AKAN SANGAT BERBEDA

 

Spanyol membantai Australia 3-0. Namun, pertandingan itu tak lagi penting, tak pengaruhi apapun. Hanya hindarkan posisi Spayol jadi juru kunci grup. Setidaknya bisa jadi hiburan, bahwa akhirnya mereka bisa menang.

 

Sayangnya pertandingan itu terjadi saat terakhir, kala Spanyol sudah pasti tersingkir. Andaikan pertandingan ini merupakan pertandingan perdana. Pastilah akan sangat berbeda maknanya. Tetapi inilah nasib manusia, sungguh bulat seperti bola.

 

Setelah pembagian grup piala dunia, para pengamat dan komentator mulai sibuk membuat macam-macam analisis dan prakiraan. Ada sebutan grup neraka karena berisi negara yang kuat sepak bolanya dan pernah juara dunia. Grup yang dinyatakan paling neraka adalah yang terdiri dari tiga juara dunia yaitu Italia, Uruguay, dan Inggris. Karena Costa Rica tak punya prestasi menonjol, maka semua pengamat berkesimpulan Costa Rica akan menjadi korban. Dari grup Spanyol, Belanda, Cile, dan Australia yang diprediksi lolos adalah Spanyol dan Belanda. Begitulah seterusnya, dalam setiap grup ada unggulan yang diduga kuat pasti lolos, dan ada pecundang yang selalu dikatakan tipis kemungkinan untuk lolos.

 

Penyisihan grup akan segera berakhir. Sejumlah negara unggulan tersingkir dengan tragis dan tentu saja di luar dugaan. Justru yang pertama tersingkir adalah sang juara, Spanyol. Diikuti Inggris. Sementara itu masih ada negara unggulan yang berada di tepi jurang.

 

Ketidakpastian. Itulah kata kuncinya.

 

Saat pembagian grup, negara peserta sudah mulai berhitung berbagai kemungkinan yang akan terjadi dan bagaimana peluangnya. Bisa dengan sangat jelas dihitung beragam kemungkinan. Bisa menang lawan negara ini, dan seri dengan negara itu karena kekuatannya berimbang. Rupanya pembagian grup saja belumlah bisa dijadikan patokan.

 

Berikutnya adalah penentuan jadwal yang lebih rinci berisi siapa lawan siapa pada pertandingan kedua, dan ketiga pada fase penyishan grup. Semuanya dilakukan dengan cara acak, dipilih secara manasuka. Cara pemilihan inilah yang membuat nasib itu bulat seperti bola. Tak ada yang tahu sebelumnya, siapa yang akan dihadapi pada pertandingan pertama. Padahal pertandingan pertama itu sangat menentukan, terutama secara mental. Nasib mempertemukan Belanda lawan Spanyol, bukan Spanyol lawan Australia. Dan Spanyol kalah telak. Nasib buruk itu pun mulai menggerogoti. Rupanya Spanyol tak kuat hadapi gerogotan nasib. Andai pertandingan pertama lawan Australia, pastilah akan sangat berbeda.

 

Ketidakpastian nasib beserta akibatnya bukan hanya terjadi dalam kompetisi. Pun terjadi dalam kehidupan kita. Dari sudut pandang kita, boleh kan kita bertanya, mengapa aku dilahirkan? Mengapa aku dilahirkan oleh keluarga ini? Mengapa aku terlahir di kota ini? Mengapa pada tanggal ini? Mengapa aku terlahir sebagai perempuan/lelaki?

 

Seorang anak Palestina yang melihat bagaimana tempat tinggalnya dihancurkan oleh tentara Israel dan orang tuanya dibunuh dengan keji. Pantas bertanya, mengapa aku dilahirkan oleh keluarga Paletina? Mengapa orang tuaku yang dibunuh? Mengapa rumahku yang dihancurkan?

 

Pastilah akan sangat berbeda jika anak itu dilahirkan sebagai orang Israel atau sebagai orang Solo. Akan berbeda lagi bila ia dilahirkan sebagai orang Oslo.

 

Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa kita pilih. Tetapi entah bagaimana ceritanya kitalah yang dipilih. Soal kelahiran itu adalah contoh yang paling jelas bahwa kita dipilih, bukan memilih.

 

Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa kita tentukan. Namun, kitalah yang ditentukan. Kita tak pernah tahu apa kriteria dan bagimana caranya penentuan itu dilakukan.

 

Semuanya ini yang membuat hidup manusia itu diliputi misteri dan dicoraki oleh ketidakpastian. Dengan misteri dan ketidakpastian itulah kita harus jalani hidup, suka atau tidak suka.

 

Pastilah ada resiko. Spanyol telah rasakan resiko itu. Sebagaimana kita juga rasakan resiko akibat misteri dan ketidakpastian itu. Pastilah terasa pahit, bahkan menyedihkan dan tragis.

 

Nasib kadang terasa gerogoti kita bagai gerombolan semut gerogoti bangkai capung. Tak ada daya sama sekali, bahkan untuk sekadar menghindar. Apalagi melawan.

 

Kondisi inilah yang membuat sejumlah filsuf eksistesialis macam Albert Camus, pemenang Nobel Satra, bahwa hidup itu absurd. Tak bisa dimengerti dan tak bermakna. Nietzsche memilih untuk tidak menerima atau pasrah. Ia memilih untuk melawan dengan cara menciptakan nasibnya sendiri. Dan kita tahu, tak ada manusia yang berhasil lakukan itu. Kegagalan itu sebenarnya berakar pada fakta tak terbantahkan bahwa sejatinya manusia memang tak punya kemampuan untuk menentukan dirinya secara penuh. Manusia hanyalah partisipan aktif yang bisa ikut serta, seperti air dalam gelombang besar, namun tak pernah bisa sepenuhnya ikut tentukan arah gelombang.

 

Orang-orang yang lebih positif bilang begini: sebenarnya apa yang akan terjadi terhadap alam semesta pada masa depan, siapa yang akan menjadi juara piala dunia bahkan pada tahun 2030, siapa yang jadi Presiden Indonesia pada tahun 3024 sudah tertulis dalam buku induk alam semesta. Tetapi karena kita tidak tahu isi buku induk itu, kita harus berusaha. Semoga usaha kita bisa merubah beberapa bagian dari isi buku itu.

 

 

DALAM HIDUP YANG PENUH MISTERI DAN KETIDAKPASTIAN, NILAI KITA SEBAGAI MANUSIA DITENTUKAN OLEH SEBERAPA KUAT KITA BERUSAHA DAN BERDOA, HASIL AKHIRNYA BUKAN URUSAN DAN KUASA KITA.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s