PEMAKAMAN LANGIT

 

PEMAKAMAN LANGIT

220px-Vulture

Gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/Sky_burial

 

Manusia dan hidupnya sangat penting dan bermakna. Begitupun kematiaannya. Pentingnya kematian telah melahirkan banyak ritual pemakaman yang mengisyaratkan bahwa kematian manusia itu harus dihormati dan dimaknai sebagaimana hidupnya.

 

Ritual pemakaman memiliki sangat banyak variasi. Semua ritual itu tidak dilakukan secara kebetulan. Tetapi terkait dengan keyakinan eskatologis yaitu apa yang terjadi setelah kematian. Tentu saja apa yang terjadi setelah kematian sepenuhnya merupakan keyakinan. Tak seorang pun bisa membuktikan apa yang terjadi setelah kematian. Sebab tak ada cara untuk membuktikannya. Konsekuensinya, kita tidak dapat menilai ritual pemakaman tertentu sadis, dan yang lain terlalu mewah.

 

Apakah mayat segera dikuburkan, ditunggu dulu beberapa hari sebelum dikuburkan, dibakar atau dikremasi, dikuburkan dulu kemudian melewati waktu tertentu tulang-tulangnya dikumpulkan dan dilakukan ritual tertentu seperti menari bersama mayat, atau sekadar diletakkan di bawah pohon dan dibiarkan hancur seperti di Trunyan Bali, semuanya didasarkan pada keyakinan tertentu. Bagaimanapun bentuk ritualnya, yang terpenting adalah menghormati mayat tersebut dengan melakukan ritual tertentu sebagai cara untuk melaksanakan keyakinan yang dianut.

 

Merupakan cara dan sikap yang tidak pantas bila mayat manusia tidak dihormati dengan tidak melakukan ritual pemakaman. Menghormati mayat manusia sejatinya adalah menghormati manusia, hidup dan sekaligus matinya. Meskipun secara fisik mayat hanyalah seonggok daging dan tulang. Tetapi sudah merupakan tradisi sejak zaman Nabi Adam, mayat manusia memang harus diurusi dengan sebaik-baiknya. Tidak diperlakukan seperti mayat binatang.

 

Ini bukan hanya soal bagaimana caranya menghindari penyakit yang bisa muncul dan menyebar bila mayat dibiarkan membusuk. Sekali lagi perlu ditegaskan ini soal menghormati manusia dan melaksanakan sebentuk keyakinan.

 

Bagi orang Tibet dan Mongolia yang hidup di ketinggian Himalaya dan sekitarnya, ritual pemakaman sungguh sangat berbeda dan terbilang unik. Mereka tidak menguburkan atau membakar mayat. Untuk membakar tidak tersedia kayu atau bahan lain. Karena di tempat itu pepohonan sangat langka. Bila hendak dikuburkan, sangat sulit untuk mencari tanah yang bisa digali. Sebab sebagian datarannya terdiri dari bebatuan yang teramat sulit untuk digali.

 

Mereka kemudian mengembangkan tradisi pemakaman langit. Mayat di bawa ke puncak, didoakan oleh bikhsu, selanjutnya mayat itu mulai dirajang jadi potongan kecil-kecil dan dibiarkan dilahap burung pemakan bangkai sampai habis tuntas. Tulangnya dibakar dan diberikan sebagai makanan burung lain yang lebih kecil, dan tengkoraknya dijadikan wadah untuk minum.

 

Ritual pemakaman langit ini dikaitkan dengan keyakinan kebanyakan mereka yang menganut Buddhisme Vajrayana. Dalam agama Budha diyakini bahwa orang yang telah mati akan mengalami reinkarnasi, kelahiran kembali. Budhisme Vajrayana percaya bahwa terjadi perpindahan roh setelah kematian. Karena itu, tubuh yang dianggap sebagai kendaraan bagi roh sudah tak lagi memiliki fungsi dan arti. Tak ada kebutuhan untuk melestarikan mayat. Pemakaman langit adalah solusi terbaik yang diyakini merupakan perbuatan baik si mayat karena memberikan makanan bagi burung-burung. Ini sejalan dengan salah satu doa dalam agama Budha, semoga semua makhluk berbahagia, bukankah burung pemakan bangkai akan senang bila mendapatkan makanan? Boleh jadi pemakaman langit ini sebagai bentuk sedekah tubuh.

 

Sebenarnya Ritual sepeti itu bukan hanya terdapat di Tibet dan Mongolia yang menganut Budha, yaitu dengan sengaja membiarkan mayat dilahap habis oleh burung pemakan bangkai. Sejumlah penganut Zoroaster melakukan hal yang sama. Mereka tidak merajang tubuh mayat, tetapi menaruhnya di menara ketenangan ( Tower of Silence ), dan membiarkan burung pemakan bangkai berpesta melahap habis mayat tersebut. Namun, keyakinan yang melandasi ritual ini sangat berbeda dengan di Tibet. Kaum Zoroaster meyakini bila dikubur atau dibakar, mayat itu akan mencemari unsur-unsur sakral di alam yaitu tanah, air, dan api. Praktik ritual bisa memiliki kesamaan. Namun, keyakinan yang melandasinya sangat berbeda.

 

Problema mulai muncul karena populasi burung pemakan bangkai sudah menyusut. Pastilah tidak gampang mencari solusi bagi problema ini. Karena problemanya tidak bersifat teknis, namun terkait dengan keyakinan.

 

Problematika ternyata tidak hanya menyangkut kehidupan, juga memasuki wilayah kematian. Pastilah bagi yang mati problema itu tak dirasakannya lagi. Namun bagi yang ditinggalkan yaitu manusia yang masih hidup harus mencarikan solusi yang tepat.

 

Agaknya pada masa depan, kala tanah semakin langka dan mahal, ritual penguburan mayat juga bisa menjadi problem. Sekarang saja di beberapa pemakaman telah berlaku praktik satu lubang berisi banyak mayat. Karena keterbatasan lahan untuk kuburan, mereka yang telah memiliki keluarga di pemakaman itu, diperkenankan untuk mengubur mayat baru, satu kuburan dengan mayat yang sudah lama. Berbagai fakta ini menegaskan bahwa

 

MANUSIA MEMANG MAKHLUK YANG SANGAT PROBLEMATIK.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s