KALAH LOLOS, MENANG TERSINGKIR

 

Melalui pertarungan yang ketat dan seru, akhirnya Nigeria kalah 2-3 lawan Argentina. Namun Nigeria tetap lolos ke babak berikutnya. Sementara Spanyol yang menang 3-0 lawan Australia harus tersingkir. Ini terjadi karena pada babak penyisihan grup ini digunakan sistem setengah kompetisi. Pada babak berikutnya berlaku sistem gugur. Peserta yang kalah, langsung tersingkir ngacir.

 

Beda sistem, beda hasil. Dalam sistemlah menang-kalah ditentukan. Dalam sistem setengah kompetisi dan komoetisi penuh ada perhitungan nilai yang didapat dan selisih gol. Karena itu kesebelasan bukan saja harus menang, juga mengusahakan gol yang banyak. Sebab jumlah selisih gol bisa sangat menentukan.

 

Tidak demikian halnya dalam sistem gugur. Hanya ada satu indikator, menang-kalah. Yang kalah tersingkir. Itulah sebabnya, dengan sistem gugur para kompetitor akan mengusahakan kemenangan. Karena tak boleh ada hasil seri.

 

Setiap sistem memiliki karakteristik, keunggulan dan kelemahan. Tidak ada sistem sempurna yang bisa digunakan untuk semua keperluan. Ketepatan penggunaan sistem sangat tergantung banyak faktor. Untuk kepentingan liga yang berjalan setahun penuh dalam paradigma sepak bola adalah industri, maka sistem kompetisi penuh adalah yang terbaik. Para kompetitor sungguh dapat berkompetisi habis-habisan dan menunjukkan keunggulannya dengan mengalahkan lawan di kandang sendiri dan dikandang lawan. Menang-kalah menjadi sangat menarik karena menyebabkan persaingan makin seru. Tetapi sistem ini membutuhkan dana yang besar dan waktu yang sangat panjang. Sangat cocok untuk pembinaan jangka panjang dan pertumbuhan ekonomi. Untuk piala dunia, tentulah sistem ini tidak cocok. Jadi, kecicokan sistem juga ditentukan oleh tujuan penggunaanya.

 

Sebagai negara bangsa kita sudah beberapa kali mengganti sistem politik. Pada awal kemerdekaan dipraktikkan sistem multipartai dan dilakukan pemilu 1955 yang dinyatakan sebagai pemilu paling demokratis. Setelah itu terjadi kemacetan politik karena konstituante tidak berhasil merumuskan konstitusi baru. Kita kembali ke UUD 1945 dan memperkenalkan demokrasi terpimpin yang ujung-ujungnya melahirkan rezim otoriter dan gejolak politik hebat yang menewaskan orang dalam jumlah sangat besar.

 

Orde baru datang yang secara sistematis mengadakan modernisasi politik, mengubah dengan paksa multipartai menjadi dua partai dan satu golongan serta memperkenalkan demokrasi Pancasila. Setelah berjalan lebih dari tiga puluh tahun, sistem yang penuh tipu-tipu ini akhirnya menjelma menjadi rezim otoriter dan korup, akhirnya digerus kemarahan rakyat. Pada masa ini pemilihan pemimpin mulai dari tingkat dua sampai presiden dilakukan secara tidak langsung, melalui perwakilan. Terbukti sistem ini bukan saja tidak efektif, juga gagal.

 

Reformasi mendatangkan perubahan sistem yang sangat mendasar. Bersamaan dengan itu masyarakat yang berpendidikan terus meningkat. Kita mengubah UUD 45 beberapa kali. Sistem kita tampak lebih baik karena semakin jelas fungsi berbagai lembaga yang dapat menjamin tegaknya hukum dan demokrasi.

 

Ada Mahkamah Konstitusi yang mengadili perkara terkait tafsir dan implementasi UUD. Dengan demikian tak ada lagi tafsir tunggal terhadap konstitusi yang dulu dilakukan orde baru. Ada otonomi daerah yang memberi kewenangang pada daerah untuk mengatur diri sendiri. Ada Komisi Pemberantasan Korupsi yang khusus menangani korupsi yang banyak dilakukan penyelenggara negara. Tentulah yang paling menghebohkan pemilihan langsung terhadap pamimpin sejak tingkat dua sampai presiden.

 

Terdapat lebih banyak kebebasan, terutama kebebasan pers. Masyarakat juga makin terbuka dan brani. Brani mengungkapkan aspirasi dan bertindak.

Pertanyaannya adalah, apakah dengan sistem yang baru ini kita menjadi lebih baik? Apakah kita semakin demokratis? Apakah masyarakat bertambah sejahtera? Apakah kehidupan berbangsa dan bernegara kita makin bermartabat dan bermutu? Apakah rakyat merasa lebih aman dan nyaman? Apakah mutu kehidupan kita meningkat?

 

Mengapa lebih banyak konflik terjadi? Mengapa masyarakat lebih berani menyerang bahkan membunuh kelompok lain yang berbeda? Mengapa lebih banyak korupsi yang melibatkan petinggi negara seperti bupati/walikota, gubernur, para petinggi partai, menteri dan ketua MK? Mengapa pemilihan langsung kepala daerah sering menimbulkan konflik berkepanjangan? Mengapa negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan Australia sering melecehkan kita?

 

Apakah kini kita semakin maju dan sejahtera? Mengapa pemerintah tak bisa kendalikan harga bahan-bahan pokok yang dibutuhkan rakyat? Mengapa penghormatan masyarakat pada aparat dan penyelenggara negara semakin pudar? Masyarakat bahkan brani membakar kantor polisi dan kantor bupati? Mengapa para kapitalis melalui mini market bisa masuk ke kampung-kampung dan mematikan usaha rakyat kecil?

 

Mengapa etika politik kita makin ancur? Mengapa semakin sulit mencari tokoh yang menunjukkan sikap kenegarawanan? Mengapa semakin langka tokoh yang tidak terperangkap terperosok pada target-target politik jangka pendek?

 

NEGARA BANGSA AKAN MENJADI BAIK, BILA MEMBANGUN SISTEM YANG BERAKAR PADA JATI DIRINYA.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s