MENANG KALAH, KALAH MENANG

 

Prof. Dr. Amien Rais itu sangat keterlaluan. Bahkan bisa disebut perusak. Pemilihan presiden yang tak lebih sebuah kompetisi, ia nyatakan sebagai Perang Badar. Kompetisi dan perang memang mengusahakan kemenangan. Tetapi antara keduanya terdapat perbedaan sangat mendasar.

 

Dalam kompetisi para peserta harus menjalankan fair play, bertanding mengikuti semua aturan, jujur, dan tidak boleh ada kecurangan, siap menang dan siap kalah. Sebab, meskipun ada kemungkinan seri, namun menang-kalah merupakan keniscayaan dalam kompetisi.

 

Perang adalah peristiwa yang didasarkan pada nalar membunuh atau dibunuh. Ada keharusan saling bunuh. Apalagi menggunakan istilah yang beraroma Islam seperti perang Badar yang sejatinya memperhadapkan orang Islam dan orang kafir. Penggunaan istilah perang Badar untuk menggambarkan pemilihan presiden setidaknya bisa memunculkan dua akibat butuk yaitu memecah belah bangsa Indonesia, dan memberikan kesempatan untuk membunuh karakter orang. Tampaknya kecenderungan itulah yang muncul dalam pemilihan presiden kali ini. Banyak peristiwa menjijikkan terjadi.

 

Tentu saja sedih rasanya karena yang mengucapkannya adalah seorang tokoh yang seharusnya menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Tetapi inilah fakta manusia, yang bisa berubah kapan saja karena dorongan kepentingan. Kepentingan memang bisa membuat orang melakukan apa saja. Sebagian kita mungkin belum lupa, pada 1998 di Majalah Tempo, Amien Rais tegas menyatakan Prabowo harus bertanggung jawab atas kasus penculikan aktivis. Kini ia mengusung Prabowo jadi presiden. Biarlah rakyat yang menilai.

 

Dalam kompetisi yang menang bisa kalah, dan yang kalah bisa menang. Karena tidak terjadi pembunuhan seperti halnya perang. Pada piala dunia 2010, Spanyol kalah di babak penyidihan grup, tetapi menjadi juara. Sebaliknya dengan Belanda tidak pernah kalah sejak babak penyisihan di kawasan, dan terus menang bahkan saat melawan Brazil, tetapi sekali saja kalah yaitu pada partai final. Akhirnya yang memenangkan piala dunia adalah Spanyol yang juga pernah sekali kalah, tetapi pada penyisihan grup.

 

Italia memulai kompetisi dengan mengalahkan Inggris, kemudian tersingkir karena kalah dengan Costa Rica dan Uruguay. Sebaliknya dengan Uruguay, memulai kompetisi dengan kekalahan dari Costa Rica. Tetapi lolos setelah menjungkirkan Italia pada pertandingan terakhir.

 

Pada piala Eropa 1988, Belanda dikalahkan Rusia pada babak penyisihan grup. Pada pertandingan final gantian Belanda kalahkan Rusia. Pada liga Spanyol yang baru berlalu juga terjadi hal yang sama. Barcelona dan Spanyol bergantian menjadi pemuncak klasemen. Tetapi pada saat terakhir yang menjadi juara adalah Atletico Madrid. Inilah hakikat kompetisi.

 

Siapa yang mengira Costa Rica bisa mengalahkan dua juara dunia, menahan seri juara dunia lainnya dan menjadi pemuncak klasemen? Sementara para juara dunia asal Eropa yaitu Spanyol, Inggris, dan Italia gugur, Yunani malah lolos. Inilah fakta kompetisi.

 

Siapa yang menjamin Belanda yang memenangkan semua pertandingan pada penyisihan grup akan terus menang? Bisa saja Mexico membuat kejutan saat bertemu Belanda, dan Cile melibas Brazil.

