PELATIH PORTUGAL: PEMAIN TERBAIK DUNIA BUKAN JAMINAN

 

TEMPO.CO, (16 Juni 2014). Jakarta – Pelatih Portugal, Paulo Bento, telah menekankan bahwa tak ada jaminan untuk sukses dalam laga pembuka Grup G Piala Dunia melawan Jerman pada Senin malam nanti, 16 Juni 2014, meskipun timnya diperkuat Cristiano Ronaldo…. Memiliki pemain terbaik dunia, kata Bento, tak berarti harus menjadi juara dunia. “Saya tahu bahwa beberapa orang di negara saya tidak suka saya bilang itu. Apa yang harus dilakukan adalah fokus keluar dari grup. Terlepas dari kelompok orang apa pun, Anda harus mendahulukan apa yang terbaik di tim, kemudian akan diakui secara individual,” ujarnya.

 

Bento tidak salah, Portugal dilibas Jerman 4-0, dan satu kartu merah untuk Pepe, pemain langganan kartu merah pada banyak kompetisi. Malam itu CR 7, pemain terbaik dunia seperti ‘ayam kehilangan induk’ di lapangan hijau. Ia lebih banyak marah daripada memainkan bola. Sama sekali tak terlihat ia adalah pemain terbaik dunia. Untuk sementara padanya pantas disematkan gelar baru, ‘ayam sayur’.

 

Kekalahan Portugal memang tak terelakkan, karena soliditas atau kekompakan pemain sangat tidak bagus. Mereka sangat mengandalkan CR7 yang dijaga sangat ketat, dan pasokan bola padanya terus menerus dipotong dan diserobot. Sungguh CR7 tak berkutik, Portugal babak belur.

 

Apapun yang membutuhkan kerja sama sebagai tim, sepak bola atau pekerjaan lain dalam kehidupan nyata, memang tak bisa bersandar pada seseorang saja. Seberapa hebatnya pun seseorang itu. Pastilah ada keuntungan yang bisa dimaksimalkan bila di dalam tim ada seseorang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Namun, bila semuanya tergantung padanya, pastilah bencana kesudahannya.

 

Inilah kenyataan hidup yang niscaya. Siapa pun tak bisa menolak atau membantahnya. Namun, tidak semua orang mau dan mampu menyadari kenyataan ini, apalagi mempraktikkannya. Kadang ego begitu menggunung dan membubung setinggi langit tertinggi. Akibatnya jadi mudah mengabaikan orang lain. Ada perasaan, bahkan menjadi semacam keyakinan akulah yang menentukan, tanpa aku pekerjaan ini tak akan selesai, tak akan sukses. Tanpa aku tim ini akan keok, pasti kalah. Karena akulah penentu.

 

Suatu kali Belanda dan Jerman memiliki pemain yang sangat jempolan, masing-masing pemain tak mau mengecilkan egonya dan membangun kebersamaan. Hasilnya mereka pulang lebih dulu, saat kompetisi baru saja dimulai. Pelatih benar-benar diabaikan. Perintahnya tak didengar dan strategi yang disusunnya sama sekali tak diperhatikan.

 

Bila di dalam sepak bola yang hanya terdiri dari sebelas pemain, dan bertanding dalam lapangan yang luasnya sangat terbatas, kekokohan ego bisa hancurkan kesebelasan. Apalagi dalam hidup nyata yang lebih kompleks.

 

Membangun keseimbangan antara kekokohan ego dan soliditas komunitas dalam aura kebersamaan memang tidak selalu mudah. Ini lebih merupakan seni daripada ilmu. Karena akarnya adalah kecerdasan emosional. Kematangan pribadi untuk kesediaan menerima dan berbagi.

 

Kesukarannya adalah kebanyakan orang yang memiliki kelebihan, apalagi bila kelebihannya sangat istimewa, biasanya egonya bahkan melampaui kelebihannya itu. Mereka selalu yakin, bahwa sikap egoisnya yang keterlaluan itulah yang membuat kelebihannya luar biasa. Bukan sebaliknya.

 

Inilah yang menjadi sebab mengapa sangat sulit mengawinkan aku dan kau menjadi kita. Meskipun sangat disadari bahwa kekitaanlah yang sangat menentukan keberhasilan sebuah tim atau kelompok.

 

Begitu sulitnya mengendalikan apalagi menundukkan ego. Sampai-sampai Sang Budha menyatakan perjuangan tersulit bagi setiap manusia adalah meluluhkan egonya.

 

Bisa saja persoalan kekokohan ego ini berakar pada proses terjadinya manusia. Saat terjadi pembuahan, ada jutaan sperma bahkan lebih yang dipancarkan. Namun, hanya satu yang bisa sampai dan menembus indung telur. Pastilah untuk sampai ke indung telur itu membutuhkan perjuangan yang keras dan luar biasa.

 

Konon katanya, ini hanya sebuah dugaan, bila jutaan sperma itu saling bekerja sama untuk sampai dan menembus indung telur, dan secara ikhlas membiarkan salah satu dari mereka menembus indung telur, lahirlah manusia yang mudah berempati, berbagi, dan bekerja sama.

 

Namun, jika proses untuk sampai ke indung telur melalui pertarungan yang seru, sampai pada babak belur dan akhirnya ada satu yang sampai dan menembus indung telur. Terlahirlah manusia yang sangat egois, bahkan menjadi raja tega.

 

Kemungkinan ketiga adalah campuran kerjasama dan tarung. Pada mulanya sperma itu saling bantu, di tengah jalan terjadi persaingan dan pertarungan, kemudia terbentuk semacam genk yang bekerjasama secara terbatas untuk mengalahkan genk lain. Bila akhirnya sampai dan menembus indung telur, lahirlah manusia yang bisa bekerja sama dan berbagi dengan orang tertentu saja. Saya juga gak yakin apa dugaan ini benar. Saya hanya menduga-duga saja.

 

Manusia ditakdirkan sebagai individu yang harus hidup dalam kebersamaan. Jika tidak kembar, ia di rahim sendirian. Dalam keadaan normal, ia akan dikubur atau dikremasi sendirian. Tetapi di antara rahim dan kuburan ia harus hidup dalam kebersamaan. Pastilah tidak mudah bagi semua orang untuk bisa bekerjasama dengan tetap merasakan dan menghayati kekokohan egonya.

 

MEMBANGUN KESELARAN EGO DAN KEBERSAMAAN MEMANG TIDAK SELALU MUDAH.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s