FAKTOR SEJARAH DALAM SEPAK BOLA

 

Setelah Belanda menghancurkan Spanyol 5-1, dan Australia kalah dari Cile 2-1, banyak orang memperkirakan Belanda akan menang mudah dari Australia. Tidak sedikit orang yang mungkin agak lupa bahwa dalam tiga pertandingan sebelumnya, Australia tak pernah kalah. Dua kali seri dan satu kali Belanda kalah. Jadi, Australia bukanlah lawan yang mudah bagi Belanda. Benar saja, pada piala dunia kali ini Belanda sempat kalah, meskipun akhirnya menang.

 

Setelah dibantai Belanda 5-1, masyarakat Spanyol percaya bahwa kesebelasan mereka akan tetap lolos dan bisa mengalahkan Cile. Sebab Cile memang tidak pernah bisa mengalahkan Spanyol. Bertanding dengan Cile enam kali, Spanyol menang 5 kali dan seri sekali, termasuk kemenangan 2-1 saat piala dunia 2010. Namun, Spanyol keok 2-0 dari Cile. Tragis, mantan juara dunia 2010, gugur lebih awal pada 2014 ini.

 

Brasil berharap bisa kalahkan Mexico dan langsung lolos ke babak berikutnya. Karena Brasil memang lebih hebat dari Mexico, dari 20 pertandingan, Brazil menang 15 kali, 3 kali seri, dan hanya 2 kali kalah. Namun, kehebatan kiper Mexico membuat Brazil gigit jari. Kedudukan akhir 0-0, meski dalam pertandingan terus menyerang dan menciptakan banyak peluang.

 

Itali mampu memertahankan sejarah kemenangan melawan Inggris. Pertemuan pada piala dunia kali ini Itali kalahkan Inggris 2-1. Sebelumnya, dari sembilan pertandingan Inggris hanya menang sekali, kalah enam kali, dan seri dua kali.

 

Kadang dominasi sejarah bisa menentukan, seperti yang ditunjukkan Itali. Namun tidak selalu faktor sejarah itu tidak bisa dilampaui. Cile, Mexico dan Belanda mampu melampauinya.

 

Manusia dan kelompok manusia bisa saja mengalami trauma atas sebuah kejadian buruk yang menimpanya. Trauma itu sangat mengganggu dan mendominasinya sehingga ia secara negatif terus dipengaruhi oleh trauma tersebut.

 

Selama menangani korban bencana alam di Aceh, Merapi, Padang, Sukabumi dan tempat-tempat lain, serta membantu korban konflik di Poso, Ambon, Sampit, dan Madura, kami selalu berhadapan dengan korban yang tak lagi bisa hidup tenang karena trauma.

 

Seorang guru asal Meulaboh yang kami bawa ke kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di Jalan Sudirman Jakarta, menjerit keras, ketakutan, dan memelukku saat berada di dalam lift. Sewaktu hendak naik lift yang berusia tua itu mengeluarkan suara keras dan agak bergetar. Semua yang ada di dalam lift kaget. Aku jelaskan siapa guru tersebut. Semua orang bukan saja memahami, mereka bersimpati padanya. Suara keras dan getaran itu mengingatkannya secara otomatis dengan dengalaman tsunami yang menyebabkan istri dan tiga anaknya tak pernah lagi diketemukan. Rupanya peristiwa tsunami telah meninggalkan luka mendalam pada sistem otaknya, khususnya otak emosi. Akibatnya apapun yang dapat membangkitkan ingatannya tentang peristiwa mengerikan yang pernah dirasakannya, langsung membuatnya ketakutan dan kehilangan kendali diri. Sungguh tak mudah membebaskannya dari pengaruh buruk luka menganga yang telah menggores sangat dalam pada sistem otaknya.

 

Pengalaman buruk yang dialami secara pribadi dan langsung, kemudian meninggalkan luka yang memengaruhi secara negatif, tampaknya bisa difahami. Bagaimana menjelaskan rasa traumatis yang tidak berasal dari pengalaman pribadi? Para pemain Itali dan Inggris yang bertanding pada piala dunia kali ini, pernah mengalami pertandingan pada waktu sebelumnya. Rasanya beban mental pemain Inggris masih bisa difahami. Tetapi kekalahan mereka atas Itali terjadi sejak lama sekali. Para pemain sekarang ini, mungkin masih bayi saat kekalahan itu terjadi dahulu kala. Koq bisa beban mental itu masih mengganduli? Mirip kesebelasan Indonesia yang selalu kalah dari Malaysia dari zaman dahulu hingga kini. Tampaknya jika bermain dengan Malaysia, para pemain kita seperti sangat terbebani oleh banyak kekalahan dari masa lalu. Padahal mereka tidak pernah mengalaminya.

 

C.G. Jung penggagas psikologi analitis dan pernah menjadi murid Sigmund Freud lalu menentangnya percaya bahwa ada ketidaksadaran kolektif. Semacam museum dalam ketidaksadaran manusia yang menyimpan berbagai pengalaman yang berasal dari para moyangnya. Ketidaksadaran kolektif itu bisa ikut memengaruhi setiap orang, tentu dengan cara yang kurang disadari, meskipun si orang itu belum pernah mengalami sebelumnya. Para pemain Inggris tahu bahwa dlam sejarah panjang mereka selalu kalah dari Italia. Saat mereka bertanding dengan Italia ada semacam hambatan mental yang membuat rasa kalah dan tak berdaya itu ada dalam diri. Mereka tak mampu keluar dari penjara rasa tak berdaya itu. Rasa tak berdaya itu bukan saja muncul dari pengetahuan, lebih dahsyat lagi timbul dari ketidaksadaran kolektif tentang kekalahan yang terus menerus.

 

Seringkali perasaan akan kalah itu bukan hanya menimpa diri pemain. Bahkan penonton. Saat Belanda bertemua Spanyol pada final piala dunia 2010 banyak orang yang percaya bahwa Belanda yang tak terkalahkan sampai partai final sejak babak penyisihan itu akan kalah. Mengapa? Karena sudah terbentuk semacam keyakinan bahwa Belanda adalah spesialis juara dua di piala dunia. Tampaknya Belanda pun sangat susah melampaui beban sejarah ini. Pada partai final itu para pemainnya sungguh tidak dapat bermain lepas seperti saat mengalahkan Brazil pada pertandingan semi final.

 

Namun di piala Eropa 1998 Belanda sungguh melampaui beban sejarah. Bermain di Jerman Barat, Belanda berhasil mengalahkan Jerman Barat yang selalu mengalahkannya pada semi final dan menjadi juara setelah mengalahkan Rusia yang lebih dulu mengalahkan Belanda pada babak penyisihan grup.

 

KEMAMPUAN MELAMPAUI BEBAN SEJARAH MERUPAKAN JALAN BAGI KESUKSESAN.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s