TEKNOLOGI DAN PIALA DUNIA 2014

Teknologi kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kesehariah kita. Nyaris semua segi kehidupan kita telah dirasuki teknologi atau hasil olahan teknologi. Teknologi yang kini paling menonjol menguasai hidup kita dalah telepon genggam yang semakin canggih dan banyak gunanya. Bukan saja untuk berkomunikasi, juga sebagai piranti yang dapat membantu pekerjaan sekaligus hiburan. Berkat teknologi satelit, kini telah terbangun sistem teknologi komunikasi yang bersifat integratif sehingga makna komunikasi sudah sangat berubah dibanding beberapa waktu lalu. Internet dan media sosial kini benar-benar telah menjadi bagian dari gaya hidup milyaran orang di seluruh dunia. Teknologi sungguh telah tak dapat dipisahkan dari gaya hidup masa kini.

 

Tak mengherankan bila perhelatan akbar piala dunia juga memanfaatkan teknologi sebagai bagian untuk membuatnya lebih canggih dan spektakuler. Berkat teknologi pengambilan gambar yang makin canggih, kini kita dapat menikmati gol dan beragam momen berharga yang sangat rinci. Seperti gaya terbang van Persie saat membuat gol ke gawang Portugal, bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan pemain dengan cara yang sulit dilihat dengan mata biasa, dan ekspresi para pemain yang gembira atau kecewa dengan tampilan gambar yang sangat jelas dan rinci.

 

Sejumlah teknologi lain yang kita saksikan di lapangan adalah Brazuca, bola buatan Adidas yang dinyatakan lebih stabil dan dapat bergerak lebih halus dibanding bola yang digunakan dalam piala dunia sebelumnya. Semprotan yang bersifat sementara yang digunakan wasit untuk memastikan tempat bola dan tempat berdiri pemain saat tendangan bebas yang dikenal dengan 9:15 Fairplay. Kontrol Gol yang dapat memberi sinyal ke jam tangan wasit bila Bracuza melewati garis gawang. Sepatu buatan Nike yang lebih ringan ketimbang sepatu untuk berlari yang fleksibel dan tahan air. Baju seragam buatan Nike yang sangat membantu pemain pada cuaca yang sangat terik, karena berbhan adem dan sangat menyerap keringat, serta seragam buatan Adidas yang dapat menurunkan suhu tubuh pemain.

 

Sebenarnya teknologi yang terkait dengan sepak bola lebih banyak dari yang digunakan dalam piala dunia 2014. Beberapa di anataranya adalah bola yang dilengkapi chip sehingga bisa diketahui keberadaanya seperti sudah melewati garis gawang apa belum. Juga sepatu yang dilengkapi sistem yang dapat memberikan banyak informasi tentang kecepatan lari pemain dan pergerakannya.

Namum FIFA memutuskan hanya menggunkan sebagian saja dari teknologi tersebut agar ciri permainan bola yang lebih menekankan sisi kemanusiaanya dapat dipertahankan.

 

Merupakan fakta tak terbantahkan bahwa teknologi telah membuat hidup kita makin mudah dan menyenangkan. Teknologi memang terbukti sangat membantu hidup manusia. Namun, jangan pernah dilupakan bahwa teknologi seringkali menjajah dan membuat manusia sangat tergantung padanya. Adakalanya teknologi membuat kita berada dalam posisi buah simalakama. Dimakan mati ayah, tidak dimakan mati ibu.

 

Lihatlah bagaimana teknologi komunikasi dan informasi telah sangat membantu sekaligus mengganggu kita. Bagaimana telepon genggam juga memudahkan sekaligus membuat kita sangat tergantung padanya. Teknologi memang memilki kecenderungan seperti itu.

