KEMENANGAN DAN KEKALAHAN

 

Iran akhirnya kalah melawan Argentina. Namun, tidak mudah bagi Argentina untuk memenangkan pertandingan itu. Banyak orang memuji daya juang, semangat dan keuletan Iran. Pujian makin meninggi karena para pemain Iran menampilkan permainan yang bersih. Tak ada insiden yang berlebihan.

 

Begitupun halnya saat Australia dikalahkan Belanda. Itulah sebabnya, meski kalah mereka mendapat pujian dan penghormatan. Ini bukan sekadar soal kalah dan menang, tetapi soal bagaimana tetap bisa bersikap sportif dalam kompetisi yang ketat.

 

Klinsmann menunjukkan rasa bangganya meski kalah 0-1 dari Jerman. Ia bangga bukan hanya karena akhirnya USA lolos. Tetapi karena ia dan pasukannya bisa tunjukkan, bahwa keraguan banyak orang akan ada skenario ‘main mata’ dengan hasil ‘kaca mata’ sama sekali tidak terbukti. Kedua kesebelasan bermain dalam pertarungan yang ketat. Ini bukan soal menang dan kalah. Ini soal bermain bersih dengan menegakkan kejujuran, fairplay.

 

Bersebalikan dengan itu adalah Uruguay. Mereka akhirnya lolos karena dapat mengalahkan Italia. Tetapi pertandingan itu akhirnya membuat Suarez mendapat hukuman, dan terjadi kontriversi akibat inseden memalukan yaitu gigitan Suarez. Kita jadi tahu, ternyata masih ada saja orang yang mendahulukan menang. Tak peduli apakah kemenangan itu didapatkan dengan cara yang benar dan baik atau penuh kecurangan, keculasan, tipu-tipu, dan menghalalkan segala cara. Untungnya, masih cukup banyak juga yang tidak suka dengan cara-cara penuh keculasan itu. Jangan heran, banyak yang mengecam ulah Suarez tersebut.

 

Mungkin masih ada di antara kita yang ingat bagaimana pertandingan Spanyol melawan Belanda di pertandingan final piala dunia 2010. Pemain Belanda mempraktikkan permainan keras yang cenderung kasar karena muali frustrasi tidak dapat menyamakan kedudukan dan dirugikan beberapa keputusan wasit. Sungguh menyakitkan. Kalah dan dikecam banyak orang. Sejumlah pelatih dan mantan pemain Belanda yang pernah menjadi megabintang seper John Cruyf merasa malu dibuatnya.

 

Dalam sepak bola dan hidup nyata, memang terdapat manusia dan kumpulan manusia yang memiliki prinsip yang berbeda soal kemenangan dan kekalahan. Ada yang berprinsip yang penting menang. Jangan sampai kalah. Apapun boleh dilakukan untuk memeroleh kemenangan. Jangan takut melanggar aturan, karena aturan dibuat justru untuk dilanggar. Tak usah perhatikan moral, etika dan logika. Sebab hanya orang bodoh yang mengikuti aturan moral, etika, dan logika. Buat saja aturan sendiri yang menguntungkan diri sendiri. Siapa pun yang tidak setuju pada cara-cara yang digunakan, babat dan libas saja. Hanya ada satu hukum yang menang adalah yang benar. Kemenangan adalah kebenaran. Kekalahan adalah kesalahan.

 

Mengerikan, memuakkan, bahkan menjijikkan. Namun, dalam lintaan sejarah yang panjang, manusia seperti ini jumlahnya sangat banyak dan pengikutnya juga sangat banyak.

 

Dalam zaman moderen setidaknya ada dua golongan yang secara konsisten mengikuti dan menjalankan prinsip ini yaitu nazi dan komunis. Meskipun secara formal nazi sudah tidak ada dan dilarang, serta komunis semakin melemah, jangan dikira fikiran dan praktik-praktiknya sudah musnah.

 

Menculik dan membunuh orang yang berbeda dan dianggap musuh adalah praktik nazi sekaligus komunis. Dalam negara hukum yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, sejahat apapun manusia harus dihukum melakui proses pengadilan yang bebas dan terbuka. Bukannya diculik, dibunuh, dan tidak diketahui mayatnya, padahal belum ada proses peradilan yang mengadili mereka.

 

Bertentangan dengan penganut yang penting menang adalah penganut yang berprinsip kebenaran dan keadilan lebih penting daripada kemenangan. Kemenangan harus didapatkan dengan jujur tanpa kecurangan. Karena kemananga hanyalah alat untuk tegakkan kebenaran dan keadilan. Karena itu kemenangan bukanlah segala-galanya. Lebih baik tidak mendapatkan kemenangan daripada memperoleh kemanangan dengan keculasan, kejahatan, fitnah dan tipu-tipu. Kemenangan adalah hasil kerja keras, semangat, kegigihan

dan disiplin. Kemenangan harus mendatangkan kemuliaan. Karena diperoleh dengan cara yang jujur dan digunakan untuk kebenaran dan kebaikan.

 

Karena itu kemenangan sejati tidak bisa didapatkan dengan pencitraan dan janji-janji. Kemenangan sejati harus didapatkan dari bekerjanya nurani karena ada bukti dari kerja keras, kesungguhan dan kejujuran. Artinya kepura-puraan dan manipulasi, kebohongan dan kemunafikan tidak dapat dijadikan strategi untuk dapatkan kemenangan sejati.

 

Dalam kaitan ini apa yang kita harapkan dari pemenang yang sudah sangat terbiasa menggunakan cara-cara kotor, melanggaran aturan baku, dan mengabaikan semua hukum positif yang berlaku. Dan seenak bacotnya bilang, semua itu dilakukan demi membela negara. Negara macam apa yang dibela dengan cara-cara yang menjijikkan itu? Pastilah negara yang membolehkan cara-cara nazi dan komunis dipraktikkan.

 

Kompetisi sepak bola dan semua kompetisi dalam kehidupan akhirnya harus melahirkan pemenang. Kompetisi yang bermutu akan melahirkan pemenang yang terbaik. Kompetisi dapat dikategorikan bermutu bila mendahulukan kejujuran, kerja keras, dan kegigihan, serta tidak memberi celah sekecil apapun pada kecurangan, kebohongan, tipu-tipu dan manipulasi.

 

KEMENANGAN SEJATI TIDAK BISA DIPEROLEH DENGAN PENCITRAAN DAN JANJI-JANJI, TETAPI DENGAN KERJA KERAS, KETULUSAN, KEJUJURAN DAN BUKTI-BUKTI

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s