KETIKA LIDAH TERLUKA

 

Hidup itu indah bila dinikmati dan disyukuri. Apapun keadaannya. Sudah seminggu ada luka kecil di bagian belakang lidah sebelah kanan. Setahuku ini termasuk sariawan, jika yang menderita perempuan, tentulah disebut sariawati.

 

Pada saat pertama terasa, aku minum vitamin C. Kemudian seorang perawat memberiku abotil. Luka tak sembuh malah gigi jadi linu. Benar-benar derita bertambah, bukannya berkurang. Dua hari aku jadi sangat tersiksa. Saat gosok gigi dan makan sungguh menjadi waktu yang mengerikan. Ada campuran linu, ngilu, nyeri, dan perih. Bahkan minum saja menjadi sangat menyiksa.

 

Aku terus mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi dan menggunakan obat tetes yang namanya sangat aneh. Diteteskan sampai enam kali sehari. Penderitaan tak juga berkurang. Sekarang berbicara pun jadi tak nyaman. Beberapa teman malah ketawa ngakak mendengar ucapanku seperti anak kecil yang belajar berbicara. Ada kesulitan menggerakkan lidah karena memang terasa nyeri.

 

Seorang teman menyarankan mengemut gula merah. Aku lakukan, juga tak membantu. Rasa nyeri terasa tak berkurang. Karena rasa sakit tak juga mau pergi, dan luka itu tetap setia berada di tempatnya, maka kuputuskan untuk lebih menikmatinya.

 

Tadinya aku hanya memilih makanan yang lembut dengan rasa yang netral, artinya tak pedas dan asem. Karena dua rasa itu benar-benar menyiksa. Sekarang waktunya untuk kembali ke makanan normal. Aku minta istriku membuat soto ayam. Saat memakannya sengaja ketika masih panas, dan sengaja dibuat pedas dan asem jeruk nipis.

 

Sungguh luar biasa. Kala rasa nikmat menyusup ke bagian lidah yang sehat, rasa nyeri, linu, ngilu dan perih menyerang bagian lidah yang terluka. Sungguh inilah rasa kehidupan yang sesungguhnya. Sedap dan sakit, nikmat dan perih benar-benar menyatu.

 

Sengaja kutambahkan sambel. Sekarang aku ingin tahu apakah ada perbedaan antara nyeri, perih, linu, dan ngilu. Oi, luar biasa perihnya. Saat kuah soto baru saja menyentuh luka terasa linu, ketika mulai mengunyah rasanya linu dan ngilu, kala mau menelan jadi nyeri. Soto ayam ini jadi nano-nano rasanya. Supaya tambah seru aku minum teh manis panas. Ini baru asyik, seperti ditusuk jarum panas. Ke sum-sum rasa sakitnya. Dengan mata terpejam aku tetap nikmati berbagai sensasi rasa ini.

 

Hari berikutnya aku dengan sengaja memesan tomyam seafood yang pedas. Aku sangat menyukai makanan ini karena paduan asem dan pedas yang sangat segar. Mirip sayur asem. Tetapi tomyam lebih nendang. Aku minta dibuatkan yang pedes.

 

Aku sengaja melahapnya ketika masih panas. Gile bener. Sensasinya luar biasa. Aku hampir menjerit menahan rasa perih yang luar biasa. Sampai menitik air mata menikmati rasa sakit. Agaknya, makanan yang sengaja kupilih telah membuat luka di lidah bertambah lebar. Akibatnya rasa sakit makin menjalar.

 

Aku sekaligus minuman yang biasa dipesan anak bungsuku. Minuman yang rasanya keras karena mengandung soda ditambah es dalam bentuk butiran. Paduan panas, asem, pedes, soda dan dinginnya es benar-benar menghancurkan daya tahan. Rasanya seluruh tubuh ikut rasakan sakit. Tetapi semua ini memberiku pengalaman baru tentang apa yang bisa disebut menikmati rasa sakit.

 

Setiap kali makanan dan minuman yang seharusnya enak dan nikmat saat menyentuh lidah, sekarang rasanya merupakan campuran enak, nyeri, perih, linu, ngilu, dan nikmat. Kenikmatan puncak terasa saat akan menelan. Sakit dan nikmat sungguh menyatu benar rasanya, karena luka lidah itu ada di bagian belakang dekat dengan rongga tempat makanan dan minuman masuk ke tenggorokan. Tiap kali makanan dan minuman mau ditelan, mirip saat mengendara melewati polisi tidur. Terasa ada gajlukan. Sakit sekaligus asyik. Sebab ada kejutan yang terduga. Mungkin sama persis nonton film yang happy endingnya sedih.

 

Luka kecik di lidah ini sungguh membuatku semakin memahami apa artinya menjadi manusia. Manusia bukanlah hasil penjumlahan atau agregat semua rasa dan sensasi yang dialaminya. Tetapi merupakan campuran atau sitesis semua rasa yang tidak dapat lagi dipisah atau diklasifikasikan seperti penjumlahan. Semuanya menyatu dalam keutuhan, bersatu padu seperti saat kita membuat adonan kue atau sambel. Ketika sambel itu sudah jadi kita tidak lagi dapat memisahkan mana cabe, tomat, garam, guka, terasi, dan jeruk nipis. Kenikmatan sambel itu dirasakan karena semua unsur itu sudah menjadi satu yaitu sambel.

 

Hidup manusia tidak pernah merupakan cerita tunggal yang berisi hanya kebahagiaan atau kesedihan saja. Pun tak mungkin hanya dipadati oleh melulu kebaikan fan pahala. Pastilah ada kesalahan dan dosa. Kebanyakan dosa yang disengaja. Umumnya karena ada sensai, kejutan, dan kenikmatan di dalamnya.

 

Manusia bukanlah sebuah laci atau lemari yang isinya bisa disusun dalam berbagai kategori. Di sebelah atas kanan kesedihan, di sebelah atas kiri kebahagiaan, di bawah kanan kebaikan, di bawah kiri kedalahan, sampai semuanya penuh. Manusia itu lebih mirip hologram, semua yang melewati dan masuk ke dalamnya dicampur aduk menjadi keutuhan manusia. Meskipun secara intuitif kita masih bisa mengenali ini kesedihan karena cinta, ini kesedihan disebabkan kehilangan duit, ini kegembiraan karena lulus ujian, dan ini kebagahagiaan karena pernikahan. Namun, semuanya telah menjadi satu, yaitu seorang manusia yang utuh. Keutuhan yang dinamis, terus bertumbuh, mekar dan berubah. Sungguh semua paduan yang indah inilah yang membuat hidup itu indah, karena bisa dinikmati dan disyukuri.

 

MENJADI MANUSIA BAHAGIA ITU BISA MUDAH, MENIKMATI APAPUN DAN TERUS BERSYUKUR.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s