 

Dalam kompetisi, apapun mungkin terjadi. Dan itu yang membuat kompetisi itu menarik sekaligus menghibur. Semua perhitungan matematik dan prakiraan statistik belum tentu cocok digunakan. Ada nalar lain yang selalu menjadi ciri kompetisi yaitu ketidakpastian dan misteri. Akan menjadi semakin tidak pasti bahkan mengerikan dan menjijikkan bila ada kecurangan. Itulah sebabnya kompetisi piala dunia dirancang dengan saksama dan semua pertandingan serta pemilihan wasit dan hakim garis dilakukan secara terbuka. Untuk menjamin tak ada kecurangan dan rekayasa.

 

Kompetisi akan menjadi tidak menarik dan akan membuat luka mendalam bila dibumbui kecurangan seperti pengaturan skor, atau melakukan intimidasi kepada pemain atau kesebelasan. Pelaku kecurangan bisa saja memperoleh kemenangan. Tetapi sejarah akan mencatatnya. Dan pasti akan terus diulang-ulang pemberitannya setiap kali ada kompetisi. Karena kebaikan dan kejahatan tidak pernah bisa dihapuskan dengan cara apapun.

 

Dalam kompetisi yang menegakkan fairplay yang terbaiklah yang menjadi pemenang. Meskipun yang terbaik pastilah bukan yang sempurna. Paling kurang bisa dibuktikan, pada saat kompetisi itu si pemenanglah yang terbaik.

 

Ambillah contoh Costa Rica. Mereka sejak mula tidak diunggulkan. Faktanya mereka lolos lebih dulu dengan mengalahkan dan bermain seri dengan tiga juara dunia. Fakta ini tentulah menyakitkan bagi Inggris dan Italia, namun itulah faktanya. Meskipun Costa Rica bukan unggulan faktanya mereka bermain dengan jaya juang tinggi dan kekompakan yim yang luar biasa. Tentu saja faktor cuaca dan penonton bisa jadi ikut membantu penampilan mereka. Namun faktanya, Uruguay yang terbiasa dengan cuaca panan dan didukung penonton yang berjumlah banyak serta fanatik, pun dapat dikalahkan. Dengan tegas bisa disimpulkan, Costa Rica merupakan kesebelasan terbaik dalam penyisihan grup. Tetapi siapa yang bisa menjamin Costa Rica bisa menang terus pada pertandingan selanjutnya yang menggunakan sistem gugur?

 

Kompetisi piala dunia kali ini memang menjadi semakin sulit memprediksi. Karena terlalu banyak kejutan. Dan kejutan bisa saja terus berlanjut. Karena itu menang-kalah dan kalah-menang dalam kompetisi harus dihadapi dan dihayati dengan kearifan.

 

Para pesepak bola sudah terbiasa dengan menang-kalah ini. Pada kompetisi liga yang mereka jalani, setiap minggu, bahkan kadang dua kali seminggu mereka mengalami drama menang-kalah ini. Tentu saja tiap menang-kalah itu memiliki arti yang berbeda. Menang-kalah pada pertandingan yang menentukan mennjadi juara pastilah memiliki nilai kedramatisan yang berbeda.

 

Meskipun demikian, para pesepak bola lebih siap menghadapi darama memang-kalah. Karena setiap minggu mereka alami. Berbeda dengan politisi yang berkompetisi empat atau lima tahun sekali. Banyak di antara mereka kurang siap menghadapi kekalahan. Oleh sebab itu seringkali mereka menghalalkan segala cara untuk menang. Karena jika kalah mereka tak akan kebagian rezeki kekuasaan. Jadi, jika mereka bicara berjuang untuk kepentingan rakyat dan negara, sebaiknya kita hati-hati. Jika betul bekerja untuk kepentingan rakyat dan negara, mengapa banyak politisi masuk penjara karena korupsi?

 

Kejujuran dan ketulusan merupakan kelangkaan di kalangan politisi. Apalagi yang sudah dilecut oleh syahwat kuasa. Karena itu mereka menjadi buta, tak mampu lagi bedakan kompetisi dan perang. Karena syahwat kuasanya memang ingin ‘membunuh’ lawan politiknya. Kacian betul ya.

 

KOMPETISI YANG BEBAS KECURANGAN AKAN HASILKAN PEMENANG YANG GEMILANG.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s