KOMPETISI MAKIN SERU

 

Babak penyisihan grup segera usai. Sejumlah negara unggulan lolos, beberapa tersingkir. Ada yang tidak diunggulkan malah lolos duluan. Kompetisi akan makin seru dan ketat. Karena yang bertanding adalah negara yang sudah teruji di babak awal.

 

Belanda bertemu Meksiko, Brazil lawan Cile, Argentina jumpa Swiss dan Perancis versus Nigeria. Apapun bisa terjadi, meski tetap ada yang diunggulkan.

 

Para pemain sudah lebih terbiasa dengan cuaca karena telah bertanding tiga kali. Tiap kesebelasan sudah bisa mempelajari dengan cermat permainan lawannya dari tiga pertandingan yang telah dilalui. Motivasi para pemain juga makin meningkat untuk memenangkan pertandingan agar bisa lolos ke babak berikutnya.

 

Sebagai penonton kita berharap pertandingan semakin bermutu, indah, ketat dan seru. Karena yang bermain adalah pemain-pemain yang berkategori pemain bermutu tinggi yang sering disebut megabintang. Bagi para pemain itu pertandingan ini adalah pembuktian diri bahwa mereka pemain utama dan unggulan, bukan hanya pada tingkat klub dan kawasan, tetapi tingkat dunia.

 

Dapat dipastikan tensi kompetisi menaik, ketegangan meningkat, emosi meluap. Dalam semua kompetisi, kondisi ini tak terelakkan. Sebab akan semakin mendekati babak penentuan pemenang. Ujian dan cobaan bagi peserta semakin besar, tinggi, menggoda menantang.

 

Pada titik ini sungguh dibutuhkan mental baja, semangat tak kenal menyerah, kekuatan dan ketahanan jangka panjang dan tahan banting. Kesalahan dan gangguan kecil bisa menghancurkan. Piala dunia 1994, megabintang dan kapten Argentina dinyatakan doping, Argentina langsung tersingkir. Pada 1998 giliran Ronaldo, megabintang Brazil mengalami gangguan menjelang partai final, kesudahannya Brazil dikalahkan Perancis.

 

Pada saat kompetisi memanas, semua peserta bisa lakukan apa saja, bahkan menghalalkan segala cara. Uruguay akhirnya menang lawan Italia dan lolos. Tetapi kita tak kan lupa pada gigitan Suarez. Sungguh kompetisi dengan tensi tinggi adalah cobaan berat bagi manusia, semua manusia. Bukan hanya pesepak bola.

 

Dalam memburu kemenangan memang terdapat banyak pilihan. Gaya menghalalkan segala cara versi Machiavelli, pendekatan kehendak untuk berkuasa rumusan Nieztsche, menggunakan dorongan menghancurkan temuan Freud, memanfaatkan pengkondisian gaya psikologi behavioris, atau mempraktikkan cara aktualisasi diri model psikologi humanistik.

 

Dalam sejarah panjang manusia, cilokonya banyak manusia yang mengawinkan gaya Machiavelli, Nieztsche, Freud dan behavioris untuk memburudapatkan kemenangan. Karena kemenangan dihayati sebagai salah satu bentuk kehendak untuk berkuasa, bukan sebagai prestasi atas kerja keras, kedisiplinan dan kejujuran.

 

Perkawinan gaya-gaya itulah yang membuat manusia yang memburu kemenangan rela dan tega menghancurkan orang lain yang diyakini sebagai lawan yang harus dibunuh. Bukan sebagai sesama kompetitor yang saling menghargai.

 

Jadi, bukan kebetulan bila Prof. Dr. Amien Rais menggunakan istilah Perang Badar untuk pilpres 2014. Penggunaan istilah tersebut dengan sangat nyata menunjuktegaskan siapa dan apa tujuan pengguna istilah itu. Tak usah heran bila kemudian muncullah cara-cara yang memuakkan dan menjijikkan.

 

Pihak yang mengawinkan gaya-gaya tersebut memang tak punya rasa malu untuk menabrak etika dan logika. Memanipulasi fakta dan memutarbalikkan kebenaran. Membuat dan menyebarluaskan fitnah. Menempatkan perkataan dan fakta di luar konteks, dan menjungkirbalikkan omongan sendiri.

 

Karena itu, inilah saat paling tepat untuk menyaksikan keaslian manusia. Siapakah sejatinya dia. Selalu dengan sadar atau tidak, dalam kondisi ini apa yang tadinya tersembunyi menjadi terbuka telanjang. Semua topeng terbuka.

 

Manusia-manusia yang mengawinkan gaya-gaya yang menghancurkan itu pura-pura lupa bahwa kemenangan itu cerlang cemerlang jika tak curang. Kemenangan itu indah tanpa fitnah. Kemenagan itu bermakna bila diperoleh menghargai dan menggunakan etika dan logika, bukan dengan menghalalkan segala cara.

 

Sejarah manusia yang panjang mencatat, seringkali justru manusia dan kelompok manusia yang mengawinkan segala cara yang negatif itu mendapatkan kemenangan. Namun, sejarah juga mencatat bagaimana mereka telah menjadi perusak dan penghancur kemuliaan manusia dan kemanusiaan. Mengapa bisa begini? Karena

 

KEMENANGAN YANG DIPEROLEH DENGAN CARA TIDAK JUJUR, INSYA ALLAH, PASTI HANCUR.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s