 

Teknologi sebagai mesin canggih memang bersifat mekanis, terpusat, dan cenderung menguasai. Menguasai bermakna sekali kita masuk dan menggunakannya, maka kita harus tunduk pada aturan dan hukum yang membuat teknologi itu berfungsi. Bila mau menggunakan facebook misalnya, harus mengikuti semua aturan standarnya agar kita bisa menjadi bagian dari sistem facebook yang sangat besar itu. Sifat dasar teknologi seperti inilah yang kemudian membuat manusia harus tunduk padanya.

 

Atas dasar fakta inilah mengapa ada istilah teknologi itu merupakan semacam rezim diktator yang memaksa siapa pun yang menggunaknnya tunduk pada aturannya, tanpa kecuali. Sifat dasar ini pula yang membuat teknologi gampang disabotase atau dihancurkan. Karena itulah perbankan yang menggunakan teknologi harus terus menerus sistem teknologinya agar tetap aman. Tentulah biayanya sangat mahal.

 

Atas dasar sifat hakiki teknologi yang mekanis dan cenderung massal ini yakni satu sistem untuk semuanya, keputusan FIFA untuk menggunakan teknologi secara terbatas dalam piala dunia merupakan keputusan yang tepat. Mengapa?

 

Karena sepak bola itu sangat menarik karena bersifat sangat manusiawi. Dalam sepak bola spontanitas, kreativitas, dan beragam ketakterdugaan adalah aspek yang sangat menarik dan penting. Sepak bola adalah ekspresi kebebasan, dan ketakterdugaan manusia dalam mengaktualisasikan kemampuan dan beragam spontanitas dan keisengannya. Sisi inilah yang membuat sepak bola itu sangat menarik. Kita kan pasti tak pernah lupa gol tangan Tuhan si Maradona. Meskipun banyak orang setuju itu merupakan satu bentuk pelanggaran, namun tak sedikit yang mengapresiasainya sebagai ungkapan kretivitas yang sangat cerdas. Dan semakin menarik karena baru diketahui melalui kamera televisi.

 

Meski terkadang terasa pahit dan tidak adil seperti gol yang berbau offside yang meloloskan Perancis lawan Ukraina pada pertandingan playoff menuju piala dunia 2014, gol Inggris ke gawang Jerman yang tidak diakui pada piala dunia 2010, yang menyebabkan Inggris terdingkir. Namun, sisi kemanusiaan seperti inilah yang membuat sepak bola itu menarik dan dramatis.

 

Rasanya sepak bola akan menjadi sangat membosankan bila penggunaan teknologi masuk terlalu jauh dan membunuh spontanitas dan kreativitas para pemain untuk membuat membuat pertandingan itu menarik. Lihat saja cara para pemain memasuki pertahanan lawan saat permainan bertempo tinggi. Yang membuatnya menarik adalah apakah seorang pemain offside atau tidak. Pada titik ini kita melihat kecanggihan pemain untuk mengukur dengan tepat keberadaan dirinya. Kadang sulit memutuskan dia sudah offside atau belum. Pertarungan untuk bebas dari perangkap offside dan terjadinya gol sebagai akibatnya selalu menjadikan pertandingan bola itu menegangkan dan menarik. Begitu juga saat seorang pemain melompat dan secara tidak sengaja tangannya menyentuh bola pada area finalti, jika menggunakan teknologi pastilah langsung jadi finalti. Karena teknologi tak punya kemampuan membedakan sentuhan itu sengaja atau tidak.

 

Jadi penggunaan teknologi untuk memastikan akurasi dan kepastian justru membuat roh sepak bola itu mati. Karena itu, bukan hanya dalam sepak bola, juga dalam kehidupan. Teknologi tidak boleh menjadikan manusia menjadi hanba sahayannya. Betapa pun teknologi itu bisa membantu kita. Teknologi tidak boleh menjajah dan menghancurkan keindahan kebebasan, spontanitas, dan kreativitas manusia.

 

PENGGUNAAN TEKNOLOGI JANGAN PERNAH MENGHAMBAT DAN MERENDAHKAN KEBEBASAN DAN KREATIVITAS MANUSIA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s