan penderitaan yang berbeda. Di negara-negara komunis seperti Sovyet, China dan Eropa Timur berkuasa secara absolut partai komunis sebagai penguasa tunggal yang bisa meneror dan membunuh rakyat, pun karena sang rakyat menulis puisi atau membuat karikatur tentang pemimpim, penguasa dan pemerintah. Di Indonesia hal itu juga terjadi bahkan sampai pada tahun 1998 saat Wiji Thukul dan sejumlah aktivis diculik oleh alat kekuasaan.

 

Sebaliknya di negara-negara kapitalis yang kelihatan lebih demokratis terjadi kesenjangan ekonomi yang parah, perusakan lingkungan dan masyarakat karena cara pandang dan praktik-praktik ekonomi kapitalis yang berkiblat melulu pada meningkatkan keuntungan secara terus menerus. Juga berkembangnya gaya hidup materialis hedonis sebagai akibat langsung dari kelimpahmewahan. Mazhab Frankfurt sampai menyebutnya masyarakat yang berdarah dan membeku dan lahirnya manusia satu dimensi.

 

Pertarungan antar negara terutama karena perbedaan ideologi bahkan sampai membuat orang-orang yang bersaudara sampai saling bermusuhan dan saling bunuh. Kondisi itu paling nyata di Korea yang pecah menjadi Korea Selatan dan Utara, serta di Jerman yang terbelah menjadi Jerman Timur dan Barat.

 

Kemanusiaan dan perdamaian semakin tak mendapatkan tempat. Orang bisa seenaknya melakukan teror atas nama agama dan ideologi. Suasana tak pasti dan penuh tekanan ini telah pula memunculkan berbagai sekte agama yang semakin ekstrim dan memperkenalkan gaya hidup yang tidak biasa. Ini terutama sangat menonjol di Amerika Serikat, sampai berdiri dan sangat banyak pengikutnya kelompok pemuja syetan. Inilah dunia saat John Lennon masih sedang tumbuh dan makin matang.

 

Imagine adalah sebuah respon atas semua kondisi itu. Melalui lagu ini John Lennon sungguh menjadi nihilis sejati. Menganjurkan untuk menidakkan semua yang dirasakan sudah sangat fundamental baik oleh orang beragama maupun tidak. Ia pasti dengan sengaja menidakkan surga dan neraka pada awal lagunya. Karena ini menyangkut keyakinan semua orang beragama, apapun agamanya.

 

Secara negatif penidakkan ini terasa sangat menohok keyakinan milyaran orang di dunia. Tak heran jika pada waktu itu John Lennon mulai dimusuhi. Namun, anak muda yang memujanya juga terus bertambah. Rupanya apa yang dirasakannya juga dirasakan banyak orang, apa yang diungkapkannya dirasakan sebagai keinginan dan harapan banyak orang pula.

 

Secara positif, ungkapan John Lennon ini bisa dilihat sebagai sebuah kritik fundamnetal bagi orang beragama. Bukan bagi agama. Semestinya keyakinan tentang adanya surga dan neraka memberi dampak positif yang nyata bagi orang yang meyakininya. Mereka seharusnya tidak berbuat kejahatan, apalagi sampai saling membunuh atas nama agama, dan justru harusnya berlomba berbuat kebaikan. Namun faktanya, banyak orang beragama yang meyakini keberadaan surga dan neraka perilaku dan sikapnya malah saling menghancurkan. Agama bukan jadi pembawa damai. Banyak penganut agama justru menjadikan agama sebagai alasan untuk menghabisi fihak lain. Atas dasar fakta inilah John Lennon mengedepankan syair tentang penidakan surga dan neraka di awal lagunya.

 

Dalam konteks Indonesia, ini bisa dikaitkan dengan fakta satu menteri agama telah menjadi terpidana kasus korupsi dan satu lagi sudah jadi tersangka. Bayangkan, menteri agama dari partai yang mengaku rumah besar umat Islam, dengan jabatan ketua umum jadi tersangka korupsi. Betapa tidak berpengaruhnya keyakinan akan surga dan neraka bagi tokoh agama tersebut. Keyakinan akan surga dan neraka tampaknya tidak memengaruhi kehidupan keseharian orang-orang yang meyakininya.

 

Bacalah pengakuan teroris yang meledakkan bom Bali dan menyerang orang dari agama lain yang sedang beribadah. Mereka malah menggunakan keyakinan akan surga dan neraka untuk menghancurkan orang lain. Sebagai orang beragama yang nalar dan bijak, pastilah kita tidak dapat menerima keyakinan kayak gitu. Tetapi di negeri ini orang yang menjadikan keyakinan akan surga dan neraka untuk mengganggu dan menghancurkan orang lain, agaknya bukan makin berkurang. Kejadian yang masih segar dalam ingatan kita yakni serangan terhadap orang yang beribadah di Yogyakarta adalah bukti nyata. Sebagai seorang muslim, saya sangat miris melihat saudara-saudara kita merayakan natal dalam penjagaan aparat bersentaja lengkap. Begitu tak punya hatikah orang-orang yang menyerang orang beribadah? Dalam konteks seperti ini, ungkapan John Lennon, terasa sangat bermakna. Bila keyakinan akan surga dan neraka itu tidak berpengaruh positiif, malah digunakan untuk menghancurkan manusia dan kemanuisaan, apa gunanya? Ingatlah perang sabil/salib yang mengatasnamakan Tuhan untuk saling bantai. Apa tidak menimbulkan perasaan tragis?

