EROPA SEMENTARA TERPURUK

 

Babak penyisihan grup akan selesai. Sejumlah peserta Eropa sudah pasti tersingkir, dan beberapa kemungkinan tersingkir. Peserta Eropa yang sudah pasti tersingkir adalah Spanyol, Inggris, dan Italia. Ketiganya adalah mantan juara dunia. Sementara itu Bosnia dan Kroasia juga tersingkir. Peserta yang bisa jadi tersingkir adalah Portugal dan Rusia. Swiss pun bisa saja tersingkir. Bersebalikan dengan itu sejumlah besar negara Amerika Latin dan Tengah sudah pasti lolos yaitu Brazil, Meksiko, Costar Rica, Uruguay, Cile, Kolumbia, Argentina. Amerika Serikat juga potensial lolos.

 

Selama ini telah menjadi tradisi. Bila piala dunia dilaksanakan di Eropa, Eropalah yang jagoan. Jika dilakukan di Amerika, negara-negara Amerikalah yang hebat. Saat dilakukan di Asia, Brazil yang juara. Brazil pernah juara saat dilaksanakan di Swedia. Kala dilaksanakan di Afrika Selatan, Spanyol juara. Fakta ini tampaknya membantah pengaruh cuaca terhadap melorotnya prestasi. Spanyol juara di Afrika yang panas, dan Brazil bisa juara di Eropa.

 

Beberapa pemain memang menjadikan cuaca sebagai penghambat. Sejumlah pemain Eropa mengeluhkan cuaca sangat panas di Brazil. Belanda yang menang terus selama penyisihan grup tampaknya tidak terganggu dengan cuaca. Pantai Gading dan Kamerun yang cuacanya tidak berbeda dengan Brazil juga tersingkir. Artinya, meskipun cuaca bisa ikut memengaruhi, namun tidak terlalu bermakna.

 

Fanatisme penonton juga agaknya tidak tepat dijadikan alasan kekalahan. Karena tiap negara didukung pendukung fanatik yang datang dari negara masing-masing, meski sangat jauh dari negara asal.

 

Keletihan karena terus menerus mengikuti liga di masing-masing negara pun bukan alasan. Sebab semua pemain bermain pada kompetisi liga yang sangat padat jadwalnya.

 

Lantas apakah yang menjadi alasan utama terpuruknya Eropa dan juga Afrika pada piala dunia kali ini?

 

Dari catatan penyelenggaraan piala dunia yang selama ini berlangsung, tidak selalu tuan rumah menjadi juara. Dari 19 kali penyelenggaraan piala dunia sejak 1930 hanya 6 negara yang menjadi tuan rumah dan juara yaitu Uruguay (1930), Italia (1934), Inggris (1966), Jerman (1974), Argentina (1978), dan Perancis (1998).

 

Pada saat piala dunia diselenggarakan di Brazil (1950) juaranya adalah Uruguay yang tidak diunggulkan mengalahkan tuan rumah. Brazil menjadi 5 kali juara justru bukan di kandang tetapi di negara lain yaitu Swedia (1958), Cile (1962), Mexico (1970), USA (1994), dan Korea-Jepang (2002). Selain Brazil, tuan rumah yang kalah pada partai final adalah Swedia (1958) yang dikalahkan Brazil.

 

Jadi, faktor tuan rumah tidak selalu menjadi alasan untuk menang. Paling tidak Brazil sudah tunjukkan, 5 kali juara di negara orang, di negara sendiri malah kalah. Seringkali tuan rumah malah tidak masuk final. Ada 11 penyelenggara piala dunia yang tidak masuk final.

 

Kegagalan dan keberhasilan dalam sepak bola dan hidup memang tidak pernah ditentukan oleh faktor atau penyebab tunggal. Sangatlah keliru bila kita mencoba mencari penyebab tunggal.

 

Sepak bola dan hidup dijalani oleh manusia. Manusia selalu dipengaruhi oleh banyak faktor. Bisa fisik dan psikis, terpisah atau sekaligus. Tak tertutup kemungkinan dipengaruhi oleh lingkungan, cuaca termasuk di dalamnya.

 

Kesalahan yang selalu kita lakukan bila menghadapi masalah, seperti kegagalan, adalah ngotot mencari penyebab tunggal. Boleh jadi ada penyebab utama yang lebih dominan dibandingkan yang lain. Namun, harus disadari tak pernah ada sebab tunggal. Kesadaran ini perlu ditanamkan agar kita tidak menyederhanakan atau mereduksi problem-prolem yang dihadapi manusia. Penyederhanaan problem-ptoblem manusia sungguh akan membawa kerugian yang sangat besar. Sedikitnya ada dua kerugian yang bisa muncul. Pertama, masalahnya tidak dipahami secara jelas, akurat, mendalam dan rinci. Kedua, sebagai akibatnya, solusi yang ditawarrumuakan juga akan sangat dangkal dan bersifat umum. Ujung-ujungnya masalah tersebut bukan saja tidak dapat diatasi, mungkin malah bertambah parah.

 

Dengan cara pandang seperti ini, kita tidak dapat dengan mudah mencari sebab mengapa Eropa kali ini terpuruk. Meskipun bisa saja terjadi, negara Eropa yang tersisa bisa menjadi juara dunia.

 

Begitu pula halnya jika kita ingin mencari apa gerangan sebabnya pemilihan presiden kali ini dibumbui oleh tingkai pangkai yang menjijikkan. Sangat dicoraki oleh kampanye hitam dan fitnah. Banyak caci maki yang muncul, juga saling ejek dan manipulasi. Agaknya, ini pemilihan presiden terburuk selama reformasi.

 

Pastilah penyebabnya bukan hanya syahwat kuasa yang tak terkendali. Ini berkaitan dengan kultur, sistem, etika, dan praktik politik yang telah berkembang sejak lama di negeri ini. Jadi, problemnya melampaui buruknya perilaku para politisi yang terasa melebihi bunglon. Juga bukan sekadar problema ketidakmatangan sikap para politisi dan minimnya sikap kenegarwanan.

 

Boleh jadi, sudah lama bangsa ini menyimpan bahkan memelihara sejumlah luka yang sengaja dibiarkan menjadi borok, dan dipertontonkan untuk saling menunjukkan aib. Tak tertutup kemungkinan, sejak lama kita memang tak pandai meyelesaikan problema-problema besar kita sebagai bangsa, dan tak memiliki kemampuan untuk bersikap tulus dan jujur untuk sungguh-sungguh menyelesaikannya. Mungkin, saat pilpres inilah semua borok itu yang bisa jadi berakar pada sikap setengah hati menerima Pancasila sebagai ideologi dan perekat kita, menyeruak keluar dengan cara menjijikkan. Mirip bisul pecah yang nanahnya tertumpah ke mana-mana. Tragiskan, sekarang ini agama dijadikan alat untuk menyerang dan menghancurkan fihak lain. Berbagai masalah dan ucapan dilepaskan dari konteks kejadian yanh sesungguhnya dan seutuhnya. Sungguh pilpres ini bukan lagi kompetisi untuk mencari pemimpin terbaik. Tetapi perang yang dipicu oleh syahwat kuasa yang tak terkendali.

 

PROBLEMA MANUSIA MEMANG TAK PERNAH BISA DIPAHAMI DAN DISELESAIKAN DENGAN PENYEDERHANAAN.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s