RAMADHAN DAN PIALA DUNIA

 

Ramadhan kali ini bertepatan dengan piala dunia. Bagi penggila bola bisa jadi ini saat yang baik. Karena bisa lanjutkan taraweh dengan nonton bola sambil menunggu sahur, dan bisa dilanjutkan setelah subuh. Pertanyaanya adalah, apakah sempat tadarusan? Atau tadarusan sambil menikmati pertandingan yang makin seru?

 

Ada kesamaan puasa Ramadhan dengan sepak bola pada piala dunia ini. Setiap pemain yang ikutan piala dunia adalah para pemain utama di klub-klub hebat. Mereka sudah sangat terlatih dan terus menerus bertanding. Justru kondisi itulah yang membuat mereka semakin hebat. Meski juga membuka peluang untuk cidera.

 

Walaupun mereka adalah pemain hebat yang sudah teruji dan sangat berpengalaman, saat akan memperkuat negara pada piala dunia ini mereka harus mengikuti pemusatan latihan dan tanding uji coba. Sehebat apapun pemain pasti akan dicoret jika ia tidak berdisiplin dalam pemusatan latihan.

 

Dalam pemusatan latihan inilah para pemain berlatih sebagai sebuah tim. Mereka membangun kekompakan, memperkuat kerjasama, dan semakin saling mengenal kepribadian dan gaya permainan satu sama lain. Pemusatan latihan ini tentu juga berfungsi membangun keselarasan cita rasa permainan sebagai sebuah tim yang kompak. Intinya pemusatan latihan ini sangat penting dan menentukan. Meskipun para pemain adalah pemain yang hebat dan berkaliber. Jadi, pemusatan latihan dilakukan untuk menghadapi dan memenangi kompetisi yang keras, ketat dan kejam.

 

Puasa Ramadhan adalah pemusatan latihan yang bersifat total. Disebut total karena puasa Ramadhan secara revolusioner mengubah kebiasaan hidup. Kebiasaan makan, istirahat, dan beribadah. Sungguh pemusatan latihan yang melibatkan totalitas kemanusiaan kita lahirbathin. Sengaja dibuat total karena memang dimaksudkan untuk mengubah kita. Agar kita menjadi manusia baru, seperti bayi yang baru lahir, dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang kebih baik.

 

Semua kebaikan bila dilakukan pada bulan Ramadhan dilipatgandakan balasannya. Sebenarnya terkandung maksud agar kita menyegerakan berbuat baik,mdan merasakan betapa nikmat dan indahnya berbuat baik. Kemudian kita memiliki kebiasaan berbuat baik sepanjang tahun sampai bertemu lagi dengan Ramadhan berikutnya.

 

Puasa Ramadhan sungguh memberi kita kesempatan untuk mengalami dan menghayati dengan intens indahnya ibadah, nikmatnya bersedekah, perihnya rasa lapar, dan sukarnya memertahankan ketulusan dan kejujuran. Puasa Ramadhan dengan metode langsung mengalami dan menghayati dimaksudkan hendak menjadikan kita orang yang menyadari keberadaan kita sebagai makhluk yang lemah namun tetap bisa bertahan demi dan untuk Allah. Karena puasa Ramadhan dirancang sebagai ibadah yang khusus, yang sungguh-sungguh menjadikan diri kita sendiri dan Allah sebagai saksi apakah kita jujur dan tulus. Tak ada orang lain yang bisa tahu. Puasa mengharuskan kita telanjang di hadapan diri sendiri. Lihatlah, betapa mahal kejujuran dan ketulusan itu!

 

Puasa Ramadhan juga dimaksudkan menjadikan kita manusia yang empatis, yang mengembangkan kehendak untuk berbagi berdasarkan penghayatan atas penderitaan secara langsung. Puasa Ramadhan hendak membangun kesadaran bahwa penderitaan adalah sesuatu yang nyata, yang ada dan berkembang di sekitar kita. Kita tentu tak boleh mengabaikannya. Dalam tautan inilah kita melihat puasa Ramadhan sekaligus membangun kesholehan pribadi dan sosial. Kita menahan diri, sekaligus berbagi. Inilah indahnya Ramadhan.

 

Sebab puasa Ramadhan membangun kesadaran melalui penghayatan apa makna perut lapar, kekurangan, kemiskinan, dan penderitaan. Pastilah cara ini akan meberikan bekas mendalam daripada melakukan kajian yang hanya membuat kita tambah pintar. Mengalami dan menghayati, inilah inti dari pemusatan latihan selama Ramadhan.

 

Tentu saja apa yang kita lakukan selama Ramadahan memberikan nilai lebih pada kita. Namun bukan hanya itu yangbpenting. Ramadhan adalah pemusatan latihan agar kita siap dan dapat memenangi kompetisi selama masa panjang setelah Ramadhan. Puasa Ramadhan itu hanya sebulan. Setelahnya kita akan jalani hidup selama sebelas bulan. Puasa Ramadhan itu akan berhasil sebagai pemusatan latihan bila di luar Ramadhan, dalam sebelas bulan, kita dapat mempetahankan dan memekarkan semua kebiasaan baik yan telah terbentuk selama Ramdahan.

 

Dengan cara inilah baru berlaku apa yang dikatan Nabi Muhammad SAW bahwa puasa Ramadhan menjadikan manusia baru, seperti bayi yang baru lahir. Puasa Ramadhan seharusnya menjadikan manusia baru, manusia yang lebih baik dan mampu memenangkan kompetisi untuk berbuat baik dalam hidup yang penuh godaan, keras, dan kejam.

Dasar pemikiran itulah yang membuat mengapa kaum muslimin selalu berdoa agar diberi kesempatan untuk sampai pada Ramadhan berikutnya. Sebab kehidupan selama sebelas bulan sangat potensial membuat kita tercemar lagi. Puasa Ramadhan memberi kita kesempatan untuk menjadi putih bersih dan terlahir lagi sebagai manusia baru.

 

PUASA RAMADHAN ADALAH PEMUSATAN LATIHAN AGAR KITA MENJADI MANUSIA BARU YANG MEMENANGKAN KOMPETISI DALAM KEHIDUPAN YANG PENUH GODAAN, KERAS, DAN KEJAM.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s