SWISS: GENERASI (L)EMAS

 

Swiss datang ke piala dunia dengan semangat tinggi. Mereka lolos dengan hasil maksimal dan berada pada rangking 6 pada peringkat FIFA. Karena pemainnya kebanyakan menjadi pemain utama di klub-klub unggulan, Swiss mendapat sebutan bergengsi yaitu generasi emas.

 

Bersebalikan dengan itu, Perancis lolos ke piala dunia dengan susah payah. Harus melakukan pertandingan playoff melawan Ukraina. Sempat kalah 2-0 pada pertandingan pertama. Akhirnya Perancis lolos setelah mengalahkan Ukraina 3-0 dengan gol kontroversial Benzema. Perancis datang ke Brazil pada peringkat 17 FIFA.

 

Generasi emas Swiss susah payah untuk bisa kalahkan Ekuador 2-1. Dan hancur lebur saat ketemu Perancis. Sempat ketinggalan 5-0. Baru mampu membuat gol saat Perancis mulai menurunkan tempo permainan. Kekalahan telak generasi emas ini karena mereka kucar-kacir di semua lini. Para pemain seperti baru pertama kali ikut kompetisi. Banyak lakukan kesalahan dan salah pengertian. Padahal sebelum pertandingan, pelatih Swiss sesumbar bahwa mereka lebih baik dari Perancis.

 

Kompetisi besar dan ketat seperti piala dunia tak pernah mudah bagi negara mana pun. Termasuk yang sudah pernah juara seperti Brazil, Italia, Spanyol, Uruguay, Inggris dan yang lainnya. Apalagi bagi Swiss. Spanyol dan Inggris telah tersingkir? Italia dan Uruguay harus bertanding hidup mati agar bisa bertahan.

 

Pemain hebat saja belum cukup. Pelatih top dan berpengalaman bukan jaminan. Dibutuhkan kemampuan lebih, terutama yang bersifat mental. Seluruh pemain tanpa kecuali harus punya semangat baja, jiwa pantang menyerah. Khususnya saat ketinggalan gol. Tampaknya pada sisi ini para pemain Swiss kali ini belum siap. Mereka tampak sangat kaget dengan tejanan Perancis yang menghasilkan gol. Gol pertama saja sudah terlihat mereka mulai goyah. Gol kedua makin hancurkan mereka. Pemain bawah mulai kehilangan kendali.

 

Roh permain Swiss yang biasanya solid dan terbiasa bermain cepat dan menekan benar-benar tak muncul. Bisa jadi ini semua terjadi karena ada perasaan meremehkan Perancis. Dan berbalik kaget saat Perancis lebih dulu membuat gol. Pelatih pun tampaknya kehabisan akal.

 

Dalam sepak bola dan hidup ada sejumlah sikap yang memang bisa hancurkan kita. Rasa percaya diri yang berlebihan dan meremehkan orang lain. Karena merasa lebih hebat, lebih tinggi, lebih tahu dan memiliki segalanya. Sebaliknya pihak yang diremehkan justru akan tanpa beban menghadapi dan hancurkan kita.

 

Hidup sebenarnya sudah ajarkan bahwa semua manusia dan kelompok manusia itu pasti memiliki plus minus. Atas dasar fakta itu kita mestinya tak boleh remehkan orang atau sebaliknya merasa sangat takut pada orang lain. Kesebalasan terbaik dan terhebat pun bisa kalah, sedangkan kesebelasan yang dipandang sebelah mata bisa hancurkan yang sangat kuat. Fakta inilah yang menjadi hakikat hidup.

 

Oleh sebab itu sikap saling menghormati dan menghargai sebagai sesama yang setara itu sangat penting dalam hidup dan kompetisi. Sikap saling menghormati itu akan membuat kita menjadi sangat hati-hati dan berhitung betul bila harus berhadap-hadapan dalam kompetisi. Sebagai akibatnya kita akan mampu menghadapi apapun yang terjadi. Karena sepenuhnya menyadari lawan yang setara itu memiliki sejumlah kekuatan yang bisa menggilas bila kita lengah, tak fokus dan kehilangan kendali.

 

Kita bisa belajar dari sejarah panjang manusia. Kapan seorang penguasa yang sangat kuat, perkasa, dan tak terdandingi jatuh? Pada saat ia merasa di puncak kekuasaan, memanangkan semua peperangan dan sangat merasa tak bakal ada yang bisa kalahkan dia. Itu terjadi pada Firaun dan Hitler.

 

Karena merasa tak ada lagi yang bisa imbangi dan kalahkan, mampu mengatur segalanya dan semua perintahnya dituruti dengan kepatuhan penuh, serta semua orang takut padanya, Firaun sampai merasa dan mengaku bahwa dia adalah tuhan. Pada saat itulah ia jatuh, hancur berantakan. Pasukan Hitler hancur karena kepercayaan diri Hitler yang berlebihan karena memenangi banyak pertempuran, dan memaksakan pasukan terus merengsek masuk untuk hancurkan Uni Sovyet. Dia sampai tak perhitungkan bahwa salju sangat tebal dan dingin merasuki sumsum. Akhirnya oasukan Hitler digilashancurkan dingin yang terlalu. Hitler kemudian harus menerima kekalahan dengan cara bunuh diri.

 

Memang harus diakui, dalam hidup yang paling sukar dilakukan adalah menakar kapasitas diri dengan jujur dan objektif. Kebanyakan manusia suka lebay atau berlebih-lebihan dalam menghargai dan memuji diri sendiri. Bersamaan dengan itu, tak pandai melihat, mengakui dan menghargai kapasitas dan kelebihan orang lain.

 

Sejak dulu para sepuh sudah mengajarkan dan mengingatkan kita akan sebuah penyakit berbahaya dalam rumusan, gajah di pelupuk mata tak terlihat, tungau di seberang lautan tampak.

 

Mestinya kita mampu memanfataatkan kelbihan diri secara proporsional dan melihat kelemahan orang secara adil dan terukur. Atas dasar sikap itu menyusun strategi untuk memenangkan kompetisi apapun dalam hidup.

 

Agaknya kepercayaan diri yang berlebihan karena telah dipuji sebagai kesebelasan yang terdiri dari generasi emas. Swiss berbalik menjadi kesebelasan dengan generasi lemas. Hancur berantakan saat kompetisi baru pada awalnya.

 

KEMAMPUAN MENAKAR KAPASITAS DIRI DENGAN JUJUR DAN OBJEKTIF ADALAH AWAL DARI KESUKSESAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s