KOMPETISI ITU KEJAM

 

Spanyol masih juara dunia dan Eropa, sebab juara baru belum ada. Tetapi Spanyol sudah tersingkir di awal kompetisi. Padahal baru saja kita saksikan duo Madrid/Spanyol bertemu dalam final liga champion Eropa. Seakan semua kehebatan Spanyol menguap begitu saja.

 

Inggris tersisih lebih awal di grup neraka. Australia pulang kampung dengan kenangan bisa membuat gol ke gawang Cile dan Belanda. Kamerun juga mesti segera mudik. Sementara yang lain masih harus berjuang keras untuk sekadar bertahan. Costa Rica yang sama sekali tak diperhitungkan, membuat kejutan dengan mengalahkan Italia dan menjadi yang pertama lolos di grup neraka.

 

Inilah kompetisi,seiring pergerakan waktu, harus ada yang tersingkir, karena kompetisi hanya membutuhkan satu juara. Yang dapat bertahan adalah yang terbaik dan beruntung. Kecurangan tampaknya bukan faktor penentu. Karena kompetisi piala dunia sangat terbuka, ditonton milyaran orang di dunia melalui siarang langsung. Siapa pun yang berbuat curang akan langsung terlihat. Tentu saja kecurangan di lapangan. Kecurangan di luar lapangan pasti sulit diketahui.

 

Semua negara yang ikutan sudah mempersiapkan diri. Mereka telah melalui babak penyisihan dalam wilayah masing-masing. Ini berarti mereka telah mengalami ujian yang yang tidak enteng. Hanya yang terbaik dan beruntung yang bisa lolos dari babak penyisihan ini. Swedia sebagai contoh, meskipun kesebelasannya tergolong kuat dan selalu mengikuti kompetisi piala Eropa dan piala dunia, serta memiliki pemain berkaliber seperti Ibrahimovic, namun tak lolos. Artinya faktor keberuntungan ikut menentukan.

 

Dalam kompetisi yang sangat ketat dan beskala dunia ini kesalahan sekecil apapun dapat menjadi penyebab malapetaka yang menjungkirkan kesebelasan terbaik. Spanyol telah jadi korban dari sejumlah kesalahan kecil pemain bertahan, terutama kiper utama mereka yang memang sudah harus pensiun, Casillas.

 

Tekanan mental pastilah sangat berat. Inilah yang membuat pemain dan pelatih bisa kehilangan kendali. Pertengkaran di antara pemain Kamerun merupakan akibat dari tekanan yang berat tersebut.

 

Cedera juga sangat menghantui para pemain. Kehancuran Portugal tampaknya juga disebabkan oleh cedera yang menimpa sejumlah pemainnya, termasuk CR7.

 

Faktor cuaca pastilah ikut menentukan. Boleh jadi tidak optimalnya permain kesebelasan Eropa karena cuaca di Brazil memang kurang bersahabat dengan mereka. Sedangkan bagi pemain asal Amerika Latin, Afrika, dan Asia cuaca amat panas ini tidak terlalu menimbulkan masalah.

 

Tidak mengherankan bila kompetisi ini terasa teramat kejam. Tak ada tempat bagi yang lemah dan lengah. Tak ada celah untuk lolos bagi yang tidak fokus. Kompetisi ini menggilas dan menghancurkan siapa pun yang tidak kompak dan tidak mampu menghadapi tekanan berat. Sebab setiap tahap pertandingan menjadi semakin menentukan dan berat. Ini kompetisi yang membutuhkan sesiapan dan kekuatan mental dan fisik sekaligus. Di sini sungguh berlaku semboyan, apapun yang tidak dapat mengalahkan, membuat kita bertambah kuat. Setiap kekalahan adalah petaka dan sekaligus bisa menguburkan kesempatan untuk maju lebih jauh. Pada babak 16 besar, kekalahan berarti kehancuran.

 

Sehebat, sekeras, seberat, dan sedahsyat apapun kompetisi piala dunia belumlah seberapa dibanding kompetisi dalam hidup nyata. Kompetisi piala dunia hanya berujung juara atau kalah dan pulang kampung ke negara masing-masing.

 

Kompetisi dalam kehidupan nyata menyangkut keberadaan dan kebertahanan kita sebagai manusia. Kekalahan bisa berarti mengantarkan kita pulang ke kampung akhirat, menyudahi perjuangan kita sebagai manusia.

 

Dalam kompetisi piala dunia atau kompetisi kehidupan kegagalan merupakan bagian dari resiko yang niscaya atau tak terelakkan. Potensi resiko dan keberhasilan sungguh-sungguh bersanding di depan mata. Cilakanya penentuan keberhasilan dan kegagalan tidak bisa sepenuhnya kita yang tentukan.

 

Pada tahap inilah kita mesti sungguh menyadari bukan hanya bola yang bulat, nasib juga bulat. Tak pernah bisa diduga arah dan tujuannya, kemana perginya. Tendangan pinalti saja bisa tak jadi gol di kaki pemain sekaliber Messi, Neymar, CR7, van Versie, dan Benzema.

 

Pertandingan sepak bola dan kehidupan bukanlah perhitungan matematika atau statistik yang memiliki kepastian dan mudah diprediksi, dengan tingkat kekeliruan yang sangat kecil. Tetapi lebih merupakan puisi atau mantra yang misterius, tak mudah difahami karena memiliki makna yang relatif tak terbatas.

 

Kompetisi pasti melahirkan juara. Tetapi tak pernah ada jaminan yang juara bisa terus bertahan. Spanyol telah buktikan itu. Juara bertahan yang tersingkir pada awal kompetisi. Setelah tersingkir, orang jadi lupa pada semua kehebatannya. Dulu dipuji, kini dimaki.

 

Dalam hidup keadannya sama saja. Ada orang atau kelompok orang yang dengan berbagai cara jadi penguasa. Kekuasaan itu tak pernah langgeng dan abadi. Pasti datang saatnya kuasa itu mesti ditinggalkan atau meninggalkan sang penguasa. Sejarah panjang manusia tunjukkan lebih banyak yang jadi terhina karena kekuasaan daripada jadi yang mulia. Saat kuasa dipuji dan dikerumuni, kala kuasa hilang dicaci dan dibelakangi.

 

Kompetisi piala dunia ini mestinya membangkitkan kesadaran yang mendalam pada kita bahwa

 

HIDUP ADALAH KOMPETISI YANG KEJAM.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s