YANG MISKIN YANG BERJAYA?

 

Di tengah kebisingan kampanya pilpres yang semakin tak menarik karena sangat dicoraki kampanye hitam, perhatian publik sementara teralihkan oleh prestasi anak tukang becak yang menjadi lulusan terbaik di sebuah universitas. Indeks Prestasi Kumulatifnya nyaris 4, angka tertinggi yang bisa dicapai mahasiswa. Sungguh ini prestasi yang mengagumkan dan membanggakan.

 

Di Jawa Timur, anak tukang jahit mendapat peringkat tertinggi UN se propinsi, dan peringkat dua secara nasional. Beberapa tahun belakangan ini selalu terjadi, anak dari keluarga miskin mendapat nilai tertinggi UN pada berbagai tingkat, dari kabupaten sampai tingkat nasional.

 

Biasanya karena diberitakan media massa, mereka segera mendapat perhatian dari pemerintah. Bahkan presiden punya waktu untuk ketemu anak tukang becak yang lulus dengan predikat terbaik. Tentu saja cara ini bukanlah solusi terbaik bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak dan kurang mampu. Kesan kuat bila memberikan perhatian langsung apalagi sampai masuk semua pemberitaan, lebih tampak sebagai pencitraan daripada memberikan solusi terbaik.

 

Sebagaimana anak dari golongan mampu, tidak semua anak dari keluarga tidak dan kurang mampu bisa menjadi peraih nilai tertinggi. Banyak di antara mereka yang memiliki potensi untuk meningkatkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun terkendala biaya.

 

Program pendidikan gratis yang biasanya paling banyak ‘dijual’ saat kampanye politik ternyata menyimpan sejumlah besar masalah. Biasanya yang gratis itu adalah bayaran sekolah. Di beberapa daerah bantuan buku memang berjalan, tetapi tidak untuk semua buku. Tidak sedikit sekolah yang melakukan macam-macam kutipan. Ujung-ujungnya anak-anak dari keluarga miskin mengalami kesulitan melanjutkan pendidikan, bahkan banyak yang terpental, tak dapat bertahan.

 

Upaya memberikan beasiswa kepada mereka yang tergolong miskin juga harus disertai pengawasan yang sangat ketat. Maklumlah, tidak sedikit orang yang tak punya rasa malu, mengusahkan surat keterangan tidak mampu, bahkan dengan cara ‘membeli’, padahal sebenarnya mampu. Dengan demikian bantuan yang dimaksudkan untuk mereka yang miskin tidak tepat sasaran.

 

Sudah saatnya untuk membangun sebuah sistem pendidkan yang ramah dan memberikan tempat bagi orang miskin pada semua jenjang. Oleh karena angka putus sekokah masih sangat tinggi.

 

UNICEF mencatat, sampai 2012 masih ada sekitar 2,3 juta anak usia 7-15 tahun yang tidak bersekolah. Propinsi JawaTengah, JawaTimur, dan Jawa Barat, dimana terdapat sebagian besar penduduk Indonesia, ada 42% anak putus sekolah.

 

Dalam liputan khusus Kompas.com dijelaskan, berdasarkan data BPS tahun 2013, rata-rata nasional angka putus sekolah usia 7–12 tahun mencapai 0,67 persen atau 182.773 anak; usia 13–15 tahun sebanyak 2,21 persen, atau 209.976 anak; dan usia 16–18 tahun semakin tinggi hingga 3,14 persen atau 223.676 anak. Provinsi terbanyak siswa putus sekolah usia 7–12 tahun dan 13–15 tahun adalah Jawa Barat hingga masing-masing 32.423 anak dan 47.198 anak. Pada usia 16–18 tahun, distribusi putus sekolah terbanyak di Provinsi Jawa Timur mencapai 35.546 anak.

 

Viva news (2 Mei 2013) memberitakan, Mendikbud: Angka Putus Sekolah Masih Tinggi di 173 Kabupaten.Program wajib belajar 9 tahun di 173 kabupaten itu belum tuntas.

 

Beragam data di atas memperlihatkan bahwa angka putus sekolah memang masih sangat tinggi. Itu artinya dibutuhkan terobosan-terobosan baru untuk melengkapi berbagai upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini.

 

Harus ada jaminan bahwa semua anak Indonesia, terutama dari golongan miskin untuk bersekolah. Agar wajib belajar 9 tahun sungguh-sungguh bisa diujudnyatakan sampai tuntas. Apalagi sudah semakin kuat desakan agar pemerintah segera mewujudkan secara sistematis wajib belajar 12 tahun. Pastilah ini bukan pekerjaan yang mudah.

 

Sementara itu daerah-daerah yang memang memiliki pendapatan yang tinggi harus didorong melaksanakan wajib belajar 15 tahun. Dengan demikian secara nyata terjadi peningkatan kualitas manusia Indonesia.

 

Pendekatan ala sinterklas dengan cara memberi bantuan hanya kepada mereka yang berprestasi gemilang, dan jadi pemberitaan nasional, pastilah tidak akan dapat membantu masyarakat miskin meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidupnya. Sudah terbukti kualitas dan kesejahteraan hidup bisa ditingkatkan melalui pendidikan. Karena itu harus diusahakan pendidikan yang dapat dinikmati terutama oleh masyarakat miskin.

 

Harus ada upaya untuk melibatkan masyarakat, khususnya yang mampu, untuk ikut membantu masyarakat miskin yang putus sekolah. Penyadaran pada masyarakat perlu terus ditingkatkan, bahwa nasib anak-anak bangsa yang miskin adalah tanggung jawab kita semua. Sebagai contoh, para agamawan perlu mengingatkan masyarakat mampu yang tampaknya sangat suka melakukan ibadah umroh berulang kali. Bukankah dana umroh berulang kali itu lebih baik digunakan membantu anak-anak miskin yang putus sekolah?

 

Begitu juga perlu dihimbau masyarakat mampu yang banyak membangun fasilitas ibadah yang sangat mewah. Tidakkah lebih baik dana untuk fasilitas fisik yang sangat mewah itu digunakan sebagian untuk membangun manusia, terutama mereka yang miskin.

 

Tidak perlulah rasanya membuat gerakan yang dulu dilakukan pada zaman orde baru, seperti gerakan nasional orang tua asuh, yang pemberitaannya sangat hebat, pengumpulan dananya juga luar biasa. Tetapi kita tidak pernah tahu hasilnya. Lebih baik masyarakat dalam kelompok-kelompok kecil secara rutin memberi bantuan pendidikan bagi anak-anak miskin itu.

 

Bagusnya, sudah banyak pengajian ibu-ibu yang tidak membuang dananya untuk memanggil ustad yang lagi terkenal dengan bayaran sangat mahal. Tetapi secara rutin memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak tidak mampu. Jangan juga memberikan bantuan hanya pada bulan Ramadhan. Setelah Ramadhan anak-anak itu kan masih harus hidup dan sekolah.

 

MEMBANTU PENDIDIKAN KAUM MISKIN MERUPAKAN AMAL SHALEH SOSIAL YANG LUAR BIASA.

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s