 

Hal yang sama terjadi dengan negara. Negara adalah batas-batas dan identitas nasional yang dilambangkan oleh bendera, simbol-simbol, lagu kebangsaan, para pejabat dan berbagai atribut lain. Cermati, betapa sering orang berperang dan saling bunuh hanya karena dianggap mengganggu batas negara. Padahal itu kan cuma sejengkal tanah milik Tuhan. Betapa sering manusia dan kemanuisaan dihancurkan, dibunuh dengan kejam atas nama negara. Apakah itu dianggap lebih penting dari nilai manusia dan makna kemanuisaan? Jika negara itu ada untuk melindungi rakyat yang merupakan komunitas manusia, mengapa pula atas nama dan untuk negara terjadi pembunuhan dan saling bunuh antar manusia? Apakah negara didirikan hanya untuk melindungi rakyat sendiri dan boleh membantai rakyat dari negara lain? Jika memang demikian, pantaslah John Lennon menidakkan negara.

 

Meskipun tak ada jaminan bila negara tidak ada, manusia tidak saling membunuh. Rasanya pada masa anak Nabi Adam, Qabil dan Habil hidup, belum mengenal konsep negara, tetapi sudah terjadi pembunuhan. Memang ada kajian yang menyatakan bahwa pada masyarakat primitif yang belum mengenal negara, dan baru mengenal konsep kelompok pembunuhan ada, tetapi tidak separah setelah ada negara.

 

Agaknya rendahnya tingkat saling bunuh pada masyarakat primitif kurang atau tidak terkait dengan konsep negara. Tetapi lebih pada kenyataan jumlah manusia masih sangat sedikit dalam kawasan yang sangat luas, sehingga interaksi masih amat kurang.

 

Setidaknya, penidakan negara oleh John Lennon bisa membantu kita untuk merumuskan kembali hakikat dan fungsi negara dalam kaitannya dengan penghormatan pada manusia. Bukan sekadar penghormatan bagi warga negara sendiri. Juga harus dirumuskan dengan jelas apa makna negara ada untuk melindungi manusia atau rakyat. Sehingga tidak terjadi lagi, atas nama negara, rakyat bisa dihabisi seperti yang dialami Wiji Thukul dan kawan-kawan pada 1998 saat orde baru berkuasa. Selain negara sebagai problematika manusia, masih ada problematika lain yaitu kepemilikan.

 

Dalam semua agama dan banyak ajaran moral, soal kepemilikan memang diatur dengan sangat jelas dan hati-hati. Karena kepemilikan merupakan akar bagi banyak kejahatan. Bahkan diyakini bahwa kepemilikanlah yang seringkali mendorong manusia untuk melakukan apa saja, menghalalkan segala cara.

 

Dalam Islam ada Abu Dzar Al Ghifari yang secara konsisten melaksanakan kepemilikan sekadar untuk bertahan hidup. Mungkin yang paling dekat dengan gagasan penidakan kepemilikan John Lennon. Mengapa Abu Dzar memilih gaya hidup seperti itu. Sebagai sahabat dekat Nabi Muhammad SAW, ia menyadari betul bahaya kepemilikan bagi manusia.

 

Boleh jadi generasi kedua manusia yaitu anak Nabi Adam, Qabil dan Habil bertengkar dan akhirnya terjadi pembunuhah karena telah munculnya rasa memiliki ini. Rasa memiliki atau kepemilikan tak lain adalah perpanjangan ego. Karena itu sangat gambang memicu pertikaian dan konflik yang bisa sangat mengerikan dan menjijikkan.

 

Kepemilikan akan semakin merusak jika bercampur dan melekat dengan kekuasaan. Inilah akar dari kejahatan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Semua pemerintahan atau penguasa zhalim dan otoriter, sejak zaman Firaun sampai sampai kini selalu terbukti para pengepul kekayaan yang melampaui batas. Inilah hasil dari perkawiman kepemilikan dan kekuasaan.

 

Penidakan atau penolakan John Lennon atas semua aspek fundamental dalam kehidupan manusia menempatkannya sebagai nihilis ekstrim. Tentu saja John Lennon bukanlah seorang anarkis yang menginginkan dan mendorong kekacauan. Ia menganjurkan penidakan ekstrim itu justru karena mengiginkan agar manusia hidup dalam persaudaraan sejati dan sama-sama berbagi untuk dan demi perdamaian.

 

Tidak sedikit orang yang menuduh John Lennon terlalu naif dengan seruan ini. Mereka yakin keberadaan surga, neraka dan negara meski belum dapat memberi pengaruh sebagaimana seharusnya, tetapi telah mampu mencegah terjadinya keadaan yang lebih buruk dari sekarang.

 

Kejahatan dan keinginan untuk merusak sampai membunuh diyakini memang berakar dalam diri setiap manusia, bahkan melekat dalam diri setiap manusia. Keberadaan surga, neraka, dan negara telah ikut menahan dan kendalikan agar kejahatan itu tidak menjadi liar, tak terkendali dan membuat kerusakan yang lebih parah dan gawat. Atas dasar fakta inilah, tidak sedikit orang yang percaya, bahwa

 

MESKI DUNIA INI BELUMLAH SEPERTI YANG KITA HARAPKAN, TETAPI MASIH PANTAS DINIKMATI DAN DISYUKURI